NovelToon NovelToon
KULTIVATOR 5 ELEMEN

KULTIVATOR 5 ELEMEN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Spiritual / Action
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: roni alex saputra

Arkan, seorang pemuda yang dianggap sampah kultivasi, ternyata menyimpan kekuatan terlarang di telapak tangannya. Saat 5 elemen bersatu dengan kehampaan Void, satu galaksi pun harus tunduk. Saksikan perjalanan Arkan

Body Tempering

Qi Gathering

Qi Foundation

Core Formation

Soul Realm 2 pengikut nya

Earth Realm

Sky Realm cici

Nirvana Realm arkan

Dao Initiate

Dao Master Dao arkan& cici

Sovereign

Divine

Universal (Kaisar Drak)

Eternal Ruin (Puncak Arkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roni alex saputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Petir Hitam dan Runtuhnya Singgasana Kesombongan

Malam di pinggiran Paviliun Barat bukan lagi sekadar kegelapan; malam itu telah berubah menjadi medan energi yang melengkungkan realitas. Arkan duduk bersila di tengah lingkaran rumput yang menghitam, tubuhnya melayang tiga inci di atas tanah yang bergetar. Di telapak tangannya, Teratai Lima Warna mekar dengan keanggunan dewa, memancarkan spektrum cahaya yang menyinari wajahnya yang kini setajam belati.

Arkan menatap kelopak merah api yang berdenyut panas, seolah ada jantung kecil di dalamnya. Ia mendongak, menatap Cici yang berdiri terpaku dengan napas tertahan.

"Ini untukmu, Ci. Aku tidak ingin kau hanya menonton dari kejauhan. Aku ingin kau berdiri di sampingku sebagai kawan yang setara, bukan di belakangku sebagai beban yang harus kulindungi," suara Arkan berat, bergema dengan otoritas yang seolah-olah berasal dari kedalaman bumi.

Cici melangkah maju, jemarinya bergetar saat menyentuh kelopak merah itu. Begitu kulit mereka bersentuhan, sebuah sirkuit energi tertutup tercipta. Arkan bukan lagi pemuda yatim piatu yang malang; ia adalah pusat gravitasi yang menarik seluruh elemen di sekitarnya. Mereka duduk berhadapan, saling menggenggam tangan, dan memejamkan mata untuk memulai Transformasi Kultivasi Duo.

BOOM!

Seketika, atmosfer di hutan itu meledak. Pusaran energi ungu petir dari Arkan dan api merah suci dari Cici membubung tinggi ke langit, menciptakan pilar cahaya raksasa yang membelah awan hitam. Di dalam tubuh mereka, terjadi pembersihan sumsum tulang secara brutal. Arkan bisa merasakan kotoran fana di tubuh Cici terbakar habis oleh api teratai, sementara Cici merasakan otot-ototnya diperkuat oleh hantaman petir ungu Arkan.

Darah mereka mendidih, tulang mereka berderak menyatu kembali dengan kepadatan sepuluh kali lipat. Mereka baru saja menembus Tahap Pembersihan Sumsum hanya dalam hitungan napas—sebuah prestasi yang bagi murid biasa membutuhkan waktu sepuluh tahun meditasi.

Namun, di balik kegelapan semak beringin yang rimbun, sepasang mata merah karena iri menyaksikan segalanya dengan kebencian yang mendalam. Mahesa. Pemuda yang selama ini dianggap sebagai matahari desa itu kini berdiri membeku, tangannya mengepal hingga kukunya menancap di telapak tangan, mengalirkan darah segar yang tak ia rasakan.

"Bagaimana mungkin?! Si sampah Arkan... dia bukan hanya menjadi kuat, tapi dia juga bermesraan dengan Cici menggunakan harta karun sehebat itu!" batin Mahesa menjerit gila.

Rasa iri itu membakar dadanya lebih panas daripada api mana pun. Mahesa melihat bagaimana cahaya dewa menyelimuti tubuh Arkan dan Cici, membuat mereka tampak seperti pasangan penguasa langit yang turun ke bumi. Di hadapan pemandangan itu, Mahesa merasa dirinya hanyalah seonggok debu yang tidak berarti. Kebenciannya memuncak; sifat tamaknya bangkit melebihi rasa takutnya.

Arkan tiba-tiba membuka matanya. Pupilnya kini tidak lagi hitam, melainkan memancarkan kilat ungu yang statis. Tanpa menoleh, ia berkata dengan nada dingin yang menusuk tulang, "Mahesa, sampai kapan kau mau mengintip di sana? Apa kau ingin merasakan sedikit 'hadiah' dari kekuatan baruku?"

Mahesa tersentak, keluar dari balik semak dengan wajah yang merah padam. "Arkan! Sampah tetaplah sampah! Kau pasti mencuri bunga itu dari gudang leluhur! Berikan padaku, atau aku akan melaporkan pencurian ini pada tetua desa!" teriaknya, mencoba menutupi getaran di suaranya dengan gertakan kosong.

Arkan tidak berdiri. Ia tetap duduk bersila, tangan kanannya masih menggenggam lembut tangan Cici. "Mencuri?" Arkan tersenyum dingin, sebuah senyuman yang membuat suhu di sekitar mereka turun drastis. "Bunga ini memilih tuannya sendiri, Mahesa. Dan sepertinya... dia tidak menyukai bau pecundang yang busuk sepertimu."

