NovelToon NovelToon
Wa'Alaikumsalam Mantan Imam

Wa'Alaikumsalam Mantan Imam

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Pernikahan Kilat / Romansa / Konflik etika
Popularitas:22.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Reza telah memiliki Zahra, model ternama dengan karier cemerlang dan ambisi besar. Namun, demi keluarga, ia dipaksa menikahi Ayza, perempuan sederhana yang hidupnya penuh keterbatasan dan luka masa lalu.

Reza menolak pernikahan itu sejak awal. Baginya Ayza hanyalah beban yang tak pernah ia pilih. Pernikahan mereka disembunyikan, Ayza dikurung dalam peran istri tanpa cinta, tanpa ruang, dan tanpa kesempatan mengembangkan diri.

Meski memiliki bakat menjahit dan ketekunan luar biasa, Ayza dipatahkan perlahan oleh sikap dingin Reza. Hingga suatu hari, talak tiga dijatuhkan, mengakhiri segalanya tanpa penyesalan.

Reza akhirnya menikahi Zahra, perempuan yg selalu ia inginkan. Namun pernikahan itu justru terasa kosong. Saat Reza menyadari nilai Ayza yg sesungguhnya, semuanya telah terlambat. Ayza bukan hanya telah pergi, tetapi juga telah memilih hidup yg tak lagi menunggunya.

Waalaikumsalam, Mantan Imam adalah kisah tentang cinta yg terlambat disadari dan kehilangan yg tak bisa ditebus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Ketika Diam Lebih Tajam dari Bentakan

Reza terdiam. Tatapannya jatuh ke meja, ke masakan yang masih mengepul hangat. Uap tipis naik perlahan, seperti mengejek diamnya sendiri. Rahangnya mengeras, tapi bibirnya tetap terkunci.

Ayza menatap Reza sesaat. Bukan menunggu jawaban, apalagi menuntut pembelaan.

Ia menyendok makanannya dengan tenang, seolah di meja itu hanya ada nasi dan lauk, bukan tiga orang dengan kepentingan masing-masing.

Suasana mendadak terasa lebih sesak.

Fahri mengerutkan kening, menatap kakaknya tak percaya. “Kak… lo sariawan?”

Hening. Hingga --

Brak.

Tangan Reza menggebrak meja. Piring bergetar, sendok beradu pelan.

Bahu Ayza dan Fahri sedikit terangkat, hampir bersamaan.

“Cukup, Fahri.” Suaranya rendah, tapi tajam. “Bisa nggak diam dan makan dengan tenang?”

Fahri terdiam, alisnya terangkat, jelas tak menyangka.

“Wah,” gumamnya, tersenyum miring. “Baru kali ini gue dibentak gara-gara makan.”

Reza menatapnya dingin. Bukan karena marah, tapi karena lelah. “Kalau mau makan jangan banyak omong. Jangan bikin emosi.”

Fahri menyeringai miring. “Oh, jadi sekarang gue masalahnya?”

“Kamu bikin suasana nggak kondusif,” balas Reza cepat. Terlalu cepat, seolah takut kehilangan kendali.

Ayza tetap makan. Tak menyela, bahkan tak melirik.

Fahri tertawa pendek. “Nggak kondusif?” Ia menoleh ke meja, ke masakan, ke Ayza. “Atau karena lo lebih belain bini lo daripada adik lo sendiri?”

Reza menatapnya tajam. “Semalam kamu bikin masalah. Sampai harus ditebus dari kantor polisi. Dan sekarang kamu masih mau ribut di meja makan?”

Fahri mendecak, lalu menyeringai sinis. “Oh, jadi sekarang gue salah total, ya?”

Tak ada jawaban, hanya keheningan di meja makan.

Reza berdiri setengah, kursinya berderit. “Kalau tahu salah jangan kebanyakan komentar,” katanya menahan emosi.

Fahri mendengus. "Kakak jangan sok berkuasa karena ayah dan bunda gak ada."

“Memangnya kenapa? Kalau bukan karena uang dariku,” lanjut Reza, “kamu masih duduk di kantor polisi sekarang.”

Tatapan Fahri mengeras, jelas tak suka dengan perkataan kakaknya. “Jadi itu maksud lo? Ngungkit?”

“Bukan ngungkit,” sahut Reza dingin. “Ngasih tahu posisimu.”

Fahri mendengus, lalu menarik kursinya kasar. “Tenang aja, Kak. Gue ngerti.” Ia melirik Ayza sekilas. “Di rumah ini, yang paling aman emang… diam.”

Ayza tetap tak bereaksi.

Justru itulah yang membuat Reza semakin tak nyaman.

Fahri akhirnya meninggalkan meja makan. Langkahnya berat, pintu kamar dibanting pelan.

