"Kak, hari ini jadikan pulang bareng?"
"Nggak bisa, Viona lagi sakit Gue harus segera bawah dia pulang."
"Kak, boleh nggak kerumah, Aku takut Kak."
"Imlie bisa nggak, nggak usah manja Gue lagi jagain Viona di rumah sakit. Lo sendiri dulu aja ya. Kan ada pembantu Sayang. Ingat! Jangan begadang ya."
"Hiks.. Aku juga sakit Kak. Tapi mengapa dia yang selalu menjadi prioritasmu."
Anak pembawa sial, Saya nyesal udah lahirin Kamu. Kenapa bukan Kamu saja yang mati hah?"
"Ck, anak sialan. Saya muak lihat Kamu."
"Mati aja sana Li, nggak guna juga. Papa sama Mama aja udah nggak anggap Lo anak."
"Mimpi apa Gue. Punya Adik berhati busuk kayak Lo."
"Aku memang gadis pembawa sial. Aku tidak pantas hidup. Tapi, tidak pantaskah Aku mendapatkan pelukan kasih sayang itu? Hahaha siapa juga yang akan memeluk gadis pembawa sial seperti Aku."
kisah ini tentang seorang gadis yang dengan ikhlas menerima segalah kebencian yang di berikan kepadanya. ingin tahu kelanjutannya yang penasaran bisa langsung baca🤭
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Happy reading<<<<<<<<
"Yaa.... Mau gimana lagi, Gue cuman punya dua pilihan. Jalan atau tetap jalan. Hehhehe." batin Imlie sungguh miris gadis ini.
"Perut, seperti biasa.. Sabar, sabar dan sabaaaarrrr." gumam Imlie menunduk menatap perutnya.
"pulang sekolah nanti Gue coba ke restoran yang di seberang kantor Papa itu deh.. Mudah mudahan lowongan kerja yang waktu itu masih ada. Ya walaupun seorang pelayan sih.. Tapi, kan lumayan cuman antar antar makanan doang." batin Imlie kemudian menuju sekolahnya dengan berjalan kaki.
"Eh, PAK TUNGGUUU." teriak Imlie dan dengan cepat langsung masuk. membuat Pak satpam itu kaget.
"Astagfirullah Neng, cepat amat nyelip gerbangnya." kaget Pak Satpam.
"Hehehe, biasa Pa jurus super hero keluar Pak. Heheeh." jawab Imlie dan Pak Satpam ikut tertawa. Kemudian Imlie melanjutkan langkahnya.
"Terlambat lima menit, Lo hormat benderanya sana." Imlie menghentikan langkahnya karena mendengar suara Pria yang dia kenal yaitu sang Kakak yang menjabat sebagai ketua osis.
"Kak, boleh nggak Aku bersih bersih gitu aja Kak. Aku nggak bisa Kak kalau hormat bendera Kak. Soalnya panas di tambah perut Aku lagi.......
"Gue nggak mau tau dan nggak peduli. Hukuman tetap hukuman, jadi, jangan ngelawan atau Gue kasih hukuman tambahan." ujar Alvian datar walaupun di tau tadi Imlie berjalan kaki sampai sekolah tapi sama sekalih dia tak peduli.
"Baiklah.." lirih Imlie dan berjalan menuju lapangan yang sebentar lagi akan di sinari sang surya yang panasnya sangat menusuk.
"Nasib nasib, belum sarapan, ke sekolah jalan kaki, eh, di hukum lagi. Mana hukumannya hormat bendera lagi.." batin Imlie dan mulai menghormat kepada sang merah putih bukti kemerdekaan indonesia. Sedangkan Alvian hanya mengawasinya.
Saat hormat bendera Imlie di buat kaget dengan sebuah topi yang di pasangkan di kepalanya.
"Eh?" kaget Imlie.
"Hai, Li.... Terlambat bareng nih." ujar Daffa yang memasangkan topi di kepala Imlie.
"Hai Daff.... Lo juga terlambat ternyata. Berarti bukan cuman Gue dong, heheheh." ujar Imlie bersyukur ada yang masih terlambat lagi, biar bisa barengan gitu kena hukumannya.
"Eh, Li.. Lo nggak papa?" tanya Daffa menempelkan tangannya di kening Imlie.
