NovelToon NovelToon
Tiba-tiba Jadi Istri Petani Tampan

Tiba-tiba Jadi Istri Petani Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi Wanita / Penyeberangan Dunia Lain
Popularitas:16.7k
Nilai: 5
Nama Author: Aida

Luna, seorang mahasiswi jurusan teknologi informasi semester akhir selalu begadang mengerjakan tugas-tugasnya yang menumpuk. Suatu malam ia tertidur di meja belajar bersama tumpukan kertas-kertas nya lalu tiba-tiba ia merasa seperti jatuh dari kursi. Tapi saat ia membuka matanya rupanya ia berada di dalam tubuh seseorang yang mirip dengannya. Ia yakin itu bukan dirinya yang sebelumnya. Tempat itu juga sangat asing baginya. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah seorang pria tampan berparas lembut berbicara padanya. "Annette, kau sudah lebih baik ? Bangunlah, aku membuatkan mu sarapan,"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kelembutan Leon

Meja makan terasa lebih hening namun seperti ada suara-suara yang saling bersahutan lewat tatapan mata tajam antara Nyonya Vivian dan Annette.

"Kalian akan menginap lagi ?" tanya Tuan Wiles.

"Tidak, Paman. Aku akan membawa Annette pulang ke rumah perkebunan," jawab Leon. Ia sudah membicarakan hal ini dengan Annette dan Annette pun setuju.

"Sebenarnya aku masih ingin kalian disini. Tapi jika Annette setuju untuk kembali maka aku tidak bisa mencegahnya," kata Tuan Wiles sembari menatap Annette dengan dalam. Tapi Annette sama sekali tidak menatapnya.

Sebuah luka ia rasakan dari pertanyaan yang muncul dihatinya. Mengapa Ayahnya menikah lagi saat sudah memiliki ibunya. Mengapa membawa wanita lain dalam rumah tangganya. Kekecewaan itu Annette simpan sejak dulu hingga membakar hatinya dari dalam.

"Leon, kapan kau akan mengambil alih perkebunan tulip itu. Aku sudah tua dan jujur tidak sanggup jika harus mengurus semuanya sendirian," kata Tuan Wiles. Pernyataan itu mengejutkan Nyonya Vivian dan Emilie. Mata mereka terbelalak seakan tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.

Keduanya saling bertatapan, saling bertanya dalam diam apa maksud ucapan dari Tuan Wiles.

Sedangkan Annette lebih memilih menyembunyikan keterkejutannya dengan melanjutkan makan tanpa ingin menimpali.

"Kalau Paman sudah tidak sanggup, alihkan pada orang kepercayaan Paman. Jujur aku juga tidak tertarik mengurus perkebunan itu. Aku lebih suka menanam buah dan sayuran," jawab Leon santai.

"Tapi itu kan milikmu, peninggalan kedua orang tuamu. Mengapa kau tidak mau mengurusnya ?" tanya Tuan Wiles penasaran.

"Ya karena aku memang lebih menyukai buah dan sayur daripada bunga," jawab Leon lagi disertai tawa.

Emilie semakin melebarkan matanya saat mendengar jika perkebunan tulip yang selama ini dikelola oleh ayahnya adalah milik Leon. Bisa dibayangkan berapa jumlah harta kekayaan Leon yang tidak ternilai itu.

Secuil sesal tiba-tiba Emilie rasakan. Mengapa tidak mencari tau dulu latar belakang Leon dan mengajaknya menikah seperti yang dilakukan oleh Annette.

Sekarang yang akan menjadi nyonya kaya raya adalah kakaknya dan bukan dirinya seperti impian-impian nya.

Emilie pandangi wajah Leon yang tampan paripurna tanpa secuil luka. Rambutnya yang kemerahan, kulitnya bersih. Tubuhnya juga terlihat kekar berotot meskipun Emilie tidak pernah melihatnya langsung.

Rasa iri hati langsung menguasai Emilie. Mengapa harus Annette yang harus mendapatkan keberuntungan ini.

"Mau ku congkel matamu ? Kenapa melihat suamiku seperti itu ?" sentak Annette sembari menggebrak meja hingga beberapa piring melayang dan menimbulkan suara.

