NovelToon NovelToon
Surga Yang Terlupakan

Surga Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Konflik etika / Selingkuh / Pelakor
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Menikahimu adalah ibadah terpanjang yang pernah aku ikrarkan. Namun, mengapa kini aku merasa sedang menyembah kehampaan di rumah yang tak lagi bertuan?"

Sepuluh tahun lamanya, Hana percaya bahwa kesetiaan adalah fondasi tunggal yang akan menjaga atap rumah tangganya tetap kokoh. Ia telah memberikan segalanya—masa mudanya, impian-impiannya, hingga seluruh napasnya hanya untuk melayani Aris, suaminya. Bagi Hana, rumah mereka adalah "Surga" kecil yang ia bangun dengan tetesan keringat dan doa-doa di setiap sujud malamnya.

Namun, perlahan "Surga" itu mulai terasa dingin. Aris, pria yang dulu selalu pulang dengan senyum hangat, kini berubah menjadi sosok asing yang membawa aroma parfum yang tak pernah Hana kenali. Tatapan matanya yang dulu penuh cinta, kini kosong dan seolah menembus tubuh Hana seakan ia adalah bayangan yang tak kasat mata.

Petaka itu dimulai saat sebuah nama dari masa lalu Aris kembali muncul. Aris tidak hanya lupa jalan pulang ke pelukan Hana, ia mulai "melupakan" sel

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: Benang-Benang yang Terurai

Pagi di Jakarta Selatan menyambut Hana dengan hiruk-pikuk yang terasa berbeda. Jika biasanya ia terbangun dengan perasaan waspada akan amarah Aris, kini ia terbangun oleh suara alarm dari ponselnya sendiri—sebuah melodi lembut yang menandakan dimulainya hari yang penuh kendali. Di jari manisnya, cincin pemberian Raka berkilau tertimpa cahaya matahari yang menyelinap dari balik gorden apartemen studionya.

Namun, kedamaian itu terusik saat Hana memeriksa kotak masuk surelnya. Sebuah pesan tanpa nama pengirim muncul dengan subjek yang membuat jantungnya mencelos: "Masa Lalu yang Mahal."

Hana membukanya dengan tangan gemetar. Di dalamnya terdapat beberapa lampiran foto dokumen medis lama—catatan trauma masa kecilnya yang sangat pribadi, yang dulu pernah ia ceritakan pada Aris dalam momen kerentanan yang paling dalam. Di bawahnya, tertera kalimat singkat yang bernada ancaman:

"Koperasi wanita yang suci? Apa jadinya jika donatur dan anggota koperasimu tahu bahwa pemimpin mereka punya sejarah mental yang 'cacat'? Kirimkan 200 juta ke rekening di bawah ini jika ingin rahasia ini tetap terkubur."

Hana terduduk lemas di tepi tempat tidurnya. Rasa mual menghantam perutnya. Ia tahu persis siapa yang memegang dokumen ini. Aris. Atau mungkin seseorang yang bekerja untuk Aris. Dokumen itu adalah rahasia tergelap yang Hana simpan rapat-rapat, sebuah luka masa kecil sebelum ia mengenal Aris, yang sengaja ia kubur agar bisa tumbuh menjadi wanita yang kuat.

"Bajingan," desis Hana, air matanya mulai menggenang.

Satu jam kemudian, Hana sudah berada di "Ruang Temu" cabang pertama. Ia mencoba bersikap normal di depan Sari dan para staf lainnya, namun pikirannya melayang. Ia tidak bisa menceritakan ini pada Raka sekarang, karena Raka sedang berada di luar kota untuk mengurus pengiriman kayu besar. Ia juga tidak ingin membebani Maya yang sedang sibuk mengurus berkas banding Aris.

Tiba-tiba, lonceng pintu berbunyi. Seorang wanita dengan pakaian tertutup dan kacamata hitam besar masuk. Ia tidak memesan kopi, melainkan langsung berjalan ke arah meja pojok tempat Hana biasa bekerja.

Wanita itu membuka kacamatanya. Citra.

