Luna, seorang mahasiswi jurusan teknologi informasi semester akhir selalu begadang mengerjakan tugas-tugasnya yang menumpuk. Suatu malam ia tertidur di meja belajar bersama tumpukan kertas-kertas nya lalu tiba-tiba ia merasa seperti jatuh dari kursi. Tapi saat ia membuka matanya rupanya ia berada di dalam tubuh seseorang yang mirip dengannya. Ia yakin itu bukan dirinya yang sebelumnya. Tempat itu juga sangat asing baginya. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah seorang pria tampan berparas lembut berbicara padanya. "Annette, kau sudah lebih baik ? Bangunlah, aku membuatkan mu sarapan,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bercerita
Rumah Leon sangat besar. Ada lampu gantung di tengah-tengah ruangan. Hiasan dan lukisan di tembok terlihat mahal dan indah. Pintu-pintu sangat tinggi khas milik orang kaya saja.
Annette mencari keberadaan Leon tapi tidak menemukannya. Jadi ia memutuskan berkeliling dengan membawa bekas makannya berniat meletakkan sendiri di dapur.
Annette di dunia sekarang dan modern sangat menyukai seni begitu dimanjakan matanya melihat rumah Leon. Sejarah raja-raja juga terukir di salah satu sudut tembok di rumah ini.
Annette terus berkeliling sampai ia menemukan dapur. Jiwa penasarannya semakin kuat saat melihat arsitektur dapur yang bagus. Sendok-sendok berwarna kuning emas dengan piring keramik polos berjejer di tempatnya.
Sebuah pintu kecil yang ia duga sebagai kamar mandi coba ia dekati. Dan benar disana adalah kamar mandi yang mirip dengan di rumahnya. Karena sekilas ia mengingat itu di benaknya.
Annette memutuskan mandi karena sudah ada air yang tersedia di sebuah gentong besar dari keramik. Ia menanggalkan pakaiannya yang berat kemudian menyegarkan dirinya.
Tidak ada sabun disana. Jadi ia hanya membasahi dan menggosok tubuhnya dengan air saja.
"Annette..." teriak Leon dari luar kamar mandi.
"Iya ada apa ?" tanya Annette berteriak pula agar Leon bisa mendengar nya.
"Aku membawa kain untuk mengeringkan tubuh mu. Pakaian mu sudah ada di kamar. Kalau kau mencari ku, aku ada diluar rumah," suara Leon terdengar lagi.
"Iyaaa. Terima kasih..."
Annette menikmati air segar yang mengguyur tubuhnya. Kemarin ia tidak mau mandi di rumah perkebunan sebab takut jika ada hewan masuk seperti ular atau cacing. Dan Leon berjanji akan memperbaiki lantai kayu itu setelah mereka dari kota.
Annette membuka pintu kamar mandi dan hanya kepalanya saja yang keluar. Kosong, tidak ada Leon. Ia melihat kain berwarna biru berada di meja dekat pintu lalu ia meraihnya. Membalutnya pada tubuhnya kemudian kembali ke kamar.
"Bagus sekali rumah Leon," pujinya lagi. Pencahayaan dirumah ini juga sempurna. Beberapa sudut di beri lubang dan dipasang kaca kecil agar sinar matahari bisa masuk.
Annette masuk ke dalam kamar. Sebuah gaun dengan tenunan emas dan tali di bagian dada sudah menantinya diatas ranjang.
"Wahh.. Bagus sekali gaun ini," katanya pelan sambil berlari kecil. Ia memegang gaun yang terasa halus ditangannya.
"Aku harus segera memakai nya," katanya senang.
Disana juga ada pakaian dalam khas di zaman itu. Walau sedikit kesusahan memakai nya tapi akhirnya Annette bisa mengenakan semua itu.
"Kau sudah selesai ?" suara Leon mengejutkan Annette yang tengah berputar-putar melihat gaunnya yang mengembang.
"Ah iya, sudah" jawab Annette malu-malu. Ia tidak menyadari jika Leon ada disana.
"Cobalah sepatu ini. Semoga pas di kakimu," kata Leon menghampiri Annette lalu meletakkan sepatu kulit yang sudah di poles dengan warna merah. Cantik.
Annette tersenyum. Lagi-lagi ia senang melihat barang bagus. Ia memakainya dan Leon pun berjongkok untuk memasangkan talinya.
Kemudian Leon berjalan kearah sebuah rak di sudut kamar dan mengambil sisir kayu. Lalu meminta Annette untuk duduk agar ia bisa membantunya menyisir rambut.
Annette menurut. Ia duduk di tepi ranjang dan Leon berada di belakangnya. Leon menyisir rambut Annette dengan sabar dan hati-hati. Lalu ia mengikat rambut Annette dengan pita merah yang baru dikeluarkan dari kantongnya.
"Setelah ini aku akan mengantarmu ke rumahmu. Tadi aku melihat ayahmu membawa banyak barang sepertinya ia baru pulang dari berlayar," Kata Leon.
