NovelToon NovelToon
Kapan Kebahagiaan Itu Datang ?

Kapan Kebahagiaan Itu Datang ?

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Cerai / Penyesalan Suami
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Almira

Sejak dilahirkan, hidup tak pernah memberinya ruang untuk merasa bahagia. Luka, kehilangan, dan kesendirian menjadi teman tumbuhnya. Saat orang lain menemukan kebahagiaan dengan mudah, ia hanya bisa bertanya dalam diam: kapan kebahagiaan itu datang?
Sebuah kisah tentang hati yang lelah menunggu, namun belum sanggup berhenti berharap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pagi yang terus datang

Pagi selalu datang, bahkan setelah malam paling gelap sekalipun.

Aku belajar itu sejak kecil—bukan dari buku pelajaran, melainkan dari punggung ibu yang tak pernah benar-benar beristirahat.

Saat ayam belum sempat berkokok, ibu dan kk pipi sudah bangun. Aku sering terjaga oleh suara halus sendok yang beradu dengan baskom adonan. Bunyi itu pelan, nyaris tak terdengar, seolah ibu takut membangunkan luka-luka kami. Aku pura-pura tidur, tapi mataku mengintip dari balik selimut tipis. Ibu duduk membungkuk, wajahnya lelah, matanya sembab, namun tangannya tetap bergerak cekatan.

Abang Ari biasanya bangun lebih dulu dariku. Ia membantu mengangkat ember minyak, meski jalannya sedikit tertatih. Aku tahu ia masih sakit, tapi ia tak pernah mengeluh. Baginya, mengeluh hanya akan menambah beban ibu.

“Abang nggak apa-apa?” bisikku suatu pagi.

Ia menoleh, tersenyum kecil. Senyum yang selalu sama—senyum yang menutupi segalanya.

“Kalau abang bilang sakit, ibu bakal sedih,” jawabnya.

Aku diam. Sejak saat itu, aku tahu: di rumah ini, kami semua belajar menyembunyikan rasa.

Kami berangkat sekolah dengan bau gorengan yang masih menempel di seragam. Kadang aku malu ketika teman-teman menutup hidung atau berbisik. Tapi setiap kali rasa malu itu datang, aku mengingat wajah ibu. Malu itu kalah oleh rasa ingin bertahan hidup.

Ayah jarang berbicara. Jika berbicara, suaranya keras.

Jika diam, kehadirannya justru lebih menakutkan.

Rumah ini seperti berjalan di atas kaca—salah langkah sedikit, darah akan mengalir.

Suatu siang, aku pulang lebih cepat. Dari balik pintu, aku mendengar suara ayah dan ibu. Bukan bentakan, tapi nada rendah yang membuat dadaku sesak.

“Uangnya sudah habis,” kata ibu pelan.

“Kau tahu itu untuk apa,” jawab ayah dingin.

Aku menahan napas. Kakiku gemetar. Aku ingin berlari, tapi tubuhku mematung. Lalu sunyi. Sunyi yang lebih menyakitkan daripada teriakan.

Malamnya, ibu duduk di sampingku. Ia membantu mengerjakan PR dengan penerangan lampu redup. Aku menatap wajahnya yang semakin tirus.

“Bu… kalau Senja besar nanti, Senja boleh kerja biar ibu nggak capek?” tanyaku.

Ibu terdiam. Lama. Lalu ia tersenyum—senyum yang membuat mataku panas.

“Kamu cukup jadi anak baik, Nak. Itu sudah lebih dari cukup.”

Aku tidak tahu bahwa menjadi “anak baik” sering kali berarti menelan rasa sakit sendiri.

Hari demi hari berlalu. Kami tumbuh lebih cepat dari seharusnya. Abang Al dan Rendi belajar menjadi pelindung, Kak Pipi dan Kak Rita belajar menjadi pengganti ibu, dan aku… aku belajar mengamati, mengingat, dan diam.

Alfa tumbuh tanpa tahu apa-apa. Tawanya masih polos. Kami menjaganya seperti menjaga cahaya kecil di tengah rumah yang gelap. Selama Alfa tertawa, kami merasa masih ada alasan untuk bertahan.

Namun aku tahu, luka tidak hilang hanya karena ditutup. Luka tinggal, berakar, dan tumbuh bersama kami.

Dan tanpa kusadari, Senja kecil perlahan berubah.

Bukan menjadi anak yang lemah,

melainkan anak yang belajar kuat—

meski kuat itu sering terasa seperti kesepian.

Hari-hari kami selalu berjalan dengan rasa yang sama, berulang tanpa jeda, sepanjang tahun-tahun yang terasa begitu panjang. Hingga akhirnya, Kak Pipi menamatkan pendidikannya di bangku SMA dan bersiap pergi merantau untuk bekerja, meninggalkan rumah kecil yang penuh cerita.

Ayah pun perlahan pulih. Tubuhnya sudah kembali kuat dan ia mulai bekerja seperti sediakala, seolah masa kelam itu hanya bayangan yang pernah singgah. Namun tidak Denganku. Aku masih menjalani hari yang sama—menjaja gorengan, berkeliling kampung dari pagi hingga senja, dengan langkah kecil yang lelah dan harapan yang kerap terasa jauh. Aku tak tahu sampai kapan hidup seperti ini akan berakhir.

Kadang, rasa iri menyusup tanpa permisi. Aku melihat teman-temanku bebas bermain, tertawa tanpa beban, bisa meminta uang jajan kapan saja tanpa rasa sungkan. Sementara aku, harus belajar menahan keinginan, menelan lelah, dan mengubur mimpi kecilku dalam-dalam. Aku hanya seorang anak yang terlalu cepat belajar tentang kerasnya hidup, sebelum sempat benar-benar merasakan indahnya masa kanak-kanak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!