NovelToon NovelToon
Cinta Ini Belum Usai

Cinta Ini Belum Usai

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Percintaan Konglomerat / Saudara palsu
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Baby.Scorpio

Sekar memutuskan untuk pulang ke ibukota Jakarta setelah mendengar berita tentang pertunangan kakak angkatnya Rahman Hakim Wijaya. Ada gejolak rasa yang tidak bisa ia jelaskan timbul di hatinya. Entah itu rasa sayang, cinta, atau hanya sekedar rasa peduli sebagai keluarga yang berbahagia mendengar berita tersebut, tiada yang tahu.

Awalnya semuanya baik-baik saja. Sampai kabar lama itu menyebar luas, dan menghancurkan segalanya. Karirnya, harapannya, atau bahkan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baby.Scorpio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.32 Scandal yang membuka jalan baru

Dunia tidak pernah sama lagi setelah pagi itu. Di sebuah pulau kecil yang jaraknya ribuan mil dari pusat peradaban Eropa, sebuah tombol Enter telah memicu tsunami informasi yang meruntuhkan salah satu pilar industri farmasi dunia.

Berita utama di CNN, BBC, dan Al Jazeera secara serentak menayangkan tajuk yang sama. 'The Twin Project Scandal: Von Hess Pharma and the Ethics of Human Mutation.'

Di klinik kecil di pesisir Lombok, Sekar duduk di depan televisi tua yang gambarnya sedikit bersemut. Ia menyaksikan rekaman langsung penangkapan CEO Von Hess Pharma di kantor pusat mereka di Berlin.

Pria tua yang dulu nampak tak tersentuh itu kini nampak kecil dan rapuh saat borgol melingkari pergelangan tangannya, diseret melewati kerumunan wartawan yang haus akan penjelasan.

"Mereka jatuh," bisik Sekar. Suaranya hampa, seolah-olah berat yang selama sepuluh tahun ini menghimpit pundaknya tiba-tiba diangkat, namun meninggalkan rasa sakit yang aneh karena ruang kosong yang ditinggalkannya.

Alvin masuk ke ruangan, membawa nampan berisi kopi dan buah-buahan tropis. Langkahnya masih sedikit pincang, dan ada perban baru di dahinya, namun sorot matanya kini jernih. Tidak ada lagi beban rahasia yang ia pikul sendiri.

"Bukan sekadar jatuh, Sekar. Saham mereka berubah menjadi sampah dalam waktu kurang dari enam jam," Alvin meletakkan nampan itu di meja. "Konsorsium Singapura membatalkan merger secara sepihak, dan Uni Eropa membekukan seluruh aset mereka. Tim penyelidik internasional sedang menuju Hamburg untuk membongkar laboratorium rahasia itu."

Sekar mengangguk, lalu pandangannya beralih ke botol kecil berisi cairan emas pucat yang ia temukan di brankas Rahman. "Alvin, aku sudah memeriksa komposisi kimia dari stabilisator ini semalam. Rahman benar-benar jenius dalam keputusasaannya."

"Apa isinya?"

"Ini bukan obat," Sekar menjelaskan dengan nada kagum seorang dokter. "Ini adalah penekan enzim aktif. Serum biru Von Hess bekerja dengan memicu pembelahan sel yang agresif. Cairan emas ini... dia menidurkan enzim itu. Dia tidak menghilangkannya, tapi dia membungkusnya dalam keadaan dorman. Arini akan tetap memiliki kemampuan regenerasi yang baik, tapi dia tidak akan pernah lagi mengalami ledakan frekuensi atau mutasi fisik yang berbahaya."

Alvin menatap Arini yang sedang berlari-lari di pantai bersama anak-anak nelayan, tertawa seolah beban dunia tidak pernah menyentuhnya. "Jadi, dia akan aman? Dia akan tumbuh menjadi wanita biasa?"

"Iya. Dia akan menjadi wanita biasa yang mungkin sedikit lebih pintar dan lebih kuat dari rata-rata, tapi dia akan tetap manusia."

Ekspresi Sekar terlihat begitu sendu. Mungkin, benar anaknya masih akan tumbuh seperti manusia pada umumnya. Sampai, ucapan Alvin selanjutnya membuatnya hampir tersedak air ludahnya sendiri, "Iya, maksudku, kita beruntung karena menemukan ini sebelum dia benar-benar menjadi mutan."

Alvin duduk di samping Sekar, menyesap kopinya yang pahit. "Jadi, apa rencana selanjutnya, Dokter? Sekarang setelah dunia tahu tentang kejahatan mereka, identitasmu sebagai Sekar Wijaya mungkin akan kembali diburu oleh media. Mereka akan menyebutmu 'Dokter Pahlawan' atau 'Ibu yang Bertahan'. Kau mau kembali ke Berlin? Mengambil kembali posisimu di rumah sakit?"

