“Bagaimana hafalanmu?"
“Susah! Bisakah dikurangi hafalannya!”
“Pakaianmu boleh diskon. Tapi urusan agama, jangan sampai ikut didiskon.”
Kayla Aurora adalah gadis cantik dengan dunia yang bebas, akrab dengan mabuk, klub malam, dan balap liar.
Aturan bukan temannya, apalagi nasihat agama. Hingga sebuah keputusan memaksanya masuk ke pondok pesantren.
Tempat yang terasa seperti penjara,
penuh hafalan, disiplin, dan larangan yang membuatnya tersiksa.
Di sanalah Kayla bertemu Hanan, lelaki tenang dengan kesabaran yang tak mudah habis.
Alih-alih menghakimi, Hanan memilih membimbing. Bukan dengan paksaan, melainkan dengan pengertian dan doa.
Di antara pelajaran yang memberatkan dan hati yang perlahan dilunakkan,
benih cinta pun tumbuh… bersamaan dengan iman yang mulai menemukan jalannya.
Karena terkadang,
Allah mempertemukan dua insan bukan untuk menyamakan dunia, melainkan untuk saling mendekatkan kepada-Nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
“Tolongggg!” jerit Kayla sekuat tenaga.
“Diam!” bentak salah satu dari mereka, tangannya menutup mulut Kayla semakin keras.
Kayla menggeleng liar. Air matanya mengalir tanpa bisa ditahan. “Gak mau! Lepas! Tolongggg! Tolongggg!”
Tubuhnya meronta sekuat yang ia bisa. Kuku-kukunya mencakar udara, kakinya menendang asal. Namun tenaganya kalah telak. Mereka bertiga. Sementara Kayla sendirian.
Ketakutan menyelimuti seluruh tubuhnya. Jantungnya berdetak tak karuan, napasnya tersengal, dunia seolah berputar terlalu cepat.
Dan di tengah kekacauan itu—
Suara motor terdengar mendekat.
Lampu motor menyorot ke arah mereka. Salah satu penjahat menoleh kesal. Dari balik cahaya itu, turun seorang laki-laki.
Penampilannya sederhana, memakai koko putih bersih, sarung, dan peci hitam. Helm ia lepas, memperlihatkan wajah tenang dengan sorot mata tajam.
‘’Tolonggg! Tolongg! Mereka begal! Tolonggg!’’
‘’Diemmm!’’
‘’Arrkkhhh!’’ Kayla memekik saat pisau itu berhasil menggores lehernya.
“Lepaskan.” Titah laki laki itu singkat, suaranya rendah tapi tegas.
“Jangan ikut campur! Pergi sana!” bentak salah satu preman sambil mengacungkan pisau.
‘’Mmpphhh—“
Kayla menatap laki-laki itu dengan mata membelalak. Mulutnya masih dibekap, tapi kepalanya menggeleng pelan bukan menolak, melainkan memohon. Ia takut laki-laki itu pergi. Ia takut kesempatan satu-satunya hilang. Laki-laki itu melangkah maju satu langkah.
“Jika kalian lepaskan dia, maka saya juga akan melepaskan kalian.” ucapnya tenang, tanpa teriak, tanpa emosi berlebihan.
Preman itu tertawa mengejek. “Halah, banyak bacot lo!”
Salah satu dari mereka maju lebih dulu. Tangannya terayun, menyerang tanpa aba-aba. Semua terjadi begitu cepat.
Bug!
Laki-laki bersarung itu menghindar dengan gesit. Gerakannya terukur, seperti orang yang terbiasa menghadapi situasi genting. Ia menangkis, memutar tangan lawannya, lalu mendorongnya hingga terjatuh.
“Brengsek!” maki yang lain.
Dua preman lain ikut maju. Pertarungan pecah di tengah jalan sepi itu. Bunyi langkah kaki, desahan napas, dan benturan tubuh terdengar kasar di telinga Kayla.
Meski mengenakan sarung, laki-laki itu bergerak lincah. Setiap serangan ia balas dengan cekatan, tanpa brutal, tapi cukup untuk melumpuhkan. Satu per satu, mereka tumbang. Ada yang tersungkur, ada yang mundur ketakutan.
“Pergi!” hardiknya.
Tanpa berpikir panjang, ketiga penjahat itu kabur, meninggalkan pisau yang terjatuh di aspal.
Sunyi kembali menyelimuti jalanan. Kayla berdiri terpaku beberapa detik. Kakinya terasa lemas. Begitu ia sadar semuanya telah berakhir, tubuhnya tak lagi sanggup menopang dirinya sendiri.
Brug!
