"Siniin," pinta Dara.
"Cium dulu."
Dara melotot, "lih, siniin!"
"Iya, tapi cium dulu." Rafa menunjuk ke arah pipinya.
Dara mengulum bibir. Malu, dia mulai mendekatkan wajahnya. Hingga saat bibirnya hampir mengenai pipi Rafa, suaminya itu malah menoleh dan akhirnya bibir Dara mendarat di bibir Rafa.
Andara Maheswari (17 tahun) tidak menyangka jika sosok pacar yang dia kira tulus dan juga mencintainya ternyata bertahan dengannya hanya atas dasar rasa kasihan semata.
Dara dihina, diputuskan, atau mungkin lebih tepatnya dibuang oleh pacarnya. Braden selingkuh darinya.
Tidak cukup sampai disitu, sampai di rumah dia pun harus menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Kepahitan hidupnya seakan terus berlanjut. Dia terpaksa harus menerima perjodohan dan menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal demi menebus hutang yang dimiliki oleh ayahnya.
Dara tidak menyangka, jika pria yang dijodohkan dengannya adalah salah satu guru di sekolahnya. Pria dingin serta jutek yang membenci
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
Byurrr!
Hahahaha.
Suara tawa dari beberapa orang siswa langsung menggema disaat ada salah satu siswa perempuan bernama Monica menyiramkan segelas es jeruk ke seragam Dara. Tidak ada raut wajah bersalah sama sekali di wajah Monica, yang ada hanya rasa puas.
Sedangkan Dara sendiri hanya mampu mengepalkan kedua tangannya. Ingin membalas, tapi ini adalah hari pertamanya masuk sekolah di sana sebagai siswa baru. Dia tidak ingin membuat masalah.
Kedua matanya menatap nanar pada seorang pemuda yang seusia dengannya, berdiri tidak jauh darinya. Pemuda yang merupakan kekasihnya. Braden namanya.
Hatinya amat sakit karena Braden seolah menutup mata dirinya diperlakukan seperti ini oleh teman-temannya, di depan matanya.
“Udah sadar belum lo? Masih kurang gue nyiram lo?!” Monica bicara sambil melipat kedua tangan di dada. “Bisa-bisanya lo anak baru langsung ngaku-ngaku pacarnya Braden. Ngaca dong! Lo sama dia bagaikan langit dan bumi. Lo culun begini mimpi jadi pacarnya Braden yang merupakan Ketua OSIS di sini? Cowok terpopuler di sini?” sinis Monica yang langsung disambut tawa oleh yang lain. Tawa yang seolah meremehkan Dara.
Tidak cukup sampai disitu, Monica juga mendorong tubuh Dara hingga gadis berkacamata tebal itu terjatuh.
Tiba-tiba, ada seorang siswa yang mengulurkan tangannya pada Dara. “Lo gak apa-apa, ‘kan? Ayo gue bantu.”
Dara mendongak, awalnya dia ragu untuk menerima uluran tangan itu, tapi sesaat kemudian dia mengangguk pelan dan berdiri.
“Cukup, Mon. Lo gak malu sama jabatan lo di anggota OSIS tapi kelakuan lo kayak gini?!” tegur Aiden.
“Halaah. Jangan jadi so’ pahlawan kesiangan deh!”
“Udah, lebih baik lo bersihin seragam sama wajah lo,” ucap Aiden dan Dara langsung menurut.
“Awas aja lo, gue bakal bales suatu hari nanti,” batin Dara geram.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Beberapa saat sebelumnya ..
“Braden!” seru Dara begitu dia memasuki gerbang sekolah.
Ini adalah hari pertamanya pindah sekolah. Meski dia sudah kelas dua belas. Hal itu dikarenakan sang ayah yang mengajaknya dan sang ibu untuk kembali. Setelah sebelumnya mereka pindah karena katanya ayah Dara ingin fokus memantau kantor cabang yang ada di luar kota dan tidak ingin berjauhan dengan keluarga.
Sengaja, tidak memberitahu Braden terlebih dahulu karena dia ingin memberikan kejutan untuk kekasihnya itu. Mereka sudah menjalin kasih selama tiga tahun lamanya. Terhitung sejak dia dan Braden masih duduk di bangku kelas tiga Sekolah Menengah Pertama.
Meski menjalin hubungan jarak jauh, komunikasi antara keduanya tetap lancar seperti biasa. Pagi tadi pun mereka masih saling bertukar pesan.
Braden yang tengah berjalan bersama teman-temannya sontak membeliak saat melihat Dara yang berjalan menghampirinya. Keningnya mengernyit saat melihat Dara memakai seragam sekolah yang sama dengannya.