"Eh, Daff?" kaget Imlie.
"Sorry Li. Gue cuman mastiin kesehetan Lo aja. Muka Lo pucat banget.. Mana merah lagi muka Lo. Lo sakit?" tanya Daffa.
"Hah? Beneran muka Gue pucet? Banget ya?" tanya Imlie mengusap wajahnya.
"Iya Li, serius.. Mendingan Lo ke UKS aja. Biar Gue yang gantiin hukuman Lo." ujar Daffa.
"Eh, nggak usah Kok Daff. Aku kuat kok.. Ini mungkin cuman efek kena matahari aja Daff." tolak Imlie.
"Baiklah, tapi kalau Lo rasa pusing atau apalah gitu. Bilang ke Gue ya." ujar Daffa dan Imlie mengangguk.
"Heh, kalian kenapa malah ngobrol hah? Cepat hormat tanpa berbisik bisik.. Dan Lo jauhan sedikit." ujar Alvian pada Daffa.
"Sorry, tapi Gue mau lindungi teman Gue dari sinar matahari." ujar Daffa.
"Tidak ada bantahan." bentak Alvian.
"Tidak, Gue bakal tetap di sini. Gue khawatir sama dia." ujar Daffa lantang.
Degh
Entah kenapa jantung Alvian berdegup kencang bukan karena baper salting atau kasmaran. Tapi, jantung berdenyut sedikit sakit melihat Pria lain menghawatirkan adik yang di benci. Dia memberikan hukuman pada sang Adik tapi ada orang lain yang menghawatirkan Adiknya.
"Terserah." jawab Alvian dan menatap Imlie yang serius hormat.
Masih ada 10 menit lagi hukuman itu berakhir tapi suara para Siswa dan Siswi kelas IPA 2 yang berjalan dengan riang menuju lapangan voli yang kebetulan dekat dengan lapangan upacara.
"Eh, Bos, lihat tuh." tunjuk Ravel. Dan Aryan mengikuti arah yang di tunjuk Ravel.
"Imlie? Tumben gadis Gue terlambat." batin Aryan dan menatap tajam Daffa yang melindungi sinar matahari dari gadisnya.
"Sialan!! Gue harus.....
"Aryan Kamu bagian Tim Viona." ujar Pak Bondan guru penjas.
Aryan yang berniat menuju tempat Imlie yang tak jauh. Langsung di buat menggerang kesal.
"Pak, Saya mau ke sana dulu. Nanti balik lagi." ujar Aryan dingin.
"Tidak, cepat ke sini. Jam pelajaran Saya tinggal beberapa menit lagi." ujar Pak Bondan dan Aryan hanya mengangguk karena kalau tidak Gurunya ini akan mengoceh terus menerus.
Kelas IPA 2 asyik bermain voli, sedangkan Aryan sejak tadi kurang fokus sekalih kali melirik Imlie yang sama sekalih tak menatapnya. Begitupun melirik Daffa tajam.
"Ssssshhhhh,, Kepala Gue pusing banget." batin Imlie memegang kepalanya pelan.
"Li, are you Okey?" tanya Daffa.
"Daff, Gue.....
Grep
"Dek." dengan spontan Alvian mengucapkan kata itu walaupun pelan. Dan langsung pergi dari sana.
"Imlie..." kaget Daffa dan langsung memeluk Imlie karena gadis itu hampir saja terjatuh.
"Imlie, sialan kenapa Pria itu memeluk gadis Gue." geram Aryan dan berniat berjalan ke arah Imlie yang belum benar benar pingsan.
"K-ak. " lirih Imlie.
Bugh
"VIONA." teriak beberapa orang dan Aryan yang ingin mendekati Imlie langsung berbalik ke arah Viona dengan wajah khawatir.
"Vioo.." gumam Aryan dan tanpa berfikir dua kali lagi langsung berlari ke arah Viona.
Sedangkan Imlie yang melihat itu hanya tersenyum tipis kemudian kehilangan kesadarannya.
"LILI." teriak Daffa dan kembali mengundang perhatian yang di berikan pada Viona kini beralih pada Imlie yang sudah di gendong Daffa berlari menuju UKS.
"Sialan, Lili? Bisa bisanya dia." geram Aryan dalam hati.
