NovelToon NovelToon
Menikahi Duda Dingin Dan Trauma

Menikahi Duda Dingin Dan Trauma

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dijodohkan Orang Tua / Ibu Pengganti
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Karena hutang budi kedua orang tuaku, aku dipaksa menikah dengan duda yang berstatus ayah dari dua anaknya.

Aku yang baru saja lulus kuliah harus dihadapkan dengan dua anak yang aktif dan juga suami yang dingin dan menganggap semua wanita itu sama. Sama-sama pengkhianat dan murahan, meskipun sudah aku jelaskan beberapa kali tapi anehnya suamiku tidak pernah mengerti itu.

Apa yang membuat suamiku sampai setrauma itu?? Nantikan jawabannya hanya di Novel toon

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Keesokan harinya,

Pagi ini Melati bangun tidak dengan perasaan cemas, ia merasa untuk kali pertamanya, tidurnya merasa nyaman, bagaimana tidak, saat ia membuka matanya, dahinya sedikit mengerut, pasalnya ia tidur dalam dekapan tangan kokoh itu.

  Melati mencoba memastikan kembali, bahkan ia sedikit mencubit lengannya terasa sakit, dan hembusan napas pria itu benar-benar bisa ia rasakan.

  "Astaga! Mas Cokro," gumamnya dengan sedikit terkejut.

  Cokro masih nampak terlelap, tangannya Koko itu masih melingkar di tubuh Melati. Perlahan wanita itu mencoba untuk mengangkat tangan Cokro agar tidak membatasi ruang geraknya, namun lagi-lagi saat Melati berusaha untuk mengangkat, tangan pria itu semakin erat memeluk.

  "Ah, kenapa susah sekali," keluh Melati.

  Usahanya seakan sia-sia untuk beranjak dari ranjang agar tidak membangunkan suaminya itu, tapi di detik berikutnya, tiba-tiba mata Cokro bergetar, mungkin karena ia merasa tidak nyaman dengan gerak wanita yang saat ini tengah ia peluk.

Mata Cokro perlahan terbuka. Pandangannya masih sedikit buram, tapi pelukannya tidak juga mengendur. Justru refleks tangannya semakin mengerat saat ia sadar tubuh yang dipeluknya bergerak menjauh.

“Mau ke mana?” suaranya serak, berat khas orang baru bangun tidur.

Melati langsung diam. “Saya… mau bangun, Mas. Sudah pagi.”

Cokro tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap wajah Melati yang kini berada begitu dekat dengannya. Jarak mereka nyaris tak bersisa. Rambut Melati sedikit berantakan, wajahnya polos tanpa ekspresi siap siaga seperti biasanya.

Untuk beberapa detik, Cokro hanya memandang. Lalu tanpa banyak kata, ia menarik Melati sedikit lebih dekat.

“Mas…” protesnya pelan, tapi tidak benar-benar berusaha keras melepaskan diri.

“Sebentar,” gumam Cokro lirih. “Belum lima menit.”

Nada itu bukan perintah. Lebih seperti permintaan kecil yang jarang ia tunjukkan.

Melati menahan napas. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Tangan pria itu masih kokoh di pinggangnya, hangat dan mantap. Tidak ada kecanggungan seperti malam sebelumnya.

Hanya pelukan yang teras, wajar. Cokro menghela napas pelan, wajahnya sedikit menyentuh rambut Melati. “Semalam kamu kepikiran terus?” tanyanya tanpa membuka mata sepenuhnya.

Melati terdiam sejenak. “Sedikit.”

Hening sepersekian detik. Lalu tangan Cokro bergerak lembut mengusap punggungnya, seperti memberi isyarat tanpa kata.

“Kamu nggak sendirian,” ucapnya lagi, kali ini lebih sadar.

Kalimat itu diulang, tapi pagi ini terasa berbeda. Lebih tenang. Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya, Melati tidak merasa ingin segera lepas dari pelukan itu.

