MARVA RAVARA adalah seorang pemuda miskin yang hidup di dunia yang memuja status dan kekayaan. Berkat jalur beasiswa, ia dapat bersekolah di sebuah sekolah elit berskala internasional—tempat yang seharusnya membuka jalan untuk masa depannya, justru berubah menjadi neraka baginya.
Di sana, Marva dipandang sebagai noda: dihina, dikucilkan, dan menjadi sasaran perundungan oleh mereka yang merasa lebih “Layak”.
Segalanya berubah ketika Portal Misterius muncul dan menyeret semuanya ke dunia lain. Di hadapan mereka berdiri sebuah Menara Tinggi dan sebuah suara misterius menggema: Siapa pun yang mencapai puncak menara ini akan memperoleh kekuasaan serta keabadian.
Di dalam menara, para siswa dipaksa memilih peran—menjadi Seorang Player yang bertarung demi naik ke puncak, atau menjadi Seorang Guardian yang terikat pada sistem. Demi meraih kebebasan, Marva memilih jalan paling berisiko: Menjadi Seorang Player.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rein.Unknown, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prolog MANBO [GOD OF RINGS] Part 2
--- SISTEM DAN MENARA ---
Ia berdiri di atas tanah dengan batu hitam yang sangat banyak, daratan itu luas dan dingin. Langit di atasnya bukan biru, melainkan kelabu gelap tanpa matahari. Udara terasa berat, tidak seperti atmosfer yang selama ini dia rasakan.
Di hadapannya… berdiri sesuatu yang membuat tenggorokannya tersendat.
Sebuah Menara yang menjulang tinggi.
Bukan gedung.
Bukan juga bangunan.
Sangking tingginya, ujung dari Menara itu tidak terlihat. Dindingnya halus seperti obsidian, dipenuhi pola-pola geometris yang terlalu harmoni, seperti pola pada kerajaan di masa lalu.
Di sekitarnya, ratusan siswa lain juga mulai terbangun. Ada yang menangis. Ada yang berteriak. Ada yang hanya terpaku, tak mau meroses Apa yang sedang dilihatnya.
“Apa ini…?”
“Kita di mana?!”
“Ini mim…pi... kan?”
Tiba-tiba, Suara Misterius menggema.
Bukan dari satu arah.
Tapi dari segala arah. Seolah-olah suara itu berasal dari langit.
Suara itu dalam, tenang, tapi seperti memiliki emosi.
“Selamat datang.”
Semua terdiam.
“Kalian semua telah dipilih.”
Marva menelan ludah.
“Di hadapan kalian berdiri Menara Agung. Menara dengan sembilan puluh sembilan tingkatan.”
Cahaya simbol-simbol mulai menyala di dinding menara.
“Siapa pun yang dapat mencapai puncak Menara…”
“…akan memperoleh kekuasaan absolut.”
“Dan keabadian.”
Beberapa siswa terengah. Ada yang tertawa gugup. Adapula matanya seketika bersinar penuh ambisi.
“Namun pilihan berada ditangan kalian.”
Pintu menara seketika terbuka lebar dan semua berbondong-bondong masuk kedalam. Setelah berada didalam menara, seketika layar kecil muncul dihadapan mereka. Situasi berubah seperti berada dalam game, tiga simbol muncul pada layar tersebut.
Pedang.
Timbangan.
Mahkota.
“Kalian boleh memilih. Apakah akan menjadi : PLAYER, GUARDIAN OF FLOOR, atau GUARDIAN OF TOWER.”
“Setiap pilihan adalah jalan.”
“Setiap jalan memiliki harga.”
Marva memandangi simbol-simbol itu.
Di sekelilingnya, bisikan mulai terdengar.
“Apa ini Guardian of Tower.”
“Kalau jadi Guardian of Floor, Apakah kita akan aman?”
“Maksud simbol ini Apa…? bisa jadi Raja, gitu…?”
Marva mengepalkan tangan dengan sekuat tenaga. Ia kembali teringat kehidupannya yang dulu. Sekolah elit. Status. Kekuasaan yang terlalu dipamerkan oleh orang-orang seperti Elrian.
Jika ia memilih aman…
Ia akan tetap terkurung.
Jika ia memilih bertarung…
Mungkin keadaan bisa saja berubah.
Marva mengangkat kepalanya, menatap menara yang seakan menatapnya balik.
“Kalau aku mati?” gumamnya pelan.
Ia tersenyum tipis.
Setidaknya aku mati karena pilihanku sendiri.
Dengan sikap yakin dan penuh perhitungan. Tangannya mengarah pada satu simbol yang dari tadi menarik perhatiannya. Dia sadar bahwa Setiap simbol memiliki makna dan hanya simbol ini yang berbeda dari yang lainnya.
“Kling. Satu orang telah menjadi PLAYER.” ucap suara misterius itu.
Seketika Cahaya menyelimuti tubuh Marva. Seluruh mata terpanah padanya.
Cahaya itu dingin, seperti tangan tak terlihat yang membongkar dirinya—dari kulit, otot, hingga sesuatu yang lebih dalam. Marva merasakan sensasi aneh, seolah pikirannya ditarik keluar, dibentangkan, lalu ditimbang.
Sakitnya bukan di tubuh. Tapi cukup untuk membuat Marva menjerit kesakitan.
“Player telah terdaftar.”
Notifikasi muncul pada layar semua orang. Semua orang keheranan karena Marva lah yang pertama kali memilih.
“Nama : Marva Ravara.”
“Status : Player.”
“HP : 10/10.”
“MP : 7/7.”
“Skill : Belum ada.”
“Unik Skill : Belum ada.”
“Pasif Skill : Belum ada.”
