Di Desa Sumberarum, ketenangan bukanlah anugerah—melainkan harga dari sebuah perjanjian gelap.
Fariz, anak petani biasa, hidup di desa yang tak pernah kekurangan apa pun. Sawah selalu subur. Penyakit jarang datang. Bencana seolah menjauh.
Namun semua itu dibayar dengan sesuatu yang tak pernah dibicarakan dengan lantang.
Ketika Kyai Salman datang untuk memutus kemusyrikan yang mengakar, kematiannya justru menanam warisan berbahaya pada Fariz—ilmu yang belum sempurna, kebenaran yang tak diinginkan siapa pun.
Di tengah cintanya pada Aisyah, putri kepala desa, Fariz dipaksa memilih:
membiarkan desa tetap “selamat” dengan dosa, atau menghancurkan keseimbangan yang telah dijaga turun-temurun.
Karena di desa ini,
kebenaran bukanlah penyelamat—
ia adalah awal dari kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Buku Yang Seharusnya Di Musnahkan
Fariz menyapu sekeliling kamarnya dengan cepat. Memastikan tidak ada suara dari ruang tengah. Lalu ia membuka celah jendela lebih lebar, cukup untuk Aisyah mengulurkan buku itu ke dalam.
"Kenapa kamu keluar tengah malam begini?" bisiknya pelan.
"Aku nemu buku ini di ruang kerja Bapak." Aisyah mengulurkan buku tebal bersampul lusuh lewat celah jendela. "Aku mengambilnya waktu Bapak pergi bersama Karno dan yang lainnya."
BEBERAPA JAM SEBELUMNYA
Pukul tujuh malam, Aisyah melihat beberapa warga datang ke rumahnya. Mereka membawa wadah dari rotan yang ditutup kain putih, seperti bawaan untuk hajatan. Tapi ada sesuatu dalam cara mereka membawanya yang terasa berbeda. Terlalu hati-hati. Terlalu serius untuk sekadar bawaan makanan.
"Aisyah." Darma Wijaya memanggilnya saat ia hendak masuk ke kamar.
"Malam ini Bapak ada acara hajat bersama warga." Ia menunjuk wadah-wadah itu dengan dagunya. "Kamu kunci pintu. Bapak baru kembali nanti subuh."
Aisyah mengangguk. "Baik, Pak."
Darma Wijaya merapikan pakaiannya di depan cermin, lalu berjalan keluar. Aisyah mengantarnya sampai pintu depan, lalu menguncinya dari dalam seperti yang diminta.
Dari balik pintu kaca, ia melihat dua orang yang sering mengikuti Fariz sedang berbicara dengan ayahnya. Sesekali salah satunya menunjuk ke arah rumah ini, seolah sedang melaporkan sesuatu. Saat Darma Wijaya melirik ke arah pintu, Aisyah langsung merapatkan tubuhnya ke dinding. Jantungnya berdetak lebih cepat.
Langkah-langkah itu perlahan menjauh. Aisyah mengintip lagi. Mereka sudah hilang dari pandangan.
Ia mengunci pintu depan lebih rapat, lalu berjalan kembali ke arah kamar.
Tapi tiba-tiba ia mendengar suara aneh.
Seperti angin yang bergerak di dalam ruangan tertutup. Atau seperti sesuatu yang jatuh pelan.
"Apa itu?" gumamnya, berhenti di tengah koridor.
Semua pintu tertutup rapat. Kecuali satu. Ruang kerja ayahnya. Pintunya sedikit terbuka, dan cahaya lampu minyak di dalam bergerak-gerak seperti ada angin yang mengganggu.
Aisyah melangkah pelan ke arah sana.
"Pak?" panggilnya pelan sambil mendorong pintu lebih lebar.
Angin tiba-tiba berhembus kencang dari dalam, bergerak ke arah jendela kaca di atas dinding.
Brak.
Jendela itu tertutup keras.
Aisyah tersentak, tubuhnya bergidik sebentar. Ia berdiri di ambang pintu, napasnya tertahan, menunggu apakah akan ada suara lain. Tapi semuanya diam.
Hanya angin. Hanya jendela yang kebetulan tidak tertutup rapat.
Ia mencoba meyakinkan dirinya begitu.
Aisyah melangkah masuk.
Ruangan itu penuh dengan hal-hal yang tidak ia kenali. Tulisan aksara kuno di atas kertas-kertas yang ditempel di dinding. Beberapa kain putih tergantung di sudut. Dan di dinding paling belakang, tergantung sebuah bingkai besar.
Foto seorang wanita.
Mengenakan kain putih yang panjang mengalir, mahkota di kepalanya, wajahnya cantik tapi dingin dengan cara yang membuat Aisyah tidak bisa mengalihkan pandangan. Seperti ada sesuatu di mata wanita itu yang menatap balik. Bukan hanya menatap ruangan. Tapi menatap siapa pun yang berdiri di sini.
Dia menatap Aisyah.