"Aryan, kenapa diam aja, cepat bawah ke UKS." tegur Pak Bondan dan dengan cepat Aryan membawa Viona melewati jalan pintas sehingga sampai di depan pintu UKS, saat ingin masuk ke dalam dia dan Daffa saling menatap tajam.
"Lo, minggir dulu. Ini darurat." ujar Daffa.
"Lo, kagak lihat kening teman Gue luka." ujar Aryan karena saking khawatirnya dia sampai melupakan jika di gendongan Daffa adalah Imlie.
"Itu cuman luka biasa, tapi ini teman Gue juga sedang sakit sialan." marah Daffa balik.
Bugh
"Sialan Lo Aryan, Cewek Lo lagi sakit Lo malah milih utamiin Cewek lain." geram Daffa menatap punggunya Aryan yang sudah masuk dengan Viona.
Kemudian tak lama Daffa ikut membawa Imlie dan merebahkannya di brankar sebelah brangkan Viona yang di batasi dengan kain horden.
"Gimana keadaannya Dok?" tanya Aryan setelah Dokter itu selesai memeriksa Viona.
"Alhamdulillah..dia cuman sedikit syok aja. Dan benturan di kepalanya tidak terlalu serius. Jadi, tidak usah khawatir." ujar sang Dokter perempuan itu.
"Tidak usah khawatir. Terus ini kenapa sampai darahnya keluar Dok." ujar Aryan dingin.
"Itu cuman Luka kecil Tuan muda." jawab Dokter itu yang memang sudah tau siapa Aryan.
"Gue nggak mau tau.. Dokter nggak boleh dari sini sebelum gadis ini siuman." tegas Aryan.
"Tapi.... Pasien....."
"Atau Saya tak segang segang memecat Dokter dari rumah sakit keluarga Saya dan memblacksit nama Dokter di mana pun rumah sakit itu." ancam Aryan dan akhirnya si Dokter mengangguk saja tidak bisa melawan.
"Li, bangun ya...... Yaudah, kita ke rumah sakit aja ya.. Kayanya Aryan brengsek nggak akan biarin Dokter pergi dari brangkarnya Viona." lirih Daffa dan hendak mengangkat kembali Imlie. Tapi.....
"Daf." lirih Imlie menatap Pria di depannya ini.
"Makasih ya, udah bawah Gue ke sini." ujar Imlie.
"Sama sama Li.. Lo kenapa sih, kenapa akhir akhir ini Gue lihat lihat muka Lo kaya zombie tau nggak." canda Daffa dan tangannya mengambil minyak kayu putih dan membalurkan sedikit lagi di bawah hidung Imlie.
"Bisa aja Lo. Gue cuman sedikit nggak enak badan aja Daff." ujar Imlie.
"Yasudah, Lo tunggu sini ya.. Gue keluar sebentar." ujar Daffa dan Imlie mengangguk kemudian kembali merebahkan tubuhnya. Ya, sebenarnya Imlie tadi sudah mendengar perkataan Aryan yang menyuruh sang Dokter untuk tidak kemana mana sampai Viona siuman.
"Lo, sangat menghawatirkan dia.. Sampai sampai Lo membiarkan Gue terluka tanpa di obatin. Bahkan Lo biarin Gue di sentuh Pria lain sedangkan Viona Lo jaga mati matian Kak. Sebenarnya Gue ini apa sih di hidup Lo." batin Imlie.
Tak lama dari itu Daffa masuk. Tapi, kali ini Aryan menatapnya.
"Di mana Imlie? Kemana Lo sembunyiin gadis Gue, hah? Cari kesempatan Lo, iya." ujar Aryan menatap Daffa tajam.
"Sorryy!! Gue cuman membantu selagi Gue bisa. Lagian, Gue heran ada ya Cowok kaya Lo. Di mana Ceweknya jatuh pingsan ini malah memilih menolong gadis lain. Bahkan saat Cewek Lo butuh seorang Dokter untuk memeriksa keadaanya, Lo malah nggak biarin Dokter itu meninggalkan Viona. Miris banget ya, kalau Gue sih punya Cewek kaya Imlie Gue nggak bakal sia siain dia. Bodoh aja punya berlian masa di buang dan milih batu kerikil." ujar Daffa panjang lebar.
