NovelToon NovelToon
Its Always Been You, Fraya

Its Always Been You, Fraya

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cintapertama / Enemy to Lovers
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Juno Bug

Damian Harding terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Ia adalah pusat semesta Milford Hall—ditakuti, dipuja, dan tak pernah ditolak.

Sampai Fraya Alexandrea datang.

Gadis Indonesia yang tak tertarik pada popularitas, tak gentar pada reputasi, dan tak mau tunduk pada nama besar Harding.

Penolakan Fraya bukan sekadar luka bagi Damian—itu menjadi tantangan. Apa yang dimulai sebagai permainan ego perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.

Rindu. Candu. Obsesi.

Dan di sekolah elite yang penuh rahasia itu, tidak semua cinta datang dengan cara yang indah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juno Bug, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mine. Only Mine.

Sore itu sunyi menyergap, hanya diisi oleh suara gemersik dedaunan kering yang menari-nari tertiup angin di sekitar kaki seorang gadis kecil berambut pirang panjang.

Alana berdiri diam, menatap pintu besi dengan ukiran ornamen bunga seperti tanaman merambat yang begitu indah di depan matanya. Ia sedang menunggu seseorang, sebuah penantian yang membuatnya nyaris menahan napas.

​Tangannya mendekap sekotak cokelat yang baru saja ia beli langsung dari Swiss, dari salah satu gerai cokelat favorit orang yang sejak tadi ditunggunya sambil harap-harap cemas.

​Alana Highmore merapikan lagi tatanan rambutnya yang seterang warna matahari di ufuk timur London—warna yang dikenal sangat indah—helainya tergerai dan tertiup syahdu bak tirai putih yang terhembus angin.

Kedua matanya berwarna biru terang, kontras dengan hidung mancung yang terpahat sangat pas di wajah kecilnya. Siapa pun yang menatap sosok Alana yang baru berumur 12 tahun ini pasti akan langsung terpaku, tak sanggup memalingkan wajah ke siapa pun.

​Orang yang ditunggunya akhirnya muncul. Keluar melalui pintu berornamen bunga indah itu dengan tatapan dingin yang—sangat Nicholas sekali. Tatapan dingin yang menusuk kelabu, sorot yang sudah begitu lekat di kedua matanya sejak dua tahun kepergian ibunya, Arnelia Harding.

​Alana terlonjak kaget dari tempat persembunyiannya. Dengan jantung yang mendadak berdebar sangat cepat, ia mengambil langkah seribu, berlari secepat mungkin dengan kedua kaki mungilnya demi bisa berdiri tegak tepat di hadapan Nicholas.

​Nicholas tampak sangat kaget. Matanya yang berwarna sebiru samudera itu membelalak ketika menyadari Alana telah menghalangi jalannya persis di depan mata sambil merentangkan kedua tangan.

​"Alana, apa yang kamu lakukan?" tanya Nicholas. Suaranya sarat akan kekesalan yang berbalut dingin, namun herannya, nada itu tidak membuat Alana goyah sedikit pun.

​Alana tidak menjawab. Alih-alih bersuara, ia mengulurkan benda yang sejak sejam lalu dipegangnya dengan hati yang berdebar tidak keruan.

​Nicholas hanya memandang kotak di tangan Alana yang disodorkan padanya, lalu menatap Alana dengan kening berkerut dalam, "What’s this?"

​Alana seharusnya sudah gentar dengan pertanyaan Nicholas yang terdengar sangat ketus. Tapi, dengan kepindahan yang setara, Alana menjawab, "Cokelat kesukaan kamu. Aku beli di Kenny’s, gerai langganan kamu di Swiss. Katanya cokelat edisi ini sangat terbatas. Makanya harganya bikin orang yang bukan kalangan kita pasti tidak akan mampu untuk membelinya. Aku sengaja beli ini jauh-jauh untuk kamu, Nick."

​Mungkin di dalam kepalanya, Alana yakin Nicholas akan langsung tersanjung dengan pengorbanannya melintasi negara yang berbeda demi mendapatkan sesuatu yang ia yakini Nicholas pasti akan suka.

Namun, Alana terkadang suka lupa, bahwa dalam topik tentang seberapa konglomerat nya asal-usul mereka dan bagaimana latar belakang kekayaan keluarga yang mereka miliki, Nicholas tidak pernah tertarik. Karena tanpa gadis itu harus susah payah menyeberangi lintasan negara pun, Nicholas bisa mendapatkan apa pun yang ia inginkan.

