Di dunia di mana Peringkat Bakat adalah hukum tertinggi, Lu Chen hanyalah sebutir debu. Saat Upacara Penentuan Takdir, dia dipermalukan di depan seluruh sekte karena hanya memiliki bakat F-Rank dengan afinitas spiritual nol. Dunia mencapnya sebagai sampah, namun mereka tidak tahu bahwa Lu Chen menyembunyikan sistem SSS+ "Omnipotence Mask" yang mampu menutupi keberadaan aslinya dari mata dewa sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Badai di Lembah Sunyi
Udara pagi di Lembah Binatang Buas biasanya hanya dihiasi oleh kabut tipis dan bau amis yang khas. Namun hari ini, suasana terasa berbeda. Dingin yang mencekam menusuk hingga ke tulang, bukan karena cuaca, melainkan karena aura membunuh yang terpancar dari pintu masuk Blok A.
Lu Chen sedang berdiri di dekat sel Blok C, memegang sapu bambunya dengan gerakan yang sengaja diperlambat, meniru kelelahan seorang manusia biasa yang kurang tidur. Di bahunya, Ignis meringkuk diam, menyamarkan keberadaannya hingga menjadi tak lebih dari sekadar titik hitam tak bernyawa di atas kain abu-abu.
"DI MANA DIA?!"
Sebuah teriakan melengking memecah kesunyian lembah. Itu adalah suara Lin Xinyue. Tak lama kemudian, gerbang Blok A terlempar hancur hingga berkeping-keping. Lin Xinyue melangkah keluar dengan wajah pucat pasi yang kini memerah karena amarah. Di tangannya, dia memegang bola kristal biru yang telah redup—inti palsu buatan sistem yang mulai retak karena kehilangan stabilitas energinya.
Penjaga Li, yang baru saja terbangun dengan kepala pening akibat pengaruh sisa penenang, berlari tertatih-tatih mendekati sang dewi sekte dalam tersebut.
"Nona Muda... ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Penjaga Li dengan suara bergetar.
"Kau tanya apa yang terjadi?!" Lin Xinyue melemparkan bola kristal itu ke kaki Penjaga Li. "Phoenix Es itu hilang! Rantai Besi Penghisap Jiwa hancur menjadi debu, dan sampah ini... benda ini hanyalah replika murah yang tidak berisi energi sama sekali!"
Mata Penjaga Li membelalak hampir keluar dari kelopak matanya. "Mustahil! Segel di pintu itu masih utuh tadi malam! Tidak ada orang yang bisa masuk tanpa memicu alarm sekte!"
"Itulah masalahnya, bodoh!" Lin Xinyue menarik pedang tipisnya, ujungnya berpendar cahaya es yang mematikan. "Jika tidak ada tanda-tanda paksaan dari luar, artinya pelakunya adalah orang dalam. Seseorang yang tahu celah di lembah ini."
Pandangan tajam Lin Xinyue mulai menyapu seluruh area. Di kejauhan, para pelayan dan murid rendah lainnya mulai berkumpul dengan wajah ketakutan. Lu Chen tetap pada posisinya, menundukkan kepala sedalam mungkin.
[Ding! Peringatan Deteksi.]
[Lin Xinyue sedang menggunakan 'Sense Spiritual' tingkat menengah.]
[Sistem: Mengaktifkan 'Dinding Kosong'. Status Anda akan terlihat sebagai 'Manusia Tanpa Energi' di matanya.]
"Coba saja, Gadis Kecil," gerutu Ignis di dalam pikiran Lu Chen. "Bahkan leluhurmu pun tidak akan bisa melihat menembus kabut yang diciptakan oleh sistem ini. Tapi Lu Chen, berhati-hatilah, dia sedang dalam mode gila. Jika dia tidak menemukan pelaku, dia mungkin akan membantai semua orang di sini untuk melampiaskan emosinya."
Lu Chen mengepalkan tangan pada gagang sapunya. "Aku tahu."
Lin Xinyue berjalan perlahan melewati barisan pelayan. Setiap langkahnya meninggalkan jejak embun beku di tanah. Dia berhenti tepat di depan Lu Chen. Ujung pedangnya yang dingin menyentuh dagu Lu Chen, memaksanya untuk mendongak dan menatap mata biru es sang jenius.
"Kau," desis Lin Xinyue. "Kau yang kemarin aku temui di depan sel itu. Apa yang kau lakukan tadi malam?"
Lu Chen mengatur napasnya agar terdengar pendek dan gemetar, seperti orang yang hampir mati ketakutan. "N-nona Muda... saya... saya hanya tidur di gubuk. Penatua Li memerintahkan saya membersihkan Blok C sampai larut malam... setelah itu saya langsung pingsan karena kelelahan. Saya bersumpah, saya tidak tahu apa-apa tentang burung itu!"
