Alek seorang remaja SMA nakal beragama kristen sering bertanya soal kebenaran tentang hidup ini hingga datang seorang yang menjadi jawaban bagi Alek, Masya Khansa azza Nabila menjadi awal perubahan kehidupan Alek cahaya di kegelapan,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon abangku_ss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22
BAB 22: Dinginnya Dinding Beton
Bunyi dentum pintu besi Blok B yang menutup di belakang Alek adalah suara yang menandai akhir dari seluruh identitasnya. Di luar sana, dia adalah Alexander Panjaitan, anggota Venom Crew yang paling ditakuti—sosok yang dikenal memiliki pukulan paling dingin dan tak kenal ampun. Di sini, dia hanyalah sebuah angka yang tercatat dalam buku kusam di meja registrasi. Dia adalah nomor tahanan yang tidak memiliki suara, tidak memiliki privasi, dan tidak memiliki perlindungan.
Langkah kakinya yang hanya beralaskan sandal jepit plastik murah bergema di koridor panjang yang lembap. Aroma tempat ini segera menyerang indra penciumannya—campuran antara asap rokok murahan, bau deterjen sisa cucian yang tidak kering, dan aroma manusia yang berjejalan dalam ruang sempit yang pengap. Cahaya lampu neon di langit-langit berkedip-kedip, menciptakan bayangan jeruji yang tampak seperti jari-jari hitam yang siap mencengkeram siapa saja yang lewat.
"Sel nomor tiga belas," bentak seorang petugas sambil mengayunkan kunci-kunci besar yang berdenting nyaring. "Masuk!"
Alek melangkah masuk. Ruangan itu berukuran tak lebih dari tiga kali empat meter, namun di dalamnya sudah ada enam orang lelaki dengan wajah-wajah yang tampak seperti peta penderitaan dan kekerasan. Sebagian besar dari mereka bertelanjang dada, memamerkan tato yang memudar dimakan usia dan kelembapan. Saat Alek masuk, semua mata tertuju padanya. Itu bukan tatapan menyambut; itu adalah tatapan predator yang sedang mengukur kekuatan mangsa baru.
Alek tidak bicara. Dia meletakkan bungkusan plastik berisi pakaian ganti di sudut ruangan yang paling kosong—dekat dengan lubang kakus yang baunya menusuk tajam.
"Woi, anak baru," suara parau dari seorang pria berbadan tambun dengan luka parut di pelipisnya memecah kesunyian. "Kasus apa lo? Muka lo kayak anak rumahan yang salah masuk kandang."
Alek menarik napas dalam, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. "Pasal tiga ratus lima puluh satu. Penganiayaan yang menyebabkan kematian," jawabnya singkat, suaranya datar, tanpa nada menantang maupun takut.
Ruangan itu hening sejenak. "Penganiayaan sampai mati" adalah label yang cukup "dihargai" di dunia penjara, namun penampilan Alek yang tenang justru membuat mereka curiga.
"Membunuh, huh?" Pria itu berdiri, mendekati Alek. "Gue dengar selentingan dari anak baru yang masuk tadi pagi. Katanya lo itu Alexander? Anak Venom Crew yang katanya paling ditakuti di jalanan? Yang kalau udah mukul orang nggak bakal berhenti sebelum lawannya pingsan?"
Tawa kering pecah di dalam sel itu. Alek tetap diam. Dia teringat pesan pengacaranya: Jangan cari masalah, tapi jangan biarkan mereka menginjakmu. Namun, di sisi lain, ada sesuatu di dalam diri Alek yang merasa bahwa dia pantas mendapatkan perlakuan ini. Setiap hinaan, dia terima sebagai bagian dari cicilan dosa atas nyawa Bagas yang hilang.
Malam pertama adalah yang paling berat. Di penjara, tidur adalah kemewahan. Alek harus berbagi lantai semen dengan dua narapidana lain. Dinginnya semen merambat masuk ke dalam tulang-tulangnya. Setiap kali dia memejamkan mata, wajah Bagas yang pucat di ruang operator pesantren kembali muncul. Dia melihat darah, dia melihat Khansa menatap nya, dan dia merasakan getaran saat tubuh Bagas menghantam rak besi.
Alek terjaga hampir sepanjang malam, menatap langit-langit sel yang penuh dengan bercak jamur. Dia menyadari bahwa mulai sekarang, hidupnya adalah tentang bertahan. Bukan bertahan dengan kepalan tangan yang dulu membuatnya ditakuti, tapi bertahan agar jiwanya tidak ikut membusuk di dalam kotak beton ini.
