Seorang pemuda dengan kutukan api di dalam tubuhnya, membuat dirinya dibenci oleh seluruh warga desa.
Padahal di dalam hatinya, Subosito tak ingin melukai siapa pun dengan apinya.
Banyak pendekar yang mengincar kekuatan itu, untuk kepentingan pribadi mereka
Subosito mencoba untuk mengarungi dunia pendekar yang tidak mudah.
Bagaimana kisah perjuangan pemuda api itu dengan kutukan yang dimilikinya?
Ikuti keseruan kisahnya dalam 'Subosito'.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eko yepe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jatuhnya Sang Adipati
Ibukota Kadipaten kini menyerupai bayangan masa lalu yang agung. Kemegahan dinding batu putihnya tak lagi bercahaya; sebaliknya, kota itu seolah diselimuti oleh duka yang kasat mata.
Kabut hitam yang tipis nan pekat di sela-sela rumah warga, membawa aroma busuk seperti daging terbakar dan darah apa pun. Rakyat tak lagi berani menatap langit; mereka bersembunyi di balik pintu-pintu kayu yang terkunci rapat, sementara derap langkah prajurit berpakaian hitam legam terdengar seperti detak jantung kematian yang berdenyut di sepanjang jalan berbatu.
Subosito berdiri di atas atap sebuah bangunan tua yang menghadap langsung ke arah kompleks istana. Di sebelahnya, Putri Dyah Ayuwangi mengenakan pakaian penyamaran serba hitam, wajahnya yang jelita tampak pucat di bawah sinar bulan yang temaram.
Mata sang Putri berkaca-kaca melihat panji-panji ayahnya telah robek dan digantikan oleh bendera hitam berlambang mata satu milik faksi Patih Mangkubumi.
“Mereka bukan lagi prajurit yang kita kenal, Subosito,” bisik Dyah, suaranya menahan amarah dan kesedihan. "Lihatlah mata mereka. Tidak ada kehidupan di sana!"
Subosito menajamkan Indranya, benar apa yang dikatakan Dyah. Dari ketinggian ini, dia bisa melihat para penjaga gerbang bergerak dengan kaku, seperti boneka yang digerakkan oleh benang-benang gaib. Pupil mata mereka memudar, digantikan oleh selaput keunguan yang mengerikan—tanda bahwa jiwa mereka telah dikikis oleh sihir gelap Mangkubumi.
“Kekuatan gelap ini berasal dari pusat istana,” ujar Subosito. Sayap emas di sekelilingnya berdenyut pelan, memberikan kehangatan yang melindungi mereka berdua dari hawa dingin mistis yang mengikat kota. “Kita tidak punya banyak waktu. Jika pengaruh ini menyebar lebih luas, seluruh rakyat akan menjadi budak tanpa nyawa!"
“Kita harus masuk ke kamar Ayahanda,” tegas Dyah, jemarinya memegang erat belati cendana di pinggangnya. “Mangkubumi pasti ada di sana, menjaga wadah kekuasaannya tetap bernapas agar dia bisa memerintah atas nama Adipati!"
Penyusupan dimulai saat lonceng tengah malam berdentang. Subosito tidak menggunakan kekuatan untuk menyerang secara frontal; pemuda itu menggunakan kelincahan yang baru saja diperoleh setelah menyatukan energi Gada Sungsang Aji ke dalam sayapnya.
Dengan satu kepakan lembut yang tak bersuara, Subosito membawa Dyah melompati tembok tinggi istana, mendarat di taman dalam yang biasanya harum oleh melati dan kini berubah menjadi bau belerang.
Mereka bergerak seperti bayangan di antara pilar-pilar istana. Di setiap belokan, mereka harus berhenti sejenak untuk menghindari patroli pasukan "Zombi" Mangkubumi.
Subosito menyadari betapa parahnya situasi ini; istana yang dulu menjadi simbol kehormatan kini telah berubah menjadi sarang pemujaan kekuatan terlarang.
Di koridor-koridor menuju kamar pribadi Adipati, mereka melihat ceceran jelaga hitam di lantai, sisa-sisa dari ritual pemanggilan roh yang dilakukan oleh para dukun suruhan sang Patih.
