NovelToon NovelToon
Takdir Cahaya & Kegelapan

Takdir Cahaya & Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: fernan Do

raja kegelapan dan ratu cahaya" 2 entitas yang tidak seharusnya bisa bersatu dan kekuatan yang seharusnya saling tolak menolak namun dikalahkan oleh takdir yang berjalan secara mutlak...menjalin sebuah cinta yang membuat kesucian cahaya menjadi dianggap najis dan kekejaman kegelapan dianggap lemah karena hubungan yang mereka jalanii

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fernan Do, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

perjanjian dibawah langit merah

Langit di atas Lembah Bayangan tampak seolah sedang berdarah. Warna merah keunguan yang pekat menyapu cakrawala, memisahkan wilayah emas Luxeria yang subur dengan daratan hitam Nocturnis yang gersang. Di tengah lembah tak bertuan itu, suasana terasa sangat dingin, bukan karena angin, melainkan karena ribuan pasang mata yang kini menghunuskan kebencian ke satu titik pusat.

Ferdi berdiri tegak, tangannya bersedekap di depan zirah obsidiannya yang masih menyisakan noda darah dari pertempuran pagi tadi. Di sampingnya, Vani tampak gelisah. Ratu Cahaya itu terus-menerus memutar pedang sucinya, matanya menyapu barisan pasukan yang mengepung mereka.

"PENGKHIANAT!"

Suara itu menggelegar seperti guntur. Panglima Zargon, tangan kanan Ferdi yang paling setia sekaligus paling haus darah, melangkah maju dari kegelapan. Di sisi lain, Jenderal Aris dari Luxeria memacu kudanya hingga ke garis depan, wajahnya menunjukkan kekecewaan yang mendalam.

"Kau memalukan darah kegelapan, Ferdi!" Zargon meraung, pedang besarnya bergetar karena amarah. "Berduaan dengan Ratu Cahaya di tanah suci ini? Kau pantas dihukum mati di bawah altar bayangan!"

"Dan kau, Vani!" Aris berteriak tak kalah kencang, suaranya parau karena emosi. "Kau adalah simbol harapan kami! Bagaimana bisa kau menukar sucinya cahaya dengan monster tak berhati ini? Rakyat akan menghakimimu di tiang gantungan jika mereka tahu pemimpin mereka telah berlutut pada kegelapan!"

Vani mendengus keras, sebuah suara yang sangat tidak mencerminkan seorang ratu yang anggun. Ia menoleh ke arah Aris dengan tatapan tajam yang bisa melubangi zirah.

"Oh, diamlah Aris! Kenapa kau berisik sekali, sih? Aku hanya sedang... sedang melakukan diplomasi tingkat tinggi! Ya, diplomasi!" Vani berteriak balik, meski tangannya sedikit gemetar. "Lagipula, kenapa kalian semua hobi sekali muncul tanpa diundang? Apa kalian tidak punya pekerjaan lain selain membuntutiku?!"

"Diplomasi dengan tangan saling menggenggam?" sindir Zargon sinis, matanya melirik ke arah jari-jemari Ferdi dan Vani yang sempat bertautan sebelum pasukan datang.

Ferdi menghela napas panjang. Ia tampak sangat santai, seolah dia tidak sedang dikepung oleh ratusan prajurit yang siap mencincangnya. Ia menoleh ke arah Zargon dengan tatapan bosan.

"Zargon, suaramu merusak suasana sore yang seharusnya tenang ini. Dan Aris... kau seharusnya belajar cara mengetuk pintu atau setidaknya berdehem sebelum masuk ke urusan pribadi orang lain. Benar-benar tidak sopan."

"MATILAH KALIAN BERDUA!" Zargon memberi komando tanpa ampun.

Pasukan dari dua kerajaan itu merangsek maju secara bersamaan. Tanah bergetar. Namun, sebelum satu pun senjata menyentuh kulit mereka, Ferdi menghentakkan kakinya ke tanah.

BUM!

Gelombang energi obsidian meledak ke segala arah, menciptakan dinding kegelapan yang pekat dan keras seperti baja. Secara refleks, Vani mengangkat pedangnya, menciptakan kubah cahaya yang memantulkan setiap anak panah yang meluncur ke arah mereka.

Di tengah kekacauan ledakan energi itu, Ferdi menarik kasar lengan Vani, membawanya lari menuju celah tebing tersembunyi yang hanya diketahui oleh para pengelana gelap.

