Karena hutang budi kedua orang tuaku, aku dipaksa menikah dengan duda yang berstatus ayah dari dua anaknya.
Aku yang baru saja lulus kuliah harus dihadapkan dengan dua anak yang aktif dan juga suami yang dingin dan menganggap semua wanita itu sama. Sama-sama pengkhianat dan murahan, meskipun sudah aku jelaskan beberapa kali tapi anehnya suamiku tidak pernah mengerti itu.
Apa yang membuat suamiku sampai setrauma itu?? Nantikan jawabannya hanya di Novel toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Keesokan harinya,
Pagi ini Melati bangun tidak dengan perasaan cemas, ia merasa untuk kali pertamanya, tidurnya merasa nyaman, bagaimana tidak, saat ia membuka matanya, dahinya sedikit mengerut, pasalnya ia tidur dalam dekapan tangan kokoh itu.
Melati mencoba memastikan kembali, bahkan ia sedikit mencubit lengannya terasa sakit, dan hembusan napas pria itu benar-benar bisa ia rasakan.
"Astaga! Mas Cokro," gumamnya dengan sedikit terkejut.
Cokro masih nampak terlelap, tangannya Koko itu masih melingkar di tubuh Melati. Perlahan wanita itu mencoba untuk mengangkat tangan Cokro agar tidak membatasi ruang geraknya, namun lagi-lagi saat Melati berusaha untuk mengangkat, tangan pria itu semakin erat memeluk.
"Ah, kenapa susah sekali," keluh Melati.
Usahanya seakan sia-sia untuk beranjak dari ranjang agar tidak membangunkan suaminya itu, tapi di detik berikutnya, tiba-tiba mata Cokro bergetar, mungkin karena ia merasa tidak nyaman dengan gerak wanita yang saat ini tengah ia peluk.
Mata Cokro perlahan terbuka. Pandangannya masih sedikit buram, tapi pelukannya tidak juga mengendur. Justru refleks tangannya semakin mengerat saat ia sadar tubuh yang dipeluknya bergerak menjauh.
“Mau ke mana?” suaranya serak, berat khas orang baru bangun tidur.
Melati langsung diam. “Saya… mau bangun, Mas. Sudah pagi.”
Cokro tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap wajah Melati yang kini berada begitu dekat dengannya. Jarak mereka nyaris tak bersisa. Rambut Melati sedikit berantakan, wajahnya polos tanpa ekspresi siap siaga seperti biasanya.
Untuk beberapa detik, Cokro hanya memandang. Lalu tanpa banyak kata, ia menarik Melati sedikit lebih dekat.
“Mas…” protesnya pelan, tapi tidak benar-benar berusaha keras melepaskan diri.
“Sebentar,” gumam Cokro lirih. “Belum lima menit.”
Nada itu bukan perintah. Lebih seperti permintaan kecil yang jarang ia tunjukkan.
Melati menahan napas. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Tangan pria itu masih kokoh di pinggangnya, hangat dan mantap. Tidak ada kecanggungan seperti malam sebelumnya.
Hanya pelukan yang teras, wajar. Cokro menghela napas pelan, wajahnya sedikit menyentuh rambut Melati. “Semalam kamu kepikiran terus?” tanyanya tanpa membuka mata sepenuhnya.
Melati terdiam sejenak. “Sedikit.”
Hening sepersekian detik. Lalu tangan Cokro bergerak lembut mengusap punggungnya, seperti memberi isyarat tanpa kata.
“Kamu nggak sendirian,” ucapnya lagi, kali ini lebih sadar.
Kalimat itu diulang, tapi pagi ini terasa berbeda. Lebih tenang. Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya, Melati tidak merasa ingin segera lepas dari pelukan itu.
Ia justru diam. Membiarkan beberapa menit berlalu. Karena mungkin, benteng pertahanan tidak selalu harus berupa jarak. Kadang, cukup berupa satu pelukan yang tidak setengah hati.
☘️☘️☘️☘️☘️
Siang itu rumah kembali ramai setelah suara pagar dibuka. Mahesa masuk lebih dulu dengan tas masih tergantung di bahunya, wajahnya terlihat biasa saja. Tidak ada tanda apa pun yang mencurigakan.