Ia jatuh terduduk, lalu luruh sepenuhnya ke aspal. Tangisnya pecah. Bahunya bergetar hebat. Nafasnya tersengal-sengal, seolah baru saja keluar dari tenggelam yang panjang.
Laki-laki itu segera berjongkok di hadapannya, menjaga jarak, suaranya tetap lembut.
“Kamu sudah aman. Mereka pergi.”
Kayla menutup wajahnya dengan kedua tangan. Air matanya mengalir tanpa bisa dihentikan. Untuk pertama kalinya malam itu, ia benar-benar merasa selamat dan sekaligus sangat rapuh.
Laki-laki itu melepas sarungnya sedikit, menutupkan dengan sopan ke arah Kayla.
“Pakai ini dulu. Jalanan dingin.” Kayla mengangguk kecil, tangannya gemetar saat menerima kain itu.
Di bawah lampu jalan yang redup, dengan koko putih yang sedikit kotor dan napas yang masih terengah, laki-laki itu berdiri seperti sosok yang tak pernah Kayla bayangkan akan muncul dalam hidupnya.
“Hiks… hiks… hiks…”
Tangis Kayla teredam di balik sarung yang melilit tubuhnya. Kain itu terasa hangat, berbau sabun dan sedikit keringat anehnya menenangkan. Namun tubuhnya masih gemetar hebat. Tangannya mencengkeram ujung sarung seolah itu satu-satunya pegangan di dunia.
Laki-laki itu berdiri tak jauh darinya, lalu meraih botol air mineral dari motor. Ia membuka tutupnya dan menyodorkannya dengan hati-hati.
“Minum dulu.”
Kayla mengangkat kepala. Matanya sembab, merah, basah oleh air mata yang tak kunjung habis. Dengan tangan bergetar, ia menerima botol itu.
“T—terima kasih… hiks… hiks…”
Beberapa teguk air masuk ke tenggorokannya. Nafasnya sedikit melonggar, meski dadanya masih terasa sesak.
“Daerah sini lumayan rawan,” ucap laki-laki itu pelan. “Lain kali hati-hati. Kalau nggak ada kepentingan, jangan keluar malam.”
Nada suaranya lembut. Bukan menghakimi. Bukan menyalahkan. Justru itu yang membuat Kayla kembali terisak.
Air mata yang sempat tertahan tumpah lagi. Bahunya naik turun, tangisnya pecah tanpa bisa dicegah. Bukan karena takut semata melainkan karena seseorang akhirnya berbicara padanya dengan kepedulian yang murni.
Laki-laki itu terlihat bingung. Ia menggaruk tengkuknya, menimbang kata-kata, lalu berjongkok agar sejajar dengan Kayla.
“Mbak…” katanya hati-hati. “Rumahnya di mana? Saya antar.”
Kayla menggeleng cepat, sarung di tubuhnya ikut bergeser pelan.
“Rumahku jauh…” suaranya serak.
“Di mana?”
Kayla menunduk. “Jakarta… hiks…”
Laki-laki itu terdiam.
Ia menoleh ke kanan dan kiri. Jalanan benar-benar lengang. Lampu jalan redup. Tak ada mobil lewat. Hanya sesekali motor melintas, itu pun cepat menghilang di tikungan.
Situasi itu tak aman. Terlebih untuk seorang gadis yang baru saja mengalami kejadian mengerikan.
Ia kembali menatap Kayla. Wajah gadis itu pucat. Bibirnya bergetar. Matanya kosong, seperti baru saja ditarik paksa dari jurang yang dalam.
“Maaf…” ucapnya lagi, lebih pelan. “Kamu mau ke mana? Atau dari mana?”
Kayla membuka mulut.
“Aku—” Kalimat itu tak pernah selesai.
Pandangan Kayla mendadak berkunang. Dunia di sekelilingnya seperti berputar, menyempit, lalu menjauh. Suara laki-laki itu terdengar samar, memudar. Kepalanya terasa ringan sekaligus berat, seperti ditarik ke bawah.
Tubuhnya oleng.
Brukkk
“Astaghfirullah!”
Spontan laki-laki itu melangkah cepat, menahan tubuh Kayla sebelum jatuh menghantam aspal. Satu lengannya menopang punggung Kayla, yang lain menahan kepalanya agar tidak terbentur.
Kayla tak sadarkan diri. Napasnya masih ada, pelan, tapi teratur. Wajahnya pucat, bulu matanya basah oleh sisa air mata.
Laki-laki itu menelan ludah. Jantungnya berdegup lebih cepat.
‘’Ya Allah, maafkan hamba. Hamba hanya menolong!’’ gumamnya dalam hati.