Jennie Ruby Jane (29) mengakhiri hidupnya dengan penyesalan terdalam. Di kehidupan pertamanya, ia dibutakan oleh cinta semu Choi Reynard, pemuda licik yang membuatnya mengkhianati suaminya yang perkasa, Limario Thomas Vincentius, dan menelantarkan putri kecil mereka, Kenzhi. Puncaknya, Jennie secara tragis menyebabkan kematian ibu mertua yang sangat menyayanginya.
Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Jennie terbangun di masa lalu, tepat di saat ia masih menjadi "Ratu" di rumah megah keluarga Vincentius. Kini, dengan ingatan masa depan, Jennie bersumpah tidak akan menjadi domba yang tersesat lagi. Ia akan memanjakan suami mafianya yang dingin namun bucin, melindungi putrinya, dan menjaga ibu mertuanya. Sambil membangun kembali kebahagiaan keluarganya, Jennie merajut jaring balas dendam untuk menghancurkan Choi Reynard hingga ke akarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Betting on Emerald Dragon
Gemerlap lampu neon Macau terpantul di permukaan laut yang gelap saat helikopter pribadi keluarga Vincentius mendarat di dek The Emerald Dragon. Kasino terapung itu adalah labirin emas dan kaca, tempat di mana hukum negara tidak berlaku dan hanya kekuasaan yang diakui.
Jennie turun dengan gaun malam sutra berwarna zamrud yang memukau, sementara Limario di sampingnya tampak seperti predator dalam setelan tuksedo hitam yang tajam. Namun, pusat perhatian malam itu adalah Kenzhi (9 tahun). Ia mengenakan gaun pesta hitam elegan dengan pita besar di rambutnya, tampak seperti putri bangsawan yang polos, meskipun di balik kaos kaki panjangnya terselip pisau perak tipis dan alat peretas mini.
"Ingat rencana kita, Kenzhi," bisik Limario sambil menggandeng tangan putrinya. "Kau adalah pengalih perhatian. Fokus pada getaran di pergelangan tanganmu."
Kenzhi mengangguk kecil. Bekas luka di lengannya mulai berdenyut samar—tanda bahwa energi dari Proyek Chronos berada di dekat sini.
Misi Penyamaran: Putri Sang Pesulap
Di dalam aula utama yang megah, Kenzhi memisahkan diri dari orang tuanya dengan alasan ingin melihat pertunjukan sulap di area VIP bawah. Sementara Jennie dan Limario memancing perhatian "Sang Arsitek" di meja Baccarat taruhan tinggi, Kenzhi bergerak lincah di antara kerumunan.
Ia berhenti di depan sebuah pintu baja dengan penjagaan biometrik. Pergelangan tangannya berdenyut kencang. Di sini.
"Maaf, Tuan," ucap Kenzhi dengan suara anak-anak yang menggemaskan kepada penjaga bertubuh besar. "Bolaku masuk ke dalam sana. Bolehkah aku mengambilnya?"
Penjaga itu tertawa meremehkan. "Ini area terlarang, Bocah. Pergi main di tempat lain."
Kenzhi merengut, lalu menjatuhkan sebuah kotak kecil yang tampak seperti mainan. Detik berikutnya, asap tebal keluar dari kotak itu. Sebelum penjaga itu sempat bereaksi, Kenzhi menggunakan gerakan baletnya yang anggun untuk melompat, menendang titik saraf di leher penjaga itu, dan menempelkan alat peretas ke pemindai pintu.
"Pintu terbuka, Daddy," bisik Kenzhi melalui mikrofon tersembunyi.
Pengepungan di Mansion: Raja Hutan Kecil
Sementara itu, ribuan kilometer jauhnya di Indonesia, Mansion Vincentius dikepung oleh dua puluh tentara bayaran elit yang dikirim oleh sisa-sisa pengikut Reynard. Mereka berpikir mansion itu lemah karena Limario dan pasukannya sedang di Macau.