Wajah Citra tidak lagi segar seperti saat ia menjadi selingkuhan Aris. Pipinya tampak tirus, dan ada guratan keletihan yang tidak bisa disembunyikan oleh riasan tebalnya.

"Aku tidak datang untuk meributkan Aris," ujar Citra ketus sebelum Hana sempat memanggil keamanan. "Aku datang untuk memperingatimu. Aris sudah gila di dalam sana. Dia menjual informasi pribadimu pada seorang narapidana yang baru saja bebas, namanya Baron. Baron itulah yang mengirimkan surel padamu, bukan?"

Hana menatap Citra dengan tajam, mencoba mencari kebohongan di matanya. "Bagaimana kamu tahu?"

"Karena Baron mencariku juga. Dia pikir aku masih punya akses ke uang Aris. Dia ingin memeras kita berdua," Citra tertawa pahit. "Ironis, bukan? Kita berdua dihancurkan oleh pria yang sama, dan sekarang kita terancam oleh orang yang sama pula."

Hana menyandarkan punggungnya, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. "Lalu apa maumu, Citra? Kamu ingin kita bekerja sama? Setelah semua yang kamu lakukan padaku?"

Citra menunduk, memainkan jemarinya yang gelisah. "Aku tidak butuh maafmu, Hana. Aku tahu aku jahat. Tapi aku tidak mau masuk penjara karena diperas oleh Baron. Aku punya bukti bahwa Aris-lah yang memberikan dokumen itu pada Baron dari dalam sel. Jika kita melaporkan ini sebagai tindakan pemerasan terencana, Baron akan tertangkap dan Aris akan mendapat tambahan masa hukuman karena terlibat dari balik jeruji."

Hana terdiam. Ini adalah pilihan yang sulit. Bekerja sama dengan wanita yang merusak pernikahannya, atau membiarkan rahasianya terbongkar dan koperasinya hancur.

"Berikan aku waktu untuk berpikir," ucap Hana dingin.

Sore harinya, Hana duduk sendirian di lantai dua yang sepi. Ia menatap dinding yang penuh dengan karya-karya wanita koperasi. Ia teringat ucapannya sendiri di forum provinsi minggu lalu: "Kekuatan kita terletak pada kejujuran kita terhadap luka masa lalu."

Kata-kata itu terngiang-ngiang seperti bumerang. Jika ia membayar Baron, ia akan menjadi tawanan rasa takut selamanya. Jika ia melaporkannya, rahasianya mungkin akan terungkap di pengadilan.

Ponselnya berdering. Nama Raka muncul di layar.

"Halo, Sayang? Aku baru sampai di gudang. Kamu terdengar aneh di telepon tadi pagi. Ada apa?" suara Raka begitu hangat, begitu nyata.

Hana menarik napas panjang. Ia memutuskan untuk tidak lagi menyimpan rahasia. Ia tidak ingin memulai pernikahannya dengan Raka di atas pondasi ketakutan.

"Ka... ada sesuatu yang harus aku ceritakan. Ini tentang rahasia masa kecilku yang dulu dibocorkan Aris. Seseorang mencoba memersaku."

Hana menceritakan semuanya. Dari surel Baron hingga kedatangan Citra. Ia menangis sesenggukan, melepaskan beban yang selama ini ia pikul sendiri.

"Hana, dengarkan aku," suara Raka terdengar tegas namun penuh kasih. "Rahasia itu bukan aib. Itu adalah bukti bahwa kamu adalah seorang pejuang. Jika dunia harus tahu, biarlah mereka tahu bahwa kamu adalah wanita yang selamat dari neraka masa kecil dan tetap bisa menjadi malaikat bagi orang lain. Jangan bayar satu rupiah pun pada mereka. Kita hadapi ini bersama. Aku akan pulang sekarang juga."

Kata-kata Raka seperti obat penenang yang paling ampuh. Hana menyeka air matanya. Ia tidak lagi merasa seperti korban. Ia adalah pemilik "Ruang Temu", dan ia akan mempertahankan ruang itu dengan segala cara.

