Di Benua Awan Gelap, yang kuat dihormati bagai dewa, dan yang lemah diinjak bagai semut. Shen Yuan, seorang pemuda dengan pembuluh nadi bawaan yang cacat, hidup dalam kehinaan di sudut kota terpencil. Namun, takdirnya berubah ketika kepingan darah dari masa purbakala menyatu dengan jantungnya, memberikannya warisan "Jalan Iblis Penelan Surga".
Dari seorang buangan, ia melangkah di atas lautan darah dan gunung tulang. Ia akan menantang keangkuhan para putra langit, menghancurkan sekte-sekte berusia ribuan tahun, dan menguak tabir kebohongan para dewa yang bertahta di Sembilan Cakrawala. Ini adalah kisah tentang fana yang menggugat takdir, selangkah demi selangkah menuju keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jaring Kematian
Hujan lebat yang sedari tadi mengguyur akhirnya mereda, menyisakan rintik-rintik air yang jatuh membasahi dedaunan raksasa di Pegunungan Kabut Beracun. Seiring dengan semakin dalamnya langkah Shen Yuan menembus hutan purba, warna kabut di sekelilingnya perlahan berubah. Dari yang semula berwarna hijau keabu-abuan, kini kabut beracun itu menebal menjadi ungu pekat, membawa aroma manis yang mematikan.
Di wilayah perbatasan, kabut hijau hanya akan membuat seorang pendekar fana merasa pusing dan lemas. Namun di lingkaran dalam ini, kabut ungu sanggup melumerkan daging hingga menyisakan tulang belulang hanya dalam waktu setengah batang dupa jika seseorang tidak memiliki penawar racun tingkat tinggi atau pelindung hawa murni yang kuat.
Langkah kaki Shen Yuan tidak melambat sedikit pun.
Tiap kali kabut ungu itu menyentuh kulitnya, Nadi Iblis Penelan Surga di dalam tubuhnya berdenyut layaknya jantung kedua yang kelaparan. Hawa murni berwarna merah kehitaman berputar di bawah permukaan kulitnya, langsung menelan racun mematikan itu, menggilingnya hingga hancur, dan membuangnya melalui hembusan napas yang berasap.
"Kekuatan di Lapisan Kelima benar-benar berada di alam yang berbeda," gumam Shen Yuan sambil mengepalkan tinjunya.
Ia bisa mendengar aliran darahnya sendiri yang berdesir kencang bagai aliran sungai di musim semi. Otot-ototnya sekeras baja yang telah ditempa ribuan kali, dan ketajaman telinganya mampu menangkap suara tetesan embun yang jatuh sejauh seratus tombak. Jika ia berhadapan dengan Kapten Shen Mo sekarang, ia tidak perlu bersusah payah menahan benturan; satu pukulan biasa darinya sudah cukup untuk menghancurkan pertahanan pria itu.
"Jangan terlalu cepat berpuas diri, Bocah," tegur Leluhur Darah dari dalam lautan kesadarannya, memecah kesunyian hutan yang mencekam. "Ranah Penempaan Raga hanyalah tahap membangun fondasi bagi manusia fana yang lemah. Meskipun Nadi Iblismu memberimu kekuatan jasmani yang melampaui sesamamu, bertarung dengan tangan kosong melawan siluman yang kulitnya sekeras zirah di wilayah ini adalah tindakan bodoh. Kau telah kehilangan pedang mainanmu. Kau membutuhkan pusaka atau setidaknya senjata yang layak."
Shen Yuan melirik telapak tangannya yang kini dipenuhi oleh bekas luka sayatan akibat menahan pedang raksasa Shen Mo sebelumnya. Leluhur Darah benar. Sehebat apa pun tubuh fananya saat ini, daging tetaplah daging.
"Di tempat yang dikelilingi oleh binatang buas ini, di mana aku bisa menemukan pandai besi untuk menempa senjata?" balas Shen Yuan dalam batinnya sambil terus berjalan menyusuri jalan setapak yang tertutup lumut hitam.