Mendengar kata ayah membuat Annette terdiam. Entah mengapa hatinya di penuh oleh sesak yang tidak bisa diungkapkan.
Ayahnya, bukan hanya ayahnya saja. Melainkan ayah Emilie juga dan ia lebih mendengarkan kata Emilie serta ibunya dari pada Annette sendiri.
"Ada apa ? Apa kau tidak merindukan ayahmu ?" tanya Leon menepuk pundak Anne.
"Ah tidak. Aku hanya melamun saja," jawab Annette asal.
Leon berdiri dan mengulurkan tangannya pada Annette. Tanpa berpikir Annette segera meraihnya kemudian keduanya keluar dari kamar.
Lagi-lagi mata Annette dibuat takjub dengan rumah Leon di bagian depan. Banyak guci tertata rapi di sudut ruangan dan lukisan berjejer sangat cantik.
Sebuah lukisan samudera biru yang besar serta sebuah kapal kecil yang hampir karam menyita perhatian Annette. Lukisan itu tidak hanya indah, namun setiap goresan kuas nya sangat detail. Warnanya juga sangat tepat. Antara lautan yang menyimpan banyak misteri serta langit yang penuh harapan. Membuat siapapun yang melihat lukisan tersebut seperti tenggelam dalam perasaan yang sulit dijelaskan.
"Dari mana kau dapatkan lukisan ini, Leon ?" tanya Annette pelan. Matanya menyiratkan kekaguman. Jari-jarinya menyentuh permukaan lukisan tersebut.
"Aku membuatnya sendiri," jawab Leon lirih.
"Sebagai kenangan bahwa orang tuaku di telan laut dan tidak bisa kembali," lanjutnya kemudian.
Annette terkejut mendengarnya. Terkejut jika lukisan itu dibuat oleh Leon sendiri juga terkejut jika rupanya orang tua Leon sudah tiada akibat kecelakaan di laut.
"Aku.. Aku tidak tau jika orang tuamu tiada. Maafkan aku," kata Annette menatap Leon dengan tatapan iba.
"Jangan menatapku seperti itu. Aku sudah lama berteman dengan sepi," ujar Leon dengan senyuman. Tapi itu tidak bisa menutupi luka dihatinya.
"Kapan peristiwa itu terjadi ?" tanya Annette ingin tau.
Leon menatap Annette sekilas. Annette sekarang bukan Annette yang dingin seperti sebelumnya. Jadi rasanya tidak masalah menceritakan tentang hidupnya.
"Orang tuaku sudah tiada sekitar sepuluh tahun yang lalu saat aku berusia lima belas tahun. Waktu itu ibuku sedang hamil tujuh bulan dan sangat ingin menaiki kapal. Awalnya ayahku menolaknya karena takut terjadi apa-apa, tapi tiba-tiba di hari itu ia mendapatkan pesanan bunga tulip dalam jumlah besar untuk di kirim ke luar negeri. Mendengar itu ibuku sangat senang dan ia bersikeras untuk ikut. Lalu mereka berangkat dengan lima belas anak buah mereka menaiki kapal. Ayah bilang hanya dua puluh hari mereka pergi dan akan kembali membawakan hadiah untukku. Tapi sampai hari ketiga puluh mereka tidak juga kembali," kata Leon dengan suara parau diakhir ceritanya.
Annette masih diam berusaha mengunci mulutnya yang sudah gatal ingin berkomentar. Tapi ia memahami gestur Leon jika ceritanya belum selesai. Jadi ia mencoba bersabar menunggu kelanjutannya.
"Di hari ke tiga puluh tujuh, ayahmu dan temannya memberiku kabar bahwa mereka melihat serpihan kapal ayahku berada di tengah samudera luas. Dan sudah dipastikan jika kapal mereka hancur dan mungkin saja mereka tidak ada yang selamat," kata Leon. Kali ini ia meneteskan air matanya tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.
Melihat Leon yang seperti itu, Annette pun ikut menangis juga. Perlahan ia mendekati Leon kemudian memeluknya. Tangan kecilnya mengusap punggung Leon.
Leon kalah oleh rasa sedihnya. Ia menangis dengan keras di pelukan Annette. Kedua tangannya juga memeluk tubuh Annette. Untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun Leon menangisi kepergian kedua orang tuanya.
Jika biasanya ia bercerita pada orang hanya sebatas bercerita tidak diiringi air mata. Namun entah mengapa sekarang ia malah melepaskan seluruh kesedihannya dalam pelukan Annette.
...
Kasihan si Leon 🥹
😍😍💪❤❤
paati meninggalnya diracun ama vivian..
❤😍😍💪💪💪❤❤❤
❤❤❤💪💪💪
🤣😄😄❤💪💪
😍❤❤❤💪💪💪💪
🤣😄❤❤💪
❤❤😍😍💪