Reza terdiam, nafsu makannya mendadak lenyap. Akhirnya ia berdiri dan berbalik menuju kamar.

“Kau tidak lapar?” suara Ayza terdengar lembut di belakangnya.

Reza berhenti sesaat, tapi tak menoleh.

Ayza melanjutkan, datar. “Tadi kamu marah bukan karena aku. Tapi karena kamu lelah.”

Kalimat itu sederhana. Tidak menuduh apalagi menggurui. Namun justru itu yang membuat tangan Reza mengepal.

“Aku tidak butuh penilaianmu,” sahutnya dingin. “Kamu tidak tahu bagaimana aku tumbuh.”

Ia melangkah lagi, lalu berhenti.

“Doakan saja bundaku cepat sembuh,” katanya tanpa menoleh. “Supaya urusan di rumah ini selesai," lanjutannya, lalu pergi.

Ayza tetap duduk di tempatnya. Ia menatap meja makan yang kini hanya berisi piring-piring setengah kosong.

"Mubazir," gumamnya pelan.

Ia menghela napas pelan, lalu mulai merapikannya satu per satu.

***

Malam telah berlalu, hari telah berganti pagi.

Ayza menyiapkan sarapan seperti biasa. Dan tak lama setelah masakan tersaji, Reza dengan pakaian kantor masuk ke ruang makan. Fahri menyusul di belakangnya, memakai celana pendek, kaus oblong, dan rambut sedikit berantakan.

Pagi itu mereka sarapan tanpa percakapan. Hanya ada suara sendok beradu dengan piring.

Setelah selesai makan, Ayza menatap kakak beradik itu bergantian.

“Kalau kalian nggak makan di rumah, tolong kabari. Supaya makanan yang aku masak nggak mubazir," katanya, suaranya tetap lembut.

Ia meraih kunci di meja. “Dan sebaiknya bawa kunci masing-masing. Kalian pulang nggak tentu jamnya. Aku nggak mau jadi tukang tunggu pintu.”

Tak ada nada menyalahkan, hanya keputusan.

Reza mengangguk singkat. “Akan aku kabari," ucapnya tanpa menambahkan apa pun.

Fahri diam. Matanya sempat melirik lauk di piringnya. Dalam hati ia mengakui, masakan itu enak. Tapi gengsinya terlalu mahal untuk mengakui.

Ayza menyodorkan secarik kertas. “Ini nomor teleponku.”

Fahri menerimanya tanpa komentar, lalu menyimpannya di ponsel.

“Aku mau tanya,” lanjut Ayza ringan. “Kamu mau daftar kuliah di mana? Jurusan apa?”

Fahri terkekeh pendek. “Emang orang desa kayak lo bisa bantu apa?”

Ayza tak tersinggung. “Kalau nggak mau, ya sudah.”

Ia berbalik ke dapur. Selesai.

Fahri menatap Ayza bengong, lalu beralih ke Reza.

“Kak,” katanya pelan tapi jelas, “lo serius nikah sama cewek macam dia?”

Reza mengusap sudut bibirnya dengan tisu. Gerakannya tenang, nyaris tak peduli.

“Urus saja kuliah kamu,” katanya datar. “Nggak usah ngurusin hidupku.”

Ia berdiri. “Dan kalau kamu sampai nggak kuliah juga,” lanjutnya tanpa menoleh, “uang bulananmu aku potong.”

Reza melangkah pergi, tanpa menoleh lagi.

Fahri tertawa pendek, lebih mirip hembusan napas bingung daripada ejekan. Ia menatap punggung kakaknya, lalu melirik Ayza.

Tak tahu harus berkata apa.

***

Fahri mondar-mandir di kamarnya. Laptop terbuka di atas meja. Layar menampilkan formulir pendaftaran yang tak kunjung bisa disimpan. Ia kembali duduk menatap laptopnya.

“Kok bisa beda, sih?” gumamnya sambil kembali mengetik.

Ia menekan submit, tapi eror lagi.

“Sial!” umpatnya.

Dengan geram, Fahri meraih ponsel dan menekan nama Reza.

“Kak, ini sistemnya error. Nama ayah beda.”

“Apaan yang eror?" tanya Reza terdengar datar.

"Aku daftar kuliah. Tapi gak bisa submit."

Dari seberang terdengar suara Reza singkat dan dingin. "Aku mau meeting. Semua sudah siap. Nanti aja.”

“Kak, ini deadline—”

Tut. Tut. Tut.

Panggilan terputus.

"What?!" Fahri menatap layar ponselnya yang sudah gelap.

“Argh! Bastard! Gak guna banget jadi kakak,” pekiknya sambil menjatuhkan ponsel ke kasur.

Tok.

Tok.

Pintu kamarnya diketuk.

“Apaan sih?” bentaknya.