Ia justru diam. Membiarkan beberapa menit berlalu. Karena mungkin, benteng pertahanan tidak selalu harus berupa jarak. Kadang, cukup berupa satu pelukan yang tidak setengah hati.

☘️☘️☘️☘️☘️

Siang itu rumah kembali ramai setelah suara pagar dibuka. Mahesa masuk lebih dulu dengan tas masih tergantung di bahunya, wajahnya terlihat biasa saja. Tidak ada tanda apa pun yang mencurigakan.

“Mamaaa…” panggilnya riang.

Melati keluar dari dapur sambil tersenyum. “Iya, sayang. Capek?”

Mahesa menggeleng, lalu melepas sepatu sembarangan seperti biasa. “Tadi ada tante datang ke sekolah.”

Langkah Melati terhenti. “Tante?” tanyanya pelan, berusaha terdengar santai.

“Iya. Katanya dia kenal Papa.” Mahesa duduk di sofa, membuka botol minumnya. “Dia tanya aku suka main apa. Terus bilang aku mirip Papa.”

Jantung Melati seperti dijatuhkan pelan. “Namanya siapa?” suara Melati tetap lembut, tapi jari-jarinya mulai terasa dingin.

Mahesa berpikir sebentar. “Rani.”

Satu kata itu cukup, buat Melati terduduk perlahan di kursi seberangnya. “Tante itu ngapain lagi?”

“Cuma lihat aku. Terus bilang nanti mau ketemu lagi.”

Nada bicaranya polos seolah tanpa beban. Tapi kalimat terakhir itu membuat dada Melati mengencang. Ini bukan lagi tentang Mahendra. Bukan lagi sekadar ibu kandung yang ingin terlihat hadir.

Rani mulai menyentuh Mahesa anak yang bahkan mulai bayi ia tinggalkan, bahkan sampai detik ini Mahesa belum pernah melihat wajah kandung ibunya seperti apa.

Dan Melati sadar, jika Rani memang ibu kandungnya, tapi jika hal itu diketahui Mahesa dalam waktu singkat dalam penerangan yang sepihak, apa bisa dikatakan aman mental anak itu.

  "Tidak... ini tidak boleh terjadi, Mahesa bukan Mahendra yang sudah mengerti siapa ibunya, tapi ini ...," kata-kata Melati menggantung seolah tidak sanggup untuk melanjutkannya.

Mahesa menatapnya bingung. “Mama kenapa?”

Melati segera tersadar, memaksakan senyum. “Nggak apa-apa, sayang. Kamu cuci tangan dulu ya, nanti Mama siapkan makan.”

Mahesa mengangguk lalu berlari kecil ke kamar mandi, meninggalkan Melati yang masih terduduk dengan jantung berdebar tak karuan. Tangannya langsung meraih ponsel di meja.

Ia tidak menunggu lama. Nomor Cokro ditekan dengan jari yang sedikit gemetar. Tersambung pada dering kedua.

“Iya?” suara Cokro terdengar datar, seperti biasa saat di kantor.

“Mas,” suara Melati berbeda. Tidak lembut. Tidak ragu. Ada sesuatu yang tegas di sana.

Cokro langsung menangkap nada itu. “Kenapa?”

“Rani datang ke sekolah Mahesa.”

Sunyi menyergap, rahang Cokro langsung mengeras mendengar ucapan itu, dan beberapa detik itu terasa sangat panjang.

“Apa?” nada Cokro berubah tajam.

“Dia bicara dengan Mahesa. Bilang kenal Papa. Bilang nanti mau ketemu lagi.”

Di seberang sana terdengar suara kursi digeser keras. “Siapa yang izinkan dia masuk?” suara Cokro tidak lagi datar. Itu suara pria yang mulai marah.

Melati menelan ludah. “Mas… Mahesa belum tahu apa-apa. Kalau dia bilang sesuatu sepihak—”

“Aku pulang sekarang.”

Kalimat itu tegas. Tanpa pikir panjang.

“Mas, ini masih jam kerja.”

