Dalam kehidupan sebelumnya, Vanylla Anderson adalah legenda di dunia teknologi. Ia seorang jenius yang berdiri di puncak, ditakuti sekaligus dihormati oleh banyak orang.
Namun ketika membuka mata untuk kedua kalinya, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis yang dianggap tidak berguna.
Namanya Vanylla Kennedy. Putri keluarga konglomerat yang dikenal bodoh, malas belajar, dan sering menjadi bahan ejekan di kalangan keluarga kaya.
Lebih buruk lagi, sebuah rahasia besar baru saja terungkap. Vanylla Kennedy ternyata bukan anak kandung keluarga Kennedy. Bayi yang tertukar delapan belas tahun lalu akhirnya ditemukan.
Putri asli keluarga itu, Emilly, kembali dengan kecantikan, kecerdasan, dan reputasi yang sempurna.
Sementara Vanylla hanya dianggap sebagai putri pengganti palsu yang memalukan. Ia dihina, diusir, dan dibuang dari keluarga yang dulu ia sebut rumah.
Namun sayangnya. Gadis yang mereka hina itu bukan lagi Vanylla yang dulu.
Di dalam tubuhnya kini hidup jiwa seorang Ratu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelanggan yang Menyebalkan
Emilly menatap punggung Vanylla yang menjauh, lalu berbalik ke Sonia dan Selena.
“Apa yang sebenarnya terjadi antara kalian dan dia?”
Sonia menjelaskan kejadian semalam.
“Si jalang itu ingkar janji! Dia bilang mau beli kosmetik hari ini! Sekarang malah pura-pura gak kenal kami!”
Emilly menyipitkan mata. “Kalian berdua bodoh atau apa? Kalian bahkan gak sadar sudah ditipu oleh jalang itu? Kalian tahu dia butuh uang tapi masih memberinya gratis?”
Bodoh.
Benar-benar bodoh.
Baru saat itu Sonia dan Selena menyadari sesuatu.
Mereka benar-benar ditipu oleh orang yang selama ini mereka anggap pecundang.
“Sonia, kamu kasih dia berapa kemarin?” tanya Selena.
Sonia mengerutkan kening. “Mungkin lebih dari seribu dolar.”
“Kamu?”
Wajah Selena memucat karena marah. “Aku kasih semua uang di dompetku.”
Segaknya ada tiga atau empat ribu Dolar. Semakin dipikirkan, Selena ingin menampar dirinya sendiri.
Tak lama kemudian Vanylla dan Miiah datang membawa makanan yang dipesan.
“Hati-hati panas. Ini makanan yang kalian pesan.”
Begitu melihat lobster dan tusukan sate di meja, Sonia tiba-tiba mencibir.
Dia langsung mendapat ide.
“Tunggu! Kami gak memesan makanan ini. Kalian salah antar, kan?”
Miiah melihat catatan pesanan. “Ini memang yang kalian pesan.”
Selena segera mengerti maksud Sonia.
“Kami cuma bertiga. Mana mungkin makan sebanyak ini? Jelas pelayan kalian, Vanylla, salah mencatat! Dia pasti gak fokus saat mencatat pesanan! Kami gak pernah memesan makanan ini!”
Walaupun kedai sate ini kecil, mereka menyediakan berbagai seafood seperti lobster dan kepiting. Harganya mahal dan jarang dipesan.
Kalau Sonia dan Selena bersikeras bahwa Vanylla yang salah, maka Vanylla harus membayar semua makanan itu sendiri.
Sebelum membuat keributan, Sonia sudah memperhatikan. Tempat ini adalah titik buta kamera. Selena menepuk meja lalu berdiri marah.
“Di mana manajer kalian? Aku mau bicara dengan manajer sekarang! Aku mau tahu bagaimana kalian melatih karyawan! Pelayan salah mencatat pesanan! Pelayanannya buruk sekali! Kalian mau memaksa kami membayar? Aku akan lapor polisi!”
Selama bekerja di sini, Miiah belum pernah menghadapi situasi seperti ini.
Dia langsung tersenyum canggung. “Tolong jangan marah. Dia baru bekerja di sini. Aku akan panggil bos kami.”
Saat itu Emilly berdiri dengan senyum lembut. “Sonia, Selena, jangan marah begitu. Aku yakin Vanylla gak sengaja. Dia juga hanya bekerja mencari uang. gak mudah bagi dia. Kenapa kita gak lupakan saja? Anggap saja demi aku.”