Ia menggelengkan kepala. "Cuma foto," bisiknya pada dirinya sendiri. Tapi ia tetap tidak bisa mengalihkan pandangan terlalu cepat. Seperti kalau ia berpaling, sesuatu akan bergerak di belakangnya.
Aisyah memaksa dirinya berbalik, bersiap menutup pintu dan pergi dari sini.
Tapi matanya tertangkap oleh sesuatu.
Lemari kayu tua di samping meja. Lemari yang hampir mirip bentuk dan rupanya, bahkan sering ia lihat di pendopo dan selalu terkunci dan jarang sekali dibuka.
Lemari itu seharusnya selalu terkunci rapat.
Tapi malam ini, gemboknya terpasang tapi tidak tertutup sepenuhnya. Seperti seseorang lupa menguncinya dengan benar. Atau seperti sesuatu sengaja membuatnya tidak terkunci.
Aisyah melangkah lebih dekat. Tangannya bergerak sendiri, menyentuh gembok itu, mengangkatnya pelan.
Terbuka.
Ia menarik napas. Lalu membuka pintu lemari itu perlahan.
Di dalam ada beberapa lembaran kertas yang sudah menguning. Dilipat rapi dan ditumpuk. Tulisan tangan yang terlihat tua, tinta yang sudah memudar di beberapa bagian. Di sampingnya ada sesuatu yang dibungkus kain putih, kecil, tapi cukup untuk membuat Aisyah tahu bahwa apa pun yang ada di sana bukan sekadar benda biasa.
Dan di bawahnya, setengah tertutupi oleh kain putih yang sama, ada sebuah buku.
Buku tebal, sampulnya lusuh, dengan tulisan tangan di pinggirnya.
Aisyah mengeluarkannya dengan hati-hati. Membuka halaman pertama.
Di sana, dengan tulisan tangan yang rapi meski sudah memudar, tertulis:
Kyai Salman bin Abdullah
Jantungnya berhenti sebentar.
Ini bukan milik ayahnya.
Ini milik Kyai Salman.
Dan ayahnya menyimpannya di lemari yang dikunci rapat, bersama dokumen-dokumen lain yang tidak boleh dilihat siapa pun.
Aisyah membalik beberapa halaman. Membaca sekilas. Kata-katanya berat, penuh dengan istilah yang tidak sepenuhnya ia mengerti. Tapi satu kalimat di halaman kedua membuat napasnya tertahan:
"Hari itu, di mana aku sudah berusaha, tapi semuanya berada dalam satu kendali yang tak mampu aku tandingi."
Aisyah menutup buku itu. Menatapnya lama.
Lalu ia mendengar suara langkah dari luar. Jauh, tapi mendekat.
Ia langsung memasukkan buku itu ke balik bajunya, lalu menutup lemari, dan memasang gembok seperti semula (tidak dikunci rapat, seperti yang ia temukan), lalu keluar dari ruangan itu secepat mungkin tanpa menimbulkan bunyi.
Pintu ruang kerja ia tinggalkan sedikit terbuka. Seperti tadi.
Lalu ia masuk ke kamarnya, menutup pintu, dan bersandar di baliknya dengan napas yang belum teratur.
Di tangannya, buku Kyai Salman terasa lebih berat dari seharusnya.
Dan yang pertama kali muncul di kepalanya bukan ayahnya. Bukan Rahman. Tapi Fariz.
KEMBALI KE MALAM INI
Fariz menerima buku itu dari tangan Aisyah lewat celah jendela. Membukanya dengan hati-hati, menatap nama di halaman pertama.
Kyai Salman bin Abdullah.
Ia membalik beberapa halaman. Membaca sekilas dengan cahaya lampu minyak yang redup. Tulisan tangan Kyai Salman yang ia kenali, kata-kata yang berat, kalimat-kalimat yang terdengar seperti peringatan.
"Desa ini bukan subur oleh berkah. Ada sesuatu yang ditanam dan harus dikembalikan jika dia sudah meminta."
Fariz berhenti membaca. Menatap Aisyah lewat celah jendela.
"Ini harus dibawa ke Rahman," katanya pelan.
"Sekarang?" tanya Aisyah
"Sekarang." jawab Fariz
Ia menutup buku itu, menyimpannya di balik baju. Lalu dengan hati-hati ia membuka jendela lebih lebar dan melompat keluar. Aisyah mundur sedikit memberi ruang, lalu keduanya bergerak cepat ke belakang rumah, menjauh dari jendela ruang tengah di mana Sucipto dan Ratna masih terdengar berbicara pelan.
Mereka tidak bicara banyak. Hanya bergerak cepat, satu di depan satu di belakang, menyusuri jalan yang gelap menuju pondok.
DI PONDOK AL MUKHLISIN
"Man!" Fariz memanggil dari balik gerbang, suaranya lebih keras dari yang ia rencanakan karena napasnya belum teratur.
