NovelToon NovelToon
Menikahi Tukang Parkir Misterius Demi Warisan

Menikahi Tukang Parkir Misterius Demi Warisan

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:176.1k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Demi warisan ibunya, Zelia nekat menikahi tukang parkir bernama Arelion—pria asing yang pernah menyelamatkannya.

Malam sebelum pernikahan impiannya, ia memergoki tunangannya selingkuh dengan adik tirinya, dan ayahnya ternyata ikut merencanakan perebutan perusahaan.

Pernikahan kontrak ini adalah balas dendam sekaligus pelindung terakhirnya.

Tapi di balik sikap dingin dan penampilan sederhana Arelion, tersimpan rahasia besar yang akan mengubah segalanya... termasuk hati Zelia yang sudah hancur..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34. Menjaga Posisi, Menjaga Hati

Pagi datang terlalu cepat.

Zelia sudah rapi dengan setelan kantornya saat melihat laporan sentimen.

“Publik mulai mempertanyakan Papa.”

Are menutup layar. “Itu bukan tujuan kita.”

Zelia menoleh. “Lalu?”

“Tujuan kita adalah stabilitas.” Ia berhenti sejenak. “Jika beliau merasa terpojok, beliau akan melakukan langkah lebih ekstrem.”

“Hubungan kami memang tidak baik. Tapi aku tidak pernah ingin Papa jatuh,” gumamnya. "Bukan karena aku sudah memaafkan, tapi aku tak ingin perseteruan kami memberi imbas pada perusahaan. Banyak orang menggantungkan hidup pada perusahaan ini."

Are menatapnya. “Kau tidak menjatuhkannya.”

“Tapi aku yang membuatnya terpojok dan mungkin... kehilangan posisi.”

“Kehilangan posisi berbeda dengan kehilangan wajah,” jawab Are.

“Dan kau?” tanya Zelia pelan. “Kalau suatu hari aku kehilangan posisi… apa kau tetap di sini?”

Zelia menatapnya lama. “Kau tahu aku tetap tidak akan menceraikanmu, 'kan?”

Are tidak menjawab. Dan itu lebih keras daripada penolakan.

"Fokus saja pada perusahaan," ucap Are akhirnya. "Papamu bukan tipe orang yang akan menyerah. Bersiaplah menghadapinya."

Zelia menghembuskan napas kasar. "Selalu saja mengalihkan pembicaraan."

Are tak menanggapi.

Padahal ia melihat dengan jelas, bahu Zelia turun perlahan, dan sorot matanya meredup sepersekian detik sebelum kembali tegar.

Dan itu menyakitkan.

Mereka berangkat ke kantor tanpa kata. Di dalam mobil, hanya suara mesin dan jarak yang tak terlihat… tapi terasa.

***

Ruang kerja Atyasa sudah dipenuhi tiga panggilan masuk.

“Hubungkan saya dengan redaksi ekonomi,” ucapnya datar.

Dalam dua jam, undangan wawancara eksklusif tersebar.

Judul yang semalam berbunyi:

"Konflik Keluarga?"

siang itu berubah menjadi:

"Perusahaan X Percepat Reformasi Tata Kelola."

Atyasa tidak membantah siapa pun. Ia mengubah medan perangnya.

Di ruang rapat terpisah, ia menyetujui percepatan laporan kuartal.

“Pastikan angka-angkanya solid,” katanya singkat.

Ia tahu risikonya. Jika performa goyah, ia yang jatuh. Jika stabil, narasi berakhir.

Sore harinya, ia menandatangani persetujuan review tata kelola independen.

Transparan. Percaya diri. Terlihat bersih. Padahal yang ia lakukan sebenarnya hanya satu:

Membeli waktu.

Dan waktu adalah senjata paling mahal di ruang kekuasaan.

Beberapa pemegang saham institusi mulai meminta penjelasan formal. Bukan serangan, tapi tekanan.

Dan Atyasa tahu, perang ini baru berpindah level.

***

Ruang Kerja CEO

Ruangan sepi. Matahari senja masuk dari jenderal besar.

