Kisah seorang The Constant, sang pengelana waktu yang hidup empat ratus tahun. Bertemu dengan seseorang dari kaum Aethern, dewa cahaya yang hidup dalam keabadian. Awalnya mereka berpikir bahwa pertemuan itu hanyalah kebetulan. Namun, dibalik pertemuan itu, sebuah benang sudah terikat sejak ratusan tahun yang lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1
Hujan di kota ini tidak pernah terasa baru bagi Kenzie. Baginya, rintik air yang menghantam kaca jendela taksi itu hanyalah pengulangan dari ribuan sore yang telah ia lewati dalam empat abad terakhir. Ia menyandarkan kepalanya pada kaca yang dingin, membiarkan getaran mesin mobil meresap ke dalam tulang pipinya yang halus, pipi yang tidak pernah berubah sejak tahun 1600-an.
"Kita sudah sampai, Dek. Alamatnya benar di sini?" supir taksi itu bertanya, melirik melalui spion tengah. Matanya menyiratkan rasa iba yang sering Kenzie terima, seorang gadis remaja sendirian membawa dua koper besar ke sebuah apartemen tua di pinggiran kota yang suram.
Kenzie menegakkan punggungnya. Ia memasang senyum tipis yang telah ia latih selama ratusan tahun, senyum yang cukup ramah untuk menghilangkan kecurigaan, tapi cukup dingin untuk mencegah percakapan lebih lanjut.
"Iya, Pak. Terima kasih." jawabnya. Suaranya lembut, namun ada nada berat yang tidak selaras dengan wajahnya yang tampak seperti porselen berusia tujuh belas tahun.
Kenzie turun dari taksi. Angin musim gugur menyapu rambut hitam panjangnya. Kenzie menghirup napas dalam-dalam. Bau tanah basah dan asap kendaraan. Ini adalah identitasnya yang ke-40, atau mungkin ke-50, ia berhenti menghitung sejak identitasnya sebagai seorang putri bangsawan di Paris berakhir dengan tiang gantungan yang nyaris merenggut nyawanya. Kini, ia adalah Kenzie, seorang siswi pindahan yatim piatu yang sederhana dan tentunya tidak terlihat.
Di dalam apartemen barunya yang sempit, Kenzie tidak segera membongkar barang. Ia berjalan menuju cermin retak di kamar mandi. Kenzie menyentuh permukaan kulitnya. Tidak ada kerutan dan tidak ada pori-pori yang membesar. Matanya yang berwarna cokelat gelap menyimpan sejarah yang bisa menghancurkan kewarasan manusia biasa.
Kenzie ingat hari itu. Empat ratus tahun yang lalu. Ibunya, seorang wanita yang hancur oleh pengkhianatan, membisikkan kata-kata yang awalnya terdengar seperti berkah.
"Kau tidak akan pernah layu, Kenzie. Kau akan tetap cantik saat dunia di sekitarmu membusuk. Kau tidak akan pernah merasakan sakitnya kematian, karena kau akan terus hidup untuk mengingat keabadian dari cinta."
Ibunya tidak tahu bahwa keabadian adalah penjara yang paling mengerikan.
Kenzie membuka kotak kecil dari dalam kopernya. Di dalamnya terdapat tumpukan KTP, paspor dan akta kelahiran palsu dari berbagai dekade. Ada foto hitam putih, foto sepia, hingga kartu identitas digital modern. Semuanya memiliki wajah yang sama. Wajah yang terjebak di usia tujuh belas tahun.
"Lima tahun lagi." bisiknya pada bayangannya sendiri. "Lima tahun di kota ini, lalu aku harus menghilang lagi sebelum orang-orang menyadari bahwa aku tidak menua."
Satu minggu kemudian, SMA Arcandale menyambutnya dengan kebisingan yang akrab sejak seminggu lalu ia menginjakkan kakinya di sana. Loker yang dibanting, tawa yang dipaksakan dan aroma parfum remaja yang menyengat. Kenzie berjalan menunduk, mengenakan sweater kebesaran untuk menyembunyikan siluet tubuhnya. Ia ingin menjadi bayangan. Namun, dunia jarang memberikan apa yang ia inginkan.
"Hei, kau anak baru itu kan?"
Kenzie berhenti. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang memanggil. Selalu ada satu cowok populer, penuh percaya diri dan haus perhatian. Dengan jaket tim basketnya yang tersampir di bahu, ia mendekat dengan seringai yang bagi kebanyakan gadis mungkin mematikan, tapi bagi Kenzie, itu hanya pengulangan dari ribuan pemuda sombong yang pernah ia temui di kedai kopi abad ke-19 atau pesta dansa zaman Victoria.
"Namamu Kenzie? Aku Hallen. Sepertinya kau anak yang sangat pendiam. Mau kutunjukkan hal-hal seru di sekolah ini?"
"Aku tidak berminat." jawab Kenzie singkat tanpa menghentikan langkahnya menuju ruang kelas.
Hallen tertawa, langkah panjangnya dengan mudah menyusul Kenzie. "Dingin sekali. Kamu tipe yang sulit didekati, ya? Itu menarik. Biasanya orang-orang di sini berebut ingin bicara denganku."
Kenzie berhenti mendadak, membuat Hallen nyaris menabraknya. Ia menatap Hallen tepat di mata. "Aku di sini hanya untuk belajar. Bukan untuk menjadi bagian dari koleksi penggemarmu. Jadi, tolong, cari objek lain."
Hallen tertegun. Ada sesuatu di mata gadis itu sebuah kedalaman yang membuatnya merasa kecil, seolah ia sedang dipandang oleh seseorang yang jauh lebih tua darinya. Sebelum ia bisa membalas, Kenzie sudah melenggang pergi.
