Rhea Celeste hanyalah mahasiswi jurusan pendidikan biasa yang malas, sampai sebuah panci listrik meledak dan merenggut nyawanya.
Saat membuka mata, ia terbangun di dunia fantasi sebagai Rhea Celeste lain.
Dia adalah seorang archmage berbakat dan guru sihir putra mahkota Kerajaan Sihir. Tanpa ingatan pemilik tubuh asli, Rhea harus berpura-pura kehilangan ingatan dan mencoba melanjutkan kariernya sebagai guru putra mahkota dengan baik untuk hidup damai.
Namun, kehidupan damainya hanyalah angan-angan setelah mengetahui identitas tersembunyi pemilik tubuh aslinya yang lain.
“Rhea-ku, sayang... Kenapa kau melupakanku? Kekasihmu?”
Seorang pria tampan dari kekaisaran suci mengaku sebagai kekasihnya dan menangis.
Sedangkan di sisi lain, muridnya yang keras kepala, merengek, mengajaknya tinggal.
“Guru! Ayo pulang! Buatkan aku kue ulang tahun!”
Lebih baik tidak ikut campur, atau kedua kekaisaran akan musnah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membawanya pulang ke istana
Rhea berhasil menenangkan naga perak kecil itu dari tangisannya. Menepuk kepalanya pelan, ia mengalihkan pandangan pada tubuh ibu naga perak besar.
Karena lelah dan kepalanya pusing, imajinasinya jadi agak liar. Sebuah ide berani muncul di otaknya.
“Yang Mulia, Anda tidak berniat menjual atau menggunakan tubuh naga ini sebagai senjata, kan?" Rhea berbisik.
“Hmm, tidak?" balas Azz dengan suara bingung. “Kenapa? Apa guru berniat melakukannya? Silakan saja, tapi guru harus izin pada naga kecil itu."
“...Jangan melakukannya." Rhea mengerutkan keningnya, menyingkirkan pikiran liarnya dan dengan lesu berkata, “Ayo pulang, lelah."
“Baiklah, tapi biarkan naga kecil menyimpan jasad ibunya dengan benar." Permintaan putra mahkota dianggukkan oleh naga kecil itu.
Rhea merasakan naga itu membalik tubuhnya, membelakangi dirinya, tentu saja masih dalam pelukannya. Kemudian dia melihatnya membuka mulut, dan api putih pun keluar.
Api putih memancarkan hawa panas, menutup seluruh tubuh ibu naga. Setelah beberapa saat, ketika api lenyap, tubuh naga dewasa itu juga lenyap.
Rhea baru menyadari bahwa kekuatan naga itu hampir mirip dengan inventaris yang diinginkannya!
Memang bukan jenis benda seperti yang diinginkannya, namun baginya sudah lebih dari cukup memuaskan keingintahuannya.
“Fungsi api putih panas menyedot ke ruang kosong buatan, kemudian api putih dingin mengeluarkan benda dari sana, benar begitu?”
Azz menanyai naga kecil itu dengan mata menyipit, yang dalam penafsiran Rhea hanya untuk mengonfirmasi pendapatnya.
“Benar!" Naga kecil itu menjawab cukup keras dan tajam, kemudian memeluk Rhea dengan keempat kakinya. “Memangnya kenapa? Ada yang kau inginkan?"
“Ini hanya pertanyaan santai..." Suara Azz terdengar rendah dan pelan.
“Aku tidak percaya! Wajahmu mencurigakan dan terlihat jahat!"
Azz menutup mulutnya, membeku.
Diam-diam Rhea menutup mulutnya untuk menahan tawa. Setelah mendapat pelototan tajam dari seseorang, ia berhenti.
“Naga kecil, sepertinya kamu salah paham dengannya." Rhea menepuk dahi Azz ringan. Mantra ilusinya pun runtuh. Azz kembali ke penampilan aslinya, seorang bocah sepuluh tahun bermata ungu yang cantik.
“Ini dia wujud aslinya! Bagaimana menurutmu? Masih berbahaya dan jahat?” tanya Rhea dengan penasaran.
Naga kecil itu menatap mata ungu berkilau putra mahkota, tampak terpesona. “Matanya cantik..."
“Tapi dia tetap terlihat seperti orang jahat! Banyak rahasia dan niat buruk di kedalaman matanya!”
Sungguh pendapat yang jujur, akurat, dan tanpa filter. Rhea menepuk kepala naga itu dengan senang hati.
Azz diam-diam menutup matanya, sebelum berbalik membelakangi mereka.
Tatapannya tepat berada di tempat Felix terbaring tak sadarkan diri.
“Bisa masukkan orang itu?" Azz bertanya tanpa melihat orang yang diajak bicara.
“Hmm, bisa, tapi makhluk hidup akan mati jika berada di sana terlalu lama..."
Mendengar jawaban naga kecil itu, Azz mengangguk. “Berapa lama biasanya manusia bertahan?”
“Aku tidak pernah mencobanya... mungkin setengah hari, kurasa?” Naga itu memiringkan kepala mungilnya.
“Baiklah, tidak apa-apa. Masukkan saja.”