Zelia berdiri di depan layar yang menampilkan grafik sentimen dan laporan pasar.

Are masuk membawa tablet. “Beliau bergerak cepat,” katanya tanpa basa-basi.

Zelia tidak menoleh.

“Ya. Media sudah berganti framing.” Nada suaranya datar. Terlalu datar.

Are menyadari itu. Ia melanjutkan analisis:

Percepatan laporan kuartal \= ujian publik.

Review tata kelola \= beli waktu.

Konsolidasi pemegang saham \= pengamanan posisi.

“Ini bukan serangan,” kata Are pelan. “Ini pertahanan jangka panjang.” Zelia menyilangkan tangan. “Papa tidak pernah bermain jangka pendek.”

Profesional. Tenang. Tidak emosional. Dan itu justru terasa seperti dinding.

Are menatapnya beberapa detik lebih lama. Biasanya Zelia akan bertanya balik. Akan memancing debat. Akan menyentuh lengannya tanpa sadar.

Sekarang tidak. Hanya jarak.

Are melanjutkan, “Kalau laporan kuartal sedikit saja melemah, tekanan akan berbalik ke kamu.”

“Aku tahu,” jawab Zelia singkat.

“Kita harus siapkan skenario terburuk.”

“Siapkan saja.”

Tidak ada “kita” yang hangat.

Hanya tim kerja. Dan itu terasa menusuk bagi Are.

Akhirnya Are berkata pelan. “Kamu marah karena tadi pagi?”

Zelia akhirnya menoleh. Tatapannya tenang. Terlalu tenang. “Aku CEO. Aku tidak punya waktu marah.”

Itu bukan jawaban. Itu pernyataan jarak. Are sadar. Ia penyebabnya.

Dan kini, konflik eksternal dan internal bertemu di titik yang sama:

Jika Atyasa menekan dari luar, dan Zelia menarik diri dari dalam, Are bisa kehilangan keduanya.

***

Dalam perjalanan pulang, Zelia tetap bersikap dingin.

Tidak ada percakapan. Tidak ada keluhan. Hanya keheningan yang terlalu rapi.

Are menyetir dengan fokus seperti biasa. Tangannya stabil di kemudi. Pandangannya lurus ke jalan.

Tapi sesekali ia melirik melalui kaca spion. Zelia menatap keluar jendela, wajahnya tanpa ekspresi. Dan entah mengapa, Are tidak menyukainya.

Ia biasanya tidak pernah peduli bagaimana orang bersikap padanya. Dingin? Biasa. Menjauh? Lebih mudah.

Tapi hari ini berbeda. Ia mengembuskan napas pelan. Keheningan ini terasa seperti hukuman.

Dan Zelia?

"Aku kesal padanya." Zelia menahan napas, memandangi pantulan lampu jalan di kaca mobil. "Tapi aku rindu bersandar padanya."

Perasaannya berperang.

Jujur saja, setiap kali ia bersandar pada pria yang kini duduk di sampingnya itu, beban di pundaknya terasa lebih ringan. Seolah dunia bisa menunggu sebentar.

Hari ini melelahkan.

Pergerakan papanya sejak pagi, tekanan dewan, sentimen pasar, semuanya seperti menekan dari berbagai arah.

Ia memejamkan mata. Gengsi menahannya beberapa detik. Lalu perlahan… ia menyerah pada kelelahan.

Tanpa kata, tanpa izin, ia menyandarkan kepalanya di bahu Are. Diam. Matanya tetap terpejam.

"Aku marah padanya… tapi menjauh darinya justru membuatku tak nyaman."

Are sedikit menegang ketika merasakan berat kepalanya. Ia melirik sekilas.

Wajah Zelia terlihat lelah. Tidak defensif. Tidak dingin. Hanya lelah.

Dan sejak seharian yang tak nyaman oleh sikap dingin Zelia, kini dada Are terasa lebih ringan.

Tanpa sadar ia memperlambat laju mobilnya, seolah takut guncangan kecil akan mengusik ketenangan itu.

"Apa yang sebenarnya terjadi padaku?"