Jangankan sebatang cokelat Kenny’s, satu gerainya pun sanggup Nicholas beli.

​Nicholas menghembuskan napas dan menatap Alana lurus dengan pandangan malas, "Aku sedang tidak mood makan cokelat. Kamu berikan saja ke sepupuku itu."

​Nicholas tidak menunggu respon Alana yang hendak melayangkan protes. Cowok itu melintas begitu saja, tanpa peduli, meninggalkan Alana sendirian.

​"Tunggu!" Alana berseru dengan cepat dan nyaring, membuat langkah Nicholas yang baru saja menjauh kini terhenti lagi.

​"Aku sukanya sama kamu, Nicholas, bukan Axel!" tandas Alana dengan sikap berani, walaupun kedua tangannya kini mulai meremas satu sama lain, menyalurkan kecanggungan serta ketakutan yang kentara.

​Nicholas berbalik. Masih dengan ekspresi yang sama; tanpa minat, tanpa ekspresi.

​"Kamu salah orang, Alana," timpal Nicholas, benar-benar cuek sekali.

​Alana menghembuskan napas dengan kasar, suaranya nyaris terdengar menyentak, "Aku tidak pernah suka sama Axel, Nick. Hanya kamu, hanya kamu yang aku sayang dari dulu. Aku rela jadi apa pun, asal kamu tetap bersama aku."

​Sekarang Nicholas jadi tertawa. Tapi bukan jenis tawa yang membuat Alana senang melihatnya. Itu tawa menyedihkan yang membuat Nicholas hanya mampu menggelengkan kepala.

​"Kamu sadar tidak, kita ini baru 12 tahun. Kok kamu sudah berani sekali bicara cinta-cintaan seperti itu," ujar Nicholas sambil menarik tali tas ransel di bahunya yang mulai mengendur.

​Alana menggeleng cepat, kelewat cepat malah, "Tidak, Nick. Aku memang sayang sama kamu. Aku mau suatu saat nanti aku nikahnya sama kamu, persis seperti yang Ayah kamu pernah janjikan."

​Tawa pahit yang sempat menyentuh kedua mata Nicholas seketika menguap begitu saja di udara ketika Alana menyebut kata 'Ayah'.

​Wajahnya mendadak menegang. Rasa sesak yang sudah dua tahunan ini selalu menguasai seluruh raganya kembali mencuat semudah ia menghembuskan napas. Kelima jarinya meregang kuat, Nicholas berusaha menahan diri agar tidak mengepalkan tangan, menahan emosi yang selalu mengambil alih dirinya agar tidak mencari korban untuk dilayangkan tinju.

​"Nicholas, are you okay? Did I do something wrong?" tanya Alana dengan suara khawatir.

​Gadis itu tidak tahu perang batin Nicholas yang bergemuruh sangat berisik di kepalanya. Tidak ada seorang pun yang tahu, dan tidak ada seorang pun yang akan paham.

Kematian ibunya, kepongahan ayahnya yang tak dapat ditandingi siapa pun, serta beban yang harus dipikulnya sebagai pewaris tunggal satu-satunya kerajaan bisnis ayahnya yang mendunia, membuat Nicholas harus memikul semua itu sendirian. Di usia yang seharusnya masih ia fokuskan untuk berkemah atau sekadar bermain sepeda bersama teman sebayanya.

​Untuk kesekian kalinya, topeng palsu Nicholas kembali dikenakan di wajahnya. Setiap sudut rahang anak usia 12 tahun yang sudah terpahat sangat tegang itu mengeras. Ia kembali mengabaikan Alana yang masih menatapnya khawatir, dan melongo saat Nicholas malah pergi tanpa memuaskan keingintahuannya akan kondisi Nicholas.

​"Nicholas aku cinta sama kamu!" Alana berteriak sangat nyaring, hingga membuat langkah Nicholas terhenti lagi.

​Kali ini tubuhnya berbalik, dengan manik mata tajam yang langsung membuat bibir mungil Alana merapat seketika.

Nicholas tidak bergerak, hanya menatap Alana tanpa ekspresi dari jarak lima langkah di depan gadis itu.

Di tengah kesunyian yang terlalu bising itu, Nicholas memberi jawaban yang membuat gadis berusia 12 tahun di depannya itu seolah langsung ambruk di atas tanah.

