NovelToon NovelToon
Perjamuan Langit Kultivasi Lidah Dewa

Perjamuan Langit Kultivasi Lidah Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Action / Dan budidaya abadi
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

​Han Shuo hanyalah seorang pelayan dapur di Sekte Awan Merah yang sering dihina karena bakat tulang yang buruk. Segalanya berubah ketika ia menemukan "Kitab Rasa Semesta", sebuah warisan kuno yang mengajarkan bahwa energi langit dan bumi paling murni tidak tersimpan dalam pil alkimia yang pahit, melainkan pada sari pati makhluk hidup yang diolah dengan api kuliner. Dengan sebilah pisau berkarat dan kuali tua, ia memulai perjalanan menantang maut demi mencicipi keabadian.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 19 lembah keputusasaan dan pelanggan abadi

Angin di Lembah Keputusasaan tidak berhembus; ia merayap. Dingin, lembap, dan membawa aroma logam tua yang berkarat. Langit di atas lembah ini selalu tertutup awan abu-abu tebal yang tidak membiarkan satu pun sinar matahari lolos.

Han Shuo dan Ying berjalan menyusuri jalan setapak yang dipenuhi tulang-belulang hewan—dan manusia.

"Kita seharusnya mengambil jalan memutar lewat Pegunungan Naga Terbang," gumam Ying, tangannya tidak pernah lepas dari gagang belati kembar di pinggangnya. "Lembah ini terkutuk. Konon, seratus tahun lalu, seorang kultivator tingkat Jiwa Baru (Nascent Soul) masuk ke sini dan tidak pernah keluar. Bukan karena dibunuh, tapi karena 'dimakan'."

Han Shuo berjalan santai di depan, sesekali berhenti untuk memetik jamur hitam yang tumbuh di sela-sela bebatuan. "Ying, kau terlalu tegang. Tempat ini memang berbahaya, tapi lihatlah jamur ini. Jamur Hantu Menangis. Ini bahan langka untuk membuat kaldu yang sangat gurih. Energi Yin di sini sangat padat, sempurna untuk mengawetkan bahan makanan."

"Kau gila," desis Ying. "Kita sedang diburu oleh Kuil Bintang dan Keluarga Wang, dan kau malah belanja sayur?"

Tiba-tiba, tanah bergetar.

Bukan getaran gempa biasa. Ini adalah getaran ritmis. DUM... DUM... DUM... Seperti langkah kaki raksasa.

Burung-burung gagak yang bertengger di pohon mati terbang serentak, berkoak panik. Kabut di depan mereka terbelah.

Dari kegelapan kabut, muncul sepasang mata. Mata itu sebesar roda gerobak, berwarna kuning keruh dengan pupil vertikal yang menyipit.

"Mundur!" teriak Ying, menarik Han Shuo ke belakangnya.

Sosok itu melangkah keluar sepenuhnya. Itu adalah Behemoth Perut Berlubang (Hollow-Bellied Behemoth). Tingginya mencapai lima belas meter, berbentuk seperti beruang raksasa namun tanpa bulu, kulitnya abu-abu pucat seperti mayat yang terendam air.

Yang paling mengerikan adalah perutnya. Di bagian tengah perutnya terdapat lubang hitam yang berputar, menyedot udara dan kabut di sekitarnya. Mulutnya yang lebar meneteskan air liur yang mendesis saat menyentuh tanah.

"GRAAAAAAAHHHH!"

Raungan monster itu bukan suara, melainkan gelombang kejut. Ying terpental menabrak tebing batu, memuntahkan sedikit darah.

"Ying!" Han Shuo berteriak.

"Lari, Bos! Itu Monster Tingkat 5! Setara dengan Inti Emas Puncak!" Ying mencoba bangkit, Qi hitam menyelimuti belatinya.

Namun monster itu tidak menyerang. Ia menarik napas dalam-dalam.

Lubang di perutnya berputar lebih cepat. Ying merasakan Qi di dalam tubuhnya tersedot keluar. Monster itu tidak memakan daging; ia memakan energi.

"Lapar..." Suara monster itu terdengar di dalam kepala mereka, berat dan menyedihkan. "Sakit... Lapar..."

Han Shuo terdiam. Ia mengaktifkan Mata Wawasan (Insight Eye)-nya.

