NovelToon NovelToon
SERABI LEMPIT

SERABI LEMPIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

lanjutkan seorang gadis cantik baru lulus dan sedang mencari kerja dan menemukan masalah karena orangtuanya berhutang dengan lintah darat namun ada bos muda yang membantunya namun bos itu jatuh hati kepadanya gadis cantik itu bernama Mira dan bos besar grup Nusantara itu Romano Kusuma dan ia menginginkan gadis cantik itu dan mengejaran dimulai ...... lanjutkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 10

Gudang arsip Nusantara Group di lantai bawah tanah terasa seperti makam yang lembap. Udara di sana berat dengan bau kertas tua dan debu yang telah mengendap selama puluhan tahun. Mira melangkah masuk, memegang kunci kuningan dari Romano seolah itu adalah sebuah jimat. Di belakangnya, pintu besi berat tertutup dengan denting yang menggema, namun ia tahu Romano tidak sedang mengurungnya. Pria itu justru memberikan kunci kebenaran yang bisa menghancurkan warisan ayahnya sendiri.

Mira menyalakan lampu senter, menyapu deretan lemari besi yang berkarat. Setelah satu jam pencarian yang melelahkan, ia menemukan sebuah kotak kayu dengan stempel tahun 1996—tahun yang sama ketika ibunya meninggal dalam sebuah kecelakaan yang selalu dianggapnya sebagai nasib buruk.

Di dalamnya, ia menemukan akta tanah asli Sektor Tujuh. Nama ibunya, Rahayu, tertulis dengan tinta hitam yang masih tegas sebagai pemilik sah atas lima hektar lahan utama. Namun, ada lembaran lain di bawahnya: sebuah surat kuasa yang dipalsukan dengan tanda tangan yang sangat kasar, memberikan hak kelola kepada perusahaan milik ayah Romano.

"Jadi ini alasannya," bisik Mira, suaranya bergetar. "Ibuku tidak hanya memiliki tanah ini. Dia melawan, dan mereka menyingkirkannya."

"Dia adalah wanita paling keras kepala yang pernah ditemui ayahku," sebuah suara muncul dari kegelapan di ambang pintu.

Mira tersentak, mengarahkan senternya ke arah Romano yang berdiri bersandar di rak arsip, bayangannya memanjang di dinding beton. Wajah pria itu tampak pucat di bawah cahaya temaram.

"Kau tahu?" desis Mira, amarahnya meluap hingga ke ujung jari. "Kau tahu ibuku dibunuh demi tanah ini?"

"Aku baru tahu setelah aku mengambil alih posisi CEO dan membuka berkas rahasia ayahku setahun lalu," Romano berjalan mendekat, membiarkan cahaya senter Mira menyinari matanya yang penuh beban. "Ayahku menyimpan rahasia ini sebagai kartu as untuk mengontrol ibumu. Saat ibumu menolak untuk tunduk, 'kecelakaan' itu terjadi. Dan sejak saat itu, ayahku terobsesi untuk menguasai setiap jengkal tanah ini untuk menutupi jejaknya."

Mira mencengkeram dokumen itu, matanya berkilat penuh kebencian. "Dan kau? Kau mendekatiku, menjadikanku direktur proyek ini... apakah ini caramu menebus dosa? Atau caramu memastikan bahwa keturunan Rahayu tetap berada di bawah kendali Kusuma?"

Romano berhenti tepat di depan Mira, membiarkan ujung senter menekan dadanya. "Awalnya, aku ingin mengubur rahasia ini selamanya dengan membelimu. Tapi kemudian aku melihatmu di rapat itu. Aku melihat api yang sama dengan yang dideskripsikan ayahku tentang Rahayu. Dan aku menyadari satu hal... aku tidak ingin mengendalikanmu, Mira. Aku ingin kau menghancurkan sisa-sisa kebusukan keluarga ini agar kita bisa membangun sesuatu yang baru."

Mira tertawa pahit, air mata kemarahan menggenang di pelupuk matanya. "Membangun sesuatu yang baru di atas kuburan ibuku?"

"Hancurkan aku jika itu membuatmu tenang, Mira," Romano berlutut di depan gadis itu, sebuah tindakan penyerahan diri yang tidak pernah dibayangkan oleh siapa pun dari seorang Romano Kusuma. "Serahkan dokumen ini ke otoritas. Aku akan kehilangan jabatan, kekayaan, dan nama baikku. Nusantara Group akan runtuh. Tapi setidaknya, keadilan untuk ibumu akan tegak."

Mira menatap pria yang berlutut di hadapannya. Ia melihat keruntuhan seorang raja yang selama ini ia benci, namun ia juga melihat seorang pria yang sedang mencoba memutuskan rantai kutukan keluarganya sendiri.

Mira menarik napas panjang, menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Ia tidak menyerahkan dokumen itu ke polisi hari itu. Ia justru melipatnya dan memasukkannya kembali ke dalam tas.

"Aku tidak akan menghancurkan Nusantara Group," ucap Mira dengan nada yang sangat dingin namun berwibawa. "Jika aku menghancurkannya, warga Sektor Tujuh akan kehilangan pekerjaan dan harapan yang baru saja aku bangun. Itu adalah cara yang mudah. Aku punya cara yang lebih menyakitkan bagimu."

Romano mendongak, menatapnya dengan rasa ingin tahu.

