NovelToon NovelToon
Hamil Tujuh Bulan, Aku Tinggal Bersama Kakak Iparku

Hamil Tujuh Bulan, Aku Tinggal Bersama Kakak Iparku

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Shalema

Suami Ishani telah pergi, meninggalkan satu janji yang tidak pernah sepenuhnya ia pahami.

Kini Ishani berada di bawah satu atap dengan Langit, pria yang memiliki wajah yang sama seperti mendiang suaminya, tetapi tidak dengan hatinya.

Tatapan Langit selalu dingin.
Sikapnya penuh jarak.
Seolah kehadiran Ishani dan bayi di rahimnya adalah pengingat akan sesuatu yang ingin ia lupakan.

Ishani hanya ingin melahirkan dengan tenang.

Namun semakin lama ia tinggal di rumah itu, semakin ia menyadari bahwa yang sedang ia hadapi bukan sekadar hubungan ipar.

Ada luka lama.
Ada pengorbanan yang tak pernah benar-benar diterima.

Dan ada kecemburuan yang tumbuh diam-diam sejak mereka masih kecil.
Di antara bayi yang tak bersalah dan masa lalu yang belum selesai…

Ishani terjebak di tengah dua saudara yang dipisahkan oleh takdir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 : Hidup yang berkelok

Keesokan harinya, Langit masih siaga di sofa itu. Perawat datang membawakan makanan. 

“Kamu mau makan yang mana dulu?” tanya Langit sambil menaikkan overbed table. 

Nasi, semur daging, sayur capcay, tahu kukus dan pisang, tersaji di nampan pasien. Ishani mengernyit. 

“Kenapa?” tanya Langit menangkap perubahan ekspresi Ishani. “Nggak suka?” ucapnya datar. 

“B-bukan… cuma nggak ada makanan pedas,” keluh Ishani pelan. 

Langit menghembuskan napas pendek. Membuka plastik, dan mulai menyendok untuk Ishani. 

“Kamu lagi di rumah sakit. Bukan di hotel.”

Mulut Ishani merengut. 

“Mau disuapin atau makan sendiri?” 

Ishani mengambil sendok itu cepat. “Sendiri.”

Langit kembali duduk di sofa, tapi matanya tidak pernah benar-benar lepas dari Ishani. Saat Ishani hendak meraih gelas di lemari kecil, Langit sudah lebih dulu berdiri. 

“Kalau mau minum, bilang,” Ia menyodorkan gelas. “Ingat, kamu belum boleh banyak bergerak.”

“I-iya, Kak.”

Nada itu selalu membuat Ishani gugup.

Pintu terbuka. Bu Maura masuk membawa termos dan tas kecil berisi pakaian.

“Ibu bawakan bubur,” katanya lembut.

Ishani tersenyum tipis. “Terima kasih, Bu.”

“Bu, boleh aku bicara sebentar?” Langit sudah berdiri di ambang pintu. 

Bu Maura mengusap punggung tangan Ishani sebelum keluar mengikuti Langit. Tidak lama, ia kembali, duduk di samping ranjang, menatap wajah Ishani yang masih pucat. 

“Ibu dengar dari Langit… soal Jakarta.”

Ishani terdiam.

“Apa kamu mau ke sana?” tanya Bu Maura hati-hati.

Ishani menggeleng pelan. “Aku belum siap, Bu.”

Bu Maura menarik napas panjang. Sorot matanya melembut tapi rahangnya mengeras. 

“Ibu juga belum siap,” katanya lirih.

Hening sesaat. 

“Ishani… Biru baru pergi. Orang-orang belum berhenti bicara,” ucap Bu Maura, suaranya lebih rendah. “Kalau kamu pindah sekarang, mereka akan semakin banyak menuduh.”

Ishani menunduk.

“Ibu tidak ingin kamu terlihat seperti perempuan yang tidak bisa berkabung,” lanjutnya lagi. “Ibu tidak ingin namamu dan Biru terseret-seret.”

Kalimat ibu mertuanya membuat dada Ishani terasa sesak. 

“Ibu takut semua ini terlalu cepat,” bisik Bu Maura. “Ibu takut kamu terluka lagi… bukan hanya secara fisik.”

Siang itu, beberapa kerabat kembali datang menjenguk. Langit berdiri di dekat pintu ketika dua orang bibi jauh berbisik cukup keras.

“Baru seminggu suaminya meninggal…”

“Sekarang sudah mau dibawa kakaknya ke Jakarta. Orang bisa salah paham.”