Di dalam tajuk, Rahman mendengar suara itu dengan jelas. Ia langsung bangkit, mengambil jalan rahasia di samping, lalu muncul dari arah yang berbeda.
"Kamu datang lagi kemari, Iz?" Wajahnya kesal bercampur panik. "Nggak cukup kamu cari masalah?!"
"Dari kemarin anak buah..." Fariz belum selesai bicara, ia langsung menyodorkan buku itu.
"Sekarang kamu jelaskan semua yang ada di sini."
Rahman terdiam.
Matanya jatuh ke buku di tangan Fariz. Sampul lusuh yang ia kenali. Tulisan di pinggir yang ia hafal.
"Dari mana kamu dapat buku ini?" Suaranya turun jadi bisikan.
"Aku." Aisyah potong Aisyah.
"Kalian berdua..." Rahman menggelengkan kepala.
"Sudah, Man." Aisyah memotong cepat. "Nggak ada waktu lagi buat ceramahin kami."
Rahman menatap mereka berdua. Lalu ke buku di tangan Fariz. Lalu kembali ke wajah mereka yang menunggu jawaban.
Ia menghela napas panjang. "Masuk. Lewat sini."
Mereka masuk lewat jalan rahasia yang hanya diketahui santri Kyai Salman. Lorong sempit di balik pagar bambu, gelap dan berbau tanah basah, lalu keluar di halaman belakang pondok yang jarang dipakai.
Rahman membawa mereka ke ruang kecil di pojok, menyalakan lampu minyak, lalu menutup pintu.
"Kalian tahu," katanya sambil duduk di hadapan mereka, "buku ini menyimpan banyak rahasia yang seharusnya tidak kalian ketahui."
Suaranya bukan marah. Lebih seperti seseorang yang sedang menimbang apakah masih ada gunanya menyembunyikan sesuatu yang sudah mulai terbuka sendiri.
Ia menatap buku itu lama. Lalu bicara pelan, lebih ke dirinya sendiri.
"Buku ini... aku kira sudah dimusnahkan."
Fariz dan Aisyah menunggu.
Rahman mengangkat kepala, menatap mereka berdua. "Kalau kalian bisa menemukannya... kalau buku ini bisa sampai ke tanganmu..." Ia berhenti sebentar. "Berarti Kyai Salman memang benar. Waktunya sudah tiba."
Hening beberapa detik.
Lalu Rahman membuka buku itu. Membalik ke halaman yang sudah ia hafal. Dan mulai bicara.
"Kyai Salman sudah tahu dari lama," katanya pelan, "kalau di desa ini ada sesuatu yang menutupi semuanya."
Ia menatap Fariz dan Aisyah bergantian. "Mulai dari jalan masuk. Orang-orang yang sudah tinggal di sini tidak akan pernah bisa keluar. Kecuali atas perintahnya."
"Perintahnya?" Fariz mengerutkan dahi.
Aisyah dan Fariz saling menatap. Kata itu ambigu. Bisa berarti perintah dari Pencipta. Bisa juga dari penguasa.
"Siapa yang dimaksud dengan perintahnya?"
Rahman tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap buku itu lagi, jari-jarinya menelusuri tulisan tangan Kyai Salman dengan cara orang yang sedang mengingat sesuatu yang menyakitkan.
"Kyai Salman mencoba melawannya," lanjutnya. "Tapi ada yang lebih kuat dari doa. Ada yang sudah mengakar terlalu dalam. Dan Kyai tahu... kalau ia tidak sempat menyelesaikannya sendiri, ia harus mewariskannya pada seseorang."
Matanya beralih ke Fariz.
"Pada kamu."
Fariz merasa dadanya sesak.
Bukan karena berat beban itu. Tapi karena sekarang ia tahu bahwa semua yang terjadi padanya sejak malam Kyai Salman meninggal bukan kebetulan. Bukan kesalahan. Ini memang yang dirancang dari awal.
Dan ia tidak tahu apakah ia cukup kuat untuk menanggungnya.
Aisyah meraih tangannya sebentar. Tidak bicara. Hanya menyentuh, seperti mengatakan: kamu tidak sendirian.
Fariz menarik napas. Lalu menatap Rahman.
"Apa yang harus aku lakukan?"
Rahman menutup buku itu perlahan.
"Yang pertama," katanya, "kamu harus tahu siapa yang sebenarnya berkuasa di desa ini. Bukan Darma Wijaya. Bukan para leluhur. Tapi sesuatu yang jauh lebih tua dari mereka semua."
Ia berhenti sebentar.
"Dan yang kedua..." Rahman menatap Aisyah. "Kamu harus siap kehilangan sesuatu yang tidak bisa kamu kembalikan."
Hening.
Lampu minyak bergetar pelan. Di luar, angin bertiup lebih kencang dari biasanya, seperti sesuatu sedang bergerak di kegelapan yang tidak bisa mereka lihat.
Dan di tangan Fariz, buku Kyai Salman terasa semakin berat.