Cassia Bellvania Anahera adalah personifikasi keanggunan di SMA Kencana, dengan rambut panjang yang menjadi simbol harga diri dan kasih sayang kakaknya, Kalingga. Namun, dunia Cassia yang berwarna merah muda seketika berubah menjadi kelabu saat ia mendapati kekasihnya, Zidane, dan sahabatnya, Elara, mengkhianatinya. Penghinaan Zidane terhadap dirinya—yang dianggap hanya sebagai "pajangan membosankan"—memicu ledakan luka yang mendalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di bawah bayangan yang sama
Napas Cassia tertahan. Aroma maskulin bercampur harum samar kayu cendana dari jaket Galaksi memenuhi indranya. Pria itu menekan tubuh Cassia dengan protektif, memastikan bayangan mereka menyatu dengan kegelapan tembok paviliun. Jarak mereka begitu tipis hingga Cassia bisa merasakan detak jantung Galaksi yang tenang namun kuat di punggungnya.
"Sheq! Gue tahu motor lo di situ!" Suara Kalingga terdengar semakin dekat. Cahaya lampu motor sport-nya menyapu area taman, hampir mengenai ujung sepatu Cassia.
Galaksi tetap diam, tangannya mendekap bahu Cassia agar gadis itu tidak bergerak sedikit pun. Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, Galaksi akhirnya menyahut dengan suara baritonnya yang santai, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Gue di sini, Ling. Santai aja," Galaksi melangkah keluar dari bayangan, tapi dia sengaja memosisikan tubuhnya menutupi celah di mana Cassia bersembunyi.
Kalingga mematikan mesin motornya. "Ngapain lo di taman gelap begini? Terus, mana si Phantom tadi? Gue lihat lo ngejar dia."
Galaksi menyalakan sebatang rokok, asapnya mengepul pelan. "Kehilangan jejak. Dia gesit banget masuk gang sempit, gue nggak mau ambil risiko motor gue lecet cuma buat ngejar hantu."
Kalingga mendengus, tampak sedikit kecewa. "Sial. Padahal gue penasaran banget. Cara dia bawa motor... agresif, tapi rapi. Belum pernah gue lihat pembalap liar seberani itu di daerah sini."
"Mungkin cuma orang lewat yang cari panggung," sahut Galaksi datar. "Balik yuk, anak-anak nunggu di markas."
Kalingga mengangguk, namun sebelum pergi, ia melirik ke arah tumpukan terpal di belakang Galaksi. "Itu apa?"
"Barang rongsokan punya penjaga taman. Kenapa? Mau lo bawa pulang?" Galaksi bertanya dengan nada sarkasme andalannya.
Kalingga terkekeh. "Enggak lah. Ya udah, gue duluan. Jangan lama-lama di sini, ntar lo kesambet."
Begitu raungan motor Kalingga menjauh dan hilang dari pendengaran, Galaksi kembali ke balik tembok. Ia menemukan Cassia masih mematung, wajahnya pucat pasi namun matanya berkilat penuh amarah dan lega yang bercampur jadi satu.
"Lo gila, Cassie," ucap Galaksi sambil mematikan rokoknya di bawah sepatu. "Kalau tadi Kalingga nekat buka terpal itu, bukan cuma lo yang mati, gue juga."
Cassia keluar dari persembunyiannya, segera memakai helmnya kembali. "Aku nggak minta Kak Galaksi buat bantuin."
"Bukan masalah minta atau nggak. Lo itu adik sahabat gue. Dan gue..." Galaksi menggantung kalimatnya, menatap Cassia dalam-dalam. "Gue nggak suka lihat lo hancur cuma karena pecundang kayak Zidane."
"Ini bukan cuma soal Zidane!" potong Cassia tajam. "Ini soal aku yang nggak mau jadi Cassia yang lemah lagi. Aku benci rambut panjang ini, aku benci baju-baju manis ini, aku benci harus senyum setiap hari padahal hatiku rasanya mau meledak!"
Galaksi terdiam. Untuk pertama kalinya, ia melihat retakan di balik topeng 'adik kecil yang sempurna' milik Cassia. Ia melangkah mendekat, lalu dengan lembut menarik tudung hoodie Cassia untuk menutupi kepala gadis itu.
"Gue nggak bakal kasih tahu Lingga. Tapi dengan satu syarat," kata Galaksi tegas.
Cassia mendongak. "Apa?"
"Setiap kali lo mau turun ke sirkuit, lo harus kasih tahu gue. Gue nggak bakal larang, tapi gue bakal pastiin nggak ada 'Vipers' lain yang berani nyentuh motor lo."
Cassia terpaku. Bukannya dilaporkan, dia malah mendapatkan 'pelindung' yang paling tidak ia duga. "Kenapa Kakak ngelakuin ini?"
Galaksi tidak menjawab. Ia hanya memakai helmnya, menyalakan mesin motor biru tuanya yang gahar. "Pulang. Pasang wig lo yang bener. Besok pagi gue jemput lo buat sekolah."
"Tapi Kak Lingga—"
"Gue udah bilang Lingga kalau besok gue mau bareng lo karena motor dia mau masuk bengkel. Cepat jalan, sebelum gue berubah pikiran."
Keesokan paginya di SMA Kencana, Cassia turun dari motor Galaksi dengan wig rambut panjang yang tertata rapi. Pemandangan itu langsung menjadi pusat perhatian. Arsheq Zhafran Galaksi, sang ketua Acheron yang dingin, berangkat sekolah membonceng adik Kalingga?
Di koridor kelas, Zidane sudah menunggu dengan wajah merah padam karena cemburu.
"Cassie! Apa-apaan ini? Kenapa kamu bareng Galaksi?" Zidane menarik lengan Cassia dengan kasar.
Namun, sebelum Cassia sempat menjawab, sebuah tangan kekar mencengkeram pergelangan tangan Zidane. Arsheq Galaksi berdiri di sana dengan tatapan yang sanggup membekukan darah siapa pun yang melihatnya.
"Lepasin tangan lo dari dia," ucap Galaksi dengan suara rendah yang penuh ancaman.
"Dia pacar gue, Sheq! Jangan sok jadi pahlawan!" tantang Zidane, meski suaranya sedikit bergetar.
Galaksi tersenyum miring—senyuman yang membuat Cassia merinding. "Mantan, Zidane. Dan kalau gue lihat lo kasar lagi sama dia, gue nggak bakal peduli lo anak tim basket atau bukan. Gue bakal bikin lo nggak bisa lari lagi di lapangan."
Zidane tertegun, lalu melepaskan cengkeramannya dan pergi dengan umpatan kasar.
Cassia menatap punggung Galaksi yang mulai menjauh. Di tengah keramaian sekolah, ia menyadari satu hal: dunianya benar-benar sudah berubah. Dia tidak lagi berlari dari masalah, tapi dia sedang menuju ke tengah badai yang jauh lebih besar.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...