"Hmph! Pendekar sejati tidak mencari senjata, alam sendirilah yang akan menyediakannya," cibir Leluhur Darah. "Teruslah berjalan ke arah utara. Kabut ungu ini tidak terbentuk dengan sendirinya secara alamiah. Biasanya, uap beracun setebal ini berkumpul karena tarikan dari suatu pusaka alam atau harta karun beratribut bumi yang tersembunyi di bawah tanah."
Mendengar hal itu, mata Shen Yuan berbinar. Tanpa banyak bicara, ia mempercepat langkahnya, melesat bagai bayangan hantu di antara pepohonan purba yang meliuk-liuk.
Satu batang dupa kemudian, lingkungan di sekitarnya berubah drastis. Pohon-pohon purba yang menjulang tinggi tiba-tiba menghilang, digantikan oleh tebing batu kapur yang curam. Seluruh permukaan tebing dan tanah di sekitarnya tertutup oleh lapisan jaring putih yang sangat tebal dan lengket.
Jaring-jaring itu memantulkan cahaya pucat. Di beberapa sudut, terlihat gundukan kepompong raksasa yang di dalamnya terdapat sisa-sisa kerangka manusia dan tulang binatang buas berukuran besar.
Langkah Shen Yuan terhenti seketika. Naluri bertarungnya berteriak, mengirimkan hawa dingin yang merayap di sepanjang tulang punggungnya. Tempat ini sunyi—terlalu sunyi. Tidak ada suara serangga, tidak ada kepakan sayap burung, seolah segala bentuk kehidupan menolak untuk menginjakkan kaki di lembah jaring ini.
Srek... srek...
Sebuah suara gesekan tajam terdengar dari atas tebing, tepat di balik tirai jaring putih yang lebat. Suaranya menyerupai pisau yang diasah di atas batu karang.
"Tamu tak diundang..." gumam Shen Yuan perlahan, merendahkan kuda-kudanya.
Tiba-tiba, delapan pilar bayangan melesat turun dari atas tebing dengan kecepatan kilat, menghantam tanah di sekeliling Shen Yuan hingga membentuk kawah-kawah kecil.
Itu bukanlah pilar, melainkan delapan kaki panjang yang dipenuhi oleh bulu kaku setajam jarum baja. Di atas kaki-kaki tersebut, bertengger seekor siluman laba-laba seukuran kereta kuda. Perutnya buncit berwarna hitam keunguan, dan yang paling mengerikan, di bagian punggungnya terdapat corak putih yang membentuk wajah manusia yang sedang menjerit kesakitan.
Siluman Laba-laba Wajah Hantu!
Binatang buas tingkat menengah ini terkenal dengan kekejaman dan racunnya yang mematikan. Dilihat dari ketebalan cangkangnya dan aura dingin yang dipancarkannya, siluman ini setidaknya setara dengan pendekar Ranah Penempaan Raga Lapisan Ketujuh! Dua lapisan lebih tinggi dari Shen Yuan.
Hiiisss!
Laba-laba itu mengeluarkan desisan yang memekakkan telinga. Ia tidak memberikan kesempatan bagi Shen Yuan untuk bernapas. Mulut capitnya terbuka lebar, menyemburkan selusin bola cairan racun berwarna ungu pekat yang melesat bagai hujan panah kematian.
Shen Yuan menghentakkan kakinya. Wussshhh! Tubuhnya melesat ke samping, menghindari hujan racun tersebut.
Cshhh!
Cairan racun itu menghantam bebatuan karang di tempat Shen Yuan berdiri sedetik yang lalu. Bebatuan sekeras besi itu langsung meleleh menjadi genangan lumpur mendidih yang mengeluarkan asap berbau busuk. Jika racun itu mengenai kulit manusia, bahkan tulang pun tidak akan tersisa.
Melihat mangsanya lolos, Laba-laba Wajah Hantu itu melompat ke depan, mengayunkan dua kaki depannya yang berbentuk seperti sabit raksasa untuk memenggal kepala pemuda tersebut.
