Demi warisan ibunya, Zelia nekat menikahi tukang parkir bernama Arelion—pria asing yang pernah menyelamatkannya.
Malam sebelum pernikahan impiannya, ia memergoki tunangannya selingkuh dengan adik tirinya, dan ayahnya ternyata ikut merencanakan perebutan perusahaan.
Pernikahan kontrak ini adalah balas dendam sekaligus pelindung terakhirnya.
Tapi di balik sikap dingin dan penampilan sederhana Arelion, tersimpan rahasia besar yang akan mengubah segalanya... termasuk hati Zelia yang sudah hancur..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Menjaga Posisi, Menjaga Hati
Pagi datang terlalu cepat.
Zelia sudah rapi dengan setelan kantornya saat melihat laporan sentimen.
“Publik mulai mempertanyakan Papa.”
Are menutup layar. “Itu bukan tujuan kita.”
Zelia menoleh. “Lalu?”
“Tujuan kita adalah stabilitas.” Ia berhenti sejenak. “Jika beliau merasa terpojok, beliau akan melakukan langkah lebih ekstrem.”
“Hubungan kami memang tidak baik. Tapi aku tidak pernah ingin Papa jatuh,” gumamnya. "Bukan karena aku sudah memaafkan, tapi aku tak ingin perseteruan kami memberi imbas pada perusahaan. Banyak orang menggantungkan hidup pada perusahaan ini."
Are menatapnya. “Kau tidak menjatuhkannya.”
“Tapi aku yang membuatnya terpojok dan mungkin... kehilangan posisi.”
“Kehilangan posisi berbeda dengan kehilangan wajah,” jawab Are.
“Dan kau?” tanya Zelia pelan. “Kalau suatu hari aku kehilangan posisi… apa kau tetap di sini?”
Zelia menatapnya lama. “Kau tahu aku tetap tidak akan menceraikanmu, 'kan?”
Are tidak menjawab. Dan itu lebih keras daripada penolakan.
"Fokus saja pada perusahaan," ucap Are akhirnya. "Papamu bukan tipe orang yang akan menyerah. Bersiaplah menghadapinya."
Zelia menghembuskan napas kasar. "Selalu saja mengalihkan pembicaraan."
Are tak menanggapi.
Padahal ia melihat dengan jelas, bahu Zelia turun perlahan, dan sorot matanya meredup sepersekian detik sebelum kembali tegar.
Dan itu menyakitkan.
Mereka berangkat ke kantor tanpa kata. Di dalam mobil, hanya suara mesin dan jarak yang tak terlihat… tapi terasa.
***
Ruang kerja Atyasa sudah dipenuhi tiga panggilan masuk.
“Hubungkan saya dengan redaksi ekonomi,” ucapnya datar.
Dalam dua jam, undangan wawancara eksklusif tersebar.
Judul yang semalam berbunyi:
"Konflik Keluarga?"
siang itu berubah menjadi:
"Perusahaan X Percepat Reformasi Tata Kelola."
Atyasa tidak membantah siapa pun. Ia mengubah medan perangnya.
Di ruang rapat terpisah, ia menyetujui percepatan laporan kuartal.
“Pastikan angka-angkanya solid,” katanya singkat.
Ia tahu risikonya. Jika performa goyah, ia yang jatuh. Jika stabil, narasi berakhir.
Sore harinya, ia menandatangani persetujuan review tata kelola independen.
Transparan. Percaya diri. Terlihat bersih. Padahal yang ia lakukan sebenarnya hanya satu:
Membeli waktu.
Dan waktu adalah senjata paling mahal di ruang kekuasaan.
Beberapa pemegang saham institusi mulai meminta penjelasan formal. Bukan serangan, tapi tekanan.
Dan Atyasa tahu, perang ini baru berpindah level.
***
Ruang Kerja CEO
Ruangan sepi. Matahari senja masuk dari jenderal besar.
Zelia berdiri di depan layar yang menampilkan grafik sentimen dan laporan pasar.
Are masuk membawa tablet. “Beliau bergerak cepat,” katanya tanpa basa-basi.
Zelia tidak menoleh.
“Ya. Media sudah berganti framing.” Nada suaranya datar. Terlalu datar.
Are menyadari itu. Ia melanjutkan analisis:
Percepatan laporan kuartal \= ujian publik.
Review tata kelola \= beli waktu.
Konsolidasi pemegang saham \= pengamanan posisi.
“Ini bukan serangan,” kata Are pelan. “Ini pertahanan jangka panjang.” Zelia menyilangkan tangan. “Papa tidak pernah bermain jangka pendek.”
Profesional. Tenang. Tidak emosional. Dan itu justru terasa seperti dinding.
