update setiap tanggal genap
Lin Yinjia adalah mahasiswi biasa yang hidupnya sederhana namun hangat bersama keluarganya. Ketika adiknya mengalami kecelakaan dan terbaring koma, kehidupannya perlahan berubah. Demi membantu biaya pengobatan, Yinjia terpaksa mempertahankan perjodohan yang sudah diatur keluarganya dengan Gu Zhenrui, pewaris keluarga kaya yang arogan dan penuh kesombongan.
Di kampus, Yinjia harus menghadapi berbagai gosip, sindiran, dan pengkhianatan dari orang-orang yang dulu ia percaya. Ketika ia mulai menyadari bahwa tunangannya berselingkuh, Yinjia memutuskan untuk berhenti menjadi gadis yang hanya diam menerima semuanya.
Kesempatan datang saat ia diterima magang di sebuah perusahaan ekspor impor besar di Shanghai. Di sanalah ia bertemu Guo Linghe—presiden direktur perusahaan yang dingin, kaku, dan memiliki dunia yang sama sekali berbeda dari kehidupan Yinjia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zhenrui dan Wanita Lain
Mobil taksi berhenti di depan rumah sakit tempat Lin Yichen dirawat. Lin Yinjia membayar sopir, lalu turun dengan langkah cepat. Bangunan rumah sakit itu sudah terlalu familiar baginya sekarang. Bau antiseptik, lorong panjang yang sunyi, dan suara mesin medis yang berdetak pelan sudah menjadi bagian dari rutinitasnya.
Ia berjalan melewati pintu kaca otomatis, lalu menuju lift. Beberapa perawat yang sudah mengenalnya mengangguk kecil ketika ia lewat.
“Selamat sore, Yinjia.”
“Sore.” Yinjia membalas dengan senyum tipis.
Lift terbuka di lantai empat. Ia keluar dan langsung menuju kamar adiknya. Pintu kamar itu setengah terbuka. Dari luar, ia sudah bisa melihat ibunya duduk di kursi kecil di samping tempat tidur.
Mei Lan terlihat lebih kurus dibanding beberapa minggu lalu. Rambutnya yang biasanya rapi sekarang hanya diikat sederhana. Yinjia mengetuk pintu pelan sebelum masuk. “Ibu.”
Mei Lan menoleh. Wajahnya langsung sedikit cerah. “Kamu datang.”
Yinjia meletakkan tasnya di kursi. “Bagaimana hari ini?”
Ibunya menggeleng pelan. “Masih sama.”
Mereka berdua menoleh ke arah tempat tidur. Lin Yichen terbaring di sana dengan wajah pucat. Selang infus terpasang di lengannya, dan mesin monitor berdetak pelan di samping tempat tidur.
Sudah hampir dua minggu sejak kecelakaan itu. Namun tidak ada perubahan besar. Yinjia duduk di kursi dekat kaki tempat tidur. Ia menatap wajah adiknya cukup lama. “Dokter bilang apa hari ini?” tanyanya akhirnya.
“Masih menunggu.”
“Menunggu apa?”
“Respon.”
Yinjia mengangguk pelan. Ia sudah mendengar kalimat itu berkali-kali. Dokter selalu mengatakan hal yang sama. Menunggu.
Ia menghela napas pelan lalu mencondongkan badan sedikit. “Yichen,” katanya pelan, “aku datang.”
Tentu saja tidak ada jawaban. Namun Yinjia tetap berbicara beberapa menit, menceritakan hal-hal kecil tentang kampus. Tentang kelas. Tentang kantin.
Tentang pengumuman magang.Ia tidak tahu apakah adiknya bisa mendengar.Tapi ia tetap berbicara.
Mei Lan memperhatikan dari samping. Setelah beberapa saat, ia berkata pelan, “Ayahmu masih di kantor.”
Yinjia mengangguk. “Aku tahu.”
Ayahnya bekerja lebih lama dari biasanya sejak kecelakaan itu. Biaya rumah sakit terus berjalan setiap hari. Yinjia menggenggam tangan adiknya sebentar. Kulit Yichen terasa dingin. Dadanya sedikit sesak.
