Daniel Rei Erwin, seorang siswa baru yang dapat melihat arwah orang yang sudah meninggal. Berteman dengan 3 orang siswa penghuni bangku belakang dan 2 orang siswi pandai yang penuh dengan logika.
Ia kira semua akan berjalan normal setelah ia pindah, namun tampaknya hari yang normal tidak akan pernah ada dalam hidupnya.
Semuanya berawal dari kasus kesurupan misterius dan menjalar ke kasus-kasus lainnya, hingga pada akhirnya ia tidak tahu kapan ini akan berakhir.
Jalani saja semuanya dengan sepenuh hati, mungkin akan ada satu hati lain yang akan ia temukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon humairoh anindita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KASUS 3 bagian 3
Ridwan tiba di pintu kantor polisi lebih pagi dari yang ia kira, bukan karena ia terlalu tertib, ia hanya terlalu gugup. Sekali lagi ia berdiri di Divisi yang dulu pernah ia pimpin. Ia menatap lorong bertuliskan ‘Divisi Kriminal’ dengan pandangan yang terbebani. Ia tidak menyangka akan ditempatkan di tempat ini kembali. Pengalaman terakhirnya di divisi ini tidak cukup bagus, ia tidak dapat menyelesaikan kasus terakhir yang ia tangani yang berakhir dengan kemunduran jabatannya.
Terkadang ia sangat iri dengan Bima yang tidak pernah berganti divisi sejak awal dia masuk. Itu artinya pekerjaannya sangat kompeten, ia bahkan mendapat rekomendasi dari atasan lamanya untuk menjadi kepala unit kasus dingin. Tidak seperti dirinya yang harus merangkak sedikit demi sedikit. Andai saja ia bisa menjadi seperti Bima yang tidak mudah terkekang aturan, mungkin ia akan sedikit lebih tenang.
“Apa yang kau lakukan di sini pak tua? Apa kau pikir dengan menatap papan nama itu semua kasus yang menumpuk di mejamu akan selesai?” Tegur Bima. Ia baru saja datang dan melihat Ridwan yang termenung seperti orang bodoh.
“Itu kah kalimat sapaan pertamamu pada teman yang sudah lama tidak kau temui?” Tanya Ridwan sedikit tersinggung.
“Kau atasanku, bagaimana mungkin kau menjadi temanku?”
“Aku mendengar kasus terakhir yang kau kerjakan, sungguh luar biasa” ucap Ridwan mengalihkan perhatiannya pada Bima. Seperti dugaannya Bima tidak menggunakan seragam polisinya, ia hanya menggunakan kemeja putih polos dibalik jaket kulit hitamnya. Ini adalah satu hal yang membuatnya iri dengan Bima, ia tampak bisa bersandang sesuka hati.
“Ya, luar biasa. Kepolisian benar-benar punya kanker hidup yang mematikan, aku tidak tahu apakah operasinya berjalan dengan baik atau tidak” jawab Bima penuh dengan sarkasme.
Setelah kasus terakhir yang ia tangani, divisi kriminal kepolisian telah kehilangan lebih dari setengah anggotanya. Bahkan divisi Forensik kepolisian terkena dampak dari kasus ini, aturan kembali dipertegas dan sumpah jabatan kembali dilaksanakan. Beberapa orang mungkin menganggap Bima dan Andi itu pengkhianat, namun apa yang mereka lakukan cukup bernilai baik di mata masyarakat. Setidaknya masih ada beberapa orang yang mengemban tugasnya dengan baik walau terkesan terlambat.
“Sebagian besar orang di kantor ini sepertinya membencimu” ucap Ridwan.
Bima menghela nafas keras dan mematikan rokoknya.
“Bukankah sejak awal Unit kasus dingin selalu bekerja sendirian? Aku tidak terlalu kaget dengan masalah ini” jawab Bima tanpa beban.
Itu memang benar, sejak awal Sarah dan Bima memang terkesan berjalan sendirian. Mereka menangani kasus dengan cara mereka sendiri, walau terkesan lambat semua masalah yang mereka tangani selalu terpecahkan satu per satu.
“Bagaimana dengan kasus malam tahun baru itu?” Tanya Ridwan mengalihkan pembicaraan.
Sekali lagi Bima memandang Ridwan dengan sinis dan berkata,
“apakah membicarakan kasus di lorong kantor itu aturan baru yang diterapkan kepala divisi baru? Kenapa tidak ada seorang pun yang memberi tahu aku?”
