Kinan tak pernah siap kehilangan, terlebih dalam satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Kecelakaan itu bukan hanya merenggut tunangannya, tetapi juga meninggalkan trauma yang perlahan hinggap dalam dirinya.
Alana hadir sebagai perawat—sekedar menjalankan tugas, tanpa tahu bahwa langkah kecilnya akan membawanya masuk ke dalam kisah yang rumit. Ketulusan yang ia berikan justru membuat keluarga Kinan memintanya bertahan… bahkan menikah.
Hubungan yang seharusnya sederhana itu berubah menjadi pertaruhan perasaan.
Sebab mencintai Kinan berarti bersedia berbagi ruang dengan masa lalu yang belum pergi.
Akankah Alana mampu bertahan, atau justru terluka oleh cinta yang belum selesai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amerta Nayanika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Lalu yang Tak Terganti
Pandangan Kinan tak hentinya menatap tajam, menembus kaca yang ada di hadapannya. Dalam gedung pencakar langit ini, dia dapat melihat dengan jelas polusi Ibu Kota yang terkikis hujan sore tadi. Membuat taburan bintang berkelip riang di permukaan langit malam.
Pemandangan di bawah sana tak pernah berubah dari biasanya. Jajaran lampu kendaraan yang memadati jalanan kota. Nyaring klakson yang memekakkan telinga para pejalan kaki. Serta deru kendaraan yang tak pernah sunyi, bersahutan dengan begitu riuh.
Terhitung satu minggu sudah Kinan kembali ke kursinya ini. Kembali berkutat dengan kesibukan sebagai direktur utama di perusahaan Arven Group. Banyak hal yang perlu dia bereskan meski ibunya sempat menggantikannya selama dia dirawat di rumah sakit.
"Lo nggak mau pulang, Ki? Udah jam berapa ini?" tanya Aldo yang entah sudah menguap berapa kali di atas sofa empuk itu.
Kinan menoleh pada jam minimalis yang menempel pada salah satu sisi ruangan. Jarumnya tak pernah berhenti berputar meski hidupnya seolah berhenti. Kinan tak mengerti mengapa dirinya tak lagi memiliki semangat hidup yang sama seperti sebelumnya.
Pria itu kembali mendongak pada langit malam di balik kaca. "Kalau lo mau balik, duluan aja. Gue masih mau di sini," jawab Kinan.
Secangkir kopi yang sudah bertengger di atas meja Kinan sejak sore tadi masih utuh. Minuman yang seharusnya menghangatkan tubuh itu kian dingin tak tersentuh oleh pemiliknya. Sama halnya dengan gelas kaca yang biasanya digunakan oleh Kinan, kini bergeming kering di sudut ruangan.
Dari wajah yang tampak kosong itu, tentu Aldo mengerti Kinan tidak dalam kondisi baik-baik saja. Bukan dari fisiknya, namun sesuatu yang ada di dalam dirinya. Tak jarang dia melihat setitik ketakutan di balik mata itu.
"Kalau lo memang belum ngerasa lebih baik, lo nggak perlu maksa langsung masuk kerja kayak gini, Ki," ujar Aldo prihatin.
Kinan yang mendengar itu tersenyum hambar. "Semakin gue diam, semakin jelas dia muncul di kepala gue, Do," sahutnya.
Matanya tak lepas dari stu butir bintang yang memiliki cahaya paling terang di atas sana. Dari sorot mata yang dalam itu, Kinan seolah tengah menyampaikan rindunya pada seseorang yang tak lagi dapat dia raih tangannya. Mencoba melepaskan segala beban hatinya dengan perlahan.
"Gue nggak pernah kebayang kalau gue bakal ada di titik ini, Do. Semuanya kayak mimpi, padahal gue udah ngejalanin hidup tanpa dia hampir dua bulan ini."
Suara Kinan terdengar menggema di antara sunyi. Begitu juga dengan embusan nafas keras yang keluar bersama senyuman getir di wajahnya. Tawanya menguar hambar, tanpa arti.
Mendengar itu, Aldo menghela nafas panjang. Bukannya bosan, bukannya tak mau mendengar, bukannya sudah muak. Dia hanya bertanya-tanya, sampai kapan Kinan akan bergelut dengan duka dalam dirinya itu? Sampai kapan Kinan akan terjebak dalam dunianya yang gelap itu?
Tak menyahut, dia hanya memandangi Kinan yang duduk memunggunginya di sana. Sebelah tangannya dia letakkan di belakang leher sebagai bantalan. Dia rebahkan tubuhnya dengan santai di atas sofa empuk yang sudah dia singgahi sejak beberapa jam terakhir.