“Aku bilang aku pulang.”

Nada itu bukan sekadar emosi. Itu proteksi, untuk pertama kalinya, Melati tidak merasa sendirian menghadapi ini, karena ia tahu ini bukan tentang siapa yang menjadi ibu kandung ataupun sambung, tapi di sini tujuan Melati hanya memastikan mental anak yang tidak tahu apa-apa itu.

Bersambung ....

Selamat siang semoga suka ya

1
Sugiharti Rusli
dan meski saat ini Rani merasa dia sudah mendapatkan jalan buat kembali ke Cokro melalui anak" nya, tapi dia lupa kalo sang mantan suami sudah berubah banyak dan belajar dari pengalaman, dan memang kuncinya di Mahendra dan Mahesa nanti sih, karena anak" tuh bisa merasa ketulusan dari seseorang itu asli apa palsu
Sugiharti Rusli
memang sih sang mediator sejatinya pasti bersikap netral dan hanya melihat kepentingan dari kedua anak mereka yah
Sugiharti Rusli
dan sejatinya Cokro amat sangat tahu sifat asli mantan istrinya itu, meski orang bisa berubah yah,,,
Sugiharti Rusli
tapi sedari awal si Rani sudah mulai bermain curang dan juga tidak dengan ijin dari Cokro sebagai wakinya datang ke sekolah diam",,,
Sugiharti Rusli
sebetulnya kalo niat awal si Rani memang baik, pasti Cokro tidak akan pernah menghalanginya bertemu anak" mereka yah
Oma Gavin
dulu kabor ngejar kesenangan pribadi ngga mikir anak sekarang lihat cokro sukses ngiler pengen balikan dasar jalang murahan
Sugiharti Rusli
kalo kamu memang memiliki bukti sangat kuat tentang surat atau apapun tentang anak kalian, hadapì saja Cokro, nanti akan terlihat apa yang jadi motif sebenarnya si Rani,,,
Sugiharti Rusli
dan sepertinya dia menganggap remeh keberadaan Melati di sisi Cokro yang terlihat masih muda dan bisa dia abaikan keberadaannya,,,
Sugiharti Rusli
dia merasa sangat percaya diri kalo mantan suaminya serapuh dulu saat dia tinggalkan karena yakin Cokro masih ada cinta di hatinya,,,
Sugiharti Rusli
karena dia tahu ga mungkin masuk melalui Cokro langsung demi memenuhi ambisi dirinya yang sudah melihat bagaimana mantan suaminya sekarang,,,
Sugiharti Rusli
sejatinya dari niatnya sudah terbaca kalo anak" nya cuma dijadikan sasaran antara si Rani sih ini,,,
Bak Mis
semoga kebaikan yg bisa memenangkan kasus ini dan ke 2 anak itu bisa berada di sisi ayahnya
Bak Mis
dasar wanita munafik,smg kebenaran terungkap
Sugiharti Rusli
sepertinya niat si Rani ga murni karena anak" nya sih, tapi kedudukan Cokro sekarang yang jauh lebih mentereng,,,
Sugiharti Rusli
semoga sekarang pun di saat Cokro harus menghadapi mantan istrinya dan kali ini bersangkutan dengan anak" nya, semoga Melati bisa jadi penyokong terkuatnya yah,,,
Sugiharti Rusli
padahal di awal mereka menikah, Cokro dan putra pertamanya memasang tembok tinggi terhadapnya,,,
Sugiharti Rusli
apalagi meski secara usia Melati masih muda, tapi untuk kematangan dan kedewasaan berpikir dia bisa mengimbanginya,,,
Sugiharti Rusli
tapi kali ini Cokro tidak sendiri dan ada Melati istrinya sekarang,,,
Sugiharti Rusli
sepertinya sekarang Cokro harus menghadapi mantan istrinya dengan keras lagi yah,,,
Oma Gavin
kembali lagi pasti nya demi uang cokro dan posisinya kembali dasar jalang murahan ngga sadar diri banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!