Seingatnya seragam Dara tuh roknya kotak-kotak. Bukan abu kayak seragam yang dia dan teman-temannya pakai. Dan lagi … untuk apa juga gadis itu berada di sekolahnya? Braden mematung dengan berbagai pertanyaan yang muncul di kepalanya.
“Brad, lo kenal sama tuh cewek?” tanya Monica yang berdiri di sebelahnya.
Bukannya menjawab, Braden malah diam dan tidak sadar kalau Dara sudah berdiri di depannya.
“Surpriseee! Gimana? Lo pasti kaget kan?” Dara bertanya dengan senyum lebar dan kedua mata yang nampak berbinar.
“Braden.” Monica menyenggol lengan Braden, sampai pria yang merupakan Ketua OSIS SMA Ibu Pertiwi itu mengerjapkan matanya.
“Gue gak kenal. Lo siapa?” tanya Braden, menunjukkan wajah heran.
Senyum yang semula mengembang di wajah gadis cantik berkaca mata itu langsung surut seketika. “Braden… lo … gue kan—”
“Sorry, nama gue emang Braden. Tapi gue gak kenal sama lo.” Braden menyela dengan cepat, “mungkin lo salah orang,” imbuhnya sambil tersenyum.
Braden memang selalu bersikap ramah kepada semua siswa di sana, begitu juga kepada para guru. Makanya dia terpilih menjadi ketua OSIS di sekolah sana.
Kedua mata Dara nampak berkaca-kaca. Apa ini? bagaimana mungkin dia salah orang? Pria di depannya sudah jelas adalah Braden. Dia tidak mungkin salah orang. Pagi tadi mereka bahkan masih melakukan video call. Wajah Braden pun sama dengan yang ada di depannya.
“Gue gak mungkin salah. Gak mungkin juga lo lupa sama gue. Gue Dara, cewek lo!” ucap Dara dengan suara bergetar.
“Hah?!” Monica memekik kaget. Dia menoleh ke arah Braden yang wajahnya nampak memerah. “Braden, gak mungkin kan lo pacaran sama dia? Lo selingkuh dari gue?” tanyanya.
“Nggak gitu, Mon. Gue—“
“Lo pacarnya Braden? Sejak kapan?” tanya Dara menyela ucapan Braden.
Dengan wajah angkuhnya Monica menjawab, “Gue udah pacaran dua tahun sama dia. Mau apa lo?!” semburnya galak.
Dara tertawa miris, dia melirik ke arah Braden yang menggelengkan kepalanya. Wajahnya sudah nampak pucat. Mungkin tidak menyangka hal ini akan terjadi.
“Gue udah tiga tahun pacaran sama dia,” tunjuk Dara ke arah Braden.
“What?! Braden!”
“Cukup!” bentak Braden, untuk pertama kalinya dia meninggikan suara di lingkungan sekolah seperti ini.
“Lo harus denger penjelasan gue, Monic. Gue beneran gak kenal sama dia. Liat dia!” Braden menunjuk ke arah Dara Menggunakan dagunya,
“penampilannya aja culun kayak gitu. Dia sama sekali gak masuk kriteria gue. Jadi gak mungkin kan kalau gue pacaran sama cewek culun kayak dia,” imbuhnya.
Jleb!
Hati Dara amat sakit mendengar ucapan Braden. Padahal selama ini Braden tidak pernah mempermasalahkan mengenai penampilannya. Tapi apa sekarang? Mengapa Braden berkata seperti itu?
❤️❤️~~~
Sementara itu, di sebuah kediaman mewah. Seorang pria yang sudah memakai pakaian rapi nampak mengorek kupingnya yang terasa panas karena sang oma terus saja menceramahinya.
“Kamu denger kan apa kata Oma?”
Pria bernama Rafael itu mengangguk pasrah. “Iya, Oma. Rafa denger.”
“Jangan cuman iya-iya saja, Raf. Usiamu sudah berapa sekarang? Oma juga sudah tua. Oma bahkan tidak tahu sampai kapan Oma hidup di dunia ini. Kamu sendiri pun tahu apa alasannya. Apa salahnya mengabulkan keinginan Oma untuk melihatmu menikah?” tanya Oma Atira, menatap sendu ke arah cucunya. Satu-satunya keluarga
yang dia miliki setelah anak semata wayangnya meninggal bersama sang menantu akibat kecelakaan.
“Oma pun tahu apa alasanku sampai sekarang masih menyendiri,” sahut Rafa. “Dan satu lagi. Oma akan hidup lama bersamaku. Pengobatan sekarang sudah canggih, Oma hanya tinggal menunggu pendonor yang cocok dengan Oma,” imbuhnya.