​"Kamu adalah pilihan Ayahku. Siapa pun yang dipilihkan Ayahku, tidak akan sudi kuterima. Sekalipun kamu dan aku sudah bersama sejak dulu. Aku akan mengikuti kata Ibuku, untuk mencari apa yang akan jadi pilihanku sendiri di masa depan."

...°°°°...

​Ohne dich kann ich tidak sein,

Ohne dich…

(Tanpamu aku tak bisa ada, tanpamu…)

​Ich werde in die Tannen geh'n,

Dahin, wo ich sie zuletzt geseh'n.

(Aku akan berjalan ke hutan cemara, ke tempat terakhir kali aku melihatnya.)

​Doch die Abende sind kalt und leer…

(Namun malam-malam terasa dingin dan hampa…)

​Und die Vögel singen tidak mehr.

(Dan burung-burung tak lagi bernyanyi.)

(“Ohne Dich” – Rammstein)

...°°°°°...

​Tok tok...

​Suara ketukan pintu kamar Fraya membuat mata gadis itu terbuka cepat.

Hatinya seolah ikut diketuk, menyadarkannya pada realita hari ini bahwa dunia luar telah menyapa sang mentari yang bersinar menerangi langit bumi.

​Tapi tidak seperti biasanya, Fraya tidak beranjak dari tempat tidurnya. Baru kali ini, ia rasanya tidak ingin menginjakkan kakinya di Milford Hall.

Bagaimana kejadian hari Jumat kemarin membuat seluruh raga Fraya seperti habis dimakan oleh rasa malu yang tidak berkesudahan.

​Fraya benci Damian? Entahlah, Fraya bahkan sudah tidak punya sisa tenaga lagi untuk murka dan melampiaskan kemarahannya pada si keparat itu.

Perasaannya bagai pusaran lubang hitam yang menghisap habis jiwanya sampai tidak bersisa.

​Pintu kamar Fraya akhirnya terbuka karena ia tak kunjung menjawab. Kepala Mamanya menyembul dari balik celah pintu sambil melempar tanya,

"Nak, kamu sudah bangun belum sih?"

​Wajah Mama langsung berubah khawatir saat melihat Fraya yang terlihat seperti tidak tidur semalaman. Mama masuk dan menutup pintu, lalu duduk di sisi ranjang Fraya.

​"Kamu sakit?" tanya Mama sambil mengusap dahi Fraya, memeriksa apakah putrinya sedang demam. Tapi yang ditanya hanya menggeleng lemah. Benar-benar seperti manusia tak bertulang.

​"Ma, Fraya izin nggak masuk sehari ini aja, boleh ya?"

​Mama mengangguk, "Boleh. Kamu lagi nggak enak badan ya? Tapi Mama cek kamu nggak demam, kok. Badannya dingin malah. Lagi datang bulan?"

​Fraya menggeleng lagi. Dan sebelum Mamanya mengajukan pertanyaan lebih jauh, Fraya berusaha bangkit untuk duduk. Wajahnya lesu sekaligus sedih. Beruntungnya Fraya, dia punya seorang Mama yang nyaris tidak pernah kepo jika Fraya meminta waktu sendiri dengan bolos sekolah seperti hari ini.

​"Ma, Mama dulu waktu SMA, pernah dikejar-kejar sama cowok nggak sih, sampai bikin Mama risih?"

​Mama mengerutkan kening sejenak, lalu menjawab, "Yang naksir Mama sih banyak, tapi kalau sampai dikejar, ya Mama kan nggak kabur-kaburan ya kalaupun ada yang naksir sama Mama, jadi ya mereka ngapain ngejar. Capek dong nanti."

​Fraya melenguh sambil berdecak kesal, "Iiih Mama, Fraya serius banget ini dengerinnya!"

​Mamanya terbahak-bahak, "Ya lagian, kamu pagi-pagi nanyanya kaya gitu. Kenapa? Damian, ya?"

​Fraya tersentak kaget, "Hah? Mama kok tahu?"

​Alis Mamanya terangkat naik berbarengan, "Tahu, apa? Mama kan cuma nyebut nama saja. Jadi benar, nggak mau sekolah karena Damian?"

​Fraya menghela napas begitu dalam sambil menghembuskannya dengan keras, meluapkan seluruh kekesalannya yang ia tahan sejak dua hari belakangan ini.