“Di sana,” tunjuk Dyah ke arah pintu kayu jati raksasa yang dijaga oleh dua orang raksasa dengan baju zirah lengkap. "Itu kamar pribadi Ayahanda!"
Kedua penjaga itu tampak berbeda dari prajurit lainnya. Mereka tidak hanya bisa dikendalikan, tapi tubuh mereka juga telah bermutasi menjadi lebih besar dengan kulit yang mendominasi seperti batu. Inilah pengawal pribadi Mangkubumi yang telah meminum darah ritual.
Subosito memberi isyarat agar Dyah tetap di balik pilar. Pemuda itu melesat maju dengan kecepatan yang tak terlihat oleh mata. Sebelum kedua penjaga itu sempat mengangkat tombak mereka, Subosito menghantamkan telapak tangan ke dada mereka masing-masing.
Percikan api emas merambat masuk ke dalam zirah mereka, memutus aliran sihir yang menggerakkan tubuh-tubuh itu tanpa melukai jiwa yang mungkin masih tersisa di dalamnya. Kedua raksasa itu ambruk tanpa suara.
Dengan dorongan pelan, pintu jati itu terbuka.
Pemandangan di dalam kamar sangat mengerikan. Ruangan itu gelap, hanya diterangi oleh sebuah cawan api di salah satu sudut yang mengeluarkan api berwarna ungu.
Di atas tempat tidur berkelambu sutra, Sang Adipati terbaring, Adipati sudah tidak seperti manusia yang sedang sakit. Tubuhnya terangkat satu depa di atas kasur, seolah ditopang oleh energi gelap.
Kabel-kabel halus yang terbuat dari asap hitam tampak menjulur dari tubuhnya, terhubung dengan sebuah keris yang tertancap di sebuah altar kecil di samping tempat tidur.
Di depan altar itu, Patih Mangkubumi berdiri dengan jubah kebesarannya yang kini compang-camping di bagian ujungnya, tampak seperti sayap gagak yang busuk. Di sana, berdiri sosok yang membuat hati Subosito kembali hancur: Resi Bhaskara .
“Selamat datang, putra mahkota yang terbuang,” suara Mangkubumi terdengar parau dan menggema, penuh dengan keangkuhan yang memuakkan. "Tepat waktu untuk menyaksikan kelahiran era baru Kadipaten!"
“Lepaskan Ayahanda, Mangkubumi!” Dyah Ayuwangi berlari masuk, tetapi segera terhenti oleh dinding energi transparan yang dibuat oleh Resi Bhaskara.
Subosito melangkah maju, sayap emasnya membentang luas, mengedarkan cahaya suci di kamar yang suram itu. "Cukup, Guru. Cukup, Mangkubumi. Kekuatan ini bukan milik kalian. Lihat apa yang kalian lakukan pada orang yang seharusnya kalian lindungi!"
Resi Bhaskara menatap Subosito dengan tampilan dingin. "Kau masih belum mengerti, Subosito. Adipati ini hanyalah simbol dari kelemahan masa lalu. Dia telah menyerahkan jiwanya kepada Keris Kyai Sekar Langit milik Mangkubumi demi kesembuhan yang semu. Sekarang, dia adalah kunci untuk membuka gerbang kekuatan yang lebih besar!"
Subosito melihat ke arah Sang Adipati. Pria itu membuka matanya, mendapati pupilnya telah hilang sepenuhnya, hanya menyisakan ruang hitam yang pekat. Dari mulut keluarlah suara yang bukan suara manusia—suara geraman ribuan jiwa yang tersiksa.
“Mangkubumi telah menyatukan inti keris itu dengan jantung Adipati,” bisik Dyah dengan nada horor setelah mengamati aliran energi di ruangan tersebut. "Subosito, sihir ini sudah masuk terlalu dalam. Keris itu memakan ayahanda setiap saat!"
Mangkubumi tertawa sinis. "Benar sekali, Putri. Jika keris itu dicabut, jantung Adipati akan berhenti berdetak. Jika keris itu tetap di sana, jiwanya akan terus melayani kegelapan. Tidak ada jalan keluar bagi ayahmu, kecuali jika ada seseorang yang berani menghancurkan 'wadahnya'!"