Keesokan harinya, ujian yang sebenarnya datang di lapangan tengah saat jam istirahat. Di penjara, reputasi seorang "anggota geng yang ditakuti" adalah magnet bagi mereka yang ingin membuktikan diri sebagai yang lebih kuat.
Saat Alek sedang duduk di pinggir lapangan, tiga orang narapidana menghampirinya. Salah satunya adalah pemuda bertato macan di lehernya.
"Jadi ini orangnya?" tanya si Macan sambil meludah di depan kaki Alek. "Alexander si 'Mesin Tempur' Venom Crew? Katanya tangan lo udah banyak bikin orang masuk rumah sakit. Tapi kenapa sekarang lo diam kayak domba di depan jagal?"
Alek tidak bereaksi. Dia tetap menatap lurus ke arah pagar kawat.
"Gue bicara sama lo, anjing!" si Macan menendang sandal Alek hingga terlempar jauh. "Gue pengen lihat, apa benar pukulan lo sedingin kata orang-orang di luar, atau lo cuma pengecut yang berani karena ada geng di belakang lo?"
Kata-kata itu memicu sesuatu di dalam dada Alek. Ada percikan api amarah yang dulu sering membuatnya gelap mata. Tangannya mengepal secara otomatis. Dia tahu jika dia berdiri sekarang dan melayangkan pukulan trademark-nya ke arah ulu hati pria itu, dia bisa memenangkan rasa hormat secara instan di lapangan ini.
Namun, bayangan Khansa yang sedang bersujud di sajadah muncul di benaknya. Dia teringat janji pada dirinya sendiri: Aku akan berubah.
Alek melepaskan kepalan tangannya. Dia menarik napas panjang, lalu berdiri perlahan. Dia tidak membalas makian itu. Dia hanya berjalan menuju sandalnya, mengambilnya, dan berniat kembali ke sel.
"Heh! Jangan lari lo!" si Macan merasa terhina. Dia mengejar Alek dan melayangkan sebuah pukulan keras ke arah perut Alek.
BUGH!
Alek tersungkur. Rasa sakit yang tajam menusuk ulu hatinya. Dia berlutut di tanah berdebu, terbatuk-batuk. Namun, dia tidak berdiri untuk membalas. Dia tetap berlutut, menundukkan kepala.
"Ayo balas! Mana orang yang ditakuti semua orang itu? Mana nyali lo?!" teriak si Macan sambil melayangkan tendangan ke bahu Alek.
Alek terjatuh ke samping. Debu lapangan menempel di wajahnya yang berkeringat. Dia merasakan bibirnya pecah. Narapidana lain mulai berkerumun.
Alek bangkit dengan susah payah. Dia menyeka darah di bibirnya. Dia menatap si Macan, bukan dengan tatapan penuh kebencian, tapi dengan tatapan yang kosong, hampir seperti rasa kasihan.
"Pukul saja lagi," kata Alek dengan suara tenang yang bergetar. "Tapi aku tidak akan berkelahi lagi. Alexander yang kamu cari sudah mati di malam kejadian itu."
Pernyataan itu membuat lapangan menjadi sunyi. Di tempat di mana kekerasan adalah mata uang utama, penolakan Alek untuk menggunakan "taringnya" adalah sesuatu yang asing. Si Macan tampak bingung. Dia mengangkat tangannya lagi, namun melihat ketenangan di mata Alek yang tidak berkedip, dia menurunkan tangannya dengan kesal.
"Sampah. Ternyata lo cuma pecundang yang udah kehilangan nyali," maki si Macan sebelum pergi.
Alek berjalan kembali ke bloknya dengan langkah gontai. Bahunya sakit, perutnya melilit. Namun, saat dia melewati cermin retak di kamar mandi umum, dia melihat pantulan dirinya sendiri. Untuk pertama kalinya, dia tidak melihat anggota geng yang haus darah. Dia melihat seorang pemuda yang sedang belajar untuk menaklukkan dirinya sendiri.
Dia membasuh wajahnya dengan air dingin. Setiap tetesan air terasa seperti pembersihan. Dia sadar, jika dia membalas tadi, dia hanya akan memperkuat reputasi "Alexander yang ditakuti". Tapi hari ini, dia memilih untuk menjadi Alexander yang diampuni.