"Kau akan tetap menjadi CEO," lanjut Mira. "Tapi kau akan menandatangani pengalihan empat puluh persen saham Nusantara Group ke yayasan atas nama ibuku. Kau akan bekerja untukku, Romano. Kau akan menjadi mesin uang untuk setiap program kesejahteraan yang aku rancang. Kau ingin menjadi raja? Silakan. Tapi aku adalah pemilik mahkotanya."

Romano terdiam sejenak, lalu sebuah senyum miring—kali ini benar-benar tulus—muncul di wajahnya. Ia berdiri, merapikan jasnya, dan menundukkan kepala sedikit.

"Perintah diterima, Madam Komisaris."

Saat mereka keluar dari gudang bawah tanah itu menuju cahaya matahari yang menyilaukan, Mira tahu bahwa dinamika mereka telah berubah selamanya. Ia bukan lagi korban, bukan lagi pahlawan, melainkan penguasa baru yang lahir dari abu masa lalu. Dan Romano, di sampingnya, bukan lagi penculik atau musuh, melainkan sekutu paling berbahaya yang pernah ia miliki.

Peralihan kekuasaan di Nusantara Group terjadi tanpa suara ledakan, namun getarannya terasa hingga ke lantai dasar. Dalam hitungan minggu, papan nama di lantai eksekutif berubah. Yayasan Rahayu Berdikari kini memegang kendali atas hampir separuh nyawa perusahaan, dan Mira tidak lagi duduk di kursi tamu saat memasuki ruangan Romano.

Pagi itu, Mira meletakkan sebuah map merah di atas meja kerja Romano yang luas. Pria itu sedang menatap jendela besar yang menampilkan cakrawala Jakarta, namun ia segera berbalik saat mendengar suara debuman dokumen tersebut.

"Audit internal untuk proyek ekspansi di Jawa Barat," ujar Mira tanpa basa-basi. "Aku membatalkan kontrak dengan penyedia jasa keamanan pilihan dewan. Mereka punya rekam jejak intimidasi terhadap petani lokal. Aku ingin kita menggunakan pendekatan yang sama dengan Sektor Tujuh."

Romano berjalan mendekat, mengambil map tersebut namun tidak membukanya. "Kau tahu itu akan membuat sisa direksi lama semakin haus darah, bukan? Wijaya dan kelompoknya sudah mulai mengadakan pertemuan rahasia di luar kantor. Mereka merasa aku sudah 'dijinakkan' olehmu."

"Apakah kau sudah dijinakkan, Romano?" Mira menaikkan sebelah alisnya, menantang.

Romano meletakkan map itu kembali dan condong ke depan, menyandarkan kedua tangannya di meja hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa inci. "Aku tidak dijinakkan, Mira. Aku hanya sedang menikmati pemandangan saat seseorang yang lebih kompeten dariku membereskan kekacauan yang ditinggalkan ayahku. Tapi kau harus waspada. Mereka tidak akan menyerangku. Mereka akan menyerang titik lemahmu."

"Aku tidak punya titik lemah," balas Mira tegas.

"Kau punya. Sektor Tujuh," bisik Romano. "Dan ayahmu."

Belum sempat Mira membalas, ponselnya bergetar hebat. Sebuah pesan video masuk dari nomor yang diblokir. Mira membukanya, dan wajahnya mendadak pucat. Video itu menunjukkan suasana pasar Berdikari yang baru diresmikan, namun ada beberapa pria berjaket hitam yang sedang menyiramkan cairan ke dinding-dinding kayu di area belakang, tempat penyimpanan gas komunal.

"Mereka akan membakarnya lagi," bisik Mira, suaranya tercekat.

Tanpa berkata apa-apa, Romano menyambar kunci mobilnya dan menarik jasnya dari sandaran kursi. "Kita tidak punya waktu untuk memanggil polisi melalui jalur resmi. Mereka sudah disuap oleh Wijaya."

"Bagaimana kau tahu?"

"Karena itu adalah taktik yang sering digunakan ayahku," Romano menarik tangan Mira, membimbingnya menuju lift pribadi. "Kali ini, kita tidak bertarung di meja rapat, Mira. Kita bertarung di jalanan."

Di dalam lift yang bergerak turun dengan cepat, Mira memeriksa rekaman CCTV melalui tabletnya. "Mereka belum menyalakan apinya. Mereka menunggu perintah."

"Mereka menunggu kau muncul di sana agar bisa membuat insiden itu terlihat seperti kecelakaan akibat kelalaian manajemenmu," Romano menekan tombol lantai parkir bawah tanah. "Kau ingin menjadi penguasa, Mira? Maka kau harus belajar bahwa terkadang tanganmu harus lebih kotor daripada musuhmu."

Saat pintu lift terbuka, Romano tidak menuju sedan mewahnya. Ia berjalan menuju sebuah motor sport hitam yang tersembunyi di sudut gelap parkiran. Ia melemparkan helm cadangan kepada Mira.

"Naiklah. Mobil kita terlalu mudah diikuti."

Mira memakai helmnya, merapatkan jaketnya, dan naik ke belakang Romano. Saat motor itu meraung keluar dari gedung Nusantara Group, Mira menyadari bahwa garis antara benar dan salah kini benar-benar kabur. Ia sedang bersama pria yang dulunya ia anggap monster, menuju tempat yang paling ia cintai, untuk melawan orang-orang yang mengenakan setelan jas mahal namun berhati jauh lebih busuk.

"Pegang erat, Mira," teriak Romano di balik deru mesin. "Hari ini kita buktikan pada mereka bahwa ratu dan rajamu tidak bisa digoyahkan oleh api murahan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!