"Bajingan! Mati kau!"

Mahesa menerjang maju dengan gila, menghunuskan belati baja meteoritnya yang dilapisi energi api tingkat rendah. Ia mengincar leher Arkan, bermaksud mengakhiri hidup saingannya dalam satu serangan licik.

Arkan hanya menjentikkan jari tangan kirinya.

ZZZTTTT—BOOOM!

Bukan petir kuning biasa yang keluar. Sebuah kilatan Petir Hitam Pekat menyambar dari ujung jari Arkan. Petir itu tidak mengeluarkan suara guntur yang memekakkan telinga, melainkan suara dengungan rendah yang mengerikan, seolah-olah ruang di sekitarnya sedang dikompresi hingga hancur.

PRANG!!!

Belati baja milik Mahesa hancur berkeping-keping menjadi abu atomik dalam sekejap mata. Mahesa terpental sejauh lima meter, menghantam pohon dengan keras. Tubuhnya gemetar hebat, bukan karena luka fisik, tapi karena Rasa Takut Primitif. Ia melihat lengan baju Arkan yang hancur, menampakkan tato petir hitam yang menjalar di kulitnya seperti urat-urat monster.

"Pe-petir hitam... kekuatan terkutuk apa itu?!" Mahesa merangkak mundur, wajahnya pucat pasi seperti mayat. Bau hangus yang menusuk hidung keluar dari sisa-sisa belatunya yang musnah ditelan kegelapan.

Cici berdiri perlahan di samping Arkan, auranya kini memancarkan Api Teratai yang murni. Ia memandang Mahesa dengan tatapan kasihan yang jauh lebih menyakitkan daripada pukulan. "Pergilah, Mahesa. Arkan yang sekarang... bukan lagi orang yang bisa kau sentuh dengan tangan kotormu."

Mahesa kehilangan akal sehatnya. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa "sampah" yang selalu ia injak kini berdiri di atas kepalanya. Dengan tangan gemetar, ia merogoh kantong pinggangnya dan mengeluarkan sebuah Jimat Ledakan Api tingkat tinggi—harta karun keluarga yang ia curi.

"Kalau aku tidak bisa memilikinya, maka tidak ada yang boleh! Mati kalian berdua!"

Mahesa melemparkan jimat itu tepat ke arah wajah Cici. Ledakan api raksasa mulai merekah di udara, siap menghanguskan segalanya. Namun, Arkan bergerak lebih cepat dari kecepatan suara.

WUSH!!!

Arkan muncul di depan Cici. Ia tidak menghindar. Tangan kirinya yang dialiri Petir Hitam menangkap jimat yang sedang membara itu dengan tangan kosong. Arkan meremas jimat itu, dan bukannya meledak, jimat tersebut justru hancur terkompresi oleh gravitasi petir hitamnya. Api di dalamnya ditelan bulat-bulat oleh kegelapan yang pekat.

"Kau ingin bermain api di depan pemilik petir, Mahesa?" Arkan bergumam dingin.

Arkan melayangkan satu tamparan jarak jauh.

DHUARRR!

Sebuah gelombang kejut berwarna hitam menghantam dada Mahesa. Pemuda sombong itu terangkat dari tanah, terlempar menabrak pohon beringin besar hingga batangnya retak. Darah segar menyembur dari mulut Mahesa. Pakaian sutra mahalnya kini compang-camping, dan di dadanya kini terdapat bekas luka bakar berbentuk kilatan hitam yang menjalar—sebuah segel penderitaan yang tidak bisa disembuhkan oleh obat biasa.

"Arghhh! Arkan... kau... kau benar-benar iblis!" Mahesa merintih, suaranya parau. Ia merasakan energinya sendiri tersedot habis oleh sisa-sisa petir hitam yang menempel di luka bakarnya.

Arkan melangkah mendekat, tiap pijakan kakinya meninggalkan bekas hangus permanen di tanah. "Iblis? Tidak, Mahesa. Aku hanyalah cermin dari apa yang kalian lakukan padaku selama ini. Pulanglah, dan katakan pada tuanmu bahwa Arkan telah bangkit dari neraka untuk menagih janji."

Cici berjalan mendekat dan menggandeng lengan Arkan dengan mesra. Pemandangan itu adalah tamparan terakhir bagi mental Mahesa. Melihat gadis yang ia puja kini bersandar penuh percaya diri pada pria yang selalu ia remehkan, membuat jiwa Mahesa benar-benar hancur.

Mahesa merangkak pergi di atas lumpur, menyeret tubuhnya yang gemetar, menangis tersedu-sedu seperti anjing yang dipukuli. Sementara itu, Arkan menatap sisa tiga kelopak bunga teratai di tangannya: Tanah, Air, dan Angin.

"Perjalanan kita masih panjang, Ci. Desa ini hanyalah butiran debu di bawah kakiku," ucap Arkan sambil menatap langit malam yang kini tampak tunduk padanya.

1
RYUU
keren
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡
etdah nama guru gurunyaa
RYUU: kalau aku gass dan trobos aja nanti rame sendiri orang bisa masa iya kita ngak 🤣
total 22 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!