Dunia menjadi monokrom. Han Shuo melihat aliran energi di tubuh monster itu. Monster itu sebenarnya memiliki inti kehidupan yang kuat, tapi ada kutukan kuno di perutnya. Sebuah segel hitam yang mencegahnya merasa kenyang. Apapun yang ia makan—batu, pohon, manusia, Qi—langsung lenyap ke dalam ketiadaan.

Itu bukan monster jahat. Itu adalah makhluk yang menderita siksaan abadi.

"Jangan serang dia, Ying," perintah Han Shuo. Ia melangkah maju, melepaskan aura permusuhannya.

"Kau mau mati?!" Ying berteriak.

Han Shuo menatap mata raksasa itu. "Kau lapar, bukan? Kau sudah makan segalanya, tapi perutmu tetap terasa kosong."

Monster itu berhenti meraung. Ia menundukkan kepalanya yang besar, menatap manusia kecil di depannya. "Kosong... Dingin..."

Han Shuo meletakkan tas penyimpanannya. Ia mengeluarkan kuali tembaga besarnya.

"Namaku Han Shuo," katanya tenang. "Dan aku koki. Jika kau tidak memakan kami, aku akan membuatkanmu sesuatu yang bisa menutup lubang itu."

Monster itu mendengus ragu. Air liurnya membanjiri tanah di dekat kaki Han Shuo. Insting membunuhnya sangat tinggi, tapi insting laparnya lebih tinggi. Ia belum pernah mendengar manusia menawarkan makanan; biasanya mereka lari atau menusuknya dengan besi tajam.

Han Shuo menoleh pada Ying. "Ying, aku butuh api. Api terbesar yang bisa kau buat."

Dapur di Neraka: Memasak Kekosongan

Ying masih ragu, tapi ia melihat keseriusan di mata Han Shuo. Ia mengumpulkan sisa tenaganya, membakar jimat peledak, dan menciptakan lingkaran api unggun raksasa di sekitar kuali.

Han Shuo menatap kuali kosong itu. Masalah monster ini bukan fisik. Memberinya daging naga pun percuma karena akan tersedot lubang hitam itu.

Han Shuo harus memasak Konsep.

Ia harus memasak "Kepuasan".

Bahan-bahan:

* Nasi Beras Ketan Hitam: Sifatnya lengket dan berat (Menahan hisapan).

* Lemak Babi Gunung: Sumber rasa gurih dan pelapis dinding lambung.

* Akar Teratai Penjara: Tumbuhan yang tumbuh di dalam batu, melambangkan ketahanan.

Tapi itu belum cukup. Han Shuo melihat sekeliling. Kabut di lembah ini... ini adalah manifestasi dari keputusasaan ribuan tahun.

"Ying, lindungi aku saat aku bermeditasi. Aku akan menggunakan teknik Panci Penyerap Langit."

Han Shuo mengangkat kualinya. Alih-alih memasukkan air, ia menggunakan Qi-nya untuk menarik kabut tebal lembah itu masuk ke dalam kuali.

Kabut itu berputar, memadat menjadi cairan abu-abu di dasar kuali.

"Kau memasak racun?!" Ying terkejut.

"Aku memurnikannya," jawab Han Shuo, keringat dingin mengalir di pelipisnya.

Dengan api Ying yang membara di bawahnya, Han Shuo memasukkan beras ketan dan lemak babi ke dalam cairan kabut itu.

Ia mulai mengaduk.

Teknik Pengadukan: Pusaran Yin-Yang.

Han Shuo memutar sendok raksasanya (yang terbuat dari batang pohon besi) berlawanan arah dengan putaran lubang hitam di perut monster itu.

Ia melawan konsep "Kekosongan" dengan konsep "Kepadatan".

Perlahan, aroma mulai keluar. Awalnya baunya aneh, seperti tanah basah. Tapi lama-kelamaan, baunya berubah. Menjadi aroma nasi yang baru matang, aroma lemak yang meleleh, aroma rumah yang hangat di tengah badai salju.

Monster itu mendekatkan wajahnya. Hidungnya berkedut. Lubang di perutnya bergetar pelan, putarannya melambat.

"Hampir selesai," Han Shuo mengambil satu bahan terakhir dari sakunya. Itu adalah sisa Daging Permata Kirin yang ia simpan. Hanya sepotong kecil, tapi energinya murni.

Ia mencincang daging itu halus dan menaburkannya di atas nasi yang kini berwarna ungu gelap dan berkilau.