Malam itu, dengan bantuan Maya yang langsung datang setelah dihubungi, Hana menyusun sebuah rencana. Mereka tidak akan membayar Baron. Sebaliknya, mereka menjebaknya.

Maya menghubungi kepolisian bagian siber. Mereka mengatur sebuah pertemuan pura-pura di sebuah kafe netral keesokan harinya. Citra pun bersedia menjadi saksi kunci, dengan imbalan perlindungan hukum atas keterlibatannya di masa lalu dengan Aris.

"Kamu berani sekali, Hana," puji Maya sambil memeriksa berkas laporan. "Banyak orang akan memilih membayar dan hidup dalam ketakutan. Tapi kamu memilih untuk meledakkan bomnya sendiri agar kamu bisa membersihkan puing-puingnya."

"Aku lelah bersembunyi, May. Aris menggunakan rahasia itu untuk mengikatku selama sepuluh tahun. Sekarang, benang itu harus diputus," jawab Hana mantap.

Keesokan harinya, di sebuah kafe remang di pinggiran Jakarta, Baron muncul. Ia adalah pria dengan raut wajah kasar dan tatapan predator. Saat ia mendekati meja tempat Hana duduk, ia tersenyum penuh kemenangan.

"Sudah bawa uangnya, Cantik?" tanya Baron sambil mengulurkan tangan.

Hana tidak memberikan tas berisi uang. Ia justru mengeluarkan ponselnya dan menekan tombol putar. Suara Baron yang mengancam lewat telepon kemarin terdengar jelas.

"Aku tidak membawa uangmu, Baron. Aku membawa polisi," ucap Hana tenang.

Seketika, beberapa pria berpakaian preman yang duduk di meja sekitar langsung meringkus Baron. Pria itu meronta, mengumpat kasar ke arah Hana, namun ia tidak berkutik. Di sudut ruangan, Citra berdiri, memberikan pernyataan kepada petugas lainnya.

Hana melihat Baron diseret keluar. Ia merasakan sebuah rantai yang tak terlihat di lehernya hancur berkeping-keping.

Dua hari kemudian, Hana berdiri di depan para anggota koperasinya. Ia memutuskan untuk melakukan langkah yang paling berani dalam hidupnya. Ia tidak menunggu rahasianya bocor. Ia menceritakannya sendiri.

Ia bercerita tentang trauma masa kecilnya, tentang bagaimana Aris menggunakan itu untuk menghancurkan mentalnya, dan tentang percobaan pemerasan yang baru saja terjadi.

Suasana ruangan menjadi sangat sunyi. Hana menunduk, bersiap untuk melihat tatapan menghina atau kekecewaan.

Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Bu Endang berdiri, diikuti oleh para wanita lainnya. Mereka tidak pergi. Mereka justru mendekat dan memeluk Hana satu per satu.

"Mbak Hana... kami justru semakin bangga padamu," bisik Bu Endang sambil menangis. "Jika Mbak bisa bangkit dari luka seberat itu, berarti kami juga bisa. Mbak bukan cacat, Mbak adalah pahlawan kami."

Hana menangis haru. Ternyata, kejujuran tidak menghancurkan koperasinya. Kejujuran justru menjadi perekat yang membuat fondasi mereka semakin tak tergoyahkan.

Malam harinya, Raka pulang. Ia langsung memeluk Hana di depan pintu kafe. "Aku bangga padamu, Hana. Kamu baru saja memenangkan pertempuran terbesar dalam hidupmu."

"Aku tidak melakukannya sendiri, Ka. Aku punya kamu, Maya, dan para wanita hebat itu," jawab Hana sambil tersenyum di pelukan Raka.

1
Weni suci Fajar wati
sungguh karya yang luar biasa,,👍
Weni suci Fajar wati
Kak aku membaca dari awal sampai di titik ini,,, banyak sekali hal yang aku pelajari dari cerita kakak,,, makasih untuk cerita yang luar biasa ini,,, semangat Kak,,,aku tunggu cerita selanjutnya,,,
PNC
bener bener Satra
PNC
kereeeeeennnn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!