Sonia berkata dengan nada aneh. “Karena kamu yang memohon, Kak Emilly, aku bisa memaafkannya. Tapi ada satu syarat. Ini kerugian beberapa ribu Dolar. Aku gak mungkin rugi begitu saja.”
Sonia mengangkat dagu menatap Vanylla. “Berlututlah dan sujud padaku sambil mengakui kesalahanmu. Dengan begitu aku akan melupakan semuanya.”
Vanylla meletakkan baki di meja. Dia menatap Emilly dan Sonia sambil tersenyum tipis. Cahaya di matanya berkilau.
“Jadi kalian mau main main? Baik. aku temani sampai akhir.”
Vanylla tampak tenang. Namun seluruh tubuhnya memancarkan aura yang luar biasa.
Seolah-olah dia bersinar terang sampai menyilaukan mata.
Emilly dan Sonia yang mengenakan pakaian mewah justru terlihat biasa saja di hadapannya.
Perasaan aneh kembali muncul. Tangan Emilly yang tersembunyi di balik lengan bajunya mengepal berkali-kali.
Sonia menyipitkan mata. “Karena kamu gak tahu diri, aku mau bicara dengan manajermu.”
Sekarang Vanylla hanyalah orang kecil. Tak punya kekuasaan. Tak punya pengaruh.
Apa dia benar-benar masih bisa membalikkan keadaan?
“Vanylla, kenapa kamu gak mengalah saja dan mengaku salah? Kadang mengalag itu lebih baik.” Miiah menarik lengan Vanylla dan membujuk dengan pelan.
Pelanggan selalu benar.
Tanpa bukti bahwa pelangganlah yang memesan makanan ini, Vanylla jelas berada di posisi yang tidak menguntungkan.
Dengan semua seafood, kepiting, dan kerang di meja, harganya setidaknya dua sampai tiga ribu Dolar.
Namun Vanylla menunduk sedikit kepada Miiah.
“Tante Miiah, bisa tolong panggil bos ke sini?”
Miiah sedikit mengernyit, lalu berkata pelan, “Vanylla, udahlah… ngalah aja.”
Kalau Monie Chan sampai dipanggil, urusan ini pasti makin panjang. Pada akhirnya, Vanylla tetap harus minta maaf dan mengganti kerugian.
Jelas sekali, tiga orang itu sengaja mencari masalah dengannya.
Selena tersenyum tipis. “Sopan santun aja nggak punya, pantes cuma jadi pelayan. aku ngomong langsung aja ya. Kalau sekarang kamu sujud dan ngaku salah, aku masih bisa maafin. Tapi kalau manajer kamu datang, ya kamu tanggung sendiri semua tagihannya.”
Tagihan dua sampai tiga ribu itu bukan apa-apa buat anak orang kaya seperti dia. Tapi buat orang seperti Vanylla, itu jumlah yang besar.
“Vanylla…” Miiah menarik ujung baju Vanylla. “Jangan keras kepala lagi. Ngaku salah aja, emangnya susah?”
Dia sebenarnya memikirkan kebaikan Vanylla. Dua sampai tiga ribu itu setara gaji bulanan Lisa. Kalau Vanylla tetap bersikeras, kerja sebulan bakal sia-sia.
Bukankah lebih baik minta maaf saja supaya kerugiannya gak semakin besar?
Vanylla menunduk, menatap Miiah. “Nggak usah khawatirin aku, Tante Miiah. Tolong panggil bos.”
Miiah hanya bisa menghela napas melihat keras kepalanya.
Di sisi lain, Emilly mengeluarkan kartu dari dompetnya, lalu menyerahkannya pada Vanylla sambil berkata lembut, “Vanylla, ini kartu aku. PIN-nya enam semua. Pakai aja buat bayar, biar bos kamu nggak nyusahin kamu nanti.”
Vanylla seperti semut yang hampir tenggelam. Tentu saja, dia pasti akan berutang budi pada tangan yang menolongnya.
“Terima kasih, tapi nggak perlu.” Vanylla tersenyum.
Emilly gak menyangka Vanylla akan menolak. Senyum di bibirnya sempat kaku, lalu kembali normal.
Vanylla… benar-benar berubah. Dulu, dia pasti akan langsung menerima bantuan itu tanpa pikir panjang.
Tak lama kemudian, Monie Chan datang. “Vanylla! Ini sebenarnya gimana sih!? Kok bisa salah pesanan pelanggan!? Cepat minta maaf!”