"Lepaskan! Aku bisa jalan sendiri, tahu! Dasar kasar!" seru Vani sambil menepis tangan Ferdi setelah mereka sampai di balik dinding batu yang aman. Wajahnya merona merah, entah karena lari atau karena hal lain. "Lagipula, lihat apa yang kau lakukan! Gara-gara idemu mengajak bertemu sore ini, kita jadi buronan dunia! Kau dengar tadi? Tiang gantungan! Aris bilang tiang gantungan!"

Ferdi bersandar di dinding tebing, menatap Vani dengan tatapan datar namun ada kilat jenaka di matanya. "Memang itu tujuannya, Vani. Aku ingin tahu seberapa setia pasukanmu saat melihat ratunya bersamaku."

"Apa?! Kau gila? Kau sengaja membiarkan mereka tahu?!" Vani berkacak pinggang, napasnya memburu. "Sekarang aku tidak punya istana lagi! Tidak ada pelayan, tidak ada makanan enak, dan tidak ada koleksi gaun sutraku! Kau menghancurkan karierku sebagai ratu dalam satu sore! Bagaimana kita bisa hidup? Makan apa kita nanti? Rumput? Kau mau aku makan rumput di hutan?"

Ferdi terkekeh pelan, suara rendah yang bergetar di dadanya. "Kau cerewet sekali kalau sedang panik. Berhenti berkicau, telingaku sakit."

"Aku tidak panik! Aku sedang melakukan audit kerugian finansial, sosial, dan politik! Kau Raja Bodoh yang tidak punya otak!" Vani terus mengomel, jarinya menunjuk-nunjuk dada Ferdi. "Dan lihat zirahmu ini, hitam kusam, bau asap! Bagaimana mungkin aku harus melarikan diri dengan pria yang seleranya seburuk ini?!"

Ferdi tiba-tiba melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga punggung Vani membentur dinding batu yang dingin. Omelan Vani terhenti seketika. Jantungnya berdegup kencang, seolah-olah ingin melompat keluar dari dadanya.

"Vani, dengarkan aku baik-baik," suara Ferdi melembut, namun setiap katanya terasa sangat berat. "Jika kita melangkah keluar dari celah tebing ini ke arah utara, tidak ada jalan kembali. Tidak ada Nocturnis, tidak ada Luxeria. Kita harus meninggalkan semuanya. Mahkotamu yang berat itu, pedang sucimu, namamu, dan juga takhta berdarahku. Kita akan menjadi... bukan siapa-siapa."

Vani terdiam, matanya yang cokelat jernih menatap mata Ferdi yang gelap dan dalam. "Tanpa mahkota? Kau tahu betapa beratnya hidup rakyat jelata? Kita harus mencuci baju sendiri! Kau tahu cara mencuci baju? Jangan-jangan kau pikir baju bersih itu tumbuh di pohon!"

"Aku akan belajar," jawab Ferdi pendek, matanya tidak beralih sedikit pun. "Tapi sebelum kita melangkah lebih jauh, aku butuh sebuah perjanjian."

"Perjanjian apa lagi? Kau mau aku menandatangani kontrak kerja sebagai pembantumu?" tanya Vani ketus, mencoba mempertahankan gengsinya yang mulai runtuh.

"Perjanjian untuk meninggalkan masa lalu," Ferdi meraih tangan Vani, menggenggamnya dengan sangat erat namun lembut. "Jangan pernah sebut lagi soal perang. Jangan sebut soal siapa yang menang atau kalah. Dan jangan pernah menyesal karena telah memilih pria yang dicap monster oleh seluruh dunia."

Vani memalingkan wajah, menyembunyikan senyum kecil yang hampir lolos. "Hmph, syarat yang sangat berat. Lagipula, siapa yang mau hidup berdua dengan pria kaku sepertimu? Kau itu membosankan, tidak punya selera humor, seleramu buruk, dan kau selalu terlihat seperti ingin memakan orang hidup-hidup."

Ferdi tidak membalas ejekan itu dengan kata-kata sinis seperti biasanya. Ia justru menundukkan kepalanya, hingga kening mereka bersentuhan.

"Vani... aku sudah membunuh ribuan orang tanpa berkedip. Aku sudah menghancurkan kerajaan tanpa rasa sesal. Tapi saat aku melihatmu terluka di medan perang itu... aku merasa duniaku yang gelap ini benar-benar akan berakhir," bisik Ferdi. "Aku mencintaimu. Sangat jatuh cinta sampai rasanya aku ingin menghancurkan siapa pun yang berani menatapmu dengan kebencian. Termasuk pasukanku sendiri."

Wajah Vani kini benar-benar merah padam, lebih merah dari langit lembah tadi. Ia mencoba menarik tangannya, tapi Ferdi tidak melepaskannya.