​"Fraya nggak pernah punya pengalaman pacaran, Ma. Boro-boro pacaran, Mama aja nggak pernah lihat Fraya pedekate sama cowok lain waktu sekolah di Jakarta, kan? Karena biasanya, kalau ada yang mau mendekati Fraya, Fraya bakal ngasih tanda duluan kalau fokus Fraya cuma ingin belajar. Fraya nggak perlu harus susah payah untuk bikin mereka mundur karena biasanya tanpa perlu begitu mereka akan mundur dengan sendirinya. Tapi semenjak sama Damian... Dia... Dia... Argghh!"

​Fraya menghempaskan tubuhnya dengan keras ke atas kasur, membuat Mamanya tersentak di sisi ranjang sambil menahan senyum yang tercetak di bibirnya tanpa putrinya sadari.

​"Damian ngapain kamu sih, sampai kamu rungsing begini?" tanya Mama lagi, kali ini bener-benar penasaran.

Tapi nada jenakanya tiba-tiba berubah saat melempar tanya, "Kamu nggak diapa-apain sama dia, kan?"

​Fraya menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong, se kosong perasaannya,

"Diapa-apain dalam hal tak lazim sih nggak, Ma. Tapi dibikin malu di depan semua murid Milford Hall dengan dia bilang kalau Fraya pacar dia itu, termasuk diapa-apain juga nggak menurut Mama?"

​Kali ini mulut Mama menganga lebar, benar-benar melongo parah, "Apa? Pacar? Jadi kamu sama Damian si anak konglomerat itu pacaran?"

​Fraya menyentak-nyentak tubuhnya dengan geram, kesal sekali Mamanya malah bereaksi begitu, "Fraya nggak pacaran, Mama! Damian itu aneh, diktator, sok berkuasa, semena-mena, dan teman-temannya yang buruk rupa itu, yang suka semau-maunya saja mengklaim kalau Fraya pacar dia. Fraya nggak mau, Mama!"

​Gadis itu duduk tegak lagi, hampir seperti zombie yang baru saja bangkit dari kubur.

"Dia emang sengaja bikin Fraya malu begitu, supaya dia bisa menunjukkan sama satu Milford kalau dia bisa melakukan apa pun yang dia mau, sekalipun Fraya nggak suka."

​Mamanya tersenyum tenang, sangat kontras dengan reaksi putrinya yang mencak-mencak.

​"Tapi kamu tahu, nggak, mungkin saja Damian juga belum pernah punya pacar. Makanya dia bertindak seenaknya begitu sama kamu, dengan mengklaim kamu pacar dia di depan semua orang. Ih, itu manis banget loh!"

​Fraya membelalakan matanya, menatap Mama tidak percaya, "Kok Mama jadi belain Damian, sih! Fraya mana tahu kalau dia udah pernah pacaran apa belum. Tapi, menurut kabar burung di Milford, Damian itu--"

​Fraya menahan lidahnya secepat kilat untuk tidak meneruskan ucapan yang ingin sekali dilemparkannya ke Mama; bahwa reputasi Damian yang suka meniduri banyak cewek adalah rahasia umum yang juga jadi bagian dari dirinya.

​Mamanya memang sahabat Fraya paling dekat, tapi Fraya tahu, kalau Mama sampai tahu cowok yang kedatangannya kemarin punya sisi sekelam itu untuk anak usia 18 tahun, sikap santai Mamanya dalam menyambut Damian pasti akan menguap.

Di detik selanjutnya, Mama akan bersikap tegas untuk melarang sesi belajar bahasa Jerman itu. Biar bagaimanapun, budaya Timur Mama yang menjunjung adat "Dilarang Kumpul Kebo" masih melekat kuat.

​"Kenapa? Damian tuh kenapa?" Mama kembali mengerutkan kening samar, menunggu putrinya melanjutkan kalimat.

​Tapi tak diayal, di tengah rasa gondok yang mendarah daging, sebagian diri Fraya yang lain masih ingin menjaga citra Damian jangan sampai tercoreng di mata orang tuanya.

Kenapa? Bukannya bagus kalau Mama tahu sisi buruk Damian? Supaya Fraya punya alasan untuk menjauh dari cowok pirang nan brengsek itu karena orang tuanya tidak setuju?

​Tapi, kenapa dia tidak mengatakannya saja pada Mama? Kenapa? Kenapa?

​Fraya berdecak sendiri lagi, dan beringsut turun dari kasurnya untuk menuju kamar mandi, meninggalkan Mamanya yang masih berseru meminta penjelasan namun sang putri malah keburu kabur sambil melempar daun pintu kamar mandi menutup dengan bunyi kedebum cukup keras.

...°°°°°...

