Bagi Azzalia Caesarea, mencintai Regas Adhitama adalah sebuah keberanian sekaligus kesalahan. Regas adalah sang "Pangeran Teknik" yang sempurna, sementara Lia hanyalah mahasiswi Sastra pemegang beasiswa yang hidup sebatang kara.
Saat restu orang tua Regas menjadi dinding tinggi yang tak mungkin dipanjat, Lia memilih mundur. Ia meletakkan tanda titik pada kisah mereka, menolak lamaran Regas, dan pergi mengejar mimpinya ke luar negeri demi harga diri yang sempat diinjak-injak.
Tahun-tahun berlalu, Lia kembali sebagai sosok wanita yang baru dan sukses. Namun, semesta memang senang bercanda. Di sekolah internasional tempatnya mengajar, ia kembali dipertemukan dengan mata tegas itu. Regas berdiri di sana, tetap mempesona, namun dengan satu kejutan yang menyesakkan napas: seorang putri kecil yang memanggilnya "Papa".
Siapkah Lia membuka kembali buku lama yang sudah ia tutup rapat?Dan rahasia apa yang sebenarnya disimpan Regas selama bertahun-tahun kepergian Lia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Rumah tua di pinggiran kota itu terasa sangat sunyi, hanya suara jangkrik yang menemani keremangan lampu teras. Regas membimbing Lia masuk ke dalam ruang tamu yang masih berdebu, namun perabotannya adalah barang-barang yang dulu pernah mereka pilih bersama di katalog murah saat masa kuliah.
Lia duduk di sofa usang, memeluk tubuhnya sendiri. Regas datang membawa segelas air putih, lalu duduk di lantai di depan Lia, persis seperti posisi mereka saat makan pasta lima tahun lalu.
"Ghea bukan anakku, Lia. Secara biologis, dia putri tunggal Kak Arga," Regas memulai, suaranya berat dan bergetar. "Saat kecelakaan itu merenggut nyawa Kakak dan istrinya, Ghea baru berusia 1 tahun. Dia yatim piatu dalam semalam."
Lia menatap gelas di tangannya, matanya berkaca-kaca. "Lalu kenapa dia memanggilmu Papa? Dan kenapa Elena... seolah-olah dia ibunya?"
Regas menghela napas panjang, tatapannya kosong menatap lantai. "Ibuku tidak mau reputasi keluarga Adhitama cacat karena ada anak yatim piatu yang tidak jelas pengasuhannya. Beliau memaksaku mengadopsi Ghea secara legal sebagai anakku sendiri agar hak waris Kak Arga tetap aman di bawah kendali perusahaan. Elena menyetujui itu sebagai bagian dari kesepakatan pernikahan kami. Di depan publik dan Ghea, kami adalah orang tua aslinya. Tapi di dalam rumah..."
Regas menengadah, menatap Lia dengan mata yang basah. "Di dalam rumah, Ghea hanyalah alat tawar-menawar bagi Elena untuk menahanku. Dia tidak pernah benar-benar mencintai Ghea. Itulah sebabnya Ghea begitu menempel padamu, Lia. Dia bisa merasakan ketulusan yang tidak pernah dia dapatkan dari Elena."
Lia menutup mulutnya dengan tangan, isakannya pecah. "Jadi selama ini kamu berpura-pura bahagia demi melindungi Ghea dan posisiku di London?"
"Setiap hari adalah sandiwara, Lia. Saat aku melihatmu di sekolah sebagai guru sastra, jantungku rasanya mau copot. Aku senang kamu berhasil, tapi aku hancur karena menyadari betapa jauhnya aku telah menyeretmu ke dalam kekacauan ini," Regas meraih tangan Lia, menggenggamnya erat. "Bayi yang dikandung Elena... itu adalah satu-satunya kesalahanku yang paling fatal. Aku dijebak malam itu oleh Ibuku sendiri di hotel. Aku tidak pernah menginginkannya, tapi aku tidak bisa membunuh nyawa yang tidak berdosa."