Emilie terperanjat dan segera menunduk. Ia masih takut dengan Annette. Ia harus bersikap baik agar Annette tidak menyakitinya lagi. Dan kali ini ia benar-benar lupa.

"Jangan berteriak di meja makan. Itu sangat tidak sopan," kata Nyonya Vivian dengan suara yang dibuat setenang mungkin. Tapi Annette dapat merasakan ada amarah yang tersirat di dalamnya.

"Lebih tidak sopan anakmu yang tidak bisa mengendalikan matanya," balas Annette menantang. Matanya tajam menatap Nyonya Vivian dan mengabaikan keberadaan Tuan Wiles juga Leon.

"Annette, jaga bicara pada Vivian," tegur Tuan Wiles pelan seperti biasanya.

"Kenapa .." bantah Annette.

"Annette.." panggilan lembut Leon menghentikan ucapan Annette. Ia menelan lagi semua kata-kata yang hampir terlontar untuk ayahnya.

"Habiskan makananmu, setelah itu kita pergi " lanjut Leon dan Annette hanya mengangguk.

Emilie dan Nyonya Vivian rasanya ingin muntah melihat Annette yang menurut pada Leon.

Berbeda dengan Tuan Wiles yang menatap keduanya dengan haru. Ia benar-benar yakin jika Leon bisa membahagiakan Annette.

"Aku ingin dibuatkan ruangan khusus untuk melukis dan membuat kerajinan. Lengkap dengan alat yang ku minta waktu itu," kata Annette setelah diam beberapa saat.

"Bukankah kau tau kalau permintaan mu itu berlebihan ? kita sudah membicarakan ini sebelumnya," kata Nyonya Vivian kesal.

"Iya kakak, lagi pula kau kan tidak tinggal disini. Jadi untuk apa ruangan seperti itu disini," imbuh Emilie. Ia pun tidak setuju jika Annette mempunyai ruangan lukis yang bagus. Sejujurnya ia juga suka melukis. Tapi lukisannya biasa saja tidak sebagus buatan Annette.

"Kalau aku tidak mendapatkan itu akan ku bakar rumah ini sama seperti yang kau lakukan pada ruangan ku sebelumnya," kata Annette sambil berdiri kemudian meninggalkan meja makan.

Leon yang melihat itu akhirnya mau tidak mau mengikuti Annette. Sepertinya Annette dalam suasana hati yang buruk dan ia ingin menghibur nya.

"Apa maksud perkataan Annette barusan ?" tanya Tuan Wiles dingin. Matanya menatap bergantian pada Nyonya Vivian dan Emilie.

"Mana ku tahu. Jangan bertanya padaku," kata Nyonya Vivian tanpa berani menatap Tuan Wiles.

"Ayah, jangan dengarkan ucapan kakak. Dia hanya sedang marah. Kalau ayah tidak keberatan lebih baik turuti saja keinginannya," kata Emilie dengan senyumnya. Tuan Wiles menatap putrinya itu lalu mengangguk.

"Ayah sudah selesai. Kalian lanjutkan saja," kata Tuan Wiles kemudian bangkit dan meninggalkan ruang makan.

"Emilie, kenapa kau mengatakan hal itu pada ayahmu. Bagaimana kalau dia membuatkan ruangan melukis untuk Annette," kata Nyonya Vivian marah.

"Ibu, apa ibu mau kalau ayah mengetahui sebenarnya ibulah yang sudah membakar ruangan lama Kak Annette. Coba ibu pikirkan, apa ayah masih mau menuruti keinginan ibu kalau sudah seperti itu ?" balas Emilie dengan berbisik. Nyonya Vivian terdiam sebentar sebelum akhirnya mengangguk.

"Kau benar. Tapi kita harus gagalkan keinginan anak sialan itu," kata Nyonya Vivian dan Emilie ikut mengangguk.

...

"Annette, kenapa kau terlihat marah ?" tanya Leon yang berdiri di sisi Annette. Ia sibuk memberi makan ikan.

