NovelToon NovelToon
DARI MAFIA JADI CEO

DARI MAFIA JADI CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / CEO / Persahabatan
Popularitas:234
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

seorang yang miskin dan berubah rekrut menjadi mafia dan dipercaya menjadi CEO perusahaan besar
perebutan takhta dan warisan.
Aryo adalah karakter underdog yang kuat—seorang anak yatim piatu yang bukan sekadar beruntung, tapi memang memiliki kualitas "Dewa" yang diakui oleh sang kakek. Ini menciptakan dinamika yang berbahaya dengan Paman Budiono yang merasa memiliki "hak lahir" sebagai anak tertua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 4

Kembali kemasa kini, Aryo sebagai pemimpin komunitas geng motor dengan puluhan ribu anggotanya menghadiri event seperti biasa dengan di hadiri petinggi grup masing masing.

Masa kini telah menempatkan Aryo di puncak yang unik. Selain menjadi pewaris tahta bisnis keluarga, ia secara organik tumbuh menjadi pimpinan "The Great Mawar", sebuah komunitas motor raksasa dengan puluhan ribu anggota yang tersebar di seluruh negeri. Komunitas ini bukan geng motor kriminal, melainkan barisan ksatria jalanan yang berlandaskan gotong royong—persis seperti nilai yang ditanamkan Aryo sejak dulu.

Pertemuan Para Raja Jalanan

Event tahunan bertajuk "Unity of the Road" diadakan di sebuah sirkuit pribadi milik keluarga Aryo. Suasana menderu dengan suara mesin dari puluhan ribu motor yang terparkir rapi. Di panggung utama, atmosfer terasa berat namun penuh hormat.

Aryo turun dari motor sport hitam kustomnya yang legendaris. Ia tidak mengenakan jas kantor, melainkan jaket kulit hitam dengan emblem Mawar Emas di punggungnya. Di belakangnya, dua sosok yang tak terpisahkan tetap setia mengawal:

 * Dio: Pemimpin divisi operasional dan keamanan komunitas. Ia mengomandani ribuan anggota dengan disiplin militer.

 * Aan: Otak di balik sistem komunikasi terenkripsi komunitas, memastikan tidak ada intelijen lawan yang bisa menyusup ke dalam grup.

Para Petinggi Grup (The High Council)

Di sofa kulit melingkar, telah duduk para petinggi grup motor dari berbagai wilayah:

 * Bara: Pemimpin grup "Black Asphalt" dari wilayah Barat, yang terkenal dengan temperamennya yang keras.

 * Tigor: Ketua "Iron Ridge" dari wilayah Timur, sosok senior yang sangat dihormati.

 * Elena (Putri dari masa lalu): Kini memimpin faksi motor elit yang berafiliasi dengan bisnis internasional.

"Sudah lama, Aryo," Bara membuka suara sambil mengembuskan asap cerutu. "Puluhan ribu orang ini menunggu instruksimu. Ada kabar bahwa beberapa perusahaan logistik asing mencoba memboikot jalur distribusi kita di jalan raya."

Aryo berdiri di depan mikrofon, menatap lautan manusia di hadapannya. Tatapannya dingin namun teduh.

"Kita di sini bukan untuk menguasai jalanan dengan kekerasan," suara Aryo menggema lewat pengeras suara raksasa. "Kita di sini karena kita adalah urat nadi distribusi ekonomi rakyat. Jika ada pihak yang mencoba menutup jalur kita, itu artinya mereka mencoba menutup piring makan keluarga kita."

Ia menjeda sejenak, memberikan tekanan pada kata-katanya.

"Saya, sebagai pimpinan kalian, memberikan instruksi: Operasi Pagar Betis. Mulai besok, tidak ada satu pun truk logistik rakyat yang boleh diganggu. Jika ada intimidasi, The Great Mawar akan mengawal mereka di setiap kilometer jalan negara. Kita tunjukkan bahwa gotong royong lebih kuat dari monopoli modal!"

Tigor mengangguk setuju, sementara Bara menggebrak meja dengan semangat. Namun, di sudut ruangan, asisten pribadi Paman Budiono (yang kini bekerja untuk faksi lain) tampak sedang membisikkan sesuatu ke telepon genggamnya.

Elena mendekati Aryo setelah pidato selesai. "Kau bermain api, Aryo. Menjadikan komunitas motor sebagai tameng ekonomi rakyat akan membuatmu menjadi target utama para penguasa bayangan. Kau bukan lagi sekadar melawan pamanmu, kau melawan sistem."

Aryo menatap Elena dengan tajam. "Sistem dibuat oleh manusia, Elena. Dan manusia yang bersatu bisa mengubah sistem tersebut. Jangan lupa, aku punya Dio sebagai perisai dan Aan sebagai mata. Kami tidak akan jatuh."

Ketegangan Baru

Saat event sedang berlangsung, Aan tiba-tiba mendekati Aryo dan membisikkan sesuatu yang genting.

"Yo, satelit pelacakku mendeteksi ada konvoi kendaraan tak dikenal bergerak menuju desa Sinta. Sepertinya musuhmu tahu bahwa saat kau sibuk dengan puluhan ribu anggotamu di sini, itu adalah waktu terbaik untuk menyerang titik lemahmu."