“Jangan-jangan dari dulu mereka dekat?”

Langit tidak menoleh. Namun rahangnya mengeras.

Di dalam kamar, Ishani memejamkan mata. Ia mendengar semuanya.

Tiba-tiba, ritme detak monitor berubah. Perawat segera masuk.

“Tolong tenang ya, Bu.”

Detak bayi sempat melambat beberapa detik sebelum kembali stabil.

Beberapa detik. 

Tapi cukup untuk membuat jantung Ishani terasa jatuh.

Dokter datang tidak lama kemudian.

“Kita tidak bisa menganggap ini kebetulan,” katanya tenang. “Stres sekecil apa pun bisa memengaruhi aliran darah plasenta.”

Bu Maura menggenggam tangan Ishani lebih erat.

“Kalau kondisi seperti ini berulang, saya tetap menyarankan rujukan ke fasilitas yang lebih lengkap. Di Jakarta, penanganan fetomaternal dan NICU jauh lebih siap.”

Bu Maura menatap dokter. “Apa tidak bisa ditunggu sampai lebih tenang, Dok?”

“Risiko tidak menunggu suasana tenang, Bu.”

Senja mulai turun, Bu Maura tertidur di kursi, kelelahan. Langit berdiri di dekat jendela, menatap lampu-lampu kota yang berkedip jauh.

“Kak… Kamu dengar tadi?” suara Ishani pelan.

Langit tidak pura-pura tidak tahu. “Iya.”

“Aku tidak mau orang berpikir buruk tentang Mas Biru.”

Langit berbalik perlahan. “Orang akan tetap berpikir apa pun yang kita lakukan.”

Ishani terdiam.

“Aku tidak akan memaksamu ke Jakarta,” lanjut Langit. “Kalau kamu ingin tetap di sini, aku akan cari dokter terbaik yang ada. Aku akan atur semuanya.”

Ishani menatap perutnya. “Tadi detaknya turun lagi,” bisiknya.

Langit tidak menjawab. Ia tahu Ishani tidak sedang minta jawaban.

Hening kembali mengisi ruangan. Monitor berdetak pelan. Ritme kecil yang menentukan segalanya. Beberapa menit berlalu sebelum Ishani kembali bersuara.

“Kalau kita ke Jakarta… peluangnya lebih besar, kan?”

Langit mendekat selangkah. Tetap menjaga jarak.

“Iya,” jawabnya pelan. “Lebih besar.”

Air mata Ishani jatuh di pipinya.

“Aku capek berperang dengan keadaan,” katanya hampir tidak terdengar. “Tapi aku lebih takut kehilangan dia.”

Langit menunduk, suaranya tidak setegas biasanya. “Aku juga.”

Kata itu keluar tanpa rencana.

Ishani menatap Langit. Untuk pertama kalinya, ia menyadari kalau mereka punya tujuan yang sama yang disebabkan oleh ketakutan yang sama. 

Di kursi, Bu Maura terbangun samar oleh suara mereka. Ia melihat dua sosok itu dalam jarak yang tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk menunjukkan satu hal, mereka tidak lagi berdiri di sisi yang berlawanan.

Bu Maura memejamkan mata kembali.

Ia masih belum rela. Terlalu cepat. Terlalu banyak yang berubah. Namun untuk pertama kalinya sejak Biru pergi, ia melihat sesuatu yang tidak ia duga, 

Langit tidak sedang mengambil sesuatu dari Ishani. Ia sedang menjaga.

Dan mungkin… jika memang harus pergi, bukan karena tergesa-gesa. Melainkan karena hidup kecil di rahim itu membutuhkan tempat yang lebih aman.

Malamnya, Ishani menangis tanpa suara. Air matanya mengalir begitu saja.

Langit melihatnya. Ragu. Ia melangkah mendekat, lalu berhenti. “Capek?” katanya pelan. “Kamu boleh nangis.”

Itu saja. Tidak ada pelukan. Tidak ada genggaman. Tapi, Ishani menangis lebih keras setelahnya.

**********

Seminggu berlalu, 

“Kalau kondisi stabil sampai besok pagi, Ibu boleh pulang,” kata dokter menunjuk grafik monitor yang sudah lebih bersahabat. “Tetap bedrest di rumah. Kontrol ketat. Sedikit saja ada perubahan, segera ke rumah sakit.”

Ishani mengangguk. 