Ia tahu jawabannya. Hanya saja… ia belum siap mengakuinya.

Mobil terus melaju di bawah lampu kota. Dan untuk beberapa menit, perang di luar sana terasa jauh. Yang tersisa hanya jarak yang perlahan mencair. Dan rasa hangat yang kembali merayap di dadanya.

***

Sore itu, Zelia sudah berpakaian kasual. Tas kecil tergantung di pundaknya saat ia melangkah melewati ruang tengah.

Are duduk di sofa dengan laptop terbuka di pangkuannya. Jemarinya berhenti mengetik ketika melihat Zelia.

“Kamu mau ke mana?” tanyanya tenang.

“Mau jalan-jalan,” jawab Zelia ringan. “Mau ikut?”

Nada suaranya terdengar biasa saja. Tapi sebelum Are sempat menjawab, Zelia sudah melangkah mendekat.

“Nggak.”

Jawaban singkat itu memang yang Zelia harapkan.

Ia mengangguk. Namun alih-alih langsung pergi, ia sempat berdiri beberapa detik terlalu dekat. Jemarinya refleks merapikan kerah kaus Are yang sebenarnya sudah rapi.

Gerakan kecil. Spontan. Seperti kebiasaan yang tak pernah benar-benar hilang.

Jarak yang seharian sempat ia jaga kini kembali menghilang begitu saja. Seolah tubuhnya lebih jujur daripada gengsinya.

Dan Are?

Seperti biasanya, ia tak mampu menolak sentuhan Zelia.

“Oke. Aku pergi dulu.” Zelia akhirnya melangkah keluar. Pintu tertutup pelan.

Namun tanpa sadar, Are mengangkat wajahnya, menatap punggung Zelia yang menghilang di balik pintu.

Dan ia tahu, Zelia mungkin berusaha bersikap biasa saja. Tapi tubuhnya selalu kembali padanya. Sedangkan ia, terlalu enggan untuk menolaknya.

Ruangan mendadak terasa lebih sunyi.

“Menjaga hati lebih sulit dari menjaga posisi,” gumamnya lirih. Ada nada frustrasi tipis yang jarang terdengar darinya.

Semakin lama ia bersama Zelia, batu demi batu yang ia susun untuk membangun dinding di hatinya runtuh satu per satu.

Padahal ia sudah berjanji.

Setahun. Suami kontrak selama satu tahun, demi biaya pengobatan ibunya.

Are bukan tipe pria yang mengingkari janji. Sekali ia berkata ya, maka ya sampai akhir.

Dan itu berarti ia tidak boleh mundur. Tidak boleh goyah. Tidak boleh melibatkan perasaan.

Di dalam lift, Zelia menghela napas pelan. "Semoga cara ini bisa jadi jalanku."

 

...✨“Menjaga hati lebih sulit dari menjaga posisi.”...

..."Dalam dunia yang memperebutkan kursi dan kendali, yang paling sulit ternyata hanya satu, mengakui bahwa kita ingin tinggal."...

..."Ia bisa mengatur pasar, membaca strategi, dan mengendalikan risiko....

...Tapi ia tak pernah belajar cara mengendalikan perasaan."...

..."Aku tidak takut berperang....

...Aku hanya takut percaya lagi… pada orang yang bisa menghancurkanku."...

..."Jika hati tak bisa ditembus dari depan, maka aku akan masuk lewat pintu yang paling ia jaga."✨...

.

To be continued

1
Hariyanti
ceritanya bagus dan menyenangkan 😘😘😘😘
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Pa Muhsid
ob bawa rujak cingur dan bajigur beuh mantep
Pa Muhsid
buset si otor pintar banget ya main perasaan pembaca
Pa Muhsid
kata aku are itu penguasa yang berputar haluan karena kondisi
anonim
Zelia sudah menemukan kebahagiaan yang lama telah hilang kini mempunyai keluarga utuh. Ada suami, anak, Papa walaupun mertua, Ibu yang juga mertua.

Are juga menemukan kebahagiaan, menikah dengan gadis yang pernah menyelamatkan dirinya.

