NovelToon NovelToon
Angkara Murka : Kebangkitan Putri Es

Angkara Murka : Kebangkitan Putri Es

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Fantasi Wanita / Balas dendam pengganti
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: MellaMar

Sebuah kisah tentang seorang putri es yang bernama Aira Skypia. Ia memiliki kekuatan es yang luar biasa, tetapi juga memiliki hati yang penuh dengan dendam dan murka. Setelah keluarganya dibunuh oleh musuh yang kejam, putri es ini berusaha membalas dendam dan menghancurkan musuhnya dengan kekuatan esnya.

Namun, kekuatan luar biasa yang ia miliki kini lenyap seketika setelah musuhnya mengutuk seluruh keturunan es agar tidak ada yang menjadi penerus kejayaan kerajaan es.

Dalam perjalanan kultivasinya, ia harus berhadapan dengan bangsa vampir. Aira terpaksa harus hidup dan berlatih di dalam istana kerajaan Vampir.


Bagaimana cara putri es hidup setelahnya?

Seperti apa perjuangan Aira di dalan kerajaan Vampir yang dipenuhi oleh energi kegelapan?

Bagaimana cara ia membalas dendam tanpa kekuatan yang dimilikinya?


Pantengin terus ceritanya sampai akhir🗣️🗣️


Jangan lupa like, vote, dan komen biar author makin semangat....🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MellaMar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Ritual Tawaaran

Magnitius mengangkat tangannya, dan ruangan menjadi sunyi. Dia memandang Aira dengan mata yang berkilau, kemudian menoleh ke arah altar yang telah disiapkan di tengah ruangan.

"Ritual tahunan kita dimulai!" serunya, suaranya yang bergema di seluruh ruangan.

Para vampir yang berkumpul di ruangan itu mulai bernyanyi, suara mereka yang merdu dan menakutkan menciptakan suasana yang mistis. Aira merasa jantungnya berdetak kencang, dia tahu bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.

Magnitius melangkah maju, tangan kanannya memegang sebuah pisau ritual yang berkilau terkena cahaya lilin. Dia memandang Aira, kemudian menoleh ke arah seseorang di belakangnya.

"Bawa Tawaaran!" perintahnya, suaranya yang keras.

(Tawaaran adalah tumbal persembahan)

Ruangan itu menjadi sunyi, kecuali suara nyanyian para vampir yang semakin keras. Aira melihat ke arah pintu, dan jantungnya berhenti ketika dia melihat siapa yang akan menjadi tawaaran.

Aira merasa jantungnya berhenti ketika dia melihat Lyra, adik Magnitius, dibawa ke altar dengan mata yang terikat dan tangan yang diikat di belakang punggungnya. Aira merasa terkejut dan tidak percaya, dia mencoba untuk bergerak maju tapi Magnitius mengangkat tangannya, menghentikannya.

"Lyra... tidak!" Aira berteriak, tapi suaranya tenggelam oleh nyanyian para vampir yang semakin keras.

Magnitius tersenyum, matanya berkilau dengan kegembiraan. "Ritual ini akan memperkuat kekuatanku, dan Lyra akan menjadi tawaaran yang sempurna!"

Magnitius mengangkat pisau ritualnya, siap untuk mengakhiri hidup Lyra. Aira merasa dirinya seperti dipenuhi dengan kekuatan, dia mencoba untuk melepaskan diri dari cengkeraman para penjaga yang menahannya.

"TIDAK!" Aira berteriak, suaranya yang keras dan penuh emosi membuat ruangan itu menjadi sunyi. "JANGAN SENTUH DIA!"

Magnitius menoleh ke arah Aira, matanya yang merah menyala dengan keterkejutan. "Aira, apa yang kamu lakukan?" dia bertanya, suaranya yang dingin.

Aira tidak menjawab, dia terus berjuang untuk melepaskan diri dari para penjaga. Tiba-tiba, dia merasa sesuatu yang aneh terjadi pada dirinya.

Aira merasa dirinya dipenuhi dengan kekuatan yang tidak biasa, seperti ada sesuatu yang bangkit dari dalam dirinya. Cahaya biru mulai memancar dari matanya, dan rambutnya yang panjang mulai bergerak seperti ditiup angin.

Magnitius merasa terkejut, dia tidak menyangka Aira memiliki kekuatan seperti itu. "Apa...apa yang kamu?" dia bertanya, suaranya yang sedikit bergetar.