"Bohong!" Lin Xinyue menekan pedangnya, sedikit menggores kulit leher Lu Chen. Setetes darah merah muncul.
Namun, saat darah itu menyentuh pedang Lin Xinyue, sesuatu yang aneh terjadi. Bukannya membeku karena energi es pedang itu, darah Lu Chen justru menguap dengan suara desis halus, seolah-olah darah itu mengandung panas yang tersembunyi. Lin Xinyue mengernyitkan dahi. Dia merasakan getaran aneh sesaat, namun sistem Lu Chen segera menutup celah tersebut.
[Peringatan! Kontak Fisik Terdeteksi.]
[Menyamarkan Esensi Darah Naga... Berhasil.]
"Hentikan, Xinyue!"
Sesosok pria paruh baya dengan jubah ungu turun dari langit, mendarat dengan anggun di tengah kerumunan. Dia adalah Penatua Han, ayah dari Han Wei dan salah satu penegak hukum sekte.
"Penatua Han, Phoenix itu dicuri!" lapor Lin Xinyue dengan nada frustrasi.
Penatua Han melihat ke sekeliling, lalu menatap Lu Chen dengan pandangan menghina. "Dia? Dia hanyalah sampah F-Rank dengan afinitas nol. Jangankan mencuri Phoenix Es, mematahkan satu rantai Besi Penghisap Jiwa pun membutuhkan kekuatan Tahap Inti Emas. Jangan buang energimu pada semut ini."
Lu Chen merasa sedikit geli mendengar kata 'semut' digunakan sebagai hinaan, sementara Raja Naga Merah yang asli sedang duduk manis di bahunya.
"Dia memanggilmu semut, Nak. Dan dia memanggilku sampah," Ignis tertawa dalam hati. "Ironi yang sangat indah. Haruskah aku meludahkan sedikit api ke jenggotnya yang konyol itu?"
"Jangan sekarang, Ignis. Biarkan mereka berdebat," jawab Lu Chen.
Penatua Han memeriksa sel Blok A dengan teliti. Dia mengambil sejumput debu hitam yang tersisa dari rantai yang dimakan Ignis. Ekspresinya berubah menjadi sangat serius. "Guratannya... ini bukan dipotong oleh senjata. Ini seolah-olah... dikunyah oleh sesuatu yang sangat kuat. Dan tidak ada sisa energi spiritual di sini. Benar-benar hampa."
"Apa maksudmu, Penatua?" tanya Lin Xinyue.
"Mungkin bukan manusia pelakunya," gumam Penatua Han. "Ada rumor tentang 'Binatang Penelan Energi' yang berkeliaran di pegunungan akhir-akhir ini. Mungkin makhluk itu menyelinap masuk, memakan rantai tersebut, dan membawa Phoenix itu pergi untuk dimangsa. Phoenix Es yang terluka adalah makanan terbaik bagi monster seperti itu."
Mendengar penjelasan itu, Lin Xinyue tampak sedikit goyah. Penjelasan tentang monster liar jauh lebih masuk akal daripada seorang pelayan lemah yang melakukan hal mustahil tersebut.
"Tapi tetap saja, penjagaan di sini sangat lemah!" Lin Xinyue menoleh ke arah Penjaga Li dan para pelayan. "Mulai hari ini, setiap pelayan di lembah ini harus bekerja dua kali lipat lebih keras! Dan kau, F-Rank..." dia menunjuk Lu Chen, "karena kau yang terakhir terlihat di sana, kau akan bertanggung jawab membersihkan seluruh Blok A dan B sendirian setiap malam. Jika aku menemukan satu pun bulu Phoenix yang tertinggal, nyawamu adalah taruhannya!"
Lin Xinyue dan Penatua Han akhirnya pergi dengan amarah yang masih membara. Para pelayan lainnya menatap Lu Chen dengan rasa kasihan sekaligus ejekan. Mereka menganggap Lu Chen sangat sial karena harus menanggung beban tugas yang begitu berat.
Namun, di balik kepalanya yang tertunduk, Lu Chen tersenyum tipis.
"Membersihkan Blok A dan B sendirian setiap malam?" bisik Lu Chen pada Ignis. "Itu artinya kita punya akses penuh ke sisa-sisa energi di sana tanpa ada yang mengganggu."
"Kesempatan yang luar biasa, Manusia," jawab Ignis, antena merahnya berkilat kegirangan. "Mereka pikir mereka menghukummu, padahal mereka baru saja memberimu kunci menuju gudang harta karun. Ayo, aku merasa lapar lagi. Logam di Blok B sepertinya punya rasa yang menarik."
Lu Chen kembali memegang sapunya. Badai pagi itu telah berlalu, namun di dalam dirinya, api kekuatan SSS+ baru saja mendapatkan bahan bakar yang lebih besar.