Sekar tersenyum tipis, menatap cakrawala laut yang biru. "Sekar Wijaya sudah mati di penjara Berlin, Alvin. Wanita yang duduk di depanmu sekarang adalah Maria, seorang dokter desa yang masih punya banyak pasien nelayan yang harus dirawat. Aku tidak butuh panggung internasional. Aku hanya butuh rumah."

Alvin tertawa pelan, sebuah tawa yang terdengar sangat lega. "Baguslah. Karena aku sudah telanjur memesan kayu jati terbaik untuk membangun perpustakaan desa di samping klinik ini. Akan sangat merepotkan jika pemilik kliniknya tiba-tiba pindah ke Jerman."

"Perpustakaan?" Sekar menoleh dengan alis terangkat.

"Iya. Arini butuh buku yang lebih banyak daripada sekadar buku sketsa. Dan anak-anak desa ini... mereka butuh tahu bahwa dunia lebih luas daripada sekadar batas teluk ini," Alvin mengangkat bahu, berpura-pura tidak peduli. "Anggap saja itu adalah sisa-sisa uang 'haram' Pratama yang ingin kubersihkan."

Sore harinya, Sekar berjalan sendirian menuju bukit kapur tempat suar pelacak semalam menyala.

Ia membawa sebotol kecil air mawar dan beberapa kuntum bunga kamboja putih. Di sana, di bawah sebuah pohon tua yang menghadap ke laut, ia duduk terdiam.

Ia tidak membangun nisan. Ia hanya menaburkan bunga itu ke udara, membiarkannya terbawa angin menuju laut.

"Lukas," bisiknya. "Arini selamat. Dia akan tumbuh besar di tempat yang hangat ini. Dia tidak akan pernah lagi kedinginan seperti kamu di Alpen."

Angin berhembus kencang, membawa aroma cendana yang kini terasa sangat lembut, hampir seperti pelukan.

Sekar memejamkan mata, membiarkan memori tentang Rahman dan Lukas menari di benaknya untuk terakhir kali sebagai sebuah duka. Mulai besok, memori itu akan menjadi kekuatan.

"Dan untukmu, Rahman..." Sekar menjeda kalimatnya. "Terima kasih sudah menyiapkan segalanya di sini. Terima kasih sudah mempercayakan Alvin untuk menjagaku. Kamu sudah membayar utangmu. Beristirahatlah dengan tenang."

Seketika, perasaan sesak yang selama ini menghantui setiap napas Sekar menghilang. Ia merasa benar-benar bebas. Bukan bebas karena keluar dari penjara fisik, tapi bebas dari penjara dendam yang ia bangun sendiri.

Saat Sekar kembali ke klinik, ia melihat Alvin sedang mengajari Arini teknik dasar bela diri di atas pasir.

Alvin nampak sangat serius, sementara Arini tertawa setiap kali Alvin berpura-pura kalah oleh dorongan tangan kecilnya.

"Ingat, Arini," suara Alvin terdengar tegas namun hangat. "Kekuatanmu bukan untuk menyakiti. Kekuatanmu adalah untuk memastikan orang-orang yang kau cintai tidak perlu merasa takut. Mengerti?"

"Mengerti, Om Pohon!" seru Arini sambil memberikan hormat ala militer yang lucu.

Sekar berdiri di ambang pintu, memperhatikan pemandangan itu. Ia menyadari bahwa takdir memiliki cara yang sangat aneh untuk menyembuhkan luka.

Pria yang dulu ia benci karena kesombongannya, kini menjadi jangkar paling kokoh dalam hidupnya. Pria yang ia anggap sebagai orang asing dalam tragedi hidupnya, ternyata adalah penyelamat dalam cerita penyembuhannya.

Alvin menoleh, melihat Sekar yang sedang memperhatikannya. Ia mengedipkan sebelah matanya, sebuah isyarat kecil yang penuh dengan rahasia dan janji perlindungan yang tak terucapkan.

"Dokter! Pasienmu sudah menunggu!" teriak Alvin sambil menunjuk ke arah Pak Wayan yang datang membawa sekeranjang ikan segar sebagai ucapan terima kasih lagi.

Sekar tertawa, mengenakan stetoskopnya, dan melangkah turun ke pasir.

"Teriakkan mu membuat telinga ku sakit, Alvin!"

1
EmakKece
Kan arini sdh pernah dibawa ke gunung Alpen tempat makam Lukas ? apa dia tdk ingat samasekali?
achyar sussanady
ditunggu up selanjutnya thor🙏😍💪
EmakKece
Akhirnyaaa.. berakhir sdh petualangan mematikan ini 👏👏
EmakKece
/Facepalm//Joyful//Joyful//Joyful/
EmakKece
Seru! alvin-viona-ibu wijaya.. ??? haduuh gimana ini??
lee dave
update....!
Wayan Sucani
Lanjut dong...
EmakKece
Sepertinya menarik 👏
Wayan Sucani
Asli tegang bacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!