"Kau... kau bicara apa, sih? Jangan bicara sok puitis! Kau itu Raja Kegelapan, bukan penyair jalanan!" Vani bergumam, namun ia tidak lagi memberontak. "Dan... dan... jangan berpikir satu kalimat manis bisa membuatku lupa kalau kau pernah merobek jubah favoritku tiga tahun lalu!"

"Jadi?" Ferdi mengangkat satu alisnya, menunggu jawaban.

Vani menarik napas panjang, menelan harga dirinya bulat-bulat. "Baiklah! Aku juga... ya, begitulah! Kau tahu sendiri jawabannya!"

"Aku tidak tahu. Katakan dengan jelas," goda Ferdi.

"Iya! Aku juga suka padamu! Aku mencintaimu, puas?!" teriak Vani kesal, wajahnya disembunyikan di dada zirah Ferdi. "Tapi ingat ya! Di desa nanti, kau yang harus mencari kayu bakar! Kau yang harus mencangkul tanah! Dan jangan berani-berani memerintahku seperti kau memerintah prajuritmu, atau aku akan menyinarimu sampai kau silau!"

Ferdi tersenyum lebar, sebuah senyum tulus yang bisa meruntuhkan seluruh kegelapan di Nocturnis. "Kesepakatan tercapai, Vani."

"Jangan panggil aku Vani dengan nada manis begitu! Menjijikkan!"

"Siap, Vani."

Ferdi kemudian menarik kain hitam dari jubahnya, membungkus tangan mereka yang bertautan dengan kain tersebut—sebuah simbol ikatan abadi bagi kaum pengelana. Dengan sisa kekuatan sihirnya, ia memanggil portal kuno yang terlarang, sebuah pintu menuju dimensi yang tak terjamah oleh peta mana pun di dunia.

"Ke mana kita pergi? Pastikan tempatnya tidak ada kecoak!" Vani mengomel lagi saat portal itu mulai menyedot cahaya di sekitar mereka.

"Ke sebuah lembah tersembunyi," bisik Ferdi sambil memeluk pinggang Vani erat. "Tempat di mana tidak ada raja, tidak ada ratu. Hanya ada kau, aku, dan omelanmu yang akan aku dengarkan sampai aku tua."

"Sialan kau, Ferdi! Aku tidak secerewet itu!"

Kalimat terakhir Vani hilang ditelan pusaran dimensi. Saat Zargon dan Aris berhasil menjebol dinding tebing, mereka hanya menemukan kehampaan. Di lantai batu yang dingin, tergeletak dua buah mahkota yang saling bersandar—satu dari emas murni yang bersinar redup, dan satu dari obsidian yang retak.

Bagi dunia, mereka telah tiada. Namun bagi lembah terpencil yang jauh di sana, sebuah kehidupan baru yang penuh dengan "perdebatan manis di desa terpencil yang dipenuhi masyarakat penduduk di sekitar yang hanya mengira Ferdi dan Vani hanya suami istri biasa yang menetap di desa mereka..disinilah Ferdi dan Vani senang karena dianggap seperti manusia biasa!!!!

1
Anonymous
jadi kerajaan luxeria itu penuh dengan sejarah yaa
fernan Do: yup saya memang sengaja membuat bab 1 agar langsung berkonflik nah nanti di bab bab special bakal terungkap mengapa mereka berperang dan konflik konflik terdahulu
total 1 replies
Anonymous
ceritanya penuh plot wist yaa ternyata
fernan Do: hehe iyaa agar tidak terlalu sejalan harus ada kejutan juga kak
total 1 replies
Anonymous
lanjut besok yaaaa🙏😍
fernan Do: oke kak terimakasih sudah mau baca yaa saya akan upload setiap hari cerita saya hehe🙏🙏🙏😍
total 1 replies
Anonymous
semangat autor
Ahmad Muhajir
semangat thor wkwkwk
fernan Do: yoii bang semangat juga bang 🙏🙏🙏💪
total 1 replies
Anonymous
wahh aku tau niat Ferdi baik namun dia malah buat Vani khawatir
Anonymous
disini Ferdi seperti ingin sekali membuat Vani bahagia namun dia malah membuat Vani ngomel ngomel🤣
fernan Do: hahaha betul sekali Ferdi terlihat konyol padahal dia adalah raja kuat dahulu
total 1 replies
Anonymous
bagus ceritanya sedikit nyambung cuman aku harap bisa diperbaiki yaa semangat
fernan Do: makasih saya akan memperbaiki kesalahan saya dan membuatnya lebih baik lagi terima kasih yaa 🙏😍😍
total 1 replies
fernan Do
semangat
fernan Do
semangat meskipun gada yang liat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!