"Lo, pikir Viona apaan bangsat." ujar Aryan membuat Daffa tercengang. Dia pikir Aryan akan bereaksi soal Imlie, tapi ini malah bereaksi karena tak terima Viona di samakan dengan kerikil.
"Ck, tolol." gumam Daffa.
Saat Aryan hendak menghampiri Daffa tangannya langsung di tahan oleh Viona.
"Ar." lirihnya.
"Alhamdulillah.. Sini Saya periksa dulu Nona." ujar sang Dokter dan memeriksa Viona.
"Baiklah, seperti yang Saya bilang tadi keadaanya baik baik saja.." ujar sang Dokter.
"Terimakasih Dok." ujar Viona.
"Ya, sama sama.. Cepat sembuh.. Kalau gitu Saya permisi ke sebelah dulu Tuan muda." ujar sang Dokter dan Aryan hanya mengangguk pelan. Saat Aryan hendak pergi ke brangkarnya Imlie.
Viona langsung menggenggam tangannya erat.
"Ar, jangan kemana mana ya. Temani Aku ya." pinta Viona.
"Baiklah, Aku di sini." jawab Aryan dan mengelus rambutnya Viona yang sedang menggenggam tangannya.
"Buka tirainya Dok. Gue mau lihat." ujar Aryan ingin melihat saat Imlie di periksa.
"Nggak, jangan Dok." suara Imlie dari sebelah sana membuat Aryan geram.
"Imlie, jangan pancing emosi Gue." ujar Aryan tajam. Dan Imlie akhirnya mengangguk pada sang Dokter.
"Li, nggak papa? Mendingan nggak usah Li." ujar Daffa. Dan Imlie hanya mengangguk tanda iya baik baik aja.
Setelah tirai itu terbuka menampilkan Daffa dan Imlie sedang berbicara. "Bicara apa kalian, hah? Lo.. Cepat keluar dari sini." usir Aryan pada Daffa.
"Dih, ini UKS Lo." ujar Daffa bandel dan hanya menatap Imlie dengan tatapan senduh.
"Sialan, jaga mata Lo bangsat.. Keluar sekarang." ujar Aryan dingin.
"Daff, Gue lagi pusing banget. Dan nggak mau dengar keributan. Lo ke kelas aja ya. Dan makasih udah bawah Gue ke sini." ujar Imlie.
"Baiklah!! Tapi kalau ada apa apa langsung hubungi Gue ya." ujar Daffa sebelum keluar dari UKS dia saling menatap tajam dengan Aryan.
"Di periksa Dok." ujar Aryan pada sang dokter setelah Daffa pergi. Sedangkan Imlie hanya menatap ke arah kanan tanpa melihat ke sisi kiri di mana Aryan dan Viona berada.
"Imlie, hadap sini." perintah Aryan tapi Imlie tidak bergeming.
"Ar, kepala Aku sedikit pusing. Boleh nggak Kamu pijitin kepala Aku." rengek Viona manja dan Aryan memberikan senyuman tipis menenangkan. Dan memijit pelan kepalanya Viona.
"Imlie, Gue bilang hadap sini, sialan." bentak Aryan, sedangkan sang Dokter tak berbicara apapun. Dia takut dengan kekuasaan Tuan muda ini.
"Ck, Apa?" tanya Imlie malas.
"Nah, pintar." ujar Aryan dan dengan jelas Aryan melihat Imlie memutar matanya malas.
"Sudah Dok?" tanya Imlie.
"Apakah Kamu belum sarapan pagi?" tanya sang Dokter menatap wajah pucat milik Imlie. Imlie langsung terdiam sesaat.
"Iya Dok, lagi malas aja Dok." jawab Imlie berbohong.
"Lain kali harus sarapan ya. Karena itu baik untuk tubuh kita.. Kalau tidak sarapan maka Kamu akan lemas dan jatuh sakit kaya gini." ujar Sang Dokter.
"Iya Dok, terimakasih." jawab Imlie tanpa menatap Aryan yang menatapnya dari brangkar Imlie.
"Lo, kenapa nggak makan hah? Mau mati?" tanya Aryan tajam dan Viona menyembunyikan senyumannya.
"Nggak usah sok peduli." ujar Imlie.