Sambil menatap plafon tinggi di hadapannya, Aldo berkata, "Lihat nih, Lin. Cowok lo ga berhenti mikirin lo, padahal belum tentu lo mikirin dia juga, kan?"
Kinan yang mendengar itu lantas memutar kursinya menghadap Aldo. Tutup plastik yang semula menumpang pada mulut cangkir, kini sudah berada di tangan Kinan. Benda itu terasa begitu dingin di permukaan jemarinya. Tak butuh waktu lama bagi benda itu mendarat dengan baik di wajah Aldo.
"Aduh!" rintih Aldo begitu benda keras itu sampai di tulang hidungnya dengan keras. Beberapa percikan embun juga turut membasahi wajahnya yang tampan. Membuatnya langsung terbangun begitu saja.
Pria itu mengusap batang hidungnya yang tampak memerah akibat lemparan tutup gelas dari Kinan. Mulutnya komat-kamit, merapalkan berbagai sumpah serapah tanpa suara.
Bersama dengan itu, pintu ruangan terbuka. Seorang wanita muncul di sana dengan senyuman lembut yang selalu merekah di sepanjang harinya. Matanya sempat melirik pada Aldo sebelum menatap lurus pada anaknya yang duduk di balik meja kerja.
"Kamu masih di sini, Do?" sapa Ella, ramah.
Pria yang sempat mengusap batang hidungnya itu mengangguk. "Iya, Tante. Nungguin Kinan, nih. Belum mau pulang bocahnya."
"Kan gue udah bilang kalau lo mau balik, ya balik duluan aja!" timpal Kinan. Tatapannya tajam pada Aldo yang meliriknya sinis.
Mendengar penuturan sahabat dari anaknya itu, Ella menoleh pada Kinan. "Kenapa nggak mau pulang? Masih bayak kerjaan."
"Tahu tuh, Tan. Sok sibuk banget bocahnya!" timpal Aldo yang tak mau tinggal diam.
Kinan tak menggubris ucapan sahabatnya. Baginya, suara Aldo hanya bagai cicitan burung yang tanpa arti. Dia kini menuangkan seluruh atensinya pada sang ibu yang membawa satu buah kantung plastik berisi roti dari toko miliknya.
Berbeda dengan Aldo yang langsung menikmati sebungkus roti setelah mendapatkan izin dari Ella, Kinan hanya beranjak dari duduknya. Kedua tangannya bersembunyi di balik saku celananya. Ikut duduk pada salah satu sofa kosong yang ada di sana.
"Masih banyak kerjaan, Ki? Kok masih belum pulang?" tanya Ella.
Kinan menggeleng. "Harusnya aku yang nanya, Mama ngapain ke sini malam-malam begini?"
Ella menatap lurus ke arah anaknya yang duduk tak jauh darinya. Jemarinya saling memilin di atas pangkuannya. Tampak jelas dia ragu akan sesuatu yang ingin dia sampaikan pada Kinan saat ini. Namun, hal itu tentu masih sangat perlu disampaikan.
Menyadari suasana hening penuh arti di sekitarnya, Aldo segera menelan gigitan terakhir yang ada di dalam mulutnya. Sepertinya, dia tak seharusnya berada di sini saat ini.
"Lo balik ke apart kan, Ki? Gue tunggu di lobi aja, ya," katanya sambil beranjak.
Pria itu sempat juga berpamitan pada Ella. Dia cium punggung tangan wanita itu sambil mencuri beberapa bungkus roti yang akan menjadi persediaan makanannya dia apartemen dalam beberapa hari. "Makasih rotinya, Tante!" Setelahnya, dia melesat begitu saja.
Kinan menatap punggung kawannya yang semakin menjauh dan menghilang di balik lift. "Emang Mama bawain buat dia?" tanyanya.
"Biarin aja lah, Ki. Kamu juga nggak mau, kan?" sahut Ella.
Begitu Aldo pergi dari ruangan itu, udara langsung terasa kosong. Entah mengapa ada sesuatu yang membuat situasi di antara ibu dan anak ini mendadak canggung.
"Jadi, kenapa Mama ke sini malam-malam?" tanya Kinan lembut.
Tampak Ella menarik nafasnya dalam-dalam. Matanya masih lurus pada Kinan yang kini tampak begitu santai di hadapannya. Lalu, kalimat yang keluar dari mulutnya sontak membuat Kinan mematung seketika.
"Lanjutkan pernikahan kamu ya, Ki," ucap Ella.