"Hidangan ini bernama: Bubur Penambal Langit," seru Han Shuo.

Ia tidak menyajikannya di mangkuk. Ia menendang kuali itu hingga terbang ke udara, tepat ke arah mulut monster yang menganga.

Isi kuali itu—bubur ketan yang sangat padat dan lengket, bersinar dengan cahaya ungu—meluncur masuk ke tenggorokan monster itu.

GLUP.

Hening.

Monster itu menelan.

Detik pertama, tidak terjadi apa-apa.

Detik kedua, mata monster itu melebar.

Di dalam perutnya, bubur itu tidak jatuh ke dalam lubang hitam. Bubur itu mengembang. Sifat beras ketan yang dimasak dengan kabut lembah memiliki daya rekat spiritual yang luar biasa. Bubur itu menempel di dinding "lubang ketiadaan" tersebut, menutupi celah-celah dimensi yang bocor.

Sensasi hangat menjalar dari perut ke seluruh tubuh monster itu. Rasa gurih dari lemak babi dan energi suci daging Kirin meresap ke dalam darahnya yang dingin.

Untuk pertama kalinya dalam seribu tahun...

Monster itu bersendawa.

BUUUUURP!

Getaran sendawa itu merontokkan daun-daun kering di seluruh lembah. Lubang di perutnya perlahan menutup, kulitnya yang abu-abu berubah menjadi warna kulit sehat kecokelatan. Bulu-bulu baru mulai tumbuh dengan cepat.

Monster itu menjatuhkan dirinya ke tanah, duduk seperti anjing besar yang kekenyangan. Air mata mengalir dari mata kuningnya. Air mata itu jatuh ke tanah dan berubah menjadi kristal biru.

"Kenyang..." bisik monster itu. Suaranya tidak lagi menakutkan, melainkan penuh haru. "Terima kasih... Manusia..."

Hadiah dari Sang Penjaga

Han Shuo jatuh terduduk, napasnya memburu. Memasak konsep "Kepadatan" menguras mentalnya lebih parah daripada bertarung dengan Wang Lin.

Ying masih bengong melihat monster raksasa itu kini berguling-guling manja di tanah.

Monster itu kemudian memuntahkan sesuatu dari mulutnya. Sebuah bola cahaya melayang ke arah Han Shuo.

Han Shuo menangkapnya. Itu adalah sebuah batu amber seukuran kepalan tangan. Di dalamnya, terdapat api kecil yang abadi.

[Item Diperoleh: Jantung Api Perut Bumi]

[Fungsi: Api abadi yang tidak perlu bahan bakar. Dapat memasak bahan tingkat tinggi tanpa merusak esensinya.]

"Ambillah," kata monster itu. "Itu adalah sumber kutukanku. Api itu terlalu panas untuk perutku, membakar segalanya hingga aku selalu lapar. Kau telah memadamkan rasa sakitnya dengan makananmu. Sekarang, api itu milikmu."

Han Shuo tersenyum. Ini adalah harta karun bagi seorang koki. Kompor portabel dengan api tingkat dewa.

"Siapa namamu?" tanya Han Shuo.

"Dulu... aku dipanggil Gou, Anjing Penjaga Gerbang Sekte Awan Merah purba. Tapi aku memakan pil yang salah dan dikutuk ke sini," jawab monster itu. "Jika kau menuju Sekte Awan Merah, berhati-hatilah. Aroma di sana... sudah busuk sejak lama."

Gou kemudian berdiri, tubuhnya menyusut hingga seukuran beruang normal. "Aku akan tidur sekarang. Tidur yang panjang tanpa rasa lapar."

Monster itu menggali lubang dan membenamkan dirinya ke dalam tanah, meninggalkan Han Shuo dan Ying sendirian.

Malam di Ujung Lembah

Ying menatap Han Shuo dengan tatapan baru. "Kau... benar-benar menjinakkan monster tingkat 5 dengan bubur."

"Bukan menjinakkan, Ying. Melayani," koreksi Han Shuo sambil membersihkan kualinya. "Setiap makhluk hidup adalah pelanggan potensial. Dan pelanggan yang puas akan memberikan tip yang besar."