Dia duduk di sudut selnya, mengambil secarik kertas kecil dan sebuah potongan pensil pendek. Di sana, ia menuliskan satu baris kalimat:
Hari ke-2: Aku tidak membalas. Ternyata jauh lebih sulit menahan kepalan tangan daripada melayangkannya.
Alek melipat kertas itu kecil-kecil. Itu adalah kemenangan pertamanya di balik jeruji besi.
Dua minggu pertama di Lapas terasa seperti selamanya. Luka lebam di perut Alek akibat pukulan si Macan sudah mulai menguning, pertanda sembuh, namun luka di hatinya justru semakin menganga. Setiap pagi, dia terbangun oleh suara nyaring peluit petugas, dan setiap pagi pula dia harus menelan kenyataan pahit bahwa dunia luar telah melanjut tanpa dirinya.
Siang itu, untuk pertama kalinya, nomor tahanan Alek dipanggil untuk menuju ruang besuk. Jantungnya berdegup kencang. Dalam benaknya, dia berharap melihat sosok tinggi tegap ayahnya, Pendeta Daniel, berdiri di sana dengan Alkitab di tangan, siap memaafkannya. Namun, saat dia duduk di depan kaca pembatas yang buram, hanya ada satu sosok yang menunggunya.
Ibunya.
Wanita itu tampak jauh lebih kurus. Rambutnya yang biasa disanggul rapi kini tampak berantakan di balik kerudung tipis. Saat Alek mengangkat gagang telepon, ibunya langsung menempelkan telapak tangannya ke kaca. Alek membalasnya, menempelkan telapak tangannya yang kasar ke arah tangan ibunya.
"Alek... anakku," suara ibunya pecah di seberang kabel.
"Maaf, Bu. Maaf Alek bikin Ibu begini," bisik Alek. Tenggorokannya terasa tersumbat.
Mereka terdiam lama, hanya saling menatap melalui kaca yang dingin. Ibunya bercerita tentang rumah yang kini terasa sangat luas dan sepi. Dia bercerita tentang masakan kesukaan Alek yang tidak pernah lagi dia masak karena tidak tega memakannya sendirian. Namun, Alek menunggu satu nama yang tak kunjung disebut.
"Ayah... mana, Bu?" tanya Alek akhirnya, suaranya nyaris hilang.
Ibunya tertunduk. Air matanya jatuh mengenai gagang telepon. "Ayahmu... dia belum siap, Alek. Gereja sedang sulit. Banyak jemaat yang pergi. Ayahmu menghabiskan seluruh waktunya mengunci diri di ruang kerja. Dia bilang... dia butuh waktu untuk bicara dengan Tuhan sebelum bisa bicara denganmu."
Alek memejamkan mata. Rasa sakit itu lebih tajam daripada tendangan si Macan di lapangan. Ayahnya, sang pembawa pesan kasih Tuhan, justru menjadi orang pertama yang menutup pintu maaf baginya.
"Bilang pada Ayah," kata Alek dengan suara yang tiba-tiba mengeras karena menahan tangis, "Alek tidak apa-apa jika dia tidak datang. Tapi tolong, jaga Ibu untuk Alek."
Setelah kunjungan yang menyesakkan itu, Alek tidak kembali ke selnya. Dia meminta izin untuk pergi ke perpustakaan kecil di ujung blok—satu-satunya tempat di mana dia bisa mendengar suara pikirannya sendiri.
Di sana, di pojok ruangan yang dipenuhi buku-buku berdebu, duduk seorang pria tua dengan janggut putih yang terawat rapi. Pria itu mengenakan baju koko putih yang sangat bersih, kontras dengan seragam narapidana lainnya yang kumal. Namanya adalah Syekh Mansyur.
Alek sudah mendengar desas-desus tentangnya. Syekh Mansyur adalah seorang ulama besar yang dijebloskan ke penjara karena fitnah politik dan tuduhan palsu mengenai aliran sesat yang disebarkan oleh musuh-musuhnya. Meskipun mengenakan atribut narapidana, Syekh Mansyur diperlakukan seperti raja oleh para penghuni penjara. Bahkan narapidana paling beringas sekalipun akan menundukkan kepala saat berpapasan dengannya.
Alek duduk di meja seberang Syekh Mansyur, berpura-pura membaca sebuah buku tua. Namun, pandangannya terus teralih pada ketenangan di wajah pria tua itu. Bagaimana bisa seseorang yang difitnah dan kehilangan segalanya tetap bisa tersenyum setenang itu?