Lia menatap Regas dengan perasaan yang campur aduk—marah, kasihan, dan cinta yang ternyata masih membara di balik tumpukan abu kebencian. "Lalu sekarang apa, Regas? Kamu tidak bisa meninggalkan wanita hamil, seberapa pun besarnya kamu mencintaiku."
Regas mencium punggung tangan Lia lama. "Aku akan menggugat cerai Elena setelah bayi itu lahir. Aku tidak butuh harta Adhitama, Lia. Aku hanya ingin memulai dari nol lagi denganmu ... dan jika kamu masih bersedia, bersamaku "
'' jangan menceraikan dia, hiduplah bersamanya dengan baik,lupakan aku ,kasihan bayi yang tak berdosa itu jika harus berpisah dengan ayahnya "
Malam itu, di bawah atap rumah yang dulu mereka impikan, semua tabir terbuka. Tidak ada lagi rahasia, hanya dua jiwa yang lelah karena dipisahkan oleh ambisi orang lain.
Regas tertegun, cengkeramannya pada tangan Lia mengerat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia menatap Lia dengan tatapan tidak percaya, seolah baru saja mendengar sebuah kalimat penghakiman yang paling kejam.
"Lupakan kamu? Hidup dengan baik?" Regas mengulang kalimat itu dengan tawa getir yang pecah di kesunyian ruangan. "Bagaimana bisa kamu memintaku hidup dengan baik di dalam penjara yang aku bangun sendiri, Lia? Selama lima tahun ini, satu-satunya alasan aku masih bernapas adalah bayangan bahwa suatu hari aku bisa menebus semua ini padamu!"
Lia menggeleng kuat-kuat, air mata membasahi pipinya tanpa henti. "Tapi bayi itu tidak bersalah, Regas! Dia tidak minta dilahirkan di tengah kebencian ini. Jika kamu menceraikan Elena, anak itu akan tumbuh tanpa keluarga yang utuh, sama seperti kita dulu. Aku tidak mau menjadi alasan seorang anak kehilangan ayahnya."
"Lalu bagaimana denganku?" Regas bangkit berdiri, suaranya naik satu oktav karena frustrasi. "Bagaimana dengan sisa hidupku? Kamu ingin aku menghabiskan puluhan tahun ke depan dengan wanita yang bahkan tidak ragu menggunakan anak kecil untuk mengancamku? Kamu ingin aku pura-pura mencintai seseorang sementara hatiku selalu memanggil namamu setiap kali aku memejamkan mata?"
Lia ikut berdiri, mencoba menahan dadanya yang sesak. "Ini bukan lagi tentang kita, Regas! Ini tentang tanggung jawab. Kamu adalah seorang ayah sekarang, terlepas dari bagaimana proses bayi itu hadir. Sastra mengajariku tentang tragedi, dan aku tidak mau kisah kita menjadi tragedi bagi nyawa yang baru akan lahir."
"Jangan gunakan sastra untuk menolakku, Azzalia!" Regas memangkas jarak, memegang kedua bahu Lia dengan emosi yang meluap. "Dengar, aku sudah menyiapkan semuanya. Aku akan memberikan seluruh harta Adhitama pada Elena jika itu yang dia mau. Aku akan memastikan bayi itu tercukupi segalanya. Tapi aku tidak bisa memberikan jiwaku padanya. Jiwaku sudah kamu bawa ke London lima tahun lalu, dan sekarang aku ingin mengambilnya kembali."
Lia menunduk, tak berani menatap mata Regas yang menyala penuh luka. "Dunia tidak sesederhana itu, Regas. Orang tuamu, reputasimu... mereka akan menghancurkan kita."
"Biarkan mereka mencoba," bisik Regas, kini suaranya melunak namun penuh tekad. Ia menyentuhkan keningnya ke kening Lia. "Aku sudah pernah kehilanganmu sekali karena ketakutanku. Kali ini, aku lebih baik kehilangan segalanya daripada kehilanganmu untuk kedua kalinya. Jangan suruh aku kembali ke sana, Lia. Tolong... jangan buang aku lagi."