Are menatapnya beberapa detik lebih lama. Biasanya Zelia akan bertanya balik. Akan memancing debat. Akan menyentuh lengannya tanpa sadar.
Sekarang tidak. Hanya jarak.
Are melanjutkan, “Kalau laporan kuartal sedikit saja melemah, tekanan akan berbalik ke kamu.”
“Aku tahu,” jawab Zelia singkat.
“Kita harus siapkan skenario terburuk.”
“Siapkan saja.”
Tidak ada “kita” yang hangat.
Hanya tim kerja. Dan itu terasa menusuk bagi Are.
Akhirnya Are berkata pelan. “Kamu marah karena tadi pagi?”
Zelia akhirnya menoleh. Tatapannya tenang. Terlalu tenang. “Aku CEO. Aku tidak punya waktu marah.”
Itu bukan jawaban. Itu pernyataan jarak. Are sadar. Ia penyebabnya.
Dan kini, konflik eksternal dan internal bertemu di titik yang sama:
Jika Atyasa menekan dari luar, dan Zelia menarik diri dari dalam, Are bisa kehilangan keduanya.
***
Dalam perjalanan pulang, Zelia tetap bersikap dingin.
Tidak ada percakapan. Tidak ada keluhan. Hanya keheningan yang terlalu rapi.
Are menyetir dengan fokus seperti biasa. Tangannya stabil di kemudi. Pandangannya lurus ke jalan.
Tapi sesekali ia melirik melalui kaca spion. Zelia menatap keluar jendela, wajahnya tanpa ekspresi. Dan entah mengapa, Are tidak menyukainya.
Ia biasanya tidak pernah peduli bagaimana orang bersikap padanya. Dingin? Biasa. Menjauh? Lebih mudah.
Tapi hari ini berbeda. Ia mengembuskan napas pelan. Keheningan ini terasa seperti hukuman.
Dan Zelia?
"Aku kesal padanya." Zelia menahan napas, memandangi pantulan lampu jalan di kaca mobil. "Tapi aku rindu bersandar padanya."
Perasaannya berperang.
Jujur saja, setiap kali ia bersandar pada pria yang kini duduk di sampingnya itu, beban di pundaknya terasa lebih ringan. Seolah dunia bisa menunggu sebentar.
Hari ini melelahkan.
Pergerakan papanya sejak pagi, tekanan dewan, sentimen pasar, semuanya seperti menekan dari berbagai arah.
Ia memejamkan mata. Gengsi menahannya beberapa detik. Lalu perlahan… ia menyerah pada kelelahan.
Tanpa kata, tanpa izin, ia menyandarkan kepalanya di bahu Are. Diam. Matanya tetap terpejam.
"Aku marah padanya… tapi menjauh darinya justru membuatku tak nyaman."
Are sedikit menegang ketika merasakan berat kepalanya. Ia melirik sekilas.
Wajah Zelia terlihat lelah. Tidak defensif. Tidak dingin. Hanya lelah.
Dan sejak seharian yang tak nyaman oleh sikap dingin Zelia, kini dada Are terasa lebih ringan.
Tanpa sadar ia memperlambat laju mobilnya, seolah takut guncangan kecil akan mengusik ketenangan itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi padaku?"
Ia tahu jawabannya. Hanya saja… ia belum siap mengakuinya.
Mobil terus melaju di bawah lampu kota. Dan untuk beberapa menit, perang di luar sana terasa jauh. Yang tersisa hanya jarak yang perlahan mencair. Dan rasa hangat yang kembali merayap di dadanya.
***
Sore itu, Zelia sudah berpakaian kasual. Tas kecil tergantung di pundaknya saat ia melangkah melewati ruang tengah.
Are duduk di sofa dengan laptop terbuka di pangkuannya. Jemarinya berhenti mengetik ketika melihat Zelia.
“Kamu mau ke mana?” tanyanya tenang.
“Mau jalan-jalan,” jawab Zelia ringan. “Mau ikut?”
Nada suaranya terdengar biasa saja. Tapi sebelum Are sempat menjawab, Zelia sudah melangkah mendekat.
“Nggak.”
Jawaban singkat itu memang yang Zelia harapkan.
Ia mengangguk. Namun alih-alih langsung pergi, ia sempat berdiri beberapa detik terlalu dekat. Jemarinya refleks merapikan kerah kaus Are yang sebenarnya sudah rapi.
Gerakan kecil. Spontan. Seperti kebiasaan yang tak pernah benar-benar hilang.
Jarak yang seharian sempat ia jaga kini kembali menghilang begitu saja. Seolah tubuhnya lebih jujur daripada gengsinya.
