Gavin terpaksa menikah dengan Ayana, karena calon istrinya kabur di hari pernikahannya membawa semua barang yang seharusnya untuk acara resepsi.
Ayana merupakan asisten pribadi pilihan ibunya yang baru bekerja selama tiga bulan. Selama itu pula mereka tak pernah akur dan selalu berselisih paham. Bagaimana saat mereka menikah nanti?
Ayana sering tak ada di kamarnya setiap malam Minggu, dan Gavin mulai meras penasaran dengan jati diri Aruna. Siapakah dia sebenarnya? karena selain suka mendebatnya, Ayana juga pintar bela diri.
Bagaimana kisah Gavin dan Ayana? terus ikuti ceritanya ya kak... 😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gavin-Ayana 11
"Bukannya kamu tinggal di tempat kost?" tanya Gavin saat Ayana malah membawanya ke sebuah apartemen.
"Aku kost di apartemen milik temanku, dia sedang berada di luar negri jadinya apartemennya kosong makanya aku sewa saja biar nggak mubazir. Lumayan harga sewanya dia berikan sama seperti tempat kost. Yang penting apartemennya tetap bersih dan rapi!" jawab Ayana.
"Kamu tunggu di sini saja! Aku ambil barang-barang yang penting saja untuk malam ini. Sisanya besok aku ambil sendiri," cegah Ayana saat Gavin akan ikut turun, padahal Gavin penasaran karena ini merupakan salah satu apartemen yang cukup mahal bagi Ayana tinggal.
"Ya sudah terserah kamu lah!" jawab Gavin menahan rasa kesal.
Dia menunggu di dalam mobil dan setengah jam kemudian Ayana susah kembali dan berganti pakaian dengan pakaian casualnya. Juga ada tas ransel yang berada di punggungnya. Gavin berdecak melihat Ayana.
"Pantas saja lama kamu malah udah ganti baju!", kesal Gavin.
"Aku malu soalnya orang-orang pada liatin aku seperti pengantin tanpa suami sendirian di dalam sana. Lagian aku dah gak kuat dan tak nyaman pakai baju begituan, nggak leluasa!" jawab Ayana santai. Bahkan seluruh riasan di wajahnya juga sudah hilang.
"Terserah! Nggak penting juga!" jawab Gavin membuat Ayana menaikkan kedua bahunya.
Mereka pergi dari apartemen kemudian menuju rumah Gavin. Rumah yang juga mulai malam ini akan Ayana tempati dengan status sebagai istri dari Gavin. Nyonya Gavin Davindra yang pastinya tak akan di akui oleh Gavin. Perbaikan yang sama-sama tak terbayangkan oleh keduanya.
"Kamar aku yang sana kan? Karena kamu pasti tak akan nyaman satu kamar dengan istri pengganti dadakan ini!", Ayana mendahului dan masuk ke dalam kamar yang ada di sebelah kamar utama milik Gavin tanpa menunggu jawaban Gavin.
"Serah lu! Aku mau mandi, siapkan pakaianku Ayana!" teriak Gavin.
"Ck! Aku nggak budek. Lagian juga ini udah malem bisa nggak jangan teriak kek di hutan walau badanmu mirip anak kingkong tapi kamu bukan spesies mereka!" omel Ayana.
"Kamu ngatain aku anak kingkong lagi?" kesal Gavin sambil membuka jasnya.
"Ngaca deh kalau nggak percaya, tapi sayangnya saat pembagian otak kamu sepertinya ada yang nggak komplit. Karena kadang kamu oon bin bulol saat bersama dengan wanita! Kalau kerjaan sih pinter, tapi heran juga kenapa urusan kerjaan pinter tapi urusan cinta dan Maslah cewek bulol? Selalu salah pilih dan pada akhirnya dugi bandar!" Cerocos Ayana.
Namun tangannya masih tetap lincah mengambil pakaian tidur Gavin kemudian pergi dari sana. Sedangkan Gavin masih berdiri di tempatnya tak mampu menjawab ucapan Ayana, karena semuanya kenyataan. Dia memang bodoh karena terlalu percaya kepada Vania yang bahkan ternyata sudah merencanakan kabur dari jauh hari.
"Pa benar aku seperti anak kingkong? Masa iya ada anak kingkong setampan ini? Bahkan banyak wanita yang selalu mengejar-ngejar aku! Terpesona dengan ketampanan dan bentuk tubuhku yang keren ini! Mata si Ayana saja yang katarak kayaknya!" Gavin memperhatikan bentuk tubuhnya sendiri di depan cermin.
Bahkan dia malah terlihat narsis menendang wajah dan bentuk tubuhnya sendiri.
"ck! Cuma dia wanita yang tak terpesona apa pura-pura tak terpesona dengan ketampanan aku! Matanya Ayana harus di periksakan ke dokter mata! Besok aku minta Cakra bawa dia ke rumah sakit mata, karena tak bisa membedakan pria tampan mempesona sepertiku dengan anak kingkong!" ucap Gavin.
Sedangkan Ayana masuk ke dalam dapur untuk membuat kopi. Dia butuh kopi karena sedari tadi tidak minum kopi, apalagi statusnya sekarang membuat dia harus mengubah semua jadwal dan rencana yang sudah dia persiapkan. semua karena pernikahan dadakan dan asal tunjuk Gavin kepada dia.
"Pria itu membuat hidupku makin runyam saja! Padahal aku sudah malas sekali dengan tingkah manja dan juga keras kepalanya! Apa keberadaan dia dan kedua orang tuanya di sampingku lebih lama akan bisa membahayakan mereka? Sebaiknya aku cepat mencari cara agar dia segera menceraikan aku. Apa aku harus membantu dia mencari Vania dan membuatnya kembali dengan cinta bololnya itu?" ucap Aruna pelan sambil menopang dagu dengan tangannya di meja.
"Aku juga mau kopi! Aku harus begadang mencari kabar keberadaan Vania!" pinta Gavin yang juga terbayang keluar dari dalam kamarnya. Tanpa banyak protes Ayana memberikannya. Dan menyimpannya di meja ruang televisi tempat Gavin duduk.
"Kita sepertinya perlu bicara Ayana!" ujar Gavin membuat Ayana menggantikan langkahnya yang akan masuk ke dalam kamar.
"Bicara apa?" tanya Ayana.
"Bisa duduk dulu nggak sih? Emangnya kamu nggak pegal pegang gelas sambil berdiri seperti itu? Mana isi di dalam gelasnya masih ngebul!" ujar Gavin membuat Ayana memutar bola matanya malas dan duduk di sebelah Gavin, tetap berjarak seperti biasanya.
"Silahkan apa yang ingin anda katakan Pak Gavin, apa anda ingin saya menandatangani kontrak sebagai istri pengganti sampai sang mempelai asli datang? Seperti kebanyakan di novel-novel kan begitu! Kalau begitu mana? Saya akan tanda tangan sekarang sekalian saya akan bantu anda mencari keberadaan mempelai aslinya!" jawab Ayana mambuat Gavin melempar dia dengan bantal sofa.
"ck! Gaviiiin ...." kesal Ayana.
"Aku belum ngomong! Nyerocos aja! Makanya jangan kebanyakan menghalu!" jawab Gavin kemudian menyeruput kopi miliknya. Ayana menekuk wajahnya kesal membuat Gavin menahan tawa.