"Karena aku memang sedang marah," jawab Annette lemas. Leon menoleh pada Annette yang memang lemas dan menyandarkan kepalanya pada tiang besar disisi kolam.

"Kau kenapa ?" tanya Leon tertawa. Ia ikut duduk mengikuti Annette dan merangkul pundaknya.

"Aku ingin melukis," jawab Annette mengerucutkan bibirnya.

"Hanya itu ?" tanya Leon. Dan Annette mengangguk.

"Ayo kita beli alat lukis yang banyak dan membawanya ke rumah perkebunan. Sekalian kau bisa membeli apa yang kau mau, aku akan mengajakmu ke pasar," kata Leon bersemangat.

Mendengar itu wajah Annette menjadi cerah dan ia memeluk Leon dengan erat.

"Aku mencintaimu, sayang. Kau begitu pengertian," kata Annette.

Leon hanya tertawa, Annette memang susah di tebak. Sekarang bersedih sedetik kemudian tertawa senang.

"Jangan hanya memeluk," kata Leon. Lalu ia menunjuk pipi kiri dan kanannya. Annette yang mengerti pun segera melabuhkan ciuman.

Seolah tidak puas, Leon menunjuk kening dan hidungnya. Annette pun juga tidak keberatan memberikan ciuman disana.

Tanpa Annette duga, Leon menahan tengkuk Annette lalu mencium bibir Annette dengan dalam namun lembut. Sebelah tangannya memegangi punggung Annette agar tidak jatuh.

Dari balik tiang besar, Emilie menatap mereka dengan wajah yang benar-benar di tekuk. Ia merasa cemburu namun tidak berani melakukan apa-apa.

Yang bisa ia lakukan hanya memegangi bibirnya sendiri dan membayangkan jika Leon melakukan hal yang sama pada dirinya.

..

1
Susi Akbarini
kakkkkk..
kapaan up lagiii....

😍😍❤❤❤💪💪
Susi Akbarini
kak authorrrrrr..

up donk..
😍💪💪❤❤❤❤💪💪💪💪
Susi Akbarini
lamanyaaaa tidak upppp..

😍😍💪💪💪❤❤❤
≛⃝⃕|ℙ$ Ŋบ𝑟ļịãŊã ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🍃
🤣🤣 Lanjuuutt
Dwi Agustina
Hahaaaa ada yg mupeng🤭teruskan sj Annete-Leon💪
Susi Akbarini
akankah wiles percaya annette..
lalu menyelidiki...

😍😍💪❤❤
Susi Akbarini
mimoi aja emely..
😄🤣🤣😍💪💪❤❤
≛⃝⃕|ℙ$ Ŋบ𝑟ļịãŊã ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🍃
Ayo cari gara2 lagi sama annette biar anakmu habis sekalian dibuat lukisan diwajahna 🤣🤣
≛⃝⃕|ℙ$ Ŋบ𝑟ļịãŊã ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🍃
Balas aja pake racun yg sama tuh 😤
Susi Akbarini
biar kapok emely...😄🤣🤣😍😍💪❤
Susi Akbarini
dasar wiles..
saat istri lagi hamil malah bawa pelakor ke rumah...
burungnya minta disunat itu ..
🤣😄😄😍😍💪
Susi Akbarini
kàsian ibunya annette ..
apa yg akan dilakukan leon dan annete ya buat balas vivian..
😍😍❤❤💪💪
Susi Akbarini
wahhh..
keren banget si leon
😍😍😍❤💪
Dew666
🌹🌹🌹🌹🌹
≛⃝⃕|ℙ$ Ŋบ𝑟ļịãŊã ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🍃
Pasti diracun
Susi Akbarini
apa rahasia yg akan anette temukan di kamaar ibunyaaa..

😍😍💪❤❤
Susi Akbarini
waaahhh..
paati meninggalnya diracun ama vivian..
❤😍😍💪💪💪❤❤❤
≛⃝⃕|ℙ$ Ŋบ𝑟ļịãŊã ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🍃
Siap2 annette bakal dijebak lagi
Susi Akbarini
akankah vivian kerahuan sama suaminya😍😍💪💪
Susi Akbarini
lnjutttt😍❤❤💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!