​Setelah hampir satu jam menghabiskan waktu di dalam kamar mandi untuk mencari ketenangan, Fraya keluar dalam keadaan lebih tenang.

Ia sudah mandi, sudah merasa bersih dan siap menghadapi hari ini—di rumahnya saja.

​Perasaannya jauh lebih ringan setelah sejam bersemedi membersihkan 'sisa-sisa dosa Damian' dari dalam raganya. Setidaknya begitulah yang Fraya pikirkan, dengan sangat yakin bahwa dia akan menghabiskan waktu bolos sekolahnya ini dengan tenang di rumah saja. Sarapan enak, membaca buku, menonton TV.

​Sampai kakinya berhenti di undakan tangga paling bawah, jantungnya seolah jatuh tepat ke lantai saat dilihatnya Damian sedang duduk sambil tertawa renyah di ruang makan bersama dengan Papa Fraya.

​"Sweetheart, Papa baru saja mau turun manggil kamu, kalau hari ini Damian datang, minta izin ke Papa kalau hari ini Damian mau ajak kamu ke Port Meadow."

​Papa mengucapkannya dengan nada riang gembira, sama sekali tidak sadar perubahan air muka Fraya yang sudah bengong tidak berkutik di tempatnya berdiri.

Bahkan saat Mamanya berdiri di sebelah Fraya, ia menyenggol bahu anaknya untuk mengembalikan kesadaran Fraya ke bumi.

​Fraya mengerjapkan mata perlahan, lalu nadanya terdengar begitu ketus saat berujar, "Kamu ngapain datang ke sini!? Aku hari ini tidak masuk sekolah."

​Damian, dengan segala kecongkakannya yang ingin sekali Fraya tendang keluar dari rumahnya, duduk dengan santai sambil menyunggingkan senyumnya yang paling manis dan menawan.

"I know, that's why I came here. I have to make sure that you are not sick."

​Fraya tersenyum kecut sambil melempar tatapan bengis, "Yeah, not sick at all. I'm just sick of you."

​Mama menyenggol bahu Fraya lagi sambil melotot, "Fraya!"

​"What, Ma? It's true. Lagian kamu ngapain sih pakai mau mastiin segala? Kamu polisi sekolah, ya, sampai harus ngambil alih tugas untuk memeriksa ke lapangan segala? Kamu mau bikin kegemparan apalagi? Tidak cukup cuma bikin gempar di sekolah?"

​Damian sebenarnya agak terkejut dengan luapan emosi Fraya yang begitu telanjang, membuat Papa dan Mama Fraya jadi menatap mereka bergantian.

​"Ada apa? Memangnya kegemparan apa di sekolah?" Papa kali ini yang jadi penasaran.

​Fraya sudah akan membuka mulut untuk menceritakan yang terjadi hari Jumat kemarin, namun seperti sebelumnya, Fraya kembali mengatupkan mulut. Seolah apa yang akan keluar dari mulutnya merupakan senjata yang akan membunuh Damian di hadapan Papa dan Mama Fraya.

​"Nothing, I just don't like him being here."

​Fraya sudah akan berbalik untuk naik ke atas kamar ketika Damian beringsut secepat kilat untuk memblokir jalan Fraya dengan berdiri tepat di hadapannya.

Seolah tindakannya yang intrusif itu tidak memedulikan Papa dan Mama Fraya yang sejak tadi hanya bisa memandang mereka dengan kening berkerut dalam penasaran.

​Mama tiba-tiba saja memekik di tengah kecanggungan itu, "Astaga, sudah jam berapa ini! Mama ada meeting sama investor broker Mama. Yuk, Pa." Mama langsung bergegas cepat-cepat, seolah memang sedang dikejar waktu, bukannya terang-terangan ingin memberikan waktu untuk Fraya dan Damian menyelesaikan apa yang terjadi di antara mereka.

​Papa juga jadi ikut memekik kaget, dan bergegas menyambar tas kerjanya seolah mendadak seperti akan dikejar debt collector.

​"Ya sudah, Papa jalan dahulu," ujar Papa dalam bahasa Indonesia yang terbata-bata, tapi sesaat mata jenakanya melempar senyum pada Damian sambil berkata dalam bahasa Inggris, "Damian, thank you for the golden ticket. Sampai jumpa di pertandingan Chelsea minggu depan."

​"The pleasure is all mine, Sir." Damian membuat gerakan melempar hormat kepada Papa Fraya, mengabaikan wajah gadis di depannya yang kembali melongo parah. Namun Papa dan Mamanya keburu sudah kabur, meninggalkan Fraya dan Damian berdua saja di ruang makan.