"Bagus! Mari kita uji seberapa kuat tulang Lapisan Kelimaku!" raung Shen Yuan.
Alih-alih menghindar lagi, hawa murni merah kehitaman meledak dari dalam Dantian Shen Yuan, menyelimuti kedua lengannya seperti sepasang sarung tangan iblis. Ia menyongsong sabetan sabit laba-laba itu dengan kedua tangan kosongnya.
Klaaang!
Bentrokan antara daging berlapis hawa murni iblis dan cangkang siluman menghasilkan suara nyaring yang memekakkan telinga. Tanah di bawah kaki Shen Yuan amblas sedalam setengah jengkal akibat tekanan yang luar biasa. Lengannya terasa kebas, namun ia berhasil menahan kaki sabit laba-laba raksasa itu di udara!
Laba-laba itu memekik kebingungan. Bagaimana mungkin manusia fana yang terlihat sangat kecil ini mampu menghentikan kekuatan tekanannya?
Memanfaatkan keterkejutan siluman tersebut, Shen Yuan memutar pergelangan tangannya, mengubah posisi dari menahan menjadi menggenggam erat kaki siluman itu.
"Kau mengincar kepalaku? Ambil ini sebagai bayarannya!"
Shen Yuan menarik kaki raksasa itu dengan kekuatan penuh, merusak keseimbangan sang laba-laba. Di saat yang sama, ia melompat ke udara, memutar tubuhnya, dan mendaratkan tendangan keras yang membelah angin tepat ke arah wajah hantu di punggung siluman tersebut.
Bum!
Tendangan itu menghantam cangkang keras sang laba-laba. Cangkang itu retak memanjang, memancarkan cairan hijau yang menjijikkan. Siluman itu menjerit kesakitan, meronta dengan ganas. Dari bagian belakang tubuhnya, semburan jaring putih melesat menyelimuti tubuh Shen Yuan saat ia masih berada di udara.
Jaring itu luar biasa lengket dan sekuat kawat baja. Dalam sekejap, Shen Yuan terikat erat, jatuh bergulingan ke tanah.
Laba-laba Wajah Hantu itu tidak membuang waktu. Dengan cangkang yang retak, niat membunuhnya semakin liar. Ia merayap maju dengan rahang berbisa yang terbuka lebar, bersiap untuk menyuntikkan bisa pelebur sumsum ke dalam tubuh mangsanya yang tak berdaya.
"Bocah! Jaring itu kebal terhadap kekuatan fisik! Gunakan hawa murnimu!" teriak Leluhur Darah.
"Aku tahu!" balas Shen Yuan dengan mata menyala merah.
Jarak capit mematikan itu tinggal sejengkal dari wajahnya. Shen Yuan memutar Sutra Penelan Surga ke tingkat maksimal. Hawa murni iblis yang membakar mengalir keluar dari seluruh pori-porinya.
Sutra Penelan Surga adalah teknik pamungkas yang bisa menelan segala macam esensi. Saat hawa murni merah kehitaman itu menyentuh jaring-jaring putih yang mengikatnya, jaring yang sekeras baja itu mendadak layu, kehilangan sifat lengket dan kekerasannya karena esensi di dalamnya telah ditelan habis!
Craaak!
Dengan satu rentangan kedua lengannya, Shen Yuan merobek jaring itu menjadi serpihan.
Laba-laba yang rahangnya telah mendarat itu tidak menyangka mangsanya akan terbebas. Sebelum siluman itu sempat menarik kepalanya, Shen Yuan memacu darahnya, menyatukan telapak tangannya menjadi bentuk pedang, dan menusukkannya langsung ke dalam rahang laba-laba yang terbuka lebar itu!
"Mati!"
Tangan Shen Yuan yang diselimuti kabut darah menembus masuk hingga ke tenggorokan sang laba-laba.
Tapak Penghancur Nadi!