“Mau sampai kapan kamu seperti ini, Raf? Dia sudah tidak ada, dan itu semua bukan salahmu. Dia—“
“Rafa pergi dulu!” potong Rafa dengan cepat. Berdiri dan mengambil tas kerja miliknya.
“Hari ini Rafa mau pergi ke tempat
kerja Rafa yang baru. Gak enak kalau Rafa datang terlambat.” Rafa menoleh ke arah suster yang bertugas merawat sang oma, “Titip Oma ya, Sus,” ucapnya.
“Baik, Tuan.”
Rafa mencium punggung tangan sang oma lalu mengecup kening wanita yang amat sangat dia cintai setelah dua wanita lain pergi dari hidupnya untuk selamanya. Pria tampan itu langsung keluar rumah, meninggalkan sang oma yang hanya mampu menatapnya dengan kedua mata yang nampak berkaca-kaca.
Selalu seperti itu, setiap Oma Atira mencoba menasehati Rafa agar tidak terus tenggelam dalam
masa lalu, cucunya itu selalu menghindar dan berakhir pergi dengan banyak alasan.
“Aku harus bagaimana lagi, Tia? Mengapa sulit sekali menasehatinya, membuatnya sadar dan bangkit dari masa lalunya?” tanya Oma Atira pada Suster Tiara.
Suster Tiara menghembuskan napas berat. Dia sudah lama bekerja sebagai perawat Oma Atira. Jadi paham betul mengenai permasalahan yang terjadi di keluarga majikannya tersebut. Bahkan di usianya yang sudah menginjak kepala empat, dia belum menikah karena tidak ingin meninggalkan Oma Atira yang sudah dia anggap sebagai orang
tuanya sendiri.
“Rafa hanya belum bertemu dengan seseorang yang mampu menggantikan posisi mendiang Khaylila, Oma. Ini semua pasti tidak mudah juga bagi Rafa. Kita harus sabar,” sahut Suster Tiara
“Tapi sampai kapan? Ini sudah tahun ke-5 setelah kejadian itu. Aku tidak akan tenang pergi meninggalkannya sebelum dia menikah. Memastikan dia bahagia dan tidak lagi sendiri seperti sekarang.”
“Hari ini kelas kita kedatangan murid baru. Ibu harap, kalian bisa akur dan berteman dengan baik,”
ucap Bu Indah selaku wali kelas XII IPA 2. “Dara, silahkan kamu memperkenalkan diri,” imbuhnya pada Dara yang berdiri di sebelahnya.
Dara mengangguk patuh lalu memperkenalkan diri dengan menyebutkan namanya dan dari mana dia berasal.
“Kamu duduk bareng sama Renita. Di bangku kosong yang dekat jendela,” titah Bu Indah.
“Eh, nggak mau, Buk! Saya gak mau duduk sama cewek culun kayak dia!” Renita dengan lantang menolak.
“Kamu ini ya!” Bu Indah kesal dan menghembuskan napas berat.
“Ya udah. Kamu duduk bareng Bebi aja kalau gitu.” Bu Indah menunjuk ke bangku kosong di sebelah murid bernama Bebi yang penampilannya tidak jauh berbeda dengan Dara. Posisi bangkunya sejajar dengan Renita.
Dara mengangguk dan berjalan menuju tempat duduknya. Namun dia hampir terjatuh saat Renita dengan sengaja menghalangi jalan dengan kakinya. “Rasain! Makanya jangan ngaku-ngaku jadi cowoknya Braden!” ucap Renita dengan sinis.
Dara melengos, dia duduk dengan hati yang amat terasa kesal. Harapannya untuk disambut hangat dan gembira oleh Braden pupus sudah. Dia malah mendapati
kenyataan pahit yang membuat hatinya amat sakit. Dikhianati dan diacuhkan.
“Hai, nama gue Bebi Romero Una.”
Dara terkesiap saat teman gadis di sebelahnya mengulurkan tangan, mengajaknya berkenalan. Dia menoleh dan tersenyum hangat lalu membalas uluran tangan gadis bernama Bebi tersebut. “Hai,” balasnya singkat.
“Dara, untuk sekarang kamu berbagi buku pelajaran dengan Bebi dulu ya. Setelah ini kamu pergi ke ruang guru dan ambil buku pelajaran di sana,” ucap Bu Indah.
“Baik, Bu.”
Meski buku pelajaran di sekolah sana mungkin sama dengan di sekolah Dara yang lama, tapi tetap saja. buku pelajaran yang baru merupakan hak yang harus diterima oleh Dara di sekolah yang baru.
.
.
“Lo beneran pacarnya Braden?” tanya Bebi penasaran.