“Kakak mau masukin baju kamu yang sudah digosok,” sahut Ayza dari balik pintu.

“Gak dikunci,” jawab Fahri ketus.

Pintu terbuka. Ayza masuk membawa sekeranjang pakaian rapi. Ia sempat melirik Fahri yang mengacak-acak rambutnya sendiri, frustrasi.

"Kenapa lagi tuh anak?" batinnya.

Tanpa komentar, Ayza menyusun pakaian ke dalam lemari dengan gerakan tenang.

Sementara Fahri kembali mengangkat ponselnya. “Bro, gue gak bisa daftar. Nama ortu gak sinkron. Gimana dong?"

Suara dari seberang terdengar tak yakin. “Duh… gue juga gak ngerti, Ri.”

Fahri menaruh ponsel di meja agak kasar. “Sial,” umpatnya lagi.

Ayza menutup pintu lemari. Keranjang di tangannya sudah kosong. Ia berbalik menatap Fahri. “Mau Kakak bantu?” tanyanya lembut.

Fahri menoleh, lalu tertawa sinis. “Gue gak salah dengar 'kan? Emang lo bisa?”

“Kalau percaya, Kakak bantu,” jawab Ayza santai. “Kalau nggak, ya sudah.”

Fahri melirik jam, pendaftaran hampir ditutup. Ia menghela napas kasar. “Ya udah. Coba deh.” Ia menatap Ayza tajam. “Awas kalau nggak bisa.”

 

...🔸🔸🔸...

...“Yang paling melelahkan bukan dimarahi, tapi disadarkan tanpa disudutkan.”...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Dew666
💎🌹
Dek Sri
lanjut
Anitha Ramto
tentu saja si Zahra menghindar buru² karena tidak mau merawatmu dan kamu akan menjadi beban buat si Zahra.

Fahri selalu ngingetin Ayza jangan sampai jatuh Cinta sama Pria Bestard kaya si Reza🤣,tenang saja Fahri...Ayza tidak akan pernah jatuh cinta sama kakakmu,Ayza mh sudah ada yang nungguin Cinta sejatinya Ayza...Kaisyaf😍
Mundri Astuti
emang y love is blind, jadi bikin org ilang ke warasannya macam si Reza
Hanima
lama amat Thor sadarrrr nya 🤭
Diana Dwiari
dr situ dah keliatan kan bahwA wanita yg kamu kejar hanya mau senangnya saja.....makan tuh jalangmu
Felycia R. Fernandez: tapi sayangnya Reza kuat nafsu kk,bukan cari yang beneran tulus 😆😆😆
total 1 replies
Jumi Saddah
nah kapan semua akan terungkap,,,pasti kita bilang wow gitu😄
Sugiharti Rusli
karena sekali lagi apa yang diucapkan oleh Fahri menemukan kebenaran, dia hanya berperan sebagai art bagi Reza,,,
Sugiharti Rusli
entah bagaimana nanti kali Ayza lebih memilih lepas dari si Reza setelah dia sembuh,,,
Sugiharti Rusli
dan Ayza tahu ini bukan awal akan tumbuhnya perasaannya terhadap suaminya itu sih,,,
Sugiharti Rusli
sedang Ayza istri yang dipilihkan oleh kedua ortu kamu yang tidak pernah kamu anggap, dia tetap hadir ke rumah sakit meski sudah tengah malam
Sugiharti Rusli
kita lihat nanti tanggapan perempuan pilihan kamu sendiri Reza yang katanya sangat kamu cintai sampai mau berzinah
Puji Hastuti
Ayza kenapa kamu masih mau peduli sih!
Puji Hastuti
Siapa yang nelpon reza? Zahra kah?
Sugiharti Rusli
entah apa nanti yang akan Ayza tanggapi dengan kejadian yang menimpa 'suami' nya itu, bahkan si Zahra yang sudah pernah Reza sentuh belum tentu mau merawatnya
Sugiharti Rusli
ternyata Allah memiliki takdirnya sendiri dengan apa yang menimpa si Reza sekarang yah,,,
Sugiharti Rusli
teman" nya tidak tahu apa yang sejatinya Fahri jaga dan sembunyikan, karena bisa jadi itu akan membuka aib keluarganya sendiri
Sugiharti Rusli
dia sangat tahu kalo ketidak jelasan siapa orang yang akan membuatnya bisa masuk, bukan itu yang dia tuju karena baginya kejujuran adalah prinsip yang suatu saat malah bisa menekannya bila dia berhasil
Sugiharti Rusli
sepertinya Fahri memang sangat keras memegang prinsip yang diyakininya sih
Sugiharti Rusli
Fahri ga mungkin melarang teman" memasuki jalur pintas dari orang yang sudah dia ga respek karena prinsipnya itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!