Han Shuo memegang Jantung Api Perut Bumi. Ia memasukkannya ke dalam tungku kecil di kuali tembaganya. Seketika, kuali itu berdengung senang. Kuali itu berevolusi, warnanya berubah dari tembaga kusam menjadi merah keemasan.

[Upgrade Alat Masak: Kuali Tembaga -> Kuali Naga Merah]

"Dengan api ini," kata Han Shuo, matanya menatap ke arah pegunungan di kejauhan. "Aku bisa memasak 'daging' yang lebih keras. Seperti Penatua Agung Mu Chen."

Mereka melanjutkan perjalanan keluar dari lembah. Di depan mereka, Pegunungan Awan Merah menjulang tinggi, puncaknya tertutup salju abadi. Di sanalah markas musuh berada. Di sanalah Kotak Bumbu Raja disembunyikan.

Namun, Han Shuo tidak tahu bahwa kedatangannya sudah ditunggu.

Sekte Awan Merah: Ruang Penatua Agung

Di puncak tertinggi sekte, di dalam ruangan yang dindingnya dilapisi emas, Penatua Agung Mu Chen sedang duduk di atas tahta tulang.

Di depannya, sebuah cermin air menampilkan gambar Han Shuo yang baru saja keluar dari Lembah Keputusasaan.

Mu Chen terkekeh. Tapi suara tawanya aneh. Ada suara kedua yang bergema di balik suaranya. Kulit wajah Mu Chen bergerak-gerak, seolah ada sesuatu yang hidup di bawah kulitnya.

"Dia datang membawa Jantung Api," suara kedua itu berdesis. "Api itu bisa membakar parasit kita."

"Tenanglah," jawab Mu Chen pada dirinya sendiri. Ia mengambil sejumput bubuk hitam dari sebuah kotak kayu kuno yang berukir naga—Kotak Bumbu Raja.

Ia menaburkan bubuk itu ke lidahnya. Matanya berputar ke belakang, menunjukkan kenikmatan yang mengerikan.

"Biarkan dia datang. Daging seorang Koki Jenius akan menjadi hidangan penutup yang sempurna untuk ritual kebangkitanmu, Tuan Kegelapan."

Pintu ruangan terbuka. Seorang murid masuk, gemetar ketakutan. "Penatua Agung... persiapan Turnamen Sekte Tahunan sudah selesai. Semua sekte tetangga sudah hadir."

"Bagus," kata Mu Chen. "Siapkan kursi khusus untuk tamu kita, Han Shuo. Di tengah arena... di atas panggangan."

Pencapaian Han Shuo:

* Item Baru: Jantung Api Perut Bumi (Eternal Flame - High Tier Cooking Fire).

* Alat Baru: Kuali Naga Merah (Dapat menahan suhu ekstrem dan mempercepat pemurnian bahan).

* Teknik Baru: Panci Penyerap Langit (Menggunakan atmosfer lingkungan sebagai bumbu/bahan).

* Info Lore: Konfirmasi bahwa Penatua Agung Mu Chen dirasuki atau dikendalikan oleh parasit/entitas gelap yang berhubungan dengan Kotak Bumbu Raja.

Perkembangan Karakter:

* Ying: Mulai percaya sepenuhnya pada kemampuan "non-tempur" Han Shuo yang ternyata lebih efektif daripada senjata.

* Han Shuo: Semakin memahami esensi dari Kitab Rasa Semesta Bab Pertengahan (Memasak Konsep/Emosi).

1
angin kelana
asasiasi apaan tuh?
angin kelana
wah gak beres nih tetua mu chen.
angin kelana
waah ada parisit....
angin kelana
lanjuuuuttt ada misteri apakah?
angin kelana
lanjuuuut
angin kelana
masak orang🤭
angin kelana
lanjuuuuutttt
angin kelana
wah perang kuliner nih...
angin kelana
lanjuuuuuttt
angin kelana
masak apaan biat si monster?
angin kelana
penatua agung apakah kawan atw lawan?
angin kelana
terluka,apakah bisa menang?
angin kelana
licik,curang...
Purwanto Purwanto
gimana kabar adiknya
angin kelana
pedess tuh..
angin kelana
wah sayang malah di bagiin,tpi dripd ketahuan yaa sudahlah...
angin kelana
sahabatan dulu mungkin nanti love love😄
angin kelana
waah di apain tuh macannya..?
angin kelana
selalu ada orang jahat di mana2..
angin kelana
cukup menarik lanjuut.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!