Bima berjalan memasuki kantornya. Ruangan yang terletak di ujung koridor, pintunya terbuat dari kayu solid yang berat dan sebuah plakat bertuliskan ‘Unit Kasus Dingin’ terpasang di atas pintu. Unit khusus yang menyelidiki kasus-kasus kriminal yang belum terpecahkan dalam waktu lama. Kasus tahun baru di taman kota itu baru masuk 2 hari yang lalu, hasil otopsi pun belum keluar. Ini awal tahun dan kasus pertama di tahun ini, akan ada banyak orang yang akan mencoba menyelesaikan untuk naik jabatan. Jadi kasusnya pasti belum masuk ke ranah kerja Bima.
“Aku yakin divisi lain sudah memulai penyelidikan, kenapa kau bertanya padaku?” Tanya Bima begitu mereka di dalam ruangan. Ia menyalakan perangkat komputernya, menyeduh air di kompor dan membuat 2 cangkir kopi. Andi belum sampai karena Bima telah memintanya mampir ke Rumah Sakit untuk menemui Stefani dan meminta salian berkas kasus pembunuhan yang terjadi 15 tahun yang lalu. Ia akan sangat berterimakasih jika Stefani memberinya salinan kasus yang terjadi baru-baru ini.
“Aku hanya berpikir, sepertinya kasus ini tidak akan terpecahkan dengan mudah” jawab Ridwan setelah menyeruput kopinya. Ia memperhatikan ruangan yang tidak terlalu luas ini, tapi cukup nyaman untuk dijadikan ruang kerja daripada kantornya yang luas tapi penuh dokumen.
“Kau seharusnya berkata seperti itu setelah divisi utama tidak menyelesaikan kasus ini, aku punya kasus lain yang harus ditangani” ujar Bima malas. Ia menyandarkan badannya yang berisi pada sisi sofa yang seketika amblas.
Kasus lain yang Bima maksud adalah menyelidiki kasus pembunuhan yang terjadi 15 tahun yang lalu, pelakunya tidak tertangkap hingga hari ini dan orang yang menangani kasus itu 15 tahun yang lalu adalah Ridwan. Kegagalan ini lah yang membuat jabatanya turun, dan itu sedikit membuatnya sakit hati.
“Apa kau berpikir kalau kasus ini berkaitan dengan kasus pembunuhan yang terjadi 15 tahun yang lalu?” Tanya Ridwan.
“Aku tidak berpikir itu ada kaitannya. Aku hanya berpikir kalau kasus itu berkaitan dengan kasus jual beli janin yang terjadi beberapa bulan yang lalu. Aku curiga masih banyak klinik atau dokter pribadi yang melakukan hal itu” jawab Bima dengan pandangan menerawang.
Kasus ini muncul dari aduan beberapa masyarakat yang terganggu dengan adanya praktek aborsi ilegal. Secara umum memang tidak menganggu karena dilakukan di ruang tertutup yang cenderung tidak terlihat, namun masyarakat yang tahu hal seperti dilakukan menjadi resah. Mudahnya melakukan aborsi membuat remaja yang ada di fase ingin tahu menjadi tidak terkendali. Apalagi dengan biaya yang murah, itu akan merusak moral generasi muda.
“Apa kaitannya?” Tanya Ridwan bingung.
“Kau ingat kasus pembunuhan 15 tahun yang lalu itu berkaitan dengan sekte sesat atau sejenisnya, dan mereka menggunakan satu keluarga itu sebagai tumbal walau dalam berkas perkara tidak disebutkan seperti itu. Mungkinkah tersangka ini menggunakan janin-janin itu sebagai pengganti tumbal, mereka sama-sama punya nyawa dan menggunakan janin yang tidak diinginkan sebagai tumbal tidak melibatkan mereka dalam kasus pembunuhan” jelas Bima.
“Aku tidak pernah berpikir sampai sejauh itu” sahut Ridwan. Ia masih kesal dengan dirinya sendiri yang tidak bisa menangani kasus ini. Padahal saat itu pelakunya sudah ada di depan matanya. Sayang saja ia tidak berhasil menangkapnya.
“Kau berada di TKP kedua kasus ini, apa kau tidak merasa ada kesamaan?” Tanya Bima. Ia menatap Ridwan tajam seolah mencoba mengulitinya.
“Ada. Lambang pentagram terbalik, lilin merah dan beberapa alat yang biasa digunakan untuk ritual. Tapi aku yakin itu hanya lah orang-orang iseng yang ingin mengacaukan penyelidikan, mana mungkin ada hal-hal seperti itu dalam kota yang dipenuhi logika ini” jawab Ridwan mencoba menyangkal. Ia tidak pernah percaya pada hal-hal seperti itu, mungkin itu yang menjadi salah satu penyebab ia tidak bisa menyelesaikan kasus 15 tahun lalu.