Di ruang kontrol, Arkano (4 tahun) duduk di kursi besar ayahnya. Ia tidak takut. Matanya terfokus pada layar monitor yang menunjukkan para penyusup mulai melewati pagar luar.
"Mereka datang, Kakak Elang," bisik Arkano pada seekor elang yang bertengger di jendela terbuka.
Tiba-tiba, hutan di sekitar mansion seolah "hidup". Saat para tentara bayaran menginjakkan kaki di area taman, ratusan burung gagak turun menyerang mata mereka. Dari balik semak-semak, anjing-anjing Doberman yang biasanya tenang kini menyerang dengan koordinasi yang tak masuk akal, seolah-olah mereka dipandu oleh satu pikiran kolektif.
"Sekarang, serangga..." gumam Arkano.
Suara dengungan keras memenuhi udara. Ribuan lebah dari sarang di sekitar mansion keluar, mengejar para penyusup hingga mereka kocar-kacir masuk ke dalam jebakan listrik yang sudah disiapkan Hans. Arkano hanya menonton dengan tenang sambil mengemil biskuit, layaknya seorang jenderal kecil yang sedang menonton film dokumenter.
Pertemuan dengan Sang Arsitek
Kembali di Macau, Jennie dan Limario akhirnya dibawa ke sebuah ruangan pribadi di puncak kasino. Di sana, duduk seorang pria dengan topeng porselen putih tanpa ekspresi. Di atas meja di depannya, koper perak dari Swiss itu terbuka.
"Kau datang tepat waktu, Jennie," suara Sang Arsitek terdengar ganjil, seperti hasil sintesis komputer. "Kau ingin tahu kenapa kau dikirim kembali? Kau pikir itu karena cinta? Bukan. Kau dikirim kembali karena kau adalah satu-satunya subjek yang kesadarannya cukup kuat untuk membawa kode enkripsi yang hilang dari koper ini."
Jennie mundur selangkah. "Apa maksudmu?"
"Data di koper ini tidak lengkap tanpa memori organikmu. Aku tidak butuh kopernya saja... aku butuh otakmu untuk mengaktifkan 'Gerbang Waktu' yang permanen."
Tiba-tiba, pintu didobrak. Kenzhi masuk dengan wajah pucat. "Daddy! Jangan sentuh meja itu! Itu bukan koper asli, itu pemancar energi!"
Pergelangan tangan Kenzhi mengeluarkan cahaya biru terang yang menyakitkan. Sang Arsitek berdiri, perlahan melepas topengnya. Jennie hampir pingsan saat melihat wajah di balik topeng itu.
Wajah itu adalah wajah Jennie Ruby Jane sendiri, namun versi yang jauh lebih tua, dengan mata yang dingin dan hampa.
"Halo, diriku yang muda," ucap Jennie Tua dengan senyum mengerikan. "Aku datang untuk mengambil kembali masa depan yang kau curi dariku."
Paradoks Dua Ratu
Ruangan itu mendadak sunyi, hanya suara dengungan mesin dari koper perak yang semakin meninggi. Jennie menatap sosok di depannya dengan horor yang tak terlukiskan. Wanita itu—Jennie Tua—memiliki gurat lelah dan bekas luka bakar tipis di pelipisnya, namun matanya memancarkan kegilaan yang hanya bisa lahir dari rasa kehilangan yang amat dalam.
"Kau... tidak mungkin," bisik Jennie, kakinya terasa lemas. "Aku sudah mengubah segalanya! Limario hidup! Anak-anakku selamat!"
Jennie Tua tertawa, suara yang terdengar seperti gesekan logam. "Kau pikir kau menyelamatkan mereka? Kau hanya menciptakan gelembung waktu yang rapuh. Di garis waktuku, Limario mati melindungimu, Kenzhi menjadi pembunuh berdarah dingin, dan Arkano... Arkano tidak pernah lahir karena kau terbunuh saat mengandungnya."
Limario segera menarik Jennie ke belakang punggungnya, menodongkan senjatanya tepat ke dahi wanita yang wajahnya identik dengan istrinya itu. "Aku tidak peduli siapa kau. Jika kau mengancam keluargaku, kau akan mati di sini."
