Siang itu Berlian berniat pulang kerja lebih awal, dengan tujuan untuk memberi kejutan pada sang suami. Hari ini adalah anniversary pernikahan mereka yang ke tujuh.
Tapi kenyataan kadang tak sesuai ekspektasi. Niat awal ingin memberi surprise, malah dirinya sendiri yang terkejut.
Berlian mendapati sang suami asyik berbagi peluh dengan adik di ranjang miliknya.
Kedua kakinya tak mampu lagi menopang badan, hatinya luruh lantak melihat kenyataan di depan mata.
"Sayang, ini tak seperti yang kamu lihat," alibi laki-laki yang menjadi suami Berlian.
Akankah Berlian tegar menghadapi atau malah hancur meratapi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moena Elsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akuisisi
Berlian masuk ke lobi dengan hati yang mulai tertata, tak akan larut dalam kesedihan karena pengkhianatan sang suami dan adiknya.
Pengajuan cerai dan tuntutan gono gini sudah diserahkan Berlian lewat pengacaranya.
Maura menghadang dengan tangan menyilang di dada, Berlian tersenyum pias.
Berlian mengira Maura sudah tahu atas apa yang dialaminya, melihat respon Maura barusan. Berlian sengaja tak bercerita atas pengalaman pahit hidupnya.
"Kamu anggep aku ini apa hah?" sambut Maura, kecewa tentu saja.
"Aku hanya ingin ruang menyendiri Maura," balas Berlian.
Mereka jalan beriringan menuju lift.
"Kok kamu tahu? Darimana?" tanya Berlian. Tak mungkin tuan Dominic yang menyebarkan. Lagian aku ini siapa, jajaran orang tak penting di perusahaan. Batin Berlian.
Belum sampai Maura jawab, datanglah Arya menghadang.
"Dia nungguin kamu tuh. Katanya menolak untuk kamu cerai," ucap Maura.
'Biang keroknya ternyata tetaplah Arya," Berlian sudah menemukan jawabannya.
"Sayang, apa maksudmu dengan ini?" tanya Arya.
"Bukannya sudah tertera di situ dengan jelas? Apalagi?" tukas Berlian.
"Aku tak setuju. Kamu tetap wanita satu-satunya sayang," ulasan Arya membuat muak Berlian.
"Cih, simpan kata-katamu itu untuk gundikmu mas," Berlian hendak menjauh, Arya nekad menghalang.
"Ingat sayang, aku tak akan menceraikan mu!" ucap Arya ingin mendapat empati.
"Sedari awal kita membina hubungan, aku sudah bilang tak ada pengkhianatan. Tapi apa kenyataannya?"
"Dia adikmu. Dia hamil sekarang. Dan bentar lagi kita akan punya anak, tanpa kamu repot melahirkan sayang," bela Arya.
'Otaknya ditaruh di dengkul nih orang, bego kok dipelihara,' Maura ikut geregetan mendengarnya.
"Sudahlah mas, aku tak bisa," tolak Berlian.
"Egois kamu sayang!" tuduh Arya.
"Besok kita ketemu di pengadilan," ujar Berlian.
"Kalau kamu nekad, tak akan sepeserpun harta kuberi," ancam Arya.
"Coba saja!" Berlian membalas dengan suara datar.
Berlian meninggalkan Arya yang berusaha menahannya
Kehadiran Arya di sana, menyita waktu Berlian.
"Habis ini pasti kamu jadi trendik topik di grub perusahaan," ulas Maura, berjalan mengikuti Berlian.
Berlian mengedikkan bahu. "Anjing menggonggong kafilah berlalu, cuek aja," respon Berlian.
"Tinggal di mana sekarang?" tanya Maura penuh selidik.
"Ada dech," jawab Berlian dengan senyum mengembang.
Entah kebetulan atau memang nasibnya yang beruntung.
Saat mencari rumah tinggal, Berlian menemukan apartemen yang lumayan mewah dan harga sewanya tak masuk di akal. Ndlosor banget uang sewanya, dicicil juga boleh.
"Terus rumah kamu? Enak banget selingkuhan Arya bisa tinggal di situ. Kamu itu jadi orang, baiknya kebangetan deh," omel Maura. Kesal karena baginya Berlian terlalu bermurah hati pada Arya dan selingkuhannya.
"Makasih atas perhatiannya Maura," kata Berlian ingin mengakhiri topik pagi ini. Karena di depan sana sudah berdiri kokoh pria balok es.
"Kamu punya hutang penjelasan padaku!" ancam Maura membuat Berlian terkekeh kecil.
.
"Berlian Putri Wiranata, pagi ini siapkan berkas akuisisi perusahaan Wijaya," perintah sang bos.
"Baik tuan," jawab Berlian tanpa bantahan.
