Satu malam dalam keadaan mabuk berat, Permana merusak hidup seorang wanita yang bahkan tak ia kenal.
Wanita itu—Aaliyah, putri dari orang terpandang di kota London. Ia merasa bersalah sudah menodai wanita itu, sampai kata - kata yang di ucapkan oleh Aaliyah pada malam itu masih terus terngiang di kepala Praman.
“Bertaubatlah !! Kasihani orang tua mu. Aku tahu siapa dirimu sebenarnya.”
Sejak saat kejadian itu, Pramana. Merasa bersalah pada Aaliyah. meretakkan cintanya pada sang kekasih, mengguncang keyakinannya, dan menyeretnya pada pertanyaan terbesar:
mampukah ia menebus dosanya selama ini ia lakukan atau justru tenggelam dalam masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Millea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Ke esokan hari ketika Pramana sedang menghabiskan waktu liburnya menikmati salju yang turun di pagi ini. Dengan secangkir coklat hangat di tangannya.
Ting
Suara notifikasi dari ponselnya memecahkan kesunyian pagi.
Pramana menatap layar ponselnya yang masih menyala. Pesan dari teman club pelanginya itu lagi.
[Bro, malam ini ada Privat Party di tempat biasa, jam sembilan. Kita tunggu ya. Jangan nolak lagi.]
Langsung saja Pramana memencet tombol blokir pada nomor temannya itu. Jantungnya berdetak tidak beraturan. Entah kenapa pesan sesingkat itu terasa seperti tarikan kuat yang bisa menyeretnya kembali ke masa lalu—ke tempat gelap yang ingin ia tinggalkan.
Padahal sudah sebagian dari mereka menjauhi Pramana. Dan tak mau berhubungan dengan Pramana lagi, karena tahu pria itu akan bertobat dan tidak akan kembali kejalan yang sesat.
Pramana memejamkan mata sambil menghembuskan napas panjang. “Aku nggak mau balik lagi ke sana… aku nggak mau…”
Ia berdiri dari sofa, melangkah menuju kamar mandi, lalu mengambil air wudhu. Setiap tetes air yang menyentuh kulitnya seperti membersihkan sedikit demi sedikit rasa takut dan gelisah yang menumpuk di dadanya.
Sudah beberapa hari ini Pramana rajin menjalankan sholat Dhuha di sela - sela waktu senggang nya. Tidak hanya Dhuha, sholat tahajjud dan Sholat tobat pun Pramana lakukan.
Selesai berwudhu, ia menggelar sajadah. Gerakan sholat yang ia lakukan masih kaku, tapi pagi ini hatinya terasa jauh lebih mantap dibanding beberapa hari lalu.
“Ya Allah… tolong jaga hati ini. Jangan biarkan aku kembali ke jalan yang salah,” bisiknya sambil menahan air mata.
Usai sholat, tubuh Pramana terasa lebih ringan. Tapi pikirannya masih berkecamuk. Ia rindu ketenangan yang dulu pernah ia rasakan ketika hidupnya masih lurus—sebelum ia mengenal teman - teman club orientasi seksualnya.
Pramana berjalan menuju sofa yang berada di dekat jendela kamarnya. Ia duduk disana sambil membaca buku tentang perjalanan tobat seorang berandalan.
Tapi baru beberapa menit dirinya fokus membaca, rasa mual tiba-tiba menyerang. Perutnya bergejolak hebat.
“Ya ampun… kenapa masih mual lagi?” keluhnya sambil buru-buru berlari ke kamar mandi.
Setelah beberapa menit berjongkok di depan kloset, ia membersihkan sudut mulutnya menggunakan tangan sebelum ia bersihkan dengan air.
“apa seperti ini rasanya orang hamil ?, aku cukup tersiksa dengan rasa mual ini. Tapi tak apa, mungkin ini hukuman untuk ku, " gumamnya sambil berkaca di cermin.
Setiap kali dirinya merasa mual dan muntah. Pikiran Pramana langsung tertuju pada Aaliyah. Apa wanita itu mengalami hal yang sama seperti dirinya juga ? Kalo iya, Pramana sungguh merasa bersalah di buatnya.
“Ya Allah… jangan membuat wanita itu tersiksa dengan kehamilan nya… cukup berikan rasa itu pada ku saja.”
Pramana menatap wajahnya yang tampak jauh lebih pucat dari biasanya. Lingkaran hitam di bawah matanya sangat jelas. Tubuhnya juga sudah mulai sedikit mengurus.
Ia kembali ke kamar dan menarik ponselnya. Ia membuka pesan sang Ibu yang baru saja masuk.
[ Mas, Ibu belum dengar kabar apa pun dari kamu seminggu ini. Kamu baik - baik saja kan ? Kamu kerja sampai larut lagi? Jangan lupa makan. Ibu sayang kamu.]