Sebagai pemilik, Monie Chan tentu tak ingin menyinggung pelanggan. Setelah itu, dia membungkuk pada Sonia. “Maaf sekali, Nona.”
Sonia tetap duduk sambil menyeruput teh, wajahnya penuh kesombongan. Dia bahkan tak melirik Monie Chan.
Monie Chan menoleh ke Vanylla. “Vanylla, cepat minta maaf!”
“Tante, jangan buru-buru. Kita dengar ini dulu.” Vanylla dengan santai mengeluarkan HPnya.
Tak lama, terdengar rekaman percakapan.
“...”
“Semua menu di sini, aku pesan satu-satu!”
“Pesanan kamu sebanyak itu, bertiga aja belum tentu habis, kamu tahu kan?”
“Yang pelanggan itu aku apa kamu?”
“...”
Tak ada yang menyangka Vanylla merekam semuanya. Suasana langsung canggung. Emilly mulai gelisah.
Dia ingin memberi Vanylla pelajaran, tapi malah dirinya yang terjebak. Rasa kesal itu benar-benar sulit ditahan.
Sonia dan Selena saling pandang. Amarah terlihat jelas di mata mereka.
Vanylla berkata santai, “Atau jangan-jangan mereka sengaja cari masalah? Tante, gimana kalau kita lapor polisi aja?”
Lapor polisi?
Sonia dan Selena sangat menjaga reputasi. Kalau sampai urusan ini menyebar, bagaimana mereka bisa tetap bertahan di lingkungan sosial mereka?
Sonia langsung berdiri. “Siapa yang sengaja!? Kita cuma bercanda!”
Vanylla tersenyum. “Kalau gitu, silakan bayar dulu. Totalnya 2.617 Dolar. Mau pakai tunai atau kartu?”
“Pakai kartu!” Sonia menahan amarahnya.
Vanylla menerima kartu itu sambil tersenyum, lalu memproses pembayaran. Setelah selesai, kartu itu dikembalikan. “Selamat menikmati.”
Sonia menerima kartunya dengan wajah kesal. Dia menoleh ke Emilly dan Selena. “Kak Emilly, Selena, kita pergi.”
“Hmm.” Emilly mengangguk dan berjalan lebih dulu.
Vanylla mengantar mereka sampai keluar toko. “Hati-hati di jalan. Kalau lain kali mau cari masalah lagi, aku siap nemenin kapan aja. Tapi…”
Dia berhenti sejenak, lalu mengetuk pelipisnya dengan jari yang panjang dan ramping.
“Inget ya, lain kali pake otak. Mama aku nggak ngebolehin aku main sama orang tolol.”
“Kamu!” Sonia murka dan langsung mengayunkan tangan.
Namun Vanylla hanya sedikit memiringkan tubuh, dengan mudah menghindar.
Karena tenaga yang terlalu besar, tangan Sonia malah menghantam pohon kamper di belakang Vanylla.
“Plak!”
“Kamu nggak apa-apa, Sonia?” Selena kaget.
“Ah… sakit…” Sonia hampir menangis.
Melihat itu, Vanylla menghela napas. “Orang tolol tiap tahun ada aja ya, tapi kayaknya tahun ini lebih banyak….”
Setelah itu, dia berbalik dan masuk kembali ke dalam toko.
Sonia menatap punggungnya dengan geram. “Dasar cewek sialan! Tunggu aja!”
Dia pasti akan membalas semua ini.
Di dalam toko, Miiah segera menghampiri. “Vanylla, kamu hebat juga!”
Dia kira Vanylla pasti akan menanggung kerugian. Ternyata, gadis ini masih punya cara lain.
Vanylla menggulung lengan bajunya dengan santai, memperlihatkan pergelangan tangan yang putih halus. “Biasa aja.”
Miiah bertanya, “Ngomong-ngomong, kamu kenal mereka?”
Vanylla menggeleng. “Nggak.”
“Terus kenapa mereka sengaja nyusahin kamu?”
Vanylla mengangkat alis. “Mungkin… mereka iri sama kecantikan aku?”
Bagaimanapun, dia memang cantik.
Miiah tertawa. Walau terdengar seperti bercanda, itu memang benar. Vanylla memang cantik alami tanpa perlu berusaha.
recommend bgt👍👍👍
aq suka kak ,,
byk pelajaran yg bisa qta ambil dr cerita ini ,,
dtggu next episode ny yx kak