“Mamaaa…” panggilnya riang.
Melati keluar dari dapur sambil tersenyum. “Iya, sayang. Capek?”
Mahesa menggeleng, lalu melepas sepatu sembarangan seperti biasa. “Tadi ada tante datang ke sekolah.”
Langkah Melati terhenti. “Tante?” tanyanya pelan, berusaha terdengar santai.
“Iya. Katanya dia kenal Papa.” Mahesa duduk di sofa, membuka botol minumnya. “Dia tanya aku suka main apa. Terus bilang aku mirip Papa.”
Jantung Melati seperti dijatuhkan pelan. “Namanya siapa?” suara Melati tetap lembut, tapi jari-jarinya mulai terasa dingin.
Mahesa berpikir sebentar. “Rani.”
Satu kata itu cukup, buat Melati terduduk perlahan di kursi seberangnya. “Tante itu ngapain lagi?”
“Cuma lihat aku. Terus bilang nanti mau ketemu lagi.”
Nada bicaranya polos seolah tanpa beban. Tapi kalimat terakhir itu membuat dada Melati mengencang. Ini bukan lagi tentang Mahendra. Bukan lagi sekadar ibu kandung yang ingin terlihat hadir.
Rani mulai menyentuh Mahesa anak yang bahkan mulai bayi ia tinggalkan, bahkan sampai detik ini Mahesa belum pernah melihat wajah kandung ibunya seperti apa.
Dan Melati sadar, jika Rani memang ibu kandungnya, tapi jika hal itu diketahui Mahesa dalam waktu singkat dalam penerangan yang sepihak, apa bisa dikatakan aman mental anak itu.
"Tidak... ini tidak boleh terjadi, Mahesa bukan Mahendra yang sudah mengerti siapa ibunya, tapi ini ...," kata-kata Melati menggantung seolah tidak sanggup untuk melanjutkannya.
Mahesa menatapnya bingung. “Mama kenapa?”
Melati segera tersadar, memaksakan senyum. “Nggak apa-apa, sayang. Kamu cuci tangan dulu ya, nanti Mama siapkan makan.”
Mahesa mengangguk lalu berlari kecil ke kamar mandi, meninggalkan Melati yang masih terduduk dengan jantung berdebar tak karuan. Tangannya langsung meraih ponsel di meja.
Ia tidak menunggu lama. Nomor Cokro ditekan dengan jari yang sedikit gemetar. Tersambung pada dering kedua.
“Iya?” suara Cokro terdengar datar, seperti biasa saat di kantor.
“Mas,” suara Melati berbeda. Tidak lembut. Tidak ragu. Ada sesuatu yang tegas di sana.
Cokro langsung menangkap nada itu. “Kenapa?”
“Rani datang ke sekolah Mahesa.”
Sunyi menyergap, rahang Cokro langsung mengeras mendengar ucapan itu, dan beberapa detik itu terasa sangat panjang.
“Apa?” nada Cokro berubah tajam.
“Dia bicara dengan Mahesa. Bilang kenal Papa. Bilang nanti mau ketemu lagi.”
Di seberang sana terdengar suara kursi digeser keras. “Siapa yang izinkan dia masuk?” suara Cokro tidak lagi datar. Itu suara pria yang mulai marah.
Melati menelan ludah. “Mas… Mahesa belum tahu apa-apa. Kalau dia bilang sesuatu sepihak—”
“Aku pulang sekarang.”
Kalimat itu tegas. Tanpa pikir panjang.
“Mas, ini masih jam kerja.”
“Aku bilang aku pulang.”
Nada itu bukan sekadar emosi. Itu proteksi, untuk pertama kalinya, Melati tidak merasa sendirian menghadapi ini, karena ia tahu ini bukan tentang siapa yang menjadi ibu kandung ataupun sambung, tapi di sini tujuan Melati hanya memastikan mental anak yang tidak tahu apa-apa itu.
Bersambung ....
Selamat siang semoga suka ya