“Tidak masalah! Serahkan padaku!" Naga itu menjawab antusias, menarik Felix dengan api putihnya.
Setelah beberapa menit, gua itu langsung kosong tanpa barang tertinggal sedikit pun. Rhea menonton naga kecil itu pindah rumah dengan begitu mudah, tanpa keengganan sedikit pun, merasa geli tetapi juga bingung.
“Kamu benar-benar mau ikut denganku?” Rhea bertanya lagi untuk memastikan.
Mata perak itu melebar mendengar pertanyaannya. “Tentu saja! Aku harus ikut dengan peri, sebelum dibawa masuk ke yayasan asuh!”
“Ibu sudah meninggal. Peri harus mengadopsiku karena telah menyelamatkanku dari penjahat!”
Naga kecil itu berseru, memasang ekspresi serius.
“Ketika melakukan kebaikan, lakukan hingga tuntas. Jangan setengah-setengah!” ajarnya dengan nada menggurui.
“...Kamu benar.” Rhea tak bisa membantah.
Naga kecil itu pun berbaring di pelukannya dengan senyum mengambang. Lalu, tiba-tiba saja ia langsung tertidur lelap.
“...”
Azz menontonnya dengan ekspresi tak diketahui, mengangguk pelan dan meliriknya seolah sedang berpikir.
“Apa yang Anda pikirkan, Yang Mulia?”
“Memikirkan cara menggunakan naga itu semaksimal mungkin agar saya tidak rugi memberinya makan.”
“Permisi? Anda bercanda, kan?”
“Saya serius. Menambah satu orang lagi yang terkena racun kerakusan membuat kas kerajaan menipis. Jika tidak segera dipikirkan, rakyat akan terkena imbasnya juga.”
“Haha.” Rhea tertawa hampa, merasa entah kenapa tersinggung.
“Saya tidak makan sebanyak itu, kan, Yang Mulia? Atau memang benar? Inikah alasan Anda mempekerjakan saya sangat keras hari ini?”
Azz tidak menjawab dan hanya meliriknya. Matanya menunjukkan sikap meremehkan.
“Oke, saya konfirmasi itu benar.” Rhea mengusap dahinya. “Sekarang ayo kembali.”
Keluar dari gua dengan sihir angin untuk kembali ke penginapan, begitu masuk kamar masing-masing, Rhea langsung tertidur dengan naga di pelukannya.
Malam itu berlalu dengan cepat dan tanpa terasa matahari sudah terbit.
Keesokan harinya, sebelum berangkat kembali ke istana, Azz menyuruh naga perak mengembalikan harta curiannya kembali ke gudang pemiliknya.
Karena kejadian itu, beritanya begitu heboh sampai tersebar ke dua kota di sebelahnya.
Setelah sarapan, kereta kuda yang disewa Azz kemarin menjemput ketiganya di depan penginapan.
Rhea, Azz, dan naga perak kecil—yang sekarang menyamar sebagai kucing putih menggunakan sihir Rhea sedang duduk berdampingan di gerbang kereta kuda.
Wajah ketiganya berkerut, tampak sedang serius memikirkan suatu hal.
“Bagaimana dengan Silver?”
“Tidak.”
“Mercury?”
“Tidak mau.”
“White?”
“Jelek.”
“Si kecil?”
“Itu bukan nama.”
Rhea mengusulkan nama-nama yang ada di pikirannya dan selalu ditolak oleh naga perak kecil itu.
Dia juga menyadari kenyataan bahwa dirinya tidak memiliki bakat dalam memberikan nama. Dengan pasrah, ia memandang putra mahkota untuk mencari pendapatnya.
“Hmm.” Azz termenung, mengetuk jari di lengannya yang terlipat dengan serius. Setelah beberapa saat hening, ia berkata,
“Bagaimana kalau Chorna? Mewakili ruang dan waktu dalam kekuatanmu. Namanya juga non-gender.”
Rhea langsung setuju dan merasa nama itu sangat cocok dan cantik, tidak seperti nama usulannya. Ia mengangguk dan memandang naga perak itu untuk mendengar pendapatnya.
“Bagus, aku suka!” Naga perak itu mengangguk, matanya berbinar-binar.
“Mulai sekarang, namaku Chorna! Chorna!” Saking gembiranya, ekornya yang kini menjadi ekor kucing putih gemuk bergerak-gerak cepat.
“Baik, Chorna. Mulai sekarang, aku akan menjadi ibu angkatmu.” Rhea mengelus bulu halus Chorna sambil tersenyum lebar.
“Ayo, panggil aku mama!”
“Pfft… Guru?” Azz menatapnya dengan tak percaya, mulutnya berkedut menahan ekspresi lain.
Jelas Rhea merasa bingung dengan sikapnya, bertanya polos, “Kenapa? Apa ada yang salah?”
Rhea menatapnya dan menyadari kenapa putra mahkota bereaksi begitu keras. Ia berkedip malu-malu.
“Saya tidak bermaksud jahat, mengaku-ngaku sebagai ibu naga,” jelasnya hati-hati. “Panggilan spesial dipercaya membuat hubungan lebih akrab. Anda juga memanggil saya guru, kan? Seperti itu.”