Subosito tertegun, merasakan getaran hebat dari sayap emasnya. Energi Lembuswana di dalam sayapnya memberi tahu satu kenyataan pahit: edaran sihir hitam di tubuh Adipati sudah mencapai tahap Manunggal Ireng .
Sang sihir penguasa tubuh Adipati bukan lagi sekadar mengendalikan; melainkan telah menjadi satu dengan racun mistis itu.
“Tidak mungkin!" gumam Subosito. "Pasti ada cara lain untuk mengembalikannya!"
"Gunakan apimu, Subosito!" tantang Mangkubumi. "Bakar dia! bukankah kau ingin menjadi pahlawan? Bakarlah Adipati dan jadilah raja yang berdiri di atas abu orang tuamu sendiri!"
Resi Bhaskara mulai merapal mantra, dan api ungu di ruangan itu melesat membentuk bayangan-bayangan naga yang mengincar Subosito. Pertarungan di dalam ruang sempit itu pun pecah.
Subosito harus menangkis serangan gurunya sambil berusaha mencari celah untuk mendekati tempat tidur Adipati, sementara Dyah mencoba mencari cara untuk memutus mantra penahan dari sisi luar.
Dinding-dinding kamar retak akibat benturan energi.
Setiap kali api emas Subosito bersentuhan dengan energi gelap Mangkubumi, terdengar suara lengkingan yang memekakkan telinga.
Namun, di tengah pertarungan, Subosito menyadari satu hal yang mengerikan. Setiap kali mencoba menyalurkan energi pemurnian ke arah Adipati, sihir penguasa tubuh itu justru bereaksi dengan rasa sakit yang luar biasa.
Tubuh Adipati mulai mengeluarkan sisik-sisik hitam, dan tangannya berubah menjadi cakar yang siap mencabik.
"Hentikan, Subosito!" Dyah berteriak sambil menangis. "Kau justru menyakitinya!"
Subosito berhenti, terengah-engah, seraya menatap telapak tangannya yang gemetar. Subosito menyadari jebakan kejam Mangkubumi.
Sihir itu telah menjadikan nyawa Adipati sebagai tameng sekaligus sandera.
Mangkubumi dan Resi Bhaskara berdiri di balik bayangan, tersenyum puas. Mereka tahu bahwa selama hati nurani Subosito masih ada, pemuda itu tidak akan pernah berani melepaskan kekuatan penuhnya.
“Pilih, Subosito,” suara Mangkubumi kembali menggelegar. "Membiarkan kegelapan ini menelan kota, atau bunuh pria yang menjadi jalan bagi kepulanganmu ini."
Di luar istana, kabut hitam mulai menjalar ke pemukiman penduduk, dan teriakan-teriakan baru mulai terdengar. Waktu mereka hampir habis, Subosito menatap Adipati yang kini mulai meronta dengan kekuatan hitam, lalu menatap Dyah yang bersimpuh dalam keputusasaan.
Subosito merasakan sebuah bisikan dari dalam sayapnya, dari sisa-sisa kesadaran Sungsang Aji. Sebuah kebenaran yang pahit dan tak terelakkan. Pilihan yang akan mengubah dari seorang pengembara menjadi seorang ksatria yang harus memikul beban dosa yang teramat berat.
Subosito kini berada di persimpangan takdir yang paling kejam. Di hadapannya berdiri sang penguasa yang sedang tidur, di belakangnya adalah sebuah negeri yang berada di ambang kehancuran total. Keputusannya dalam beberapa waktu ke depan akan menentukan apakah ia akan dikenang sebagai penyelamat atau sebagai pengkhianat yang membunuh rajanya sendiri.
Mampukah Subosito menemukan celah sempit antara pemurnian dan pembunuhan? Dan pengorbanan apa yang harus diberikan untuk memutuskan ikatan Keris Kyai Sekar Langit yang telah menyatu dengan darah Adipati?
Ikuti terus kisah Subosito.