“Risiko : Kematian permanen.”
Cahaya mulai meredup.
Marva lalu tersungkur, nafasnya terengah-engah. Kedua telapak tangannya menyentuh tanah. Jantungnya berdetak cepat, tapi ia masih hidup. Masih sadar.
“Si miskin itu telah menjadi Player! Aku tidak akan tinggal diam” ucap salah satu siswa.
Melihat Marva telah mendapatkan statusnya sebagai Player. Satu persatu siswa mulai ikut memilih peran. Seketika ruangan, penuh dengan cahaya. Proses yang sama terjadi pada ratusan siswa lain.
Ada yang diselimuti cahaya abu-abu—bagi mereka yang memilih GUARDIAN OF FLOOR. Cahaya mereka lebih berat, lebih lambat, seolah menancapkan tubuh mereka pada menara ini.
Ada pula yang diselimuti cahaya kekuningan—GUARDIAN OF TOWER. Cahaya itu tidak berdenyut. Stabil. Kaku. Seperti segel.
Dan Adapula cahaya seperti milik Marva—putih kebiruan, cepat, tajam—Player.
“Gila…”
Marva mendengar suara seseorang tertawa lepas lalu menoleh.
Red Calder.
Wajahnya penuh adrenalin. Mata merahnya bersinar, bukan karena cahaya sistem, tapi karena kegembiraan murni.
“Ini gila!” seru Red. “Sistem! Menara! Ini seperti game yang aku mainkan?!”
Beberapa Player yang lain juga ikut tertawa, entah karena gugup atau karena memang menikmati situasi ini.
Di sisi lain, Elrian Vox berdiri tegak, juga memilih Player. Cahaya mulai menghilang dari tubuhnya. Wajahnya tenang, tapi senyum kecil muncul di sudut bibirnya.
“Masuk akal,” gumam Elrian. “Memilih simbol ini akan mengamankan posisiku.”
Marva melihat ke arah Kaela Naradis.
Ia hanya berdiri, terdiam kaku sambil menatap pada layar yang berisi simbol-simbol itu.
Ia belum memilih.
Tatapan Kaela kosong, ia terpaku sejenak. Lalu Marva menegurnya. “Apakah kamu tidak akan memilih?”
“Apakah kita memang harus memilih.” Balik Kaela balik bertanya. Tapi tatapan Marva seperti mengisyaratkan sesuatu pada Kaela.
Proses dimulai.
Kaela akhirnya memilih.
Cahaya putih kebiruan menyelimutinya.
Player telah terdaftar.
Sementara itu, jauh di belakang, beberapa siswa diselimuti cahaya abu pekat. Wajah mereka berubah—lebih kosong, lebih kaku. Mereka berdiri tegak tanpa ekspresi.
Salah satu dari mereka menoleh ke arah Marva.
Tatapan itu… berbeda.
Guardian of Tower telah terdaftar.
Marva merasakan bulu kuduknya berdiri karena pada Setiap siswa yang memilih menjadi Guardian of Tower.
Tanah lalu bergetar. Lantai dibawah mereka bergerak. Tiba-tiba sebuah tangga muncul, memperlihatkan suasana tangga yang dingin dan penuh misteri.
“Proses pendaftaran telah selesai. Seluruh peserta telah terdaftar”
“Tingkat pertama telah dibuka.”
“Aturan dasar berlaku.”
Huruf-huruf muncul di udara, membentuk barisan teks yang melayang.
“Tidak ada kebangkitan.”
“Tidak ada jalan kembali.”
“Kematian bersifat permanen.”
Beberapa siswa langsung panik.
“Apa???!!!! Kematian?!”
“Ini bukan game!”
“Aku mau keluar—!”
Salah satu siswa berlari menjauh dari tangga, mencoba keluar, kembali ke arah tempat mereka pertama kali muncul.
Belum genap berlari sepuluh langkah…
Seketika tubuhnya berhenti. Seolah menabrak dinding tak terlihat. Sebuah retakan transparan muncul di depannya.
Lalu— set—
Tubuhnya terpotong.
Tanpa darah. Tanpa jeritan panjang. Separuh badannya menghilang, jatuh ke tanah lalu menghilang seperti game.
Suasana langsung sunyi sesaat. Lalu salah satu siswi berteriak dan memecah kesunyian itu.
“Tidak!!!!!”
“Aku mau keluar—!”
“Ibu, Ayah, Tolong Aku........”
sebagian siswa menangis dan menjerit.
Dan diikuti oleh yang lain. Suasana menjadi kacau. Mereka tiba-tiba merasa tidak siap.
Pesan terakhir muncul:
“Pintu menara akan ditutup.”
Marva kembali menelan ludah.
Ini nyata.
Tidak ada tombol keluar.
Tidak ada tombol reset.
Tidak ada dunia yang lama.
Hanya menara.
Langkah pertama akhirnya diambil oleh Marva Ravara.
Perlahan ia menuju ke arah tangga. Walaupun tangannya masih gemetaran, tapi langkahnya pasti.
“Aku…” suaranya bergetar. “Aku tidak mau mati di sini.” ucapnya.
Ia menjadi orang pertama yang naik ke lantai 1 menara.
Dan tidak seperti kejadian tadi, semua baik-baik saja dan tidak terjadi Apa-Apa.
Perlahan keadaan mulai tenang, satu per satu Player lain mulai mengikutinya. Sebagian lainnya langsung menghilang seperti dipindahnya begitu saja. Dengan ragu. Dengan takut. Dengan harApan bahwa bergerak lebih baik daripada diam.
Begitu Player terakhir masuk—
Pintu menara tertutup. Suara misterius berbicara lagi.
Pertempuran dimulai !!!