Tak ada jawaban dari Kinan. Ruangan itu masih hening sejak suara Ella berhenti bergema di sana. Kini hanya terdengar degup jantung Kinan yang semakin cepat tak beraturan.
Tak mendapat jawaban, Ella melanjutkan ucapannya. "Mama sudah ada calon yang pas buat kamu. Kamu cuma perlu menjalankan semuanya seperti yang udah kamu siapkan sebelumnya."
Kinan lantas melemparkan punggungnya pada sandaran sofa. Matanya dingin menatap pada wanita yang masih setia duduk di hadapannya. Nafasnya menderu hingga dadanya naik turun.
"Olin pasti kecewa sama Mama," ucap Kinan dingin.
Meski kesal, pria itu tak sekali pun melepas tatapannya dari sang ibu. Sengaja dia biarkan Ella mengetahui berbagai emosi yang ada dalam dirinya. Dia sengaja memberi tahu Ella bahwa dia sedang kesal lewat tatapan matanya.
Namun, Ella masih keras kepala. "Dia baik, Ki. Mama yakin dia bisa merawat kamu, karena dia sangat mengerti kondisi kamu saat ini," tutur Ella.
Wanita itu tampak tak gentar membujuk anaknya. Jika Kinan tak mau tinggal bersamanya, maka dia harus mencari seseorang yang bisa memastikan bahwa Kinan akan baik-baik saja selama tak bersamanya. Maka dari itu, dia memilih Alana, tanpa opsi lain lagi.
"Nggak ada yang ngerti kondisi aku, selain diriku sendiri, Ma," sanggah Kinan. Dia masih berusaha berbicara sopan pada wanita yang melahirkannya ini.
"Tapi, Alana juga sangat mengerti kondisi kamu, Ki!" timpal Ella.
Mendengar nama itu, dahi Kinan berkerut tajam. "Alana?"
Dia tak lupa akan nama itu. Sosok perempuan yang merawatnya selama di rumah sakit kemarin tentu tak dapat dia lupakan jasanya begitu saja. Seorang perawat yang selalu bersikap ramah meski banyak sekali pertanyaan aneh yang Ella lontarkan padanya.
"Aku nggak mau menikah dengan orang yang nggak aku cintai, Ma," lanjut Kinan setelah diam cukup lama.
Ella lantas mencondongkan tubuhnya ke depan. "Terus, mau sampai kapan kamu sendirian? Mau sampai kapan kamu selalu menjadi orang yang terjebak di masa lalu, Ki?!"
"Tapi, ini bukan jalan keluar yang tepat, Ma! Kalau Mama cuma mau aku nggak terjebak di masa lalu terus-terusan, ada cara selain ini!" Suara Kinan meninggi.
Mendengar itu, Ella mengembuskan nafasnya kasar. Dia kembali bersandar pada sofa. "Kalau begitu, coba sebutkan gimana caranya."
Kinan terdiam. Jujur saja, kalimat itu hanya sekedar melintas begitu saja di kepalanya dan langsung terucap tanpa persetujuan darinya. Dia hanya memikirkan kalimat apa yang tepat sebagai penolakan.
"Bisa aja aku buka hati buat orang lain nanti. Tapi bukan untuk hari ini," jawab Kinan sambil memalingkan pandangannya.
Ella tersenyum kecil. "Padahal di mana pun kamu berada, kamu masih meratapi mantan tunanganmu itu, Ki. Mama nggak yakin kamu akan kembali membuka hati untuk orang lain dalam waktu dekat."
"Ma, aku sama Olin nggak pernah membatalkan pertunangan. Jangan sebut dia kayak gitu," tegur Kinan.
"Tapi dia sudah meninggal, Ki. Kamu harus menerima fakta itu!" timpal Ella.
Setelah mengatakan kalimat itu dengan menggebu-gebu, Ella langsung beranjak dari duduknya. Tas kecil itu kembali bergelayut di salah satu pundaknya. Sementara, matanya masih tak lepas dari Kinan.
"Terserah kamu, Ki. Tapi, Mama sangat yakin kalau keputusan ini adalah yang terbaik buat kamu," ucap Ella, lalu pergi begitu saja.
Kinan memandangi tubuh ibunya yang semakin mengecil di sana. Dia masih tak mengerti, apa yang ada dalam kepala Ella saat ini. Mengapa wanita itu sangat kekeh ingin pernikahan ini tetap terlaksana?
Kinan menundukkan kepalanya. Kedua tangannya mencengkeram helaian rambut lebat miliknya. Sementara, matanya terpejam erat, meredam emosi yang sempat singgah dalam dirinya.