Pramana tersenyum getir. Ibunya tidak tahu apa pun tentang dirinya selama ini. Tidak tahu tentang seberapa b*jing*n dan menjijikkannya putra kesayangannya itu.
Ia hanya membalas singkat.
“Iya, Bu. Aku udah makan, dan kondisi ku baik - baik aja. Ibu dan ayah hati-hati ya di rumah.”
Setelah menekan send, Pramana memeluk bantal erat-erat. “Bu… kalau Ibu tahu semua ini, apa Ibu dan Ayah masih bangga sama aku…”
Air matanya mengalir tanpa bisa ditahan. Ia memejamkan mata lagi. Pikirannya kembali menari-nari ke bayangan Aaliyah malam itu. Wajah ketakutan dan sedih Aaliyah masih melekat di pikirannya. Pramana selalu berdoa semoga wanita itu baik - baik saja disana, dan mulai kembali tersenyum seperti dulu lagi.
“Semoga kamu baik-baik saja di sana…”
Pramana berulang kali membolak-balik posisi tidurnya, tapi tetap tidak bisa tidur. Ia membuka mata, menatap langit-langit kamar.
“Aku harus keluar dari lingkungan itu. Harus…”
" Kalo aku terus disini. Bisa - bisa mereka terus meneror ku untuk datang ke pesta mereka. "
Ia membuka ponselnya lagi dan membuka aplikasi tiket penerbangan. Pramana akan segera mengurus ke pulangnya dari sekarang. Baru setelah itu ia akan mengurus serut pengunduran dirinya di perusahaan.
Tak apa ia meninggal jabatan yang sulit ia dapat kan itu. Ia bisa mencari pekerjaannya kembali di Indonesia nantinya.
“Sudah." Ucap Pramana sedikit senang telah melakukan transaksi pembelian tiket pesawat menuju Jakarta, untuk dua bulan lagi.
Ia sengaja membeli tiket promo hari Natal. Supaya lebih murah dan mehat biaya. Tiket London ke Jakarta cukup mahal. Maka dari itu Pramana sengaja membeli tiket promo Natal dan tahun baru untuk kepulangannya dua balan lagi. Kalo beli dadakan harga tiket pesawatnya cukup mahal. Bukannya pelit atau apa, kalo ada yang promo kenapa harus harga setandar, kan rugi.
" Ya, allah semoga ini jalan terbaik dari mu. Untuk perjalanan tobat ku menuju yang lebih baik lagi.”
Seorang yang memiliki orientasi seksual. Memang tidak mudah untuk kembali normal seperti dulu. Itu bukan sebuah penyakit yang bisa di sembuhkan dengan obat atau dengan berobat pada dokter sekali pun.
Cara satu - satunya seorang homoseksual supaya bisa sembuh dengan cara, ya dari dirinya sendiri. Kalo dirinya tak ingin bertobat dan orang di sekitarnya tak membantu untuk dia kembali ke jalan yang benar. Pasti akan sulit dan susah untuk dia keluar dari lingkaran LGBT tersebut.
Ada yang dinamakan Proses Pertobatan dan Perubahan:
- Proses ini tidak instan dan penuh tantangan. Langkah-langkah yang umum dilakukan meliputi:Taubat Nasuha: Niat tulus untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Memutus Lingkaran Sosial Lama: Berhenti berkomunikasi dengan teman-teman dari komunitas LGBT untuk menghindari godaan kembali terjerumus.
Mencari Bimbingan: Bergabung dengan komunitas atau mencari pembimbing rohani (seperti ustadz atau pastor) yang dapat memberikan arahan dan dukungan.
Meningkatkan Ibadah: Memperbanyak ibadah, membaca kitab suci, dan memperkuat hubungan spiritual dengan Tuhan.
Menghindari Pemicu: Berhenti menonton konten pornografi atau menghindari situasi yang dapat memicu hasrat sesama jenis.
Pemulihan dan Hidup Baru: Tujuan akhir dari perjalanan ini adalah kembali pada "fitrah" (kodrat) dan menjalani hidup sesuai dengan ajaran agama, yang dalam banyak kasus termasuk menikah dengan lawan jenis dan membangun keluarga.
Ini yang paling penting, Dukungan Eksternal: Peran dukungan dari keluarga, teman, dan organisasi keagamaan sangat vital dalam membantu individu melewati masa-masa sulit ini.
Pramana akan menjelakan itu semua nantinya. Memang tidak mudah dan instan kaya mie. Tapi Pramana sudah mendapatkan titik balik dari kehidupannya.
Kalo Pramana terus disini, club Boti-nya itu akan terus mengganggu nya terus menerus. Lebih baik ia pindah dan mengakui semua kesalahannya pada kedua orang tuanya.
Bersambung...