Liana hamil anak pria lain, tapi Morgan—suami kontrak yang selalu ia maki—justru yang menggagalkan aborsinya dan mengaku sebagai ayahnya. 'Hiduplah untuk anak itu,' ucap Morgan dingin, meski hatinya hancur melihat istrinya merindukan pria yang telah membuangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama Kunci Kamar
Liana melangkah keluar dari lift dengan bahu yang merosot lelah. Jas hitam milik Morgan masih tersampir di tubuhnya, menyimpan sisa kehangatan dan aroma maskulin yang kini terasa seperti ironi pahit. Setelah perdebatan di mobil dan ancaman Derby yang menggantung di udara, Liana hanya ingin menenggelamkan diri di bawah selimut di kamarnya sendiri, mengunci pintu, dan melupakan bahwa ia baru saja terikat sumpah pernikahan yang rumit.
Sesampainya di depan pintu apartemen, ia menekan kode akses dengan jemari yang sedikit gemetar. Pintu terbuka dengan bunyi klik mekanis yang halus. Apartemen itu sunyi, hanya diterangi oleh lampu temaram di area ruang tamu. Liana berjalan cepat menuju pintu kamarnya yang berada di ujung lorong. Ia meraih gagang pintu dan menekannya ke bawah.
Ceklek.
Gagang itu tidak bergerak. Liana mengernyit, mencoba memutarnya sekali lagi dengan tenaga lebih kuat. Tetap tidak bisa. Ia merogoh saku gaunnya, mencari kunci cadangan yang biasanya ia simpan, namun ia teringat bahwa ia meninggalkannya di atas meja belajar di dalam sana.
"Sialan," umpat Liana pelan. Ia mulai menggedor pintu kamarnya dengan kepalan tangan. "Kenapa tiba-tiba terkunci?"
"Percuma kau menggedornya. Pintu itu menggunakan sistem penguncian otomatis dari dalam jika slotnya tersentuh saat ditutup dengan keras."
Liana tersentak dan berbalik. Morgan sudah berdiri di sana, tepat di belakangnya. Pria itu tampaknya baru saja kembali; jasnya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih dengan dua kancing teratas yang terbuka dan lengan yang digulung hingga siku. Wajahnya tidak lagi memerah karena amarah seperti di mobil tadi, namun sisa-sisa ketegangan masih terlihat dari sorot matanya yang redup.
"Morgan, kamarku terkunci. Kau punya kunci cadangannya, kan? Cepat buka," tuntut Liana dengan nada frustrasi.
Morgan tidak langsung menjawab. Ia merogoh saku celananya, lalu terdiam sejenak, sebuah kerutan tipis muncul di keningnya yang biasanya mulus. Ia berjalan menuju meja konsol di dekat pintu masuk, mengaduk-aduk wadah kecil tempat mereka biasanya meletakkan kunci cadangan, namun hasilnya nihil.
"Aku tidak sengaja menghilangkannya," ucap Morgan datar. Ia berbalik menghadap Liana, menyandarkan pinggulnya pada meja sambil melipat tangan di dada.
Liana ternganga. "Menghilangkannya? Kau? Pria yang paling terorganisir di seluruh universitas, menghilangkan kunci cadangan satu-satunya?"
"Kunci itu ada di saku jas yang aku bawa ke laundry sore tadi sebelum kita berangkat ke kapel. Aku lupa mengeluarkannya," Morgan menjelaskan dengan nada tenang yang justru membuat Liana semakin ingin meledak. "Dan laundry itu baru akan buka besok pagi pukul delapan."
Liana memijat pangkal hidungnya, merasakan sakit kepala yang mulai menyerang. "Panggil tukang kunci sekarang. Aku tidak peduli berapa biayanya."
Morgan melirik jam dinding di ruang tengah yang sudah menunjukkan pukul satu dini hari. "Ini sudah terlalu larut, Liana. Apartemen ini memiliki tingkat keamanan tinggi; tukang kunci biasa tidak akan bisa membuka pintu berbahan baja ini tanpa izin tertulis dari manajemen gedung yang kantornya baru buka besok pagi. Dan aku tidak akan memanggil orang asing ke apartemen ini di tengah malam dalam kondisi kita seperti ini."
"Lalu aku tidur di mana?!" seru Liana, suaranya naik satu oktav. "Kau ingin aku tidur di koridor?"
Morgan berjalan mendekati Liana, langkahnya tenang namun setiap tapakannya terasa dominan di dalam lorong yang sempit itu. Ia berhenti tepat di hadapan Liana, menatapnya dengan pandangan yang kaku namun ada secercah tanggung jawab di sana.
"Ada dua pilihan," ucap Morgan, suaranya rendah dan mantap. Ia menunjuk ke arah ruang tengah dengan dagunya. "Pertama, kau tidur di sofa ruang tamu. Sofa itu berbahan kulit, tapi cukup lebar untuk tubuhmu yang kecil. Aku akan memberimu bantal dan selimut tambahan."
Liana melirik sofa di ruang tamu yang terlihat sangat keras dan dingin. "Dan pilihan kedua?"