"Membaca buku dengan terbalik tidak akan memberikanmu jawaban, Anak Muda," suara Syekh Mansyur lembut, namun berwibawa.
Alek tersentak, menyadari buku di tangannya memang terbalik. Dia merasa malu dan hendak berdiri untuk pergi, namun tangan Syekh Mansyur yang keriput menahannya dengan isyarat halus.
"Duduklah. Wajahmu bicara lebih banyak daripada buku itu," ujar Syekh Mansyur. Matanya yang teduh menatap lebam di sudut bibir Alek. "Pukulan yang kau terima di lapangan itu... kenapa tidak kau balas? Aku melihatnya dari kejauhan."
Alek terdiam sebentar, lalu menjawab, "Jika aku membalas, aku tidak ada bedanya dengan alasan kenapa aku berada di sini, Syekh."
Syekh Mansyur mengangguk perlahan. "Engkau belajar hal yang paling sulit di dunia ini: menaklukkan diri sendiri. Banyak orang bisa merobohkan tembok, tapi sedikit yang bisa merobohkan egonya."
Alek memberanikan diri bertanya, "Syekh... semua orang bilang Anda tidak bersalah. Bahwa Anda difitnah. Bagaimana Anda bisa betah di sini? Bagaimana Anda tidak marah pada orang-orang yang menjebloskan Anda?"
Syekh Mansyur tersenyum tipis. "Penjara ini, bagi orang yang bersalah, adalah hukuman. Tapi bagi orang yang beriman, ini adalah khalwat—tempat menyepi untuk lebih dekat dengan Sang Pencipta. Mereka bisa mengurung tubuhku, tapi mereka tidak bisa mengurung doaku. Fitnah itu seperti debu, Anak Muda. Jika kau tiup, dia akan terbang. Kebenaran adalah batu; dia tetap diam di sana meski ditimbun tanah sedalam apa pun."
Alek terpaku. Kata-kata itu terasa seperti air dingin di tengah padang pasir jiwanya yang kering. Selama ini dia merasa dunia tidak adil, merasa ayahnya tidak adil.
"Namamu Alexander, bukan?" tanya Syekh Mansyur. Alek mengangguk. "Jangan biarkan jeruji ini mendikte siapa dirimu. Kau berada di sini karena sebuah kesalahan, tapi kau tidak harus keluar dari sini sebagai seorang penjahat. Tuhan seringkali menempatkan kita di tempat paling gelap agar kita bisa melihat cahaya yang paling redup."
Alek merasakan sesuatu yang hangat merayap di dadanya. Perasaan yang sama saat dia melihat Khansa berdoa. Meskipun Syekh Mansyur berbicara tentang Tuhan dengan cara yang berbeda dari yang diajarkan ayahnya, esensinya terasa sama: Pengampunan.
"Aku bukan Muslim, Syekh," ujar Alek pelan, seolah ingin memperingatkan.
Syekh Mansyur terkekeh pelan. "Kebaikan tidak punya agama, Alexander. Air yang kau minum di penjara ini tidak bertanya apa keyakinanmu sebelum dia menghilangkan dahagamu. Begitu juga dengan kedamaian batin. Jika kau mencari ketenangan, carilah di dalam pengabdian pada sesama, bukan di dalam dendam."
Sore itu, Alek belajar lebih banyak dari Syekh Mansyur daripada sepuluh tahun khotbah yang ia dengar di gereja. Dia mulai membantu Syekh Mansyur merapikan perpustakaan, mengelap debu-debu dari buku yang tak pernah dibaca orang.
Saat dia kembali ke selnya malam itu, Alek tidak lagi merasa sesak. Dia mengambil secarik kertas kecilnya lagi dan menulis:
Hari ke-14: Hari ini aku bertemu seorang pria yang kehilangan segalanya tapi tetap memiliki segalanya. Dia bilang, kebenaran adalah batu. Aku akan mulai membangun fondasiku di atas batu itu, bukan di atas pasir kemarahan.
Alek melipat kertas itu. Untuk pertama kalinya sejak vonis dijatuhkan, dia tertidur tanpa mimpi buruk. Di luar sana, angin malam berhembus melewati pagar kawat berduri, membawa doa-doa yang tak terucap dari dua insan yang terpisah dinding, namun kini mulai menemukan jalan pulang menuju kedamaian.
hehe semangat bangg
baguss bangett pliasss cerita nyaaa lanjutt dongg