Ia berdiri perlahan. “Aku harus pergi sebentar.”
Ibunya mengernyit. “Ke mana?”
“Aku ada janji.” Yinjia sebenarnya tidak menyebutkan dengan siapa
Tapi ibunya tampaknya sudah tahu. “Dengan Zhenrui?”
Yinjia tidak langsung menjawab. Namun keheningan itu sudah cukup menjadi jawaban. Mei Lan menatapnya sebentar sebelum berkata pelan, “Hati-hati.”
Yinjia hanya mengangguk. Ia mengambil tasnya lalu keluar dari kamar. Lorong rumah sakit terasa lebih sunyi dibanding sebelumnya.
Saat ia berjalan menuju lift, pikirannya sedikit kacau. Ia sebenarnya tidak ingin bertemu Gu Zhenrui malam ini. Namun pria itu tiba-tiba mengirim pesan siang tadi. “Datang ke restoran Ming Yue jam tujuh.” Bukan ajakan. Lebih seperti perintah.
Lift terbuka. Yinjia masuk dan menatap pantulan dirinya di dinding kaca lift. Ia terlihat lelah. Lingkar hitam di bawah matanya semakin jelas. Namun ia tidak punya waktu untuk memikirkan itu.
Restoran Ming Yue berada di pusat kota Shanghai. Tempat itu terkenal sebagai restoran mahal yang sering didatangi keluarga kaya.
Ketika Yinjia sampai di sana, jam sudah hampir tujuh malam. Ia berdiri sebentar di depan pintu restoran. Lampu-lampu emas di dalam ruangan terlihat terang dan mewah. Ia menarik napas panjang lalu masuk.
Seorang pelayan langsung menghampiri. “Selamat malam.”
“Selamat malam.”
“Apakah Anda memiliki reservasi?”
“Gu Zhenrui.”
Pelayan itu langsung mengangguk. “Silakan ikut saya.”
Mereka berjalan melewati beberapa meja. Restoran itu hampir penuh. Banyak pasangan dan keluarga duduk makan sambil berbicara pelan.
Namun langkah Yinjia tiba-tiba berhenti. Matanya tertuju pada meja di dekat jendela. Gu Zhenrui memang ada di sana. Namun ia tidak sendirian.
Seorang wanita duduk di seberangnya. Wanita itu cantik. Rambut panjangnya jatuh rapi di bahu, dan gaunnya terlihat mahal.
Mereka terlihat sedang tertawa. Zhenrui bahkan tidak menyadari Yinjia sudah datang. Tangan pria itu menyentuh pergelangan tangan wanita itu dengan santai. Jantung Yinjia terasa seperti jatuh.
Pelayan di sampingnya juga menyadari situasi itu. “Apakah itu—”
“Tidak apa-apa,” potong Yinjia cepat. Ia menatap meja itu beberapa detik lagi. Kemudian sesuatu di dalam dirinya berubah. Alih-alih pergi, ia berjalan lurus ke sana.
Langkahnya tenang. Namun setiap langkah terasa berat. Saat ia sampai di meja itu, Zhenrui akhirnya menyadari kehadirannya.
Ekspresinya sedikit terkejut. “Oh.” Ia bersandar di kursinya. “Kamu sudah datang.” Nada suaranya terdengar santai. Seolah tidak ada yang aneh dengan situasi ini.
Wanita di depannya menoleh ke Yinjia dengan ekspresi penasaran. Zhenrui mengangkat tangan sedikit. “Duduklah.”
Yinjia tidak langsung bergerak. Ia menatap Zhenrui beberapa detik. Lalu berkata pelan, “Aku mengira kamu mengundangku makan malam.”
Zhenrui tersenyum tipis. “Kamu terlalu serius.” Ia menunjuk kursi kosong di samping meja. “Ini hanya makan malam.”
Wanita di depannya menatap Yinjia dari atas sampai bawah. “Siapa dia?” tanyanya.
Zhenrui menjawab dengan nada santai. “Tunangan keluargaku.”
Wanita itu terlihat sedikit terkejut. “Tunangan?”