Dara sudah membuka mulutnya, hendak menjawab pertanyaan dari Bebi. Namun, tiba-tiba ponselnya bergetar, menandakan ada pesan yang masuk. Dara pun memilih untuk membaca pesan tersebut terlebih
\---
Dahulu sebelum menjawab pertanyaan dari Bebi.
MyBee \[Aku tunggu kamu di belakang gudang. Kita harus bicara!\]
MyBee \[Dari kelas kamu lurus aja terus belok ke kiri, lewatin ruang komputer trus belok kanan.\]
Dara menghela napas panjang setelah membaca dua pesan yang dikirimkan oleh Braden. Tidak membalas, dia kembali memasukkan ponselnya ke saku baju seragam.
“Dara, pertanyaan gue belum dijawab lho,” ujar Bebi.
Alih-alih menjawab, Dara langsung pamit mau ke toilet. Bebi
sempat menawarkan diri untuk mengantar tapi Dara menolak.
“Gak usah. Gue udah tau kok.” Dara kemudian pergi meninggalkan Bebi yang masih berada di dalam kelas.
Gadis cantik berkacamata itu melangkah dengan percaya diri, mengabaikan tatapan para siswa yang seakan mencemoohnya karena kejadian tadi pagi. Kabar mengenai dirinya yang mengaku sebagai pacarnya Braden rupanya sudah tersebar luas di sekolah.
Tapi Dara tidak peduli, baginya ada yang jauh lebih penting daripada mengurusi pandangan semua orang yang tentunya tidak akan bisa dia jelaskan satu persatu.
Untuk apa juga dia memberikan penjelasan pada mereka? Sebagai bentuk pembelaan diri? Percuma!
.
Braden bersandar pada dinding belakang gudang sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana. Dia menoleh dan berdiri tegak saat melihat Dara datang.
“Dara, gue—“
“Lo selingkuh dari gue?” potong Dara. Braden pun sontak kembali mengatupkan bibirnya.
Dara tersenyum miring. Dia membenarkan posisi kacamatanya yang melorot lalu menatap Braden yang juga tengah menatap ke arahnya.
“Lo breng-sek, Braden! Apa hubungan kita yang udah terjalin selama tiga tahun ini gak ada artinya sama sekali di mata lo?” Dara berusaha menahan buliran bening yang sudah menumpuk di pelupuk matanya. Hatinya memang sakit, tapi rasa cintanya kepada Braden jauh lebih besar daripada rasa sakitnya.
Braden menatap Dara dengan tatapan sinis, mengejek dan meremehkan. Ia mengangkat sebelah alisnya, lalu berkata dengan nada angkuh, “Kalo emang gue selingkuh, lo mau apa?” tanya Braden lalu melanjutkan ucapannya, “denger ya Dara. Di sini, gue tuh Ketua OSIS. Cowok paling populer pula. Monica juga
cewek paling populer di sekolah sini. Lo pikir, gue mau pacaran lama sama lo yang culun begini?”
Dara merasa seperti tertampar oleh kata-kata Braden. Ia menundukkan kepalanya, mencoba menahan air mata yang hampir jatuh. Sementara itu, Braden memindai penampilan Dara dari atas sampai bawah dengan ekspresi meremehkan. Ia menyeringai, menunjukkan betapa tidak pentingnya kini Dara di matanya.
“Selama ini gue bertahan sama lo karena kasihan. Lo juga temen gue sejak kita SMP. Gue kasihan sama lo karena lo selalu kaya ngemis perhatian dan kasih sayang dari gue. Yaa … Sekalian bisa
manfaatin lo yang selalu mau ngerjain tugas gue, kan?”
Dara mengepalkan kedua tangannya. Menahan emosi yang kini tengah bergejolak di dalam dadanya sana. Tidak menyangka kalau hubungan yang terjalin selama ini hanya Braden jalani atas dasar rasa kasihan dan juga hanya memanfaatkannya. Bukan cinta atau sayang seperti yang dia punya untuk pria di depannya itu.
“Gue emang sempet kaget ngeliat lo muncul tiba-tiba kayak tadi. Tapi … syukurlah. Seenggaknya gue gak harus lagi nyembunyiin semua ini dari lo. Jadi … gue mau kita putus. Gue muak jadi pacar lo. Dengerin setiap
curhatan lo yang menyedihkan itu. Asal lo tau, lo udah kayak beban buat gue! Gue tetep bertahan sama lo karena nyokap kita temenan. Itu aja!”
.
.
Dara berlari dari belakang gudang sambil terus menghapus air matanya. Dia terus berlari sampai di depan ruang komputer, dia tidak sengaja menabrak tubuh seseorang dengan keras. Suasana hatinya yang buruk membuatnya tidak mengucapkan kata maaf sekali pun kepada orang yang sudah dia tabrak.
Sedangkan Rafa yang menjadi