“Kita langsung ke Jakarta,” ucap Langit setelah dokter keluar.  “Sudah saatnya kita menjalankan amanahnya Biru. Suka atau tidak, berat atau tidak, kita sudah berjanji sebelum napas terakhirnya.”

“Tapi hatiku belum siap …”

“Tidak ada yang berbicara tentang hati, Shani.”

Nama itu terdengar asing sekaligus dekat. Ishani menyadari, orang lain tidak ada yang pernah memanggilnya dengan sebutan itu.

“Kalau kamu berat karena cinta... aku tidak memintamu untuk melupakan cintamu pada Biru. Kamu bisa memegang kata-kataku!” sekali lagi Langit berucap dengan tegas.

“Kita tidak lagi punya kemewahan untuk memilih dengan hati,” lanjutnya dingin. “Sejak Biru pergi, yang kita punya hanya tanggung jawab.”

“Lang…,” Bu Maura menyela, kali ini tidak selembut sebelumnya. “Ibu tidak ingin Ishani terlihat seperti perempuan yang melupakan suaminya terlalu cepat.”

“Aku yang akan berdiri paling depan jika ada orang yang memperdebatkan kondisinya,” ucapnya tajam. “Nama siapa pun yang mereka sebut, aku yang akan jawab.”

“Ibu tidak takut pada omongan orang,” sahut Bu Maura pelan tapi tegas. “Ibu takut pada luka yang belum sembuh.”

Hening lagi. 

Ishani memejamkan mata.

Tadi detaknya turun lagi.

Kalimat itu berulang di kepalanya.

Keputusan itu bukan soal cinta. Bukan soal omongan orang. Ini soal hidup kecil yang belum sempat melihat dunia.

Dan malam itu, Ishani sadar, ia mungkin tidak sedang memilih antara tinggal atau pergi. Ia sedang memilih antara takut… atau menyesal seumur hidup.

Di luar kamar, langkah seseorang berhenti sesaat di depan pintu. Mendengar. Dan tidak setuju.

1
༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰
karena ishani sadar diri. langit hanya saudara suaminya, tapi bukan siapa-siapa baginya
Mentariz
Biru pasti udah tenang di sana, langit pasti akan jaga kamu dan bayimu, ishani
Mentariz
Biru udah punya firasat sejak awal 😭
PrettyDuck
semoga menjadi lebih baik
walaupun keras, langit orangnya bertanggung jawab, dan kayaknya dia beneran sayang sama kamu dan baby kamu ishanii /Slight/
PrettyDuck
apa ini berarti ishani setuju nikah sama langit??
PrettyDuck
Biru udah punya ketakutan ini dari awal 🥲
Filan
Nanti juga Langit akan dipandang sebagai Langit yang mengisi hati Ishani. Bukan pengganti Biru.
Semangat!
Filan
Itu toh alasannya?
Miu Nuha.
hidup terus dijalanin ish, Allah sudh atur semuany untuk kamu. semangat ya, masih banyk yg sayang sama kamu ❤
Miu Nuha.
bener, hiks 🤧
Miu Nuha.
baru kabar hamil aja udh bilang gitu, emang udh dapet tanda ya kalo bakal pergi 😫
Three Flowers
nyesek membayangkan perasaan Ishani... tapi apa daya, takdir berkata lain. mungkin jodohnya dengan biru memang sudah selesai, dan kemungkinan langit lah jodoh ishani berikutnya
Three Flowers
waduh... laki-laki mana yang tidak tertarik pada wanita cantik? yakin deh langit yang bucin duluan 😄
@dadan_kusuma89
Ishani, sesuatu yang mendesak terkadang tak perlu butuh banyak berpikir, tapi yang dibutuhkan adalah tindakan segera.
@dadan_kusuma89
Ingat, Ishani! semua demi kebaikan kamu dan janin dalam kandunganmu. Siap nggak siap, harus dipaksa.
@dadan_kusuma89
Ishani, langkah yang diputuskan Langit insya Allah sudah tepat. Kau tak perlu banyak mikir, ikuti saja.
@dadan_kusuma89
Langit, dengan kau menjawab "iya" meski dipanggil Biru, ini menandakan kau bukan orang yang egois.
Xlyzy
faham pak buk tapi gimana ga mungkin ishani di tinggal sendiri kan kondisi nya lagi ga baik loh
Xlyzy
bude Ama pade ngapa loh baru juga bukak pintu belom lagi duduk
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
😭 bisa-bisanya ada barang pemberian yang dipersiapkan begini. bahkan sebelum anaknya membuka mata. sedih aku seolah jadi istrinya 😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!