Charlotte, gadis yatim piatu ini tiba-tiba ditemukan oleh keluarganya dan dibawa pulang ke kerajaan Matahari, tempat kelahirannya. Alih-alih bahagia setelah ditemukan oleh keluarganya, gadis empat belas tahun justru mengalami kehidupan yang menyedihkan dibandingkan kehidupannya sebelumnya, sebagai tuna wisma di kerajaan cosmos dimana dia tinggal sebelumnya karena tak memiliki kekuatan dalam tubuhnya sehingga dianggap sampah dan aib bagi keluarganya.
Untungnya, ketika tengah berada diambang maut, ia tak sengaja bertemu dengan penyihir Beatrix yang juga mengalami nasib sama sepertinya.
Penyihir Beatrix yang tak ingin meninggal sia-sia dan ingin ada yang membalaskan dendamnya, memilih Charlotte sebagai orang yang dia warisi semua kekuatan hebat didalam tubuhnya.
Setelah diwarisi kekuatan dari penyihir Beatrix, bagaimana kehidupan Charlotte selanjutnya?
Apakah ia mampu mengubah garis takdirnya?
Ikuti semua kisahnya dalam cerita ini
Happy Reading...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julieta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BALASAN
Mendengar ucapan Duke Aslan, tubuh Samantha limbung dan luruh ke lantai yang dingin.
Selama ini wanita itu selalu salah mengira dengan semua kebaikan dan perhatian yang diberikan oleh Duke Aslan kepadanya adalah karena pria itu menyukainya.
Bukankah wajar jika seorang tuan rumah memperlakukan pekerjaan mereka dengan baik, namun hal ini nyatanya disalah artikan oleh Samantha yang memang ingin naik tingkat dengan cara instan.
Saat ini Duke Aslan sudah mengetahui niat busuk serta kecurangan yang dilakukan oleh Samantha beserta anak perempuannya sehingga ia tak lagi bermurah hati.
"Tuan Duke pasti bercanda. Anda mengatakan hal yang menyakitkan ini pasti karena saat ini ada Dunchess Arina bukan? Saya yakin, Tuan Duke pasti memiliki perasaan lebih terhadap saya", ucap Samantha dengan rasa percaya diri yang tinggi dengan tak tahu malunya, membuat para pelayan lain yang ada didapur hanya menggeleng kepala melihat kenekatan Samantha yang masih tidak sadar akan posisinya saat ini.
Melihat Samantha masih kekeh mengharapkan suaminya, membuatnya semakin marah. "Dasar jalang! Berani sekali kamu menggoda suamiku didepan mataku!", bentak Dunchess Ariana emosi.
Ribuan jarum es yang sejak dari tadi melayang dibelakang tubuh Dunchess Ariana kini seluruhnya menghunus ke tubuh Samantha, yang hanya bisa mendelik syok karena tak menyangka jika nyawanya akan berakhir seperti ini.
Bilna yang baru tiba didepan dapur untuk makan buah bersama ibunya, menghentikan langkah ketika melihat jika wanita yang melahirkannya itu tengah berdebat dengan Dunchess Ariana.
Tiba-tiba tubuh Samantha membeku setelah ribuan jarum es menusuk tubuhnya dengan kedua mata melotot tak percaya jika ia akan berakhir dengan cara menyedihkan seperti ini.
Bilna masih terdiam melihat ibunya telah mati di tangan Dunches Ariana. Ibu yang sangat ia sayangi mati dengan cara yang sangat mengenaskan seperti itu dengan tubuh membiru dan membeku akibat jarum es milik Dunches Ariana.
Kemarahan Bilna memuncak ketika melihat Dunches Ariana menghancurkan tubuh ibunya yang telah menjadi patung es hingga hancur dan Duke Aslan menutup kejadian keji itu dengan api ditangannya yang membuat ceceran tubuh Samantha yang telah menjadi es, mencair dan menguap diudara tanpa sisa.
Sungguh sangat kejam!
Mereka bahkan tak membiarkan tubuh ibuku utuh dan membiarkanku mengubur jenazah sang ibu!
Bilna yang tak sadar akan kesalahan yang telah diperbuatnya bersama sang ibu menaruh dendamnya pada Charlotte de Fleur.
Ia menduga ibunya bernasib mengenaskan seperti ini pasti karena ulah gadis sialan itu yang telah menghasut orang tuanya hingga berlaku kejam pada ibunya.
Paula yang melihat sosok Bilna menghilang dibalik tembok memiliki firasat buruk sehingga ia berjalan mendekat dan membisikkan sesuatu kepada Dunches Ariana yang langsung melotot tajam, menggeram penuh amarah.
“Berani sekali dia! Dasar ibu dan anak tak tahu diri!”, umpat Dunches Ariana penuh amarah.
Tak menghiraukan tatapan bingung semua orang, Dunchess Ariana pun pergi meninggalkan dapur menuju kamar putrinya Charlotte yang Paulina duga akan didatangi oleh Bilna.
Duke Aslan yang masih belum tahu apa yang tengah terjadi segera mengikuti langkah sang istri diikuti oleh Ronix dan semua pelayan dapur yang penasaran dan tak ingin ketinggalan gosip panas dikediaman ini.
Charlotte de Fleur yang tak tahu bahaya apa yang tengah mengintai dirinya, keluar dari kamar menuju dapur untuk mencari makanan.
Ditengah jalan ia bertemu Bilna yang menatapnya dengan tajam dengan niat membunuh.