Zhenrui mengangkat bahu. “Perjodohan lama. Tidak penting.”
Kalimat itu terasa seperti tamparan. Yinjia berdiri diam beberapa detik. Kemudian perlahan ia menarik kursi dan duduk. Ekspresinya tenang. Namun matanya tidak lagi sama seperti sebelumnya.
Lin Yinjia duduk perlahan di kursi yang ditunjuk Gu Zhenrui. Pelayan yang tadi mengantarnya terlihat ragu beberapa detik, tapi akhirnya tetap meletakkan satu menu tambahan di meja. Setelah itu ia pergi dengan langkah cepat, seolah tidak ingin terlibat dalam suasana yang mulai terasa tidak nyaman.
Beberapa meja di sekitar mereka masih dipenuhi percakapan santai. Namun di meja kecil dekat jendela itu, suasananya terasa jauh lebih tegang. Wanita di depan Zhenrui menatap Yinjia dengan ekspresi penasaran yang tidak disembunyikan sama sekali.
Ia memiringkan kepala sedikit. “Jadi kamu tunangannya?” Nada suaranya tidak terdengar ramah. Lebih seperti sedang mengamati sesuatu yang aneh.
Yinjia tidak langsung menjawab. Ia hanya mengambil gelas air di meja dan meminumnya sedikit. Zhenrui terlihat santai. Ia bahkan bersandar di kursinya dengan ekspresi malas.
“Namanya Lin Yinjia,” katanya pada wanita itu. “Mahasiswi.”
Wanita itu tersenyum tipis. “Mahasiswi?”
Ia mengamati pakaian Yinjia. Baju sederhana. Tas yang tidak bermerek mahal. Perbedaan itu terlihat jelas di ruangan mewah seperti ini.
“Dari keluarga mana?” tanyanya lagi. Zhenrui tertawa kecil. “Bukan keluarga besar.”
Ia melirik Yinjia sekilas.
“Hanya keluarga biasa.” Kalimat itu diucapkan tanpa ragu sedikit pun. Seolah itu fakta yang sangat wajar.
Yinjia menatap meja beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan, “Kalau kamu sudah selesai makan, aku akan pergi.”
Zhenrui mengangkat alis. “Kamu baru saja datang.”
“Aku tidak tahu kamu sedang makan dengan orang lain.”
Wanita itu menyandarkan dagunya di tangannya. “Oh, jadi kamu tidak tahu?”
Ia tertawa kecil. “Lucu sekali.”
Zhenrui juga tersenyum tipis. “Kenapa kamu bereaksi seperti ini?”
“Seperti apa?”
“Seolah kamu pacarku.” Nada suaranya datar, tapi cukup tajam. “Kita hanya dijodohkan keluarga. Jangan terlalu menganggap serius.”
Kalimat itu membuat sesuatu di dalam dada Yinjia terasa dingin. Namun wajahnya tetap tenang. “Aku tidak menganggapnya serius.”
Zhenrui menatapnya beberapa detik. Lalu tertawa pelan. “Bagus.” Ia mengambil gelas wine di depannya dan meminumnya sedikit.
“Karena aku juga tidak.” Wanita di depannya ikut tersenyum. “Kalau begitu kenapa kalian belum membatalkan perjodohan?”
Zhenrui mengangkat bahu. “Keluarga.” Ia berkata dengan nada malas. “Mereka suka mengatur.”
Wanita itu menatap Yinjia lagi. “Kalau aku jadi kamu, aku mungkin sudah menyerah.”
Yinjia akhirnya menoleh langsung padanya. “Mungkin kamu memang akan menyerah.” Jawaban itu membuat wanita itu sedikit terdiam.
Zhenrui tertawa kecil lagi. “Kamu mulai berani sekarang.” Ia memutar gelas wine di tangannya. “Apakah kampus membuatmu lebih percaya diri?”
Yinjia tidak menjawab. Ia hanya berdiri dari kursinya. “Aku sudah melihat cukup.”
Zhenrui menatapnya dari bawah ke atas. “Duduk.”
Nada suaranya berubah sedikit lebih dingin. Namun Yinjia tidak bergerak. “Aku tidak punya alasan untuk tinggal.”