Aira tidak menjawab, dia terus memancarkan cahaya biru yang semakin kuat. Para penjaga yang menahannya mulai melepaskan diri, tidak bisa menahan kekuatan Aira.

Lyra, yang masih terikat di altar, mencari keberadaan Aira dengan mata yang tertutup dengan penuh harapan. "Aira... tolong aku," dia berbisik.

Aira mendengar suara Lyra, dan kekuatan birunya semakin kuat. Dia mengangkat tangannya, dan cahaya biru itu memancar ke arah Magnitius.

Cahaya biru itu mengenai Magnitius, membuatnya terlempar ke belakang dan jatuh ke lantai. Para vampir yang berkumpul di ruangan itu merasa terkejut dan mundur ke belakang, tidak berani mendekati Aira.

Aira melangkah maju, matanya masih memancarkan cahaya biru. Dia membebaskan Lyra dari ikatan yang menahannya, dan Lyra langsung memeluk Aira dengan erat.

"Aira, kamu... kamu bisa melakukannya," Lyra berbisik, suaranya yang penuh haru.

Aira tersenyum, tapi matanya masih memancarkan kekuatan biru. "Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku,"

Tiba-tiba, suara gemuruh terdengar dari luar ruangan. Para vampir yang berkumpul di ruangan itu merasa terkejut dan mulai panik.

Aira memandang ke arah pintu, dan matanya yang biru semakin kuat. "Aku tidak tahu, tapi aku rasa kita harus keluar dari sini,"

Aira dan Lyra melangkah keluar dari ruangan, diikuti oleh para vampir yang masih dalam keadaan panik. Mereka melihat ke luar, dan apa yang mereka lihat membuat mereka terkejut.

Kota yang tadinya sunyi dan gelap, sekarang dipenuhi dengan cahaya biru yang sama seperti yang dipancarkan oleh Aira. Bangunan-bangunan yang tinggi dan jalan-jalan yang luas, semua dipenuhi dengan kekuatan biru yang misterius.

"Apa... apa yang terjadi pada kastil ini?" Lyra bertanya, suaranya yang bergetar.

Aira memandang sekeliling, matanya yang biru masih memancarkan kekuatan. "Aku tidak tahu, tapi aku rasa aku ada hubungannya dengan ini,"

Tiba-tiba, sebuah suara terdengar dari atas. "Aira, kamu telah dipilih untuk menjadi penjaga kastil ini," suara itu berkata.

Aira memandang ke atas, dan melihat sebuah bayangan yang berdiri di atas bangunan tertinggi di kota itu. Bayangan itu melangkah maju, dan Aira melihat wajah yang familiar.

Wajah itu adalah wajah Nocturna, vampir yang pernah berbicara dengan Aira yang terjebak di dalam cermin. Aira merasa terkejut, tapi juga merasa ada sesuatu yang tidak beres.

"Nocturna, apa yang terjadi?" Aira bertanya,

Nocturna tersenyum, tapi senyumnya tidak seperti biasanya. "Aira, kamu telah dipilih untuk menjadi penjaga kastil ini karena kamu memiliki kekuatan yang sangat besar,"

Lyra memandang Aira dengan mata yang penuh kekaguman. "Aira, kamu bisa menjadi penjaga kastil ini?"

Aira memandang Nocturna, "Apa yang harus aku lakukan?"

Nocturna melangkah maju, dan Aira melihat sesuatu yang aneh di matanya. "Aira, kamu harus mengalahkan Raja Vampir yang sebenarnya, dan mengambil alih kekuasaan kota ini,"

Aira merasa terkejut dengan kata-kata Nocturna. "Raja Vampir yang sebenarnya?" dia ulang,

Nocturna mengangguk. "Ya, Aira. Magnitius bukanlah Raja Vampir yang sebenarnya. Dia hanya boneka yang dikendalikan oleh seseorang yang lebih kuat."

Lyra memegang tangan Aira. "Aira, kamu bisa melakukannya. Aku akan membantumu."

Aira memandang Nocturna, "Siapa Raja Vampir yang sebenarnya?" dia bertanya,

"Aira, kamu akan tahu segera. Tapi sekarang, kita harus pergi dari sini. Magnitius tidak akan diam saja setelah kekalahannya," dia berkata, suaranya yang dingin.