Morgan terdiam sejenak, seolah sedang menimbang-nimbang apakah kalimat selanjutnya akan memicu perang dunia ketiga. Ia menarik napas panjang, menatap lurus ke dalam mata Liana.
"Kau tidur di kamarku. Bersamaku. Tempat tidurku cukup besar untuk kita berdua, dan aku berjanji tidak akan menyentuhmu. Kita sudah sah secara agama dan hukum, Liana. Secara teknis, itu adalah hal yang wajar dilakukan pasangan suami istri pada malam pertama mereka."
Liana merasakan darahnya mendidih. "Wajar? Kau bilang wajar?! Morgan, kita menikah karena kontrak! Kau baru saja membentakku di mobil, kau memaksaku makan rumput setiap pagi, dan sekarang kau ingin aku tidur di sampingmu?"
Liana tertawa sinis, langkahnya mundur menjauh dari Morgan seolah pria itu adalah wabah penyakit. Ia menunjuk ke arah kamar Morgan dengan telunjuk yang gemetar karena emosi.
"Aku tidak akan pernah masuk ke kamarmu! Aku lebih baik tidur di lantai daripada harus satu ranjang dengan pria kaku sepertimu!" bentak Liana. Ia mencopot jas Morgan yang masih dipakainya dan melemparkannya ke arah dada pria itu dengan kasar. "Ambil jasmu! Aku tidak butuh bantuanmu!"
Morgan menangkap jasnya dengan satu tangan, wajahnya tetap tidak berekspresi meski Liana tahu ia sedang menyinggung harga diri pria itu. Morgan hanya menatap jas di tangannya sejenak, lalu meletakkannya di lengan kursi terdekat.
"Sofa itu sangat dingin di malam hari, Liana. AC sentral apartemen ini tidak bisa diatur hanya untuk satu ruangan," Morgan memperingatkan, suaranya kembali sedingin es. "Pikirkan lagi. Aku tidak akan memaksamu, tapi aku tidak ingin melihatmu mengeluh sakit punggung besok pagi saat kita harus ke kampus."
"Aku tidak akan mengeluh! Aku akan tidur di sofa dan aku akan baik-baik saja!" Liana berjalan menuju sofa dengan langkah yang menghentak. Ia merenggut bantal hias dari sofa tersebut dan meletakkannya di salah satu ujung dengan kasar.
Morgan hanya memperhatikan dalam diam. Ia tidak mencoba membujuk lagi. Pria itu berbalik dan berjalan menuju kamarnya sendiri. Sebelum menutup pintu, ia menoleh sekali lagi.
"Selimut ada di lemari bawah televisi. Pakai itu jika kau mulai menggigil," ucap Morgan pendek.
Brak!
Pintu kamar Morgan tertutup dengan bunyi yang tegas. Liana berdiri di tengah ruang tamu yang kini terasa sangat sunyi dan asing. Ia menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. Benar kata Morgan, sofa itu keras. Kulitnya terasa dingin saat bersentuhan dengan gaun sutranya.
Liana mencoba memejamkan mata, namun bayangan sumpah di kapel, suara Derby di telepon, dan tatapan Morgan tadi terus berputar-putar di kepalanya. Ia merasa sangat kesepian. Di apartemen mewah ini, ia merasa seperti orang asing yang terdampar.
Setengah jam berlalu. Udara mulai menusuk tulang. Liana meringkuk, mencoba memeluk dirinya sendiri. Ia menolak untuk menyerah dan mengetuk pintu kamar Morgan. Itu akan menjadi kekalahan terbesar dalam hidupnya.
Ia bangkit dan berjalan menuju lemari di bawah televisi, mencari selimut yang disebutkan Morgan. Saat ia membukanya, ia menemukan sebuah selimut wol tebal yang sudah terlipat rapi, dan di atasnya ada sebuah botol minum berisi air hangat serta sebuah catatan kecil dengan tulisan tangan yang sangat rapi.
'Jangan keras kepala sampai menyakiti dirimu sendiri. Minum air ini agar suhu tubuhmu stabil. - M'
Liana menatap botol itu dengan perasaan bingung. Ia meremas selimut wol tersebut, meratapi kenyataan bahwa di balik semua sikap kaku dan menyebalkan pria itu, Morgan selalu selangkah lebih maju dalam memperhatikannya—bahkan saat mereka sedang bertengkar.
Liana kembali ke sofa, membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut wol yang hangat itu. Ia menatap langit-langit apartemen yang gelap. Malam pertama pernikahannya dihabiskan di atas sofa ruang tamu yang sempit, sementara suaminya berada di balik pintu yang hanya berjarak beberapa meter darinya.
Ada kesedihan yang kembali menyelinap di hatinya. Bukan hanya karena ia tidak bisa masuk ke kamarnya, tapi karena ia menyadari bahwa tembok yang ia bangun untuk membenci Morgan mulai retak, sementara tembok yang dibangun Morgan untuk menjaganya tetap berdiri kokoh dan tak tertembus. Liana memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan setetes air mata jatuh ke bantal sofa yang keras, tertidur dalam kedinginan yang sedikit terobati oleh selimut pemberian pria yang paling ia benci sekaligus ia kagumi.