Dan Are?
Seperti biasanya, ia tak mampu menolak sentuhan Zelia.
“Oke. Aku pergi dulu.” Zelia akhirnya melangkah keluar. Pintu tertutup pelan.
Namun tanpa sadar, Are mengangkat wajahnya, menatap punggung Zelia yang menghilang di balik pintu.
Dan ia tahu, Zelia mungkin berusaha bersikap biasa saja. Tapi tubuhnya selalu kembali padanya. Sedangkan ia, terlalu enggan untuk menolaknya.
Ruangan mendadak terasa lebih sunyi.
“Menjaga hati lebih sulit dari menjaga posisi,” gumamnya lirih. Ada nada frustrasi tipis yang jarang terdengar darinya.
Semakin lama ia bersama Zelia, batu demi batu yang ia susun untuk membangun dinding di hatinya runtuh satu per satu.
Padahal ia sudah berjanji.
Setahun. Suami kontrak selama satu tahun, demi biaya pengobatan ibunya.
Are bukan tipe pria yang mengingkari janji. Sekali ia berkata ya, maka ya sampai akhir.
Dan itu berarti ia tidak boleh mundur. Tidak boleh goyah. Tidak boleh melibatkan perasaan.
Di dalam lift, Zelia menghela napas pelan. "Semoga cara ini bisa jadi jalanku."
...✨“Menjaga hati lebih sulit dari menjaga posisi.”...
..."Dalam dunia yang memperebutkan kursi dan kendali, yang paling sulit ternyata hanya satu, mengakui bahwa kita ingin tinggal."...
..."Ia bisa mengatur pasar, membaca strategi, dan mengendalikan risiko....
...Tapi ia tak pernah belajar cara mengendalikan perasaan."...
..."Aku tidak takut berperang....
...Aku hanya takut percaya lagi… pada orang yang bisa menghancurkanku."...
..."Jika hati tak bisa ditembus dari depan, maka aku akan masuk lewat pintu yang paling ia jaga."✨...
.
To be continued
Masih mau cari cara lain apa Fero. Gak bakal menang melawan Are.
Yang bermasalah itu kalian berdua - Atyasa dan Fero.
Sekarang pun Atyasa ambisius - ingin menguasai perusahaan yang bukan haknya.
Sayangnya fondasinya terlalu kuat, Atyasa. Mana mungkin bisa menghancurkan Are.
Atyasa, Dian, Desti, dan Fero barisan orang-orang licik.
Atyasa mau mencari celah di Gala dinner.
Fero - Galacdinner mau dijadikan ajang menjatuhkan seseorang. Jatuh sendiri kau Fero.
Dian ini seorang Ibu bisa punya pemikiran jahat begitu.
Pantes Desti sebelas dua belas kelakuannya sama dengan Emak-nya, Dian.
Zelia seperti biasa, kalau sudah merasa lega dalam menghadapi peliknya pekerjaan dengan bantuan Are, tanpa aba-aba ia meloncat ke tubuh Are.
Are sudah siap, sepertinya Are sudah hafal apa yang bakal terjadi. Are menangkap tubuh Zelia tanpa goyah.
Zelia semakin berani - mengecup pipi Are.
Presentasi yang sangat baik - begitu ucap salah satu direktur sambil bertepuk tangan pelan. Beberapa lainnya ikut mengangguk.
Komentar-komentar positif dibalas Zelia dengan menunduk ringan dengan mengucapkan teima kasih.
Are juga mendapat pujian dalam kemampuannya berbahasa Jepang.
Atyasa no comment. Hanya menatap putrinya lalu berpindah ke Are.
Zelia pamit, bersama Are keluar ruangan.
Pintu tertutup.
Komentar-komentar positif untuk Zelia dan Are masih berlanjut.
Mereka saling melengkapi.
Bahkan semua setuju kecuali Atyasa - kalau duet seperti itu dipertahankan, target enam bulan bukan hal mustahil.
Penerjemah yang seharusnya mendampingi meeting tidak bisa datang.
Klien Jepang menolak menggunakan penerjemah daring.
Klien Jepang hanya ingin berdiskusi dalam bahasa Jepang.
Are menguasai bahasa Jepang.
Zelia tidak menyerahkan meja negoisasi pada Are, tapi menjalankan bersama.
Zelia mempertaruhkan reputasinya pada pria yang menikahinya tanpa cinta.
Zelia memilih percaya pada Are.
Are dan Zelia sudah duduk di ruang meeting.
Atyasa terlalu banyak bicara - sepertinya meragukan meeting berjalan tanpa kehadiran translator.
Semua perkataan Atyasa jelas ditujukan pada Zelia.