Tiba-tiba, suara gemuruh terdengar dari kejauhan. Aira memandang ke arah suara itu, dan melihat Magnitius yang sedang berjalan menuju mereka, dengan mata yang merah dengan kemarahan. Wajahnya yang biasanya tampan, sekarang terlihat sangat menakutkan. Taringnya telah keluar sempurna.

Magnitius berjalan dengan langkah yang lambat, tapi pasti, menuju Aira dan Nocturna. .

"Aira, kamu telah membuat kesalahan besar," dia berkata, "Kamu tidak akan pernah bisa mengalahkan aku."

Nocturna melangkah maju, matanya yang merah berkilau dengan kekuatan. "Magnitius, kamu tidak akan pernah menjadi Raja Vampir yang sebenarnya. Aira adalah satu-satunya yang bisa mengalahkanmu."

Magnitius tertawa, suaranya yang keras dan menakutkan. "Kamu tidak tahu apa-apa, Nocturna. Aira tidak akan pernah bisa mengalahkanku. Aku telah dipersiapkan untuk menjadi Raja Vampir selama ribuan tahun."

Aira memandang Magnitius, matanya yang biru berkilau dengan tekad. "Aku tidak akan membiarkanmu menjadi Raja Vampir,"

Magnitius berhenti di depan Aira, "Kamu tidak bisa mengalahkanku, Aira. Aku akan menunjukkan kekuatanku yang sebenarnya," dia berkata dengan suaranya yang dingin.

Tiba-tiba, Magnitius mengangkat tangannya, dan sebuah bola api merah muncul di atasnya.

"LARI AIRA!". Teriak Nocturna.

Bola api merah itu meluncur ke arah Aira, tapi dia tidak bergerak. Nocturna melangkah maju, dan mengangkat tangannya.

"Protego!" dia berseru, dan sebuah perisai biru muncul di depan Aira.

Bola api merah itu menghantam perisai biru, tapi tidak bisa menembusnya. Aira memandang Nocturna dengan mata yang penuh rasa terima kasih.

"Kita harus melawan Magnitius bersama-sama," ucap Nocturna

Aira mengangguk, dan bersama-sama mereka menghadapi Magnitius. "Aku siap,"

Magnitius tersenyum, matanya yang merah berkilau dengan kemarahan. "Kalian tidak akan pernah bisa mengalahkanku," .

Tiba-tiba, Aira merasa ada sesuatu yang aneh terjadi pada dirinya. Kekuatan biru yang ada di dalam dirinya mulai bangkit, dan dia bisa merasakan energi yang sangat besar.

"Aku akan menunjukkan apa yang aku bisa lakukan," Aira berkata, suaranya yang penuh dengan kekuatan.

Aira mengangkat tangannya, dan sebuah cahaya biru yang sangat terang muncul di atasnya. Namun saat Aira hendak melemparkannya pada Magnitius, bola es itu terpental dan malah menyerang ke arah Lyra dan Nocturna

Aira merasa terkejut dan panik ketika bola es itu mengarah ke Lyra dan Nocturna. Dia mencoba untuk menghentikan bola es itu, tapi sudah terlambat.

Nocturna dengan cepat melompat dan melindungi Lyra dengan tubuhnya, tapi bola es itu masih mengenai mereka berdua. Lyra berteriak ketika bola es itu membekukan mereka berdua.

Aira merasa rasa sakit dan kemarahan yang sangat besar. "Tidak! Nocturna! Lyra!" dia berteriak, suaranya yang penuh dengan emosi.

Magnitius tertawa, suaranya yang keras dan menakutkan. "Bagus Aira!"

Aira memandang Magnitius dengan mata yang penuh dengan kemarahan. "Aku akan membuatmu membayar untuk ini,"

Tiba-tiba, kekuatan biru yang ada di dalam Aira mulai bangkit lagi, tapi kali ini lebih kuat dari sebelumnya.

Aira mencoba untuk menyerang Magnitius dengan kekuatan birunya, tapi dia tidak bisa mengontrolnya dengan baik. Magnitius dengan mudah menghindari serangan Aira dan membalasnya dengan serangan yang lebih kuat.

Aira tidak bisa menghindar, dan Magnitius berhasil menangkapnya. Aira merasa dirinya tak berkutik, tidak bisa bergerak atau melawan.

Magnitius melilit tubuh Aira dengan akar merah saktinya. "Kurung dia di penjara!".

Kemudian beberapa prajurit menyeret Aira pergi ke belakang kastil dan memasukkannya ke dalam penjara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!