Pradana juga bisa bernapas lega. Tidak Putranya tidak meninggalkan dirinya. Putranya tidak lagi sendiri.

Dan mempunyai penerus keluarga.

**Terima kasih Author, cerita yang bagus dengan ending sempurna. Sehat selalu, penuh Berkat dan RahmatNYA🙏🏻👍🏻👍🏻💖
anonim: Amiiin. Sama-sama kembali kasih Mbak Nana 🙏🙏
total 2 replies
anonim
Mereka berdua ini seakan-akan lupa akan dosa-dosanya. Perbuatan mereka sangat kejam terhadap Zelia.

Sudah hidup nyaman. Rumah. Uang. Fasilitas. Semua dari Ibunya Zelia.

Mereka tidak tahu diri. Menjebak Zelia. Berniat mengambil semua yang Zelia miliki. Dan hampir membuat Zelia kehilangan anaknya.

Kini Desti dan Dian harus menerima konsekuensinya. Kehilangan segalanya bahkan sudah tidak memiliki harga diri lagi karena ulah mereka sendiri.
anonim
Are sudah berada di gedung Angkasa Group.

Desti dan Dian menurunkan harga diri mereka dengan berlutut di depan Zelia.

Desti minta maaf pada Zelia. Pengakuan yang di buat-buat. Sudah terlambat. Hampir merenggut nyawa Zelia dan anak dalam kandungannya.

Dian apa lagi. Pengakuan yang di buat-buat menurut versinya sendiri.

Intinya mereka berdua sudah tidak punya apa-apa, minta dikasihani.
anonim
Are menyiapkan tempat dan modal awal untuk buka bengkel sebagai ucapan terima kasih pada Jaka yang tidak memilih pergi malam itu.

Masa depan Jaka jadi jelas.
anonim
Dian dan Desti menerobos masuk kantor Angkasa Group.

Desti menepis tangan Satpam yang menghadang.

Zelia mendengar suara gaduh dari lobby.

Typo Author, Bu Desti dan Nona Dian. Staf-nya keliru sebut yang mana Ibu yang mana anak.

Zelia akan menemui mereka.
anonim
Are menghubungi Jaka memastikan apa yang dilihat Jaka malam itu. Apa Jaka yakin ?

Yakin seratus persen dan Jaka siap jadi saksi.

Are kembali mengusut peristiwa yang dialami Wina. Bukti-bukti dikumpulkan.
Berkas diserahkan ke kantor polisi.

Nama Viola disebut secara resmi.

Viola tidak datang ketika ada pemanggilan. Melarikan diri.

Tidak lama Viola ditemukan.

Viola masuk sel.

Are menemuinya.

Viola - semua yang dilakukan karena tidak mau kehilangan Are.
anonim
Jaka teman Are tidak sengaja melihat berita dari ponselnya.

Video yang dilihat menampilkan wajah seorang wanita.

Tiba-tiba muncul di ingatannya. Jaka memastikan apa yang dilihat.

Peristiwa malam kecelakaan yang terjadi pada Wina terlintas di benaknya.

Jaka fokus kembali ke layar.

Wanita itu yang menabrak Bu Wina waktu itu. Jaka yakin sekali.

Jaka menghubungi Are lewat ponselnya.
anonim
Are kembali ke rumah sakit. Wina memberi kabar kalau Zelia sudah diperbolehkan pulang.

Are mengajak pulang.
Dan mengatakan pulang ke rumah kita. Aku, kamu, anak kita, papa dan Ibu.

Zelia melamunkan kehidupan di masa lalunya. Sampai ditanya Are - kenapa melamun.

Akhirnya Zelia pulang dengan jemarinya menggenggam lengan Are.
anonim
Semalam Zelia bisa tidur nyenyak lagi dalam pelukan Are.

Walau masih marah, Zelia tidak pergi menghindar dari Are.

Pagi hari Are bangun duluan. Zelia masih terlelap. Are memberikan kecupan singkat di pipi Zelia.

Are yang sudah dengan pakaian rapi siap berangkat ke kantor.

