Radit hanyalah pecundang yang hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan, sampai sebuah Sistem Misterius memberikan kunci menuju takdir yang gelap. Mengambil identitas sebagai sang Topeng Putih, ia merayap dari titik terendah menuju puncak tertinggi dunia bawah. Kekuasaan dan darah menjadi makanannya sehari-hari, hingga kehadiran Rania menyuntikkan kembali setitik cahaya di hatinya.
Namun, dunia tak membiarkannya bahagia. Tragedi berdarah di kampus menghancurkan dunianya dan merenggut Rania. Saat air mata berubah menjadi api, Radit melepas kemanusiaannya untuk meratakan dunia dengan dendam. Kini, setelah badai pembalasan mereda, Radit melangkah pergi meninggalkan singgasana berdarahnya. Ia memulai pencarian terakhir: menemukan kembali kepingan cintanya yang hilang, meski ia harus melawan takdir itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aprilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
" Ranah ?"
" Di perkirakan... Di atas master akhir." Jawab nya jujur.
" Namun aura di sembunyikan secara sempurna. Tidak terdeteksi sebelum nya."
Kesunyian panjang... Kemudian tawa pendek, dingin, tanpa humor.
" Menarik."
Salah satu direktur sayap bersuara rendah.
" Dia bergerak sendiri?"
" Tidak terdeteksi jaringan keluarga besar?"
" Tidak ada tanda organisasi?"
" Tidak ada." Jawab utusan itu cepat.
" Dia datang membeli artefak, membunuh penghalang, lalu pergi."
Direktur tertua akhirnya berbicara.
" Dengan kata lain ?" Kata nya tenang.
" Kita menabrak entitas bebas."
Kata itu berat. Entitas bebas adalah kategori yang tidak tunduk pada peta kekuatan mana pun.
" Rekomendasi kalian ?" Tanya direktur lain.
Utusan itu menelan ludah.
" Menetap kan topeng putih sebagai target terlarang tingkat hitam ."
Beberapa direktur mengangkat alis.
" Tingkat hitam ?" Ulang salah satu dari mereka.
" Itu berarti..."
" Tidak ada operasi, tidak ada pengintaian aktif, tidak ada balas dendam.". Potong direktur tertua.
" Kecuali di putus kan oleh dewan inti." Keputusan jatuh tanpa perdebatan.
" Catat dalam arsip pusat ." Ucap nya.
" Topeng putih ... Status DO NOT ENGAGE." Ia menoleh ke utusan.
" Falcon hidup karena tahu kapan harus mundur ." Utusan itu menunduk lebih dalam.
" Dimengerti."
Ketika pintu baja menutup kembali, salah satu direktur berujar pelan.
" Dunia mulai bergerak lebih cepat."
Direktur tertua menatap layar holografik yang menampil kan bayangan topeng putih.
" Atau ." Kata nya lirih.
" Atau kita yang terlambat menyadari nya."
Jauh dari markas pusat Falcon, Radit berjalan di jalanan kota tanpa topeng. Mahasiswa biasa, wajah tenang, ia tidak tahu bahwa malam ini, sebuah organisasi bayangan tingkat dunia telah menulis kan nama nya dengan tinta hitam pekat.
Di daftar yang hanya berisi sedikit orang , mereka yang tidak boleh di sentuh dan daftar itu... Tidak pernah salah.
Matahari pagi menyinari gerbang kampus dengan hangat. Mahasiswa lalu - lalang, tertawa , mengeluh tentang tugas , dan memperdebat kan dosen yang pelit nilai.
Tidak ada yang tahu , bahwa beberapa jam yang lalu , darah menodai pelelangan rahasia. Dan sebuah organisasi bayangan memilih mundur total.
Radit melangkah masuk ke dalam kampus dengan tas selempang sederhana nya, tanpa topeng, tanpa aura. Hanya seorang mahasiswa biasa.
" Radit..." Suara ceria memanggil di belakang sana.
Rania melambai kan tangan di atas bangku taman fakultas , senyum nya hangat , kontras dengan udara pagi yang sejuk.
" Kamu kelihatan capek." Gumam nya saat Radit duduk di samping nya.
" Habis lembur belajar."
Radit terdiam sesaat. Ia teringat kilatan pedang, jeritan yang bertopeng, dan keheningan setelah pembantaian.
" Iya." Jawab nya akhir nya pelan.
Rania tertawa kecil. " Jangan terlalu memaksa kan diri, kita masih kuliah tahu."
Radit menatap nya. Entah sejak kapan, kata - kata kita terdengar begitu nyata. Di kelas, dosen menulis panjang di papan tulis. Mahasiswa menguap, pulpen mengetuk meja , Radit mencatat rapi. Tangan nya yang sama yang malam tadi memegang pedang kembar. Kini menggenggam bolpoin murah.
Tidak ada getaran, tidak ada resonasi. Sistem di kepalanya sunyi, dan ia menyukai nya. Saat jam istirahat sekelompok mahasiswa membicara kan gosip .