Ledakan kekuatan iblis yang dahsyat meletus di dalam perut siluman tersebut. Organ-organ dalam, kantung racun, dan jalur urat nadinya hancur lebur menjadi gumpalan hancur berwarna hijau dalam sekejap. Laba-laba Wajah Hantu itu bahkan tidak sempat mengeluarkan suara jeritan terakhir. Tubuh raksasanya menegang kaku sebelum akhirnya ambruk menimpa tubuh Shen Yuan.
Napas Shen Yuan menderu kencang. Ia mendorong bangkai seberat ribuan kati itu ke samping dan merangkak keluar dengan tubuh berlumuran cairan hijau yang menjijikkan. Tanpa membuang waktu, ia meletakkan telapak tangannya di atas bangkai itu. Pusaran hisapan dari Sutra Penelan Surga kembali berputar, menyedot seluruh esensi kehidupan siluman Lapisan Ketujuh tersebut untuk menstabilkan hawa murninya yang terkuras.
"Binatang buas tingkat menengah memang merepotkan jika dilawan dengan tangan kosong," gumam Shen Yuan sambil menyeka keringat di dahinya. "Namun, pertarungan hidup mati ini membuat Ranah Lapisan Kelimaku benar-benar kokoh."
Setelah bangkai laba-laba itu mengering, Shen Yuan mengalihkan pandangannya ke arah celah tebing tempat siluman itu muncul.
Ia berjalan mendekat, menyibakkan tirai jaring tebal yang menutupi celah tersebut, dan melangkah masuk ke dalam sebuah gua yang tersembunyi. Tidak seperti di luar yang gelap dan berbau busuk, bagian dalam gua ini memancarkan pendar cahaya keemasan yang hangat, disertai dengan aroma tanah murni yang sangat menenangkan jiwa.
Di ujung gua, terdapat sebuah kolam kecil alami yang terbentuk dari cekungan batu giok. Di dalam kolam tersebut, menggenang sebuah cairan kental berwarna kuning keemasan, meletup-letup pelan mengeluarkan gelembung udara panas.
Melihat cairan itu, Shen Yuan bisa mendengar suara detak jantung Leluhur Darah yang bergetar penuh kegirangan di dalam dadanya.
"Bocah! Surga benar-benar belum menutup matanya untukmu!" seru Leluhur Darah dengan suara bergetar. "Itu adalah Cairan Sumsum Bumi! Harta karun beratribut bumi yang terbentuk dari sari pati bumi selama ratusan tahun. Laba-laba bodoh di luar sana pasti menjadikan tempat ini sebagai sarangnya untuk menyerap uap dari cairan ini secara perlahan!"
Shen Yuan melangkah maju, menatap kolam emas tersebut. "Cairan Sumsum Bumi? Apa kegunaannya bagiku?"
"Bagi pendekar biasa, cairan ini bisa digunakan untuk meramu pil tingkat tinggi. Tapi bagimu... bagi seseorang yang menapaki Jalan Iblis Penelan Surga, ini adalah tungku peleburan yang sempurna!" jawab Leluhur Darah. "Masuklah ke dalam kolam itu! Gunakan cairan ini untuk menempa kulit, daging, dan tulangmu sekali lagi. Jika kau berhasil menahan rasa sakitnya dan menyerap seluruh sari patinya, aku jamin, bahkan pedang baja fana tingkat tinggi tidak akan mampu meninggalkan satu goresan pun di kulitmu!"
Mata Shen Yuan berkilat tajam. Ia telah merasakannya sendiri bagaimana ketiadaan senjata membatasi ruang geraknya. Jika ia bisa menjadikan tubuhnya sendiri sebagai senjata fana yang tak terpatahkan, maka ancaman Tetua Agung Keluarga Shen tidak akan lagi menjadi bayang-bayang kematian baginya.
Tanpa keraguan sedikit pun, Shen Yuan melepas sisa-sisa pakaiannya yang compang-camping, dan melompat masuk ke dalam kolam Cairan Sumsum Bumi yang mendidih.