Are menatap Zelia yang masih meringkuk, lalu memberi kecupan di keningnya.

Are pamit ke kantor.
anonim
Malam hari Zelia siap untuk tidur. Mata sudah terpejam.

Merasa ada pergerakan di sisinya.

Are yang merindukan istrinya dan ingin dekat dengan anaknya.

Zelia tidak suka, didorongnya bahu Are. Are tidak bergeser sedikitpun.

Lengan Are melingkar di pinggang Zelia. Zelia mencoba melepaskan diri, tidak bisa.

Akhirnya Zelia tidak menolak pelukan dari Are. Sejatinya Zelia tidak benar-benar ingin menjauh.
anonim
Are kembali ke rumah sakit. Yang ada di ruang rawat cuma Wina. Zelia di kamar mandi.

Wina di suruh istirahat, Are yang jaga Zelia.

Are membuka pintu kamar mandi - Zelia kaget pastinya.

Zelia telanjang bulat. Are suaminya gitu loh. Di suruh keluar.

Are juga mau mandi.

Are mode merayu. Dipraktekkan apa yang dikatakan manajernya waktu itu 😄. Sayangnya Zelia masih marah
anonim
Zelia mau pulang. Merasa bosan. Juga tidak ingin meninggalkan tanggung jawabnya terlalu lama.

Are sudah menempatkan orang-orangnya di kantornya Zelia.

Yang satu pingin kembali. Yang satunya ingin di sini, di sisinya.

Pradana datang ke ruang rawat Zelia. Ingin mengetahui kondisi Zelia.

Zelia mengatakan - sudah lebih baik. Akan pulang. Kembali ke kehidupannya.

Zelia bicara panjang lebar tentang kehidupannya. Semua yang dibicarakan orang-orang, Zelia utarakan.

Pradana juga bicara panjang lebar. Bicara jujur, yang awalnya menolak karena apa yang ada di belakang Zelia.

Pradana juga minta maaf atas kejadian kemarin pada Zelia dan menyebut dirinya "Papa" untuk Zelia.

Are dan papanya sudah bicara banyak. Tinggal Zelianya maunya bagaimana lagi setelah mendengar itu semua.
anonim
Veyron gerak cepat atas instruksi yang diberikan Are.

Satu persatu orang-orang yang berada di malam itu mulai jatuh.

Are mengeluarkan pernyataan resmi terkait putusnya kerjasama dengan perusahaan milik keluarga Viola.

Semua akses di tutup.

Ayah Viola menyadari, sudah tidak punya langkah lagi.
anonim
Are terbangun. Aksi kecil penuh perhatian ia lakukan pada Zelia.

Are kesiangan. Berjalan cepat ke kamar mandi.

Zelia membuka mata. Dia merindukan Are. Tapi rasa kesalnya masih menggunung 😄.

Are pamit ke kantor - tak ada respon dari Zelia.

Are mengecup kening Zelia. Zelia tidak menghindar.

Zelia menyentuh keningnya, bekas kecupan.
anonim
Benar-benar nyaman tidur nyenyak pasangan suami istri, sampai Veyron ketuk pintu, tetap tidak terbangun.

Pilihan Veyron bijaksana. Dia pergi tanpa membangunkan.

Zelia terbangun. Hangat dalam pelukan Are - mata masih terpejam. Zelia hampir menolak keberadaan Are. Tangannya hendak mendorong dada Are. Belum sadar kalau Are yang memeluknya.

Zelia membuka mata - baru sadar Are yang memeluk dalam tidurnya.

Zelia membiarkan dirinya dalam pelukan Are. Kembali memejamkan mata. Pura-pura masih terlelap.
anonim
Zelia tidur nyenyak dalam pelukan Are.

Perawat dan Wina mengurungkan niatnya untuk masuk ke kamar perawatan.

Wina memberi isyarat pada perawat untuk diam ketika ingin bicara.

Wina berbisik pada perawat untuk membiarkan mereka tidur sebentar. Anak dan menantunya akhir-akhir ini kurang istirahat.

Mereka keluar, pintu ditutup pelan.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!