​"Papa sama Mama kamu ternyata percaya ya anak perempuannya ditinggal sendiri sama laki-laki yang baru mereka kenal," ujar Damian dengan nada menggoda sambil menaikkan sebelah alisnya.

​Tapi jelas, usahanya ini sama sekali tidak mengenai hati Fraya. Boro-boro tersipu, yang ada Fraya malah terang-terangan melotot ingin mencekik Damian.

​"Kamu mau ngapain sih di sini!" Fraya membentak Damian, akhirnya emosinya menyulut juga, "Kalau kamu tahu hari ini aku tidak akan masuk, harusnya kamu tahu aku tidak masuk itu karena ulah kamu!"

​Damian mengusap telinganya yang seolah panas kena bentakan Fraya. "Makanya itu, aku ke sini mau minta maaf. Aku temani bolos, ya?"

​Fraya memindai pandangannya ke tampilan Damian yang sudah berseragam rapi tanpa dasi dari atas sampai bawah. Ia lalu mendesah, "Kamu kan bukan anak bandel kemarin sore, dengan tampilan kamu kaya gini, kamu mau ngajak bolos keluar? Lebih baik tampilan kamu kaya gini kamu bawa ke sekolah saja, deh. Terus kamu cari orang lain di Milford buat kamu ajakin buat huru-hara disana."

​Damian mengusap dagunya, "Tidak. Yang paling seru aku ajak cari masalah itu cuma sama kamu, Ace. Lagipula, aku sekarang punya hobi baru. Hobi bikin pacar aku jadi marah-marah terus seperti ini."

​Emosinya langsung terpantik bak sepuntung korek api yang dilemparkan ke genangan bensin, "AKU BUKAN PACAR KAMU, DAMIAN!"

​"No, Ace. You are mine. Only mine," ujar Damian. Kali ini nadanya tidak terbantahkan, walaupun diucapkan dengan intonasi sesantai mungkin.

​Fraya sudah akan mengabaikan Damian dengan pergi dari hadapannya. Namun, di detik selanjutnya, ia menghadapkan tubuhnya lagi pada Damian yang memandangnya lekat.

​"Apa kamu memang terbiasa seperti ini? Memaksa kehendak semua orang untuk mendapatkan apa yang kamu mau? Termasuk menyogok Papaku dengan tiket pertandingan bola kesukaan Papa? Supaya apa, Damian?"

​Damian kini tidak lagi menatap Fraya dalam binar jenaka. Senyum di sudut bibirnya terukir samar, tidak menyentuh mata. Tapi dengan segenap raga yang sudah ia siapkan untuk menghadapi kemarahan Fraya, Damian berkata, "Supaya kamu tahu kalau aku bersungguh-sungguh ingin kamu jadi pacar aku, Ace."

​Fraya tidak berkutik. Bukan karena terpana. Ia tidak berkutik karena tidak mengerti. Sisi Damian yang ini membuatnya takut; karena Damian lebih seperti ingin memiliki Fraya karena terobsesi, bukan karena sedang main-main saja.

​"Damian, aku sudah tidak punya tenaga lagi buat meladeni omong kosong kamu ini," tandas Fraya dengan nada lelah yang tidak dibuat-buat.

​"Aku kurang serius apa, Ace. Kalau kamu pikir aku bikin pernyataan menggemparkan kemarin di sekolah hanya untuk main-main, kamu salah besar. Aku ingin jadi pacar kamu, Ace. Aku ingin kamu jadi satu-satunya punya aku."

​Fraya sudah lelah sekali menghela napas setiap kali berhadapan dengan Damian. Jika ini terjadi pada gadis lain, pasti mereka akan bergerilya menyuarakan kemenangan karena telah mendapat pernyataan cinta dari seorang Damian Harding.

​"Damian, I have never been in a relationship before," Fraya mengucapkannya dengan lirih, "dan aku berniat akan tetap sendiri sampai setidaknya aku berhasil masuk ke Oxford. Tujuanku ke Inggris bukan untuk pacaran. Bukan untuk mencari cinta-cintaan monyet. Aku hanya ingin lulus dari Milford sesegera mungkin, dan kuliah di Oxford. Waktuku hanya berporos pada itu saja."

​"Then let me help you with that," Damian menekan ucapannya dengan begitu lembut, berusaha meyakinkan gadis yang kini ia rengkuh pipinya dalam tangannya.