Kenzhi: Kunci yang Terjepit
"Jangan, Daddy!" teriak Kenzhi. Pergelangan tangannya yang bercahaya biru kini mulai mengeluarkan percikan listrik. "Jika Daddy menembaknya, garis waktu akan bertabrakan! Aku bisa merasakannya... keberadaanku mulai goyah!"
Kenzhi terjatuh berlutut, tubuhnya mendadak tampak transparan sesaat seperti yang dialami Arkano di gudang tua. Paradoks sedang terjadi; dua eksistensi Jennie di satu ruang yang sama mulai merobek realitas.
Jennie Tua melirik Kenzhi dengan tatapan dingin yang tiba-tiba melunak sesaat. "Kenzhi... putriku yang malang. Di duniaku, kau adalah satu-satunya alasanku tetap hidup. Aku membangun mesin ini untuk kembali dan mengambilmu, bukan untuk menghancurkanmu."
"Tapi aku bukan putrimu!" Kenzhi mendongak, matanya berkilat penuh amarah. "Ibuku ada di sini! Dia menyelamatkanku, bukan mengubahku menjadi monster!"
Mansion: Pertahanan Terakhir Arkano
Kembali di Indonesia, pertempuran di mansion Vincentius mencapai puncaknya. Pemimpin tentara bayaran, seorang pria bertubuh raksasa bernama Vorg, berhasil menembus barikade hewan Arkano menggunakan frekuensi suara tinggi yang menyiksa pendengaran hewan-hewan tersebut.
Vorg mendobrak pintu ruang kontrol. Ia menyeringai melihat seorang anak 4 tahun duduk sendirian di sana.
"Jadi ini 'Raja Hutan' kecil itu?" Vorg mengeluarkan belati besar. "Sayang sekali, pesanan majikanku adalah kepalamu, Nak."
Arkano tidak mundur. Ia turun dari kursi kebesaran ayahnya, berdiri tenang di depan Vorg. "Kau menyakiti teman-temanku," ucap Arkano pendek.
Tiba-tiba, dari bayang-bayang di belakang Vorg, muncul seekor macan tutul hitam—koleksi pribadi Limario yang paling liar yang selama ini dikurung di bunker bawah tanah. Arkano telah melepaskannya.
"Habisi dia, Bagheera," perintah Arkano dengan nada yang sangat dingin untuk anak seusianya.
Vorg bahkan tidak sempat berteriak saat predator puncak itu menerjangnya. Arkano hanya berbalik kembali ke monitor, melihat layar yang menunjukkan sinyal Kenzhi di Macau mulai memudar. "Kak Kenzhi... bertahanlah," bisiknya lirih.
Pertaruhan Terakhir di Macau
Di puncak Emerald Dragon, Jennie Tua mulai mengaktifkan koper itu sepenuhnya. Cahaya biru menelan ruangan. "Serahkan Kenzhi padaku, Jennie! Aku akan membawanya ke masa depan yang lebih aman, dan kau bisa hidup bahagia di sini tanpa ancaman Chronos!"
"Tidak akan pernah!" Jennie menerjang maju, tidak lagi takut pada paradoks itu. Ia mencengkeram koper tersebut, mencoba menutupnya dengan paksa.
Sengatan energi kronos membakar telapak tangan Jennie, namun ia tidak melepaskannya. Di saat yang sama, Kenzhi merangkak menuju panel kontrol di bawah meja, menggunakan pisau peraknya untuk mengalirkan energi berlebih dari tubuhnya ke mesin tersebut.
"Daddy, tembak kacanya! Kita harus membuang koper ini ke laut!" teriak Kenzhi.
Limario memahami maksud putrinya. Ia meledakkan kaca jendela antipeluru kasino dengan muatan peledak kecil. Angin laut yang kencang langsung menerjang masuk.
"Selamat tinggal, masa laluku yang menyedihkan!" Jennie Tua mencoba menarik Kenzhi, namun Limario menerjangnya dengan serangan fisik yang brutal.