Rasa putus asa menyelimuti Jessica Zhou saat hakim menjatuhkan vonis hukuman mati atas dirinya karena dituduh membunuh kedua orang tuanya demi warisan.
Bandingnya ditolak. Harapan seakan habis.
Hingga kasus itu sampai ke tangan Hakim Li—Adrian Li—yang dijuluki “Hakim Gila” karena ketegasan dan caranya yang tak biasa dalam mencari kebenaran.
Adrian, yang selama ini hanya fokus pada pekerjaannya, dicintai oleh dua wanita: Jessica Zhou dan Holdie Fu. Holdie berambisi tinggi dan berusaha mendapatkan hati pria dingin itu, sementara Jessica memilih memendam perasaannya setelah cintanya ditolak sepuluh tahun lalu.
Kini, nasib Jessica berada di tangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab19
Rumah sakit
Di luar ruang pemeriksaan, Adrian dan Max menunggu dengan tenang. Lorong rumah sakit terasa sunyi, hanya terdengar langkah perawat yang sesekali melintas.
Di dalam ruangan, Jessica duduk di kursi pemeriksaan di depan dokter spesialis saraf.
Dokter membuka catatan medisnya.
“Kami mendapat laporan bahwa Anda pernah disuntik midazolam,” katanya.
Jessica mengangguk pelan.
Dokter memperhatikan reaksinya dengan teliti. “Baik. Saya akan menanyakan beberapa hal.”
Ia kemudian mulai melakukan tes memori dasar. “Siapa nama Anda?”
“Jessica Zhou.”
“Berapa usia Anda?”
Jessica menjawab dengan lancar.
Dokter lalu bertanya lagi.
“Apakah Anda ingat kehidupan Anda sebelum kejadian di rumah keluarga Zhou?”
Jessica mengangguk.
“Saya ingat semuanya… sekolah… teman-teman… bahkan rumah itu.”
Dokter menulis sesuatu di catatan medisnya.
Kemudian ia mengajukan pertanyaan yang lebih penting.
“Apakah Anda ingat malam ketika kedua orang tua Anda meninggal?”
Jessica langsung terdiam.
Wajahnya berubah tegang.
Beberapa detik berlalu sebelum ia menjawab dengan suara pelan.
“Tidak.”
Ia memegang kepalanya sedikit.
“Setiap kali saya mencoba mengingat… kepalaku sakit."
Dokter memperhatikannya dengan serius lalu mencatat hasil pemeriksaan.
Beberapa saat kemudian ia keluar dari ruangan.
Di luar, Adrian dan Max langsung berdiri.
“Bagaimana kondisinya?” tanya Adrian.
Dokter menjawab dengan nada profesional.
“Memori pasien normal untuk hampir semua kejadian dalam hidupnya.”
Ia berhenti sejenak.
“Tetapi memori pada malam kejadian hilang.”
Max mengerutkan kening.
“Apakah itu akibat obat?”
Dokter mengangguk.
“Midazolam bisa menyebabkan seseorang tidak membentuk ingatan pada periode tertentu. Itu sebabnya dia hanya kehilangan memori pada malam tersebut.”
Adrian menatap pintu ruang pemeriksaan.
“Apakah ingatannya bisa kembali?”
Dokter menjawab jujur.
“Ada kemungkinan. Kadang memori bisa muncul kembali melalui mimpi, tekanan emosional, atau rangsangan tertentu.”
“Apakah ada cara untuk membuatnya ingat kembali kejadian di malam itu?” tanya Adrian dengan suara tenang, namun jelas penuh perhatian.
Dokter itu tidak langsung menjawab. Ia menutup berkas medis di tangannya terlebih dahulu sebelum berkata dengan nada profesional.
“Memori manusia tidak seperti file yang bisa kita buka kapan saja,” jelasnya. “Terutama jika hilangnya ingatan disebabkan oleh obat seperti midazolam.”
Max berdiri di samping Adrian, ikut mendengarkan dengan serius.
“Midazolam bekerja dengan cara menghambat pembentukan memori baru pada saat obat itu aktif,” lanjut dokter. “Artinya, otak pasien tidak sempat menyimpan kejadian pada waktu itu.”
Adrian sedikit mengernyit.
“Jadi tidak ada cara untuk mengembalikannya?”
Dokter menggeleng pelan.
“Tidak ada cara yang pasti. Namun dalam beberapa kasus, ingatan bisa kembali secara perlahan.”
“Bagaimana caranya?” tanya Max.
Dokter menjelaskan dengan sabar.
“Ada beberapa kemungkinan. Misalnya melalui terapi psikologis, rangsangan lingkungan yang mirip dengan kejadian saat itu, atau karena tekanan emosional tertentu.”
Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan,
“Terkadang pasien juga mulai mengingat potongan-potongan kecil melalui mimpi atau kilasan ingatan.”
Adrian terdiam beberapa detik, seolah memikirkan sesuatu.
“Jadi… ada kemungkinan dia mengingatnya kembali suatu hari nanti,” katanya.
“Ya,” jawab dokter. “Tetapi kita tidak tahu kapan.”
Max menghela napas pelan.
“Dan kalau ingatan itu kembali… mungkin kita akan tahu apa yang sebenarnya terjadi malam itu.”
Tatapan Adrian berubah lebih tajam.
“Itulah yang aku harapkan.”
“Kalau kami membawanya ke lokasi kejadian, apakah itu akan membantunya?” tanya Max.
Dokter itu berpikir sejenak sebelum menjawab.
“Secara teori, rangsangan lingkungan yang sama bisa memicu ingatan seseorang,” jelasnya. “Misalnya tempat, bau, suara, atau benda yang pernah dilihat sebelumnya.”
Max mengangguk pelan, mencoba memahami. “Jadi kemungkinan itu ada?”
“Ada,” jawab dokter. “Tetapi saya harus menekankan satu hal.”
Ia menatap Adrian dan Max dengan serius.
“Jika pasien dipaksa mengingat sesuatu yang traumatis, itu juga bisa menimbulkan tekanan psikologis yang berat.”
Adrian tetap tenang, tetapi ia mendengarkan setiap kata dengan serius.
“Artinya ada risiko,” katanya.
Dokter mengangguk.
“Benar. Karena itu biasanya metode seperti ini dilakukan dengan pengawasan dokter atau psikolog, bukan secara tiba-tiba.”
Max melirik Adrian.
“Kalau begitu… apakah aman jika kami melakukannya?”
Dokter menjawab dengan jujur.
“Jika hanya untuk melihat reaksinya dan tidak memberi tekanan berlebihan, kemungkinan tidak masalah. Tetapi jangan memaksanya mengingat sesuatu yang tidak bisa dia ingat.”
Adrian akhirnya berbicara lagi.
“Jadi tempat kejadian bisa menjadi pemicu… tapi tidak ada jaminan.”
“Betul,” jawab dokter.
Adrian terdiam beberapa saat, seolah mempertimbangkan sesuatu dalam pikirannya.
Jika Jessica benar-benar kembali ke rumah keluarga Zhou… mungkin sesuatu di sana akan membangkitkan ingatan yang hilang dari malam itu.
"Jessica tidak bisa kembali ke rumah itu, dia tidak akan bisa menerima apa yang dialami kedua orang tuanya," ucap Adrian.