​"Aku dulu tidak peduli pada seberapa banyak koneksi yang kuciptakan di setiap rapat bersama orang penting di dunia ini. Tapi dengan koneksi orang-orang penting yang sudah menjalin kerjasama denganku, aku bisa bikin masuk ke Oxford.  Semua itu bisa kulakukan dengan mudah tanpa bikin kamu susah payah ngejar nilai ujian Horverstehen. Aku bersedia melakukan apa pun, asal kamu jadi punya aku."

​Sarat di kedua mata Fraya seperti orang yang baru saja terkena belati tajam yang menusuk langsung ke hatinya, "Kamu pikir orang seperti aku ini bisa kamu beli perasaannya dengan cara seperti itu?"

​Damian tertegun sejenak, lalu menggeleng lemah, "Tidak, Ace. Tapi aku hanya ingin kamu tahu, kalau kamu sama aku, kamu sudah tidak perlu lagi khawatir soal Oxford."

​Fraya melangkah mundur seketika, ingin cepat-cepat pergi sebelum setetes air bening yang nyaris muncul di pelupuk matanya disadari Damian. Tapi tangan Damian lebih dulu menyambar Fraya, membuatnya tetap berdiri di depannya.

​"Damian, kamu sudah berhasil bikin nilai aku jadi serendah itu dimata kamu," ujar Fraya seraya menoleh menatap mata Damian.

​Damian menegang tanpa kentara. Ia tahu, tindakannya sudah terlampau jauh menyakiti hati gadis di depannya.

​Ketika setetes air mata turun dari pelupuk Fraya, dengan cepat Fraya mengusap pipinya sambil menahan isak tangis yang membuat tenggorokannya tercekat. Kepalanya menunduk dalam, masih enggan menatap mata Damian yang terpaku tidak berdaya.

​"Aku belum pernah punya pacar. Tapi kalaupun saat ini aku harus pacaran dengan kamu, supaya bikin kamu senang dan berhenti memaksa kehendak aku, setidaknya bukan dengan cara seperti ini kamu membuatku jadi pacar kamu."

​Sunyi di antara mereka terasa pekat untuk beberapa saat. Tangan Damian yang mencengkram tangan Fraya akhirnya mulai mengendur. Ditatapnya Fraya masih begitu lekat, sambil berkata, "Fraya, maafkan aku."

​Fraya kembali menitikkan air mata dalam diam, membiarkannya jatuh mengenai kedua kakinya.

​"Aku juga tidak pernah berpacaran,"

Damian berkata dengan suara nyaris seperti angin berhembus. Cowok itu berjalan mundur sambil bersandar di dinding tepat di belakang punggungnya, tanpa melepas tatapannya pada Fraya.

​​"Aku tidak tahu bagaimana cara yang benar untuk menyatakan cinta pada seseorang. Aku bahkan tidak mau repot-repot mencari tahu bagaimana caranya menyatakan cinta dengan benar pada seorang gadis. Tapi yang aku tahu, aku tidak mau membuka kesempatan kamu untuk menolakku seandainya pernyataanku seperti sebuah pilihan, memilih antara menerimaku atau tidak sama sekali. Yang aku tahu, aku cuma ingin kamu di hidup aku. Aku hanya ingin kamu terima aku. Bagaimanapun caranya, walaupun harus dengan memaksa."

​Damian mengambil beberapa langkah maju mendekati Fraya yang masih enggan menatapnya. Walaupun Fraya masih menunjukkan ketidakinginannya, sorot ketegangan di matanya seakan mulai sirna.

​Damian, seperti kebiasaan yang akhir-akhir sering ia lakukan, mencium puncak kepala gadis itu begitu dalam sebelum akhirnya melangkah pergi.

​"I'm sorry, Ace. I didn't mean to hurt you."

​Damian baru saja memutuskan untuk pergi dari sana, dengan hati yang kini dipenuhi baretan luka yang ia timbulkan sendiri.

Namun saat tangannya hampir meraih gagang pintu, ia mendengar Fraya merobek keheningan dengan nada canggung sekaligus kikuk.

​"Kamu bilang kamu mau mengajakku ke Port Meadow, kan?"

...°°°°°...

​Para jajaran tinggi yang menjabat posisi penting di Milford berbondong-bondong melangkah menyusuri pelataran halaman utama Milford yang begitu membentang luas.