Zhenrui menyandarkan punggungnya ke kursi. Beberapa detik mereka saling menatap. Lalu Zhenrui berkata dengan nada santai tapi menusuk, “Kalau kamu pergi sekarang, jangan mengeluh nanti ketika keluargamu kehilangan dukungan dari keluargaku.”
Kalimat itu seperti menekan sesuatu yang sensitif. Yinjia langsung terdiam. Ia tahu maksudnya. Biaya rumah sakit. Pengobatan Yichen. Semua itu masih bergantung pada hubungan dua keluarga.
Wanita di depan mereka memperhatikan situasi itu dengan senyum tipis. “Sepertinya hubungan kalian cukup rumit.”
Zhenrui tidak menjawab. Ia hanya menatap Yinjia. Beberapa detik kemudian Yinjia akhirnya duduk kembali. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Namun tatapannya berubah. Lebih tenang. Lebih dingin.
Makan malam itu akhirnya berjalan dalam suasana yang aneh. Wanita itu terus berbicara dengan Zhenrui, tertawa pelan, dan sesekali menyentuh lengannya.
Zhenrui tidak menolak. Ia bahkan terlihat menikmati perhatian itu. Sementara Yinjia duduk diam. Ia tidak benar-benar makan. Pikirannya dipenuhi berbagai hal. Kemarahan. Rasa malu. Dan sesuatu yang jauh lebih dalam dari itu. Sesuatu yang mulai tumbuh perlahan.
Setelah hampir satu jam, wanita itu akhirnya berdiri. “Aku harus pergi.”
Zhenrui ikut berdiri. “Aku akan mengantarmu.”
Wanita itu tersenyum. “Baik.”
Mereka berjalan beberapa langkah dari meja. Sebelum benar-benar pergi, wanita itu menoleh ke Yinjia. “Senang bertemu denganmu.”
Nada suaranya terdengar seperti ejekan halus. Lalu mereka pergi bersama. Yinjia tetap duduk di kursinya.
Beberapa menit berlalu. Akhirnya Zhenrui kembali ke meja. Ia duduk lagi seolah tidak terjadi apa-apa. “Kamu masih di sini.”
Yinjia menatapnya. “Aku sedang menunggu.”
“Menunggu apa?”
“Jawaban.”
Zhenrui terlihat sedikit tertarik. “Jawaban tentang apa?”
Yinjia berkata dengan tenang, “Apakah kamu ingin membatalkan perjodohan ini atau tidak.”
Zhenrui mengangkat alis. “Kenapa tiba-tiba?”
“Karena aku tidak ingin terus membuang waktu.” Beberapa detik suasana menjadi hening.
Zhenrui memandangnya dengan ekspresi yang sulit dibaca. Lalu ia berkata pelan, “Tidak.”
Yinjia sedikit mengernyit. “Kenapa?”
Zhenrui tersenyum tipis. “Karena aku tidak suka kalah.”
“Ini bukan permainan.”
“Bagi keluargaku, ini memang bukan.”
Ia sedikit mencondongkan badan ke depan. “Tapi bagiku… ini menarik.” Tatapan matanya berubah sedikit lebih tajam. “Dan aku ingin melihat seberapa lama kamu bisa bertahan.”
Kalimat itu membuat sesuatu di dalam diri Yinjia benar-benar berubah. Ia menatap Zhenrui beberapa detik. Kemudian berdiri.
“Kamu akan menyesal mengatakan itu.”
Zhenrui tertawa pelan. “Kita lihat saja.”
Yinjia tidak menjawab lagi. Ia mengambil tasnya lalu berjalan keluar dari restoran. Langkahnya tenang. Namun di dalam kepalanya, sesuatu mulai terbentuk dengan sangat jelas. Ia tidak akan terus berada di posisi lemah seperti ini. Jika Gu Zhenrui menganggap semuanya sebagai permainan—
maka ia akan belajar memainkan permainan itu lebih baik darinya. Dan untuk pertama kalinya sejak perjodohan itu dimulai…
Lin Yinjia mulai memikirkan satu hal. Balas dendam.