“Dan harus mama? Kenapa tidak memilih yang lain?” bisik Azz sinis.
“Adakah panggilan lain yang lebih baik?” Rhea menggaruk hidungnya sambil tertawa pelan. Dia benar-benar tidak berbakat dalam memberi nama.
“Aku hanya ingin memanggilnya kakak peri!”
Chorna bereaksi keras setelahnya, mengangkat tangannya yang berbulu dan memberi pendapat dengan serius.
Seketika Rhea tertawa hingga terpingkal. Sambil meremas Chorna ke pelukannya, ia berkata, “Oke, panggil saja aku kakak peri, Chorna.”
“Kakak peri, kakak peri!”
“Lagipula yang bisa memahami suaranya hanya kita, Guru,” Azz mengingatkan dengan wajah datar.
Rhea juga mengingatnya. “Benar juga, yang mereka dengar mungkin cuma meong, meong, meong…”
Demi menghindari masalah, Rhea juga mengubah suara Chorna menjadi meongan kucing. Selain mereka, tidak ada yang bisa mendengar dia bicara normal.
Putra mahkota Azz meramalkan akan ada masalah jika identitas Chorna sebagai naga diketahui publik. Lagipula, bagi masyarakat biasa, naga masihlah mitos dari legenda pendiri kekaisaran.
Rhea juga tidak bersikap keras kepala kali ini. Meskipun mencurigai pernyataan ramalan Azz yang lebih seperti tebakan terstruktur, melihat Chorna tidak keberatan, ia pun langsung menyetujuinya.
Saat Rhea merenung, Azz menghentikan pikirannya dengan membicarakan topik lain.
“Guru, ketika sampai di istana, tolong bantu murid ini berbohong pada raja,” mintanya dengan pelan.
Tubuh Rhea menegang, lalu menatapnya. “Berbohong soal kita yang keluar istana tanpa izinnya kali ini?”
Sambil cemberut, Rhea mengingat kalau putra mahkota mengatakan dia tidak meminta izin saat mengajaknya keluar ke Kota Templess kemarin.
“Jadi?” desaknya untuk melanjutkan.
“Ekhem, jadi…” Azz terdiam sebentar sambil menoleh ke arah jendela, suaranya sangat kecil seperti berbisik. “Guru bisa katakan pada raja kalau kita keluar untuk belajar sihir.”
“Maksud Anda latihan praktik sihir nyata?” Rhea menimpali dengan ekspresi penuh pengertian.
“Hmm,” gumam Azz.
“Oke, tidak masalah. Sebenarnya itulah yang gurumu ini ingin lakukan saat memikirkan alasan jika Yang Mulia Raja menanyakannya,” Rhea menjawab tanpa masalah.
“Dari awal saat Yang Mulia meminta saya menemani, pemikiran itu sudah ada. Tapi ada masalah juga jika saya berbohong seperti ini.”
“Yang Mulia, saya masih dalam masa cuti,” Rhea mengingatkannya dengan ramah. “Tahu tidak kalau ini masih hari ke-5, dan kemarin hari ke-4? Luar biasanya, saya sudah mengajak Anda keluar istana untuk latihan praktik.”
“Nanti siapa yang disalahkan? Saya atau Anda?” Rhea melempar pertanyaan dengan frustrasi.
“Jika itu ayah… semua bakal kena imbasnya,” Azz menjawab lemah.
Namun belum sempat Rhea mengusulkan untuk membuat opsi lain, Azz menambahkan dengan percaya diri.
“Jangan khawatir, saya sudah memperhitungkan plus minusnya dan ini opsi yang paling aman dan menguntungkan,” tegasnya.
Matanya bersinar ketika saling berhadapan, senyum muncul di wajahnya. “Jika guru bermain dengan baik, kita bakal sama-sama untung!”
Rhea memutar matanya dengan kesal, lalu menggosok kepala hitam Azz sedikit keras.
“Oke, setuju!”
Rasanya menyebalkan memiliki murid yang lebih pintar dan dewasa daripada dirinya. Tetapi kelebihannya, ia tidak perlu memutar otak sendiri untuk menyelesaikan masalah.
Untuk kasus putra mahkota Azz, Rhea sudah lama mendeteksi keanehannya sedari pertemuan pertama.
Sekarang dia masih menahan diri untuk tidak mengulik rahasia kecil muridnya, tetapi bila ada kesempatan yang pas atau dirinya tidak malas, Rhea tidak akan ragu lagi.
Rhea menarik kembali tangannya, tersenyum saat melihatnya memperbaiki rambut hitamnya yang berantakan dan fokus pada perjalanan.
Chorna menggeram dalam pelukannya, matanya sudah menutup. Rhea mengelus bulu-bulu itu.
Dalam perjalanan pulang ini juga, ia memakai mantra penyembuhan untuk meredakan nyeri punggungnya dua kali lipat dari perjalanan pergi.
Di masa depan, ia harus memodifikasi kereta kudanya sendiri jika berminat melaksanakan keinginannya berkeliling dunia.
Sekarang, dia harus menyelesaikan masalah yang menumpuk dengan benar.