​Mr. Winscott, pria yang sudah mengemban jabatan menjadi Kepala Sekolah Milford Hall selama lebih dari 4 tahun ini, bergegas berdiri dengan wibawa tinggi sambil membetulkan letak dasinya yang dirasa sudah rapi. Ia menekan letak jasnya, memastikan penampilannya sudah baik dalam menyambut seseorang yang nama belakangnya begitu penting untuk Milford Hall.

​Jajaran staf yang lain juga sudah bersiap berdiri berjajar di sebelah Mr. Winscott.

Terdapat kepala Administrasi yang sudah mempersiapkan senyum terbaiknya yang sudah ia latih sejak kemarin di ruangannya sendiri.

​Para jajaran petinggi Milford Hall mulai berdiri tegak, siap menyambut kehadiran sebuah mobil Rolls Royce yang mulai memasuki halaman sekolah, dan berhenti tepat di depan jejeran para staf yang sudah menanti kehadiran orang di dalamnya.

​Seorang gadis, berambut panjang dengan rambut pirang yang bagian bawahnya dibuat ikal yang begitu indah, turun dengan keanggunan setara ratu Inggris.

Pandangannya beredar ke setiap sudut halaman sekolah yang selalu membuatnya tidak pernah asing.

Senyumnya yang angkuh hanya mencukil sedikit bibirnya. Sambil tetap memasang keramahan yang bahkan tidak pernah menyentuh matanya, gadis itu membuka kacamata hitamnya saat melangkah ke jejeran para staf yang sudah menanti kehadirannya dengan hormat dan sopan.

​Mr. Winscott lebih dulu melangkah mendekat sambil menjabat tangan gadis itu. Jabatan tangan yang disambut hangat oleh gadis yang pesonanya mampu mengalahkan putri raja mana pun di dunia ini.

​"Selamat datang kembali di Milford Hall, Miss Highmore. Saya senang sekali dapat menyambut kembalinya Anda. Kami sangat bangga atas kesuksesan Anda pada acara Fashion Week di Milan."

​Gadis itu tersenyum separo. Merasa di atas angin sekaligus bangga sambil mengangguk menerima pujian. Matanya kembali berpendar sambil sesekali menghirup udara London di sekitarnya yang begitu sejuk.

​Alana Highmore tidak kuasa menahan letupan kebahagiaan didalam dadanya.

​"It's always good to be back at home," ujarnya penuh puas.

1
Ris Andika Pujiono
aku baca cerita ini seperti ninton film
bukan sekedar cerita receh. Sayang sekali baru dpt sedikit peminat. padahal kalo ditilik dari sisi kualitas cerita ngga kalah dari cerita2 best seller di Toon penulisannya rapi, cara berceritanya elegan. kak terus semangat menulis ya 🥰💪💪
Ris Andika Pujiono: asyik bisa ditungguin dong. sampai tamat 😎🥰🫰
total 4 replies
Ris Andika Pujiono
kaan Alana keluar 😔😎
Ris Andika Pujiono
kini aku punya hobby baru
nungguin up date ceritamu
kereeeeen 🥰🥰🥰🥰
Ris Andika Pujiono
omG sepertinya akan banyak masalah diantara mereka 😔😔😔😔😔
terima kaaih kak udah upp
Ris Andika Pujiono
kasian Damian 🥲
Ris Andika Pujiono
awas lu Damian sampe nyakitin Fraya 😎
Ris Andika Pujiono
yg baca senyum2 sendri thor
sungguh ceriamu bagusss 🙏😍
Ris Andika Pujiono
semoga semoga kalian baik2 saja Fraya & Damian
Ris Andika Pujiono
seruuuuuuu aku suka ceritamu kak
up terus ya tiap hari sampai tamat
janji 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Ris Andika Pujiono
Frayaaaa 🥲
Ris Andika Pujiono
cetita bagus begini g ada yg like sih🥲
Ris Andika Pujiono
Damiaaaan jatuh cintaaa
baca sambil ngabuburit
Ris Andika Pujiono
ehemmmm
Ris Andika Pujiono
🥰🥰🥰🙏
Ris Andika Pujiono
Fraya?????
Ris Andika Pujiono
semoga happy ending
Ris Andika Pujiono
awesome💪💪💪💪💪
Ris Andika Pujiono
kok baru nemu sih. jgn sampai hiatus yaa aku tungguin sampai tamat🥰
Ris Andika Pujiono
wow i like it ... 💪
Ris Andika Pujiono
cie cie cieeeeee 🥰🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!