Kenzie sengaja mengambil tempat duduk paling belakang di kelasnya. Ironis, pikirnya. Ia bisa mengoreksi setiap bab di buku sejarah yang sekarang sedang terbuka di hadapannya karena ia ada di sana saat peristiwa itu terjadi. Saat guru mulai menjelaskan tentang Perang Dunia, perhatian Kenzie teralihkan oleh seseorang yang duduk di baris paling ujung dekat jendela.
Seorang siswa laki-laki. Dia tidak menulis, hanya menatap ke luar jendela dengan tatapan yang sangat mirip dengan tatapan Kenzie, tatapan seseorang yang sudah melihat terlalu banyak.
Namanya menurut absen kelas adalah Julian Klein.
Julian tidak terlihat seperti remaja biasa. Posturnya terlalu tegak, gerakannya terlalu efisien dan ada aura otoritas yang berusaha ia tekan sekuat tenaga. Saat mata mereka tidak sengaja bertemu, Kenzie merasakan sengatan listrik di tengkuknya. Bukan jenis sengatan romantis, melainkan insting bertahan hidup.
Ada yang salah dengannya, batin Kenzie.
Julian tidak memalingkan wajah. Ia menatap Kenzie selama beberapa detik, tatapan yang menyelidik, seolah ia sedang mencoba membaca lapisan rahasia yang Kenzie sembunyikan. Julian tahu Kenzie bukan sekadar siswi pindahan. Tapi apa yang Julian tidak tahu adalah bahwa Kenzie juga merasakan hal yang sama tentangnya.
Julian Klein bukanlah manusia. Kenzie bisa merasakannya dari aroma udara di sekitar cowok itu, aroma hutan tua dan energi yang bergetar.
Kenzie segera merapikan bukunya saat bel tanda istirahat berbunyi. Ia tidak ingin berlama-lama di ruangan yang sama dengan Julian. Kehadiran cowok itu terlalu mengganggu radar kewaspadaannya, rasanya seperti duduk di dekat sebuah tungku tua yang sangat panas, namun apinya tidak terlihat oleh mata telanjang.
Kenzie berdiri dan melangkah cepat menuju pintu keluar. Namun, koridor kelas yang mulai sesak oleh murid yang berhamburan membuatnya harus bermanuver di antara kerumunan. Saat itulah, seorang siswa yang sedang bercanda dengan temannya bergerak mundur tanpa melihat ke belakang.
"Awas!" teriak siswa itu.
Bahu mereka berbenturan keras. Tubuh Kenzie yang ringan terdorong ke arah meja kayu di sudut ruangan. Ujung meja yang tajam itu mengincar lengannya. Bagi remaja biasa, ini akan menjadi insiden memar yang menyakitkan atau bahkan luka robek yang membutuhkan jahitan.
Namun, refleks empat ratus tahun tidak bisa berbohong. Dalam sepersekian detik yang nyaris tak tertangkap mata, Kenzie memutar poros tubuhnya. Ia tidak menabrak meja itu, ia justru menggunakannya sebagai tumpuan. Jemarinya menyentuh permukaan kayu dengan tekanan yang presisi, mengubah energi benturan menjadi sebuah putaran anggun yang membuatnya berdiri tegak kembali hanya beberapa sentimeter dari ujung tajam tersebut. Napasnya tetap teratur, wajahnya tetap datar, seolah gravitasi baru saja memberinya pengecualian.
Kenzie segera menarik tangannya, menyembunyikannya di balik seragam. Ia melirik sekilas ke arah jendela. Julian masih di sana, matanya kini tidak lagi menatap keluar, melainkan terpaku pada gerakan Kenzie tadi. Julian melihatnya. Julian tahu bahwa gerakan barusan bukanlah gerakan seorang gadis remaja biasa yang ceroboh.
"Whoa, refleks macam apa itu tadi?"
Suara yang sangat Kenzie kenali kembali menginterupsi. Hallen sudah berdiri di sampingnya, matanya membelalak takjub. Ia baru saja akan mendekat untuk menolong saat benturan terjadi, namun ia justru disuguhi pemandangan ketangkasan yang mustahil.
"Kau belajar bela diri? Atau kau seorang pesenam?" Hallen menghalangi jalan Kenzie lagi, kali ini dengan rasa penasaran yang lebih nyata di wajahnya. "Itu tadi luar biasa, Kenzie. Aku bahkan tidak melihat kakimu menyentuh lantai saat kau berputar."
Kenzie menghela napas pendek, merasa jengah karena rencana untuk menjadi bayangan gagal total di hari itu. "Aku hanya beruntung, Hallen. Bisakah kau menyingkir?"
"Beruntung tidak membuat seseorang berdiri tegak secepat itu setelah hampir menghantam meja." Hallen terkekeh, tangannya mencoba meraih bahu Kenzie untuk memastikan gadis itu benar-benar tidak terluka. "Ayo, biar kuantar ke kantin. Setidaknya biarkan aku mentraktirmu minum setelah kejadian tadi."
Kenzie menepis tangan Hallen dengan gerakan lembut namun tegas sebelum tangan itu sempat menyentuhnya. Tatapan matanya yang dingin membuat Hallen tertegun sejenak.
"Jangan sentuh aku." ucap Kenzie pelan, suaranya mengandung otoritas yang membuat Hallen tanpa sadar mundur satu langkah. "Dan berhenti mengikutiku. Aku bukan objek tontonanmu."
Kenzie berbalik dan keluar dari kelas tanpa menoleh lagi. Ia tidak tahu bahwa di belakangnya, Julian masih memperhatikan setiap langkahnya.
...•••...