" Kamu dengar ? "
" Ada kedakan di daerah industri barat tadi malam. "
" Kata nya latihan militer ilegal. "
" Seram ya. "
Radit hanya menyesap kopi. Daerah industri barat - Hanya beberapa kilo meter dari gedung langit hitam. Ia tidak menyangkal , tidak membenar kan . Dunia akan selalu mencari alasan yang paling nyaman.
Di perpustakaan , Rania menyodor kan buku.
" Bantu aku yang ini. " kata nya sambil tersenyum.
" kamu kan jago bagian ini. "
Radit mengangguk , bahu nya bersentuhan , dan untuk sesaat ia lupa tentang keluarga kelas satu, Falcon dan buku daftar hitam yabg bahkan belum ia ketahui. Yang ada hanya halaman buku dan aroma ringan rambut Rania.
Saat senja turun , Radit berdiri di balkon rumah nya . Angin membawa suara kota . Ia mengepal kan tangan pelan . Pedang kembar tersembunyi aman di ruang sistem.
Ranah nya tertahan rapi , ia telah memilih di satu sisi... Malam berdarah dan kekuatan tak terkendali. Di sisi laik kehidupan normal yang rapuh namun hangat. Radit menghembus kan napas panjang.
" Untuk sekarang. " gumam nya pelan. " ... Aku akan tetap di sini."
Di kejauhan lampu kampus menyala satu per satu . Tidak ada yang tahu bahwa di antara mereka , berjalan seorang yang membuat organisasi bayangan mengganti peta dunia.
Di luar peta wilayah resmi , di tempat yang tidak tercatat pada satelit dan tidak bernama pada sejarah. Sebuah ruang pertemuan kuno perlahan terbuka.
Meja bundar dari batu hitam menyala samar . Sembilan kursi terisi , tidak ada lambang , tidak ada gelar yang di umumkan . Namun satu fakta tak terbantah kan.
Mereka adalah keluarga besar. Kekuatan yang bahkan keluarga kelas satu , hanya bisa mengamati dari kejauhan .
" Falcon mundur . "
Kelimat itu di ucap kan sederhana, namun cukup untuk membuat udara bergetar.
" Dan mereka mundur ... Dengan tertib . " sambung suara lain.
" Tanpa upaya balas dendam. "
Salah satu sosok menyandar kan tubuh nya.
" Sudha berapa lama Falcon tidak melakukan itu. ? "
" Dua puluh tujuh tahun. " jawab yang lain tenang.
Keheningan kembali turun.
" Topeng putih . " ujar suara orang ke tiga, nada suara nha seperti besi yang di gesek perlahan.
" Entitas bebas. " timpal yang lain.
" Membeli artefak seharga lima triliun. Membunuh master akhir lalu menghilang. " seseorang tertawa kecil.
" Berisik sekali untuk orang tidak ingin di kenal. "
Sosok tetua di meja itu akhir nya membuka mata nya. Satu tatapan saja cukup membuat seluruh ruangan membisu.
" Kita tidak membahas apa yang dia lakukan. " kata nya datar.
" Kita membahas kapan dia muncul. " ia mengangkat tangan nya.
" Usia? "
" Di perkira kan muda. " jawab laporan bayangan.
"Gerakan efisien, minim kebiasaan lama. "
"Berbahaya." gumam seseorang.
" Anak muda dengan kekuatan itu selalu tidak stabil. "
" Apakah dia milik salah satu dari kita ? " tanya anggota lain.
"Tidak ada tanda. "
"Apakah dia musuh ? "
Hening.....
Sosok tetua menggeleng perlahan.
" Belum. "
Satu kata namun penuh makna.
" untuk sekarang. " lanjut nya.
" Keluarga besar tidak bergerak terbuka. " beberapa orang terkejut.
" Namun. " kata nya lagi.
" Kita juga tidak akan menutup mata. "
ia mengetuk meja.
" Bayangan aktif kan observasi pasif tingkat tinggi. "
" Bukan pengintaian. "
" Bukan Provokasi. "
" hanya... Mengenali. "
Salah satu sosok bertanya pelan.
" Jika dia memilih sendiri di sisi manusia biasa ? "
Sosok tetua tersenyum samar.
" Kalau begitu. " katanya.
" Kita pasti kan dunia tidak menghancur kan nya lebih dulu. "
Keputusan itu membuat beberapa orang menghela napas. Di akhir rapat, sebuah kalimat di catat dalam arsip terdalam.
Topeng putih - variabel dunia.
Status : Di amati , bukan di sentuh.
Di saat yang sama , di sebuah kampus biasa, seorang mahasiswa bernama Radit mengeluh tentang tugas kelompok. Ia tidak tahu bahwa malam ini sembilan bayangan tertua dunia telah sepakat jika ia melangkah satu langkah lebih jauh. Mereka akan mengubah dunia bersama nya ... Atau melawan nya.
Bersmbungg........
alurnya lambat,terlalu Datar dan tidak jelas disetiap babnya.
tidak ada ruang disetiap bab yg membuat pembaca berimajinasi.
yg patut ditunggu apakah akhir dari skenario film ini happy end atau malah sad end.
Ku baca pelan" , Jdi radit emng g mudah.. 😥😭