Tanpa aba-aba Bilna membuat sebuah bola api besar kemudian ia lempar ke arah Charlotte de Fleur.
Dunchess Ariana dan semua orang yang melihat serangan yang diarahkan Bilna kepada Charlotte membeku seketika, seolah semua orang menahan nafas karena terkejut tak menyangka jika Bilna akan menyerang Charlotte secara terang-terangan seperti itu di halaman terbuka seperti itu.
Duarrr!!!
Bunyi ledakan besar mengagetkan semua orang, membuat Yohaness dan Andreas serta para pengawal berlari kearah sumber ledakan.
Bilna merasa sangat puas karena ia merasa telah berhasil membunuh Charlotte untuk membalaskan dendam atas kematian ibunya.
"Apa yang kau lakukan pada putriku!!", teriak Dunches Ariana murka.
Seluruh tubuh wanita itu dilapisi dengan es, warna rambut dan kedua matanya berubah menjadi putih, sangat menyeramkan.
Inilah kekuatan sejati Dunches Ariana, sihir es level tinggi dimana diseluruh dunia hanya ada tiga orang yang bisa menguasainya.
"Hahahaaaa....", Bilna tertawa terbahak-bahak.
"Bukankah ini adil, Nyonya. Anda membunuh ibuku dan sekarang aku membunuh putri Anda", ucap Bilna dengan senyuman lebar, jika hari ini adalah hari terakhirnya di dunia maka ia tak memiliki penyesalan apapun karena berhasil membunuh Charlotte dan membalaskan dendam ibunya.
Ledakan bola api milik Bilna meninggalkan kabut asap yang cukup tebal hingga tak ada yang tahu bagaimana kondisi Charlotte de Fleur saat ini. Setelah menunggu beberapa saat kabut asap itu mulai menghilang.
"Wah, ini benar-benar sangat menggelikan", ucap Charlotte de Fleur yang masih berdiri dengan tegak tanpa ada luka di tubuhnya, menatap remeh kearah Bilna.
“Apa kemampuanmu hanya sebegini saja?”, ucap Charlotte de Fleur penuh cemohan.
Bilna dan semua orang yang ada di sama menatap ke arah Charlotte de Fleur dengan tatapan tak percaya.
Gadis yang tak memiliki kemampuan menggunakan sihir sepertinya bisa bertahan dari ledakan bola api yang cukup kuat?
Duke Aslan berlari ke arah putrinya itu dan langsung memeluk Charlotte de Fleur dengan erat. Ia tak peduli keajaiban apa yang sedang terjadi namun sang duke sangat bersyukur karena putrinya baik-baik saja.
"Saya baik-baik saja, ayah", ucap Charlotte de Fleur dengan nada bicara yang terdengar datar dan dingin.
Menyadari sikap dingin putrinya, Duke Aslan menghela nafas berat. "Apa yang harus ayah lakukan jika kau tak bisa
bertahan dari serangan itu putriku, ayah belum sempat menjadi ayah yang baik untukmu",ucapnya sambil menitikkan air mata.
Charlotte de Fleur yang menyadari jika ayahnya tengah menangis sama sekali tak terpengaruh dan tetap memasang ekpresi datar seperti sebelumnya.
"Jangan berlebihan seperti ini, saya bukan anak kecil yang tak bisa melindungi dirinya sendiri", jawab Charlotte de Fleur yang sama sekali tak tersentuh dengan tangisan ayahnya.
Di sisi lain, Bilna melihat asap tipis berwarna hitam keluar dari tubuh Charlotte de Fleur kemudian asap itu mendekat ke arahnya.
Sebelum ia bisa mencerna apa yang tengah terjadi,dalam sekejap tubuh Bilna langsung terbaring dilantai dalam kondisi tak bernyawa.
Dunches Ariana yang saat itu berada di dekat Bilna terkejut dengan hal itu.
Bagaimana bisa wanita itu tiba-tiba mati tanpa alasan yang jelas?
Apakah ada orang lain di ruangan ini yang menggunakan kekuatan sihirnya untuk membunuh Bilna secara diam-diam?
Apa yang tengah Dunchess Ariana pikirkan juga tengah dipikirkan oleh semua orang yang menyaksikkan kejadian tersebut.
"Bawa mayat ini ke halaman belakang kemudian bakar sampai tak tersisa!”,perintah Dunches Ariana pada beberapa pelayan laki-laki yang ada didekatnya.
"Baik Nyonya Besar, kami akan melakukan sesuai dengan perintah Anda", ucap salah satu pelayan laki-laki mewakili rekannya yang langsung membawa tubuh Bilna keluar dari halaman kediaman Charlotte de Fleur menuju halaman belakang rumah yang berbatasan dengan hutan lebat.
Duke Aslan melepaskan pelukannya dari Charlotte de Fleur. la mengusap rambut putrinya itu secara perlahan. Entah apa yang ia lakukan selama ini hingga tak menyadari kesulitan yang dialami oleh putri kandungnya itu.
"Maafkan ayah", ucap Duke Aslan dengan suara sangat pelan dengan kedua mata sendu.
"Maaf karena ayah yang tak berguna ini, membuat hidupmu menjadi begitu sulit", Duke Aslan kembali berkata dengan tubuh gemetaran, merasa bersalah.
"Charlotte sudah memaafkan ayah, jangan merasa bersalah lagi pada putrimu ini", jawab Charlotte de Fleur dengan sebuah senyuman tipis di bibirnya.
Setelah permasalahan itu selesai Charlotte de Fleur langsung pergi menuju dapur untuk mengambil makanan.