"Wijaya? Bukannya itu punya nyokap mu?" bisik Maura.
Berlian tersadar.
"Perusahaan Wijaya? Bukannya sudah kolaps?" Berlian tahu, perusahaan peninggalan ibunya sudah gulung tikar. Kalau mau eksis perlu suntikan dana yang tak sedikit. Terus ngapain bos nya mau bersusah payah membeli perusahaan yang jauh dari nilai keuntungan itu.
"Siapkan saja! Dan aku ingin kamu ikut ke sana," perintah Dominic.
Berlian mengangguk hormat
Dominic kembali ke ruangannya.
"Makin hari tingkah bos makin aneh deh," bisik Maura.
"Atau jangan-jangan bos berbaik hati, merebut kembali perusahaan Wijaya dan akan dikembalikan ke pewaris sah yaitu kamu," seru Maura penuh semangat
Berlian menyentil kening Maura, menyadarkan agar berhenti mengoceh.
"Halu!" seru Berlian.
"Kalau beneran gimana?"
"Ngaco!" Berlian melihatkan deretan gigi putihnya.
Maura dan Berlian berteman sejak putih abu, baik buruknya mereka sudah tahu luar dalam.
"Ntar makan siang, kutunggu di kantin," ujar Maura sebelum duduk di kursi dan bergelut dengan layar monitor di mejanya.
"Kok inget aja sih," Berlian tergelak.
Untuk sementara masalahnya lewat, dan Berlian menyiapkan apa yang diminta sang bos.
.
Berlian mengikuti langkah panjang sang bos, sampai dia musti setengah lari untuk menjaga jarak tetap aman agar tak ketinggalan.
Duk...
Kening Berlian serasa membentur tembok.
"Jalan pakai mata," seru sang bos yang ternyata berhenti mendadak.
"Bos ngapain pake berhenti mendadak," kesal Berlian atas ucapan sang bos.
"Nungguin kamu yang lelet," balas Dominic membuat Berlian semakin kesal.
Asisten Brian mengurai senyum.
"Mari tuan, kita sudah ditunggu direktur utama perusahaan Wijaya," beritahu asisten Brian dengan senyum tak jelas karena melihat debat kecil atasan dan stafnya itu.
Deg. Itu artinya aku akan bertemu dengan ayah. Pikir Berlian.
"Kenapa?" tatapan Dominic memindai Berlian yang nampak meragu.
Berlian menggelengkan kepala, "Aman tuan,"
.
"Selamat datang tuan Dominic dan asisten Brian, suatu kehormatan anda datang langsung menemui kami," sambut tuan Adrian Kusuma dan jajarannya.
Aura Dominic tak berubah, dingin dan tak tersentuh.
Berlian menyusul belakangan karena ijin ke toilet terlebih dahulu. Bertemu dengan ayahnya harus menyiapkan mental ekstra.
Karena terburu, Berlian hampir menabrak tubuh seseorang yang membelakanginya.
"Maaf .. Maaf ..," Berlian hendak berlalu.
"Kamu?" sambut wanita yang ternyata ibu sambung Berlian.
Nyonya Adrian menyilangkan tangan di depan dada.
"Ngapain kamu di sini?" tanyanya penuh selidik.
"Atau jangan-jangan kamu tahu kalau perusahaan ini mau dijual? Ingat! Kamu sudah tak berhak," lanjutnya dengan kilatan marah.
Berlian diam tak menyambut, lumayan capek bermain peran dengan wanita ini selama bertahun-tahun.
"Sudah selesai? Kalau sudah, saya mau ke ruang rapat," pamit Berlian baik-baik.
Belum sempat melangkah, tangan Berlian dicekal oleh nyonya Adrian.
"Tak akan kubiarkan kamu membuat kekacauan di sana,"
Tak ada kesal dan tak ada kecewa di raut muka Berlian. Sudah capek menghadapi wanita di depannya ini.
"Nyonya Adrian, saya tak ingin menganggu. Tapi bos saya sedang menunggu berkas ini," Berlian mengangkat hard file yang dipegang olehnya.
"Alesan!"
'Sepertinya dia lupa kalau aku bekerja di perusahaan tuan Dominic,' batin Berlian.
"Sepenting apa jabatanmu, sampai bos mempercayakan berkas penting ke kamu?"
'Ternyata daya ingatnya lumayan bagus,' Berlian tersenyum geli atas respon sang ibu sambung.
"Penting atau nggak, tak perlu anda tahu nyonya," Berlian menggeser badannya untuk menghindari nyonya Adrian. Panggilan tante yang biasa tersemat, berubah menjadi nyonya. Berlian sengaja menjaga jarak dengan istri ayahnya itu.
.
Saat di lorong, Berlian bertemu lagi dengan pengganggu berikutnya..
.
💖