Aryo mengepalkan tangannya. Ia harus membuat keputusan cepat: Tetap di event untuk menjaga moral puluhan ribu anggotanya, atau meninggalkan panggung demi menyelamatkan Sinta?

Aryo tidak terkejut. Baginya, serangan ke titik lemah adalah langkah klasik dari lawan yang sudah putus asa. Ia melirik Dio dan Aan, sebuah kode tanpa suara yang langsung dipahami oleh kedua sahabatnya.

Aryo kembali ke mikrofon. Suaranya tidak menunjukkan kepanikan, melainkan otoritas yang mutlak.

"Rekan-rekan sekalian! Saat ini, ada pihak yang mencoba menguji kesigapan kita. Mereka mengira kita hanya kumpulan orang yang hobi pamer mesin. Hari ini, kita buktikan bahwa The Great Mawar adalah sistem pertahanan rakyat!"

Mobilisasi Massa (Instruksi Massal)

Aryo menunjuk ke layar besar yang kini menampilkan peta navigasi real-time dari Aan. "Bara! Gerakkan faksi Barat untuk menutup jalan lintas provinsi sektor tiga. Tigor! Ambil alih jalur tikus di perbatasan desa. Jangan ada kekerasan kecuali terdesak, cukup buat kemacetan total yang mengunci pergerakan konvoi asing itu!"

Dalam sekejap, suara deru mesin puluhan ribu motor menyala serentak. Itu adalah suara paling menggetarkan yang pernah didengar di sirkuit tersebut. Lautan motor bergerak keluar seperti aliran lava yang teratur.

Tim Elit "Trinity"

Sementara massa bergerak menutup jalan, Aryo, Dio, dan Aan menaiki kendaraan mereka masing-masing. Mereka tidak bergabung dengan massa besar, melainkan memotong jalur melalui perbukitan.

 * Dio (The Shield): Mengaktifkan radio komunikasi taktis. "Tim pengawal pribadi sudah di posisi. Kami akan menabrak baris depan konvoi mereka jika mereka mencoba menerobos barikade massa."

 * Aan (The Eye): Sambil membonceng di motor Dio, ia menggunakan tablet militernya untuk melakukan jamming signal pada kendaraan musuh. "GPS mereka mati. Mereka sekarang buta di tengah desa yang jalannya seperti labirin ini."

Konvoi musuh—tiga mobil SUV hitam tanpa plat nomor—terjebak. Di depan mereka, ribuan motor anggota The Great Mawar sudah berdiri diam, mesin dimatikan, namun sorot lampu depan mereka semua mengarah ke mobil musuh.

Aryo perlahan membelah barisan motor anggotanya, berhenti tepat di depan mobil paling depan. Ia turun dari motor, melepas helm, dan berjalan tenang menuju kaca mobil tersebut.

Kaca turun. Di dalamnya adalah orang kepercayaan Elena yang ternyata bermain dua kaki.

"Kalian salah jalan," ucap Aryo dingin. "Desa ini bukan tempat untuk urusan bisnis kotor kalian. Sinta sedang mengajar di dalam, dan aku tidak ingin suaramu mengganggu konsentrasinya."

Aan menunjukkan layar tabletnya ke arah penumpang mobil. "Seluruh wajah kalian sudah teridentifikasi dan dikirim ke pusat data kepolisian sebagai terduga pelaku penculikan berencana. Jika kalian tidak putar balik dalam tiga menit, status kalian berubah menjadi buronan nasional."

Melihat lautan anggota motor yang mengepung mereka dan bukti digital yang kuat, konvoi tersebut perlahan mundur. Mereka kalah telak—bukan oleh senjata, tapi oleh kecepatan informasi dan kekuatan massa.

Setelah konvoi itu pergi, Sinta keluar dari gedung sekolah desa dengan wajah tenang. Ia sudah tahu apa yang terjadi karena Aan sempat mengiriminya pesan singkat agar tetap di dalam.

Sinta mendekati Aryo yang masih mengenakan jaket kulit berdebu. Di hadapan puluhan ribu anggotanya yang menyaksikan dari kejauhan, Aryo tampak seperti raja yang kembali dari medan perang.

"Kau membawa seluruh pasukanmu hanya untuk memastikan kelasku tidak terganggu?" tanya Sinta sambil tersenyum tipis.

Aryo tersenyum—senyum tulus yang hanya milik Sinta. "Bukan hanya untukmu, Sin. Tapi untuk menunjukkan pada mereka bahwa di dunia ini, ada hal-hal yang tidak bisa dibeli dengan uang: kesetiaan sahabat dan ketulusan rakyat."

Plot Twist untuk Bab Berikutnya:

Saat suasana mulai mereda, Kakek Hadi menelepon Aryo. Suaranya terdengar sangat serius.

"Aryo, kau baru saja mempermalukan faksi internasional itu di depan umum. Mereka tidak akan diam. Mereka baru saja menarik seluruh investasi mereka dari bank nasional untuk memicu krisis ekonomi kecil agar perusahaan kita goyah. Sekarang, ini bukan lagi soal jalanan... ini soal Perang Finansial."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!