Ridwan memang bukan orang yang seperti Bima yang sangat fleksibel. Ia menjalani hidupnya penuh dengan logika. Ia tidak pernah mempercayai apa yang tidak pernah ia lihat. Hantu, arwah atau hal mistis apa pun baginya hanya lah sesuatu yang tidak ada dan tidak berguna.
“Ya itu terserah padamu, semoga saja itu tidak melibatkan hal-hal tidak menyenangkan itu. Menyelidiki kasus yang berkaitan dengan arwah atau hal-hal berbau mistis memang tidak pernah menyenangkan” ucap Bima. Ia mengingat beberapa kasus yang ia tangani akhir-akhir ini, mungkin jika siswa SMA bernama Daniel itu tidak membantunya, ia tidak akan memecahkan masalah sampai sebanyak itu dalam 6 bulan terakhir.
“Berhenti membicarakan hal-hal yang tidak masuk akal dan lakukan pekerjaanmu dengan baik. Aku harap tahun ini atau tahun saat aku memimpin, kau dapat bekerja dengan lebih baik tanpa mencemarkan nama baik kepolisian” ucap Ridwan sambil berdiri. Ia merapikan setelan seragamnya dan hendak pergi sebelum Bima berteriak,
“apa kau bilang? Aku telah melakukan hal yang benar dengan terkuaknya kasus Indira bersaudara, kepolisian telah berhasil memenangkan hati rakyat dengan citra bersih-bersih kantor. Kenapa orang-orang seperti kalian itu sangat malas untuk introspeksi diri?” ujar Bima dipenuhi kekesalan.
“Mungkin akan lebih baik jika berita ini tidak dipublikasikan” sahut Ridwan.
“Dan aku masih akan berhadapan dengan wanita gila itu hingga hari ini? Jika kasus itu tidak terkuak mungkin saja kau tidak akan ada disini lagi. Sungguh tidak tahu berterimakasih” kesal Bima.
“Maksudku kau bisa menyelesaikan kasus ini tanpa harus mempublikasikan apa yang terjadi. Tapi sudah lah itu sudah terjadi, tidak ada yang perlu disesali” ucap Ridwan.
Merasa tidak ada lagi hal yang akan dibahas Ridwan menghabiskan sisa kopi di cangkirnya dan kembali ke ruangannya sendiri. Ia perlu meninjau kembali dokumen yang dia terima, dan jika ia tidak salah mengira seharusnya hasil otopsi kasus terakhir sudah keluar pagi ini. Ia berpapasan dengan Andi ketika ia membuka pintu.
“Selamat pagi Pak” sapa Andi dengan senyum ramah.
Ridwan memperhatikan polisi muda yang penuh dengan semangat itu, ia tidak menggunakan seragam kepolisian, namun baju yang ia gunakan jelas lebih rapi dari Bima. Rambutnya disisir rapi dan klimis. Tampak sangat bertolak belakang dengan Bima yang selalu bersandang ala kadarnya.
“Pagi,” jawab Ridwan sambil berlalu pergi. Ia tidak ingin berurusan dengan anak buah Bima yang tampak tidak bisa apa-apa itu. Diam-diam ia penasaran apa yang telah Bima lakukan pada anak itu.
Andi menyerahkan dokumen yang ia dapat dengan seringai kecil di wajahnya. Ia adalah orang pertama yang datang ke rumah sakit pagi ini, dan beruntung Stefani baru saja menyelesaikan shift-nya jadi ia punya kesempatan untuk meminta data dengan lebih mudah. Ia tidak malas, ia hanya enggan berurusan dengan sekumpulan orang berjas putih berotak pintar. Itu membuatnya minder.
“Dokter Stefani memberikan dokumen yang menjadi arsip pribadinya, setelah selesai ia ingin dokumen itu kembali. Ia sudah menandai beberapa bab yang menurutnya janggal” jelas Andi.
“Jadi dia pun curiga ada kejanggalan dalam kasus ini” gumam Bima.
“Dia bilang kematian mereka sangat aneh. TKPnya sangat berantakan menunjukan pembunuhan yang sangat brutal dan kasar, bahkan darah korban sampai menodai plafon rumah dengan ketinggian 4m, namun anehnya tetangga sekitar rumah tidak ada yang mendengar adanya keributan sama saat kejadian berlangsung dan bayi itu masih menghilang hingga saat ini” jelas Andi begitu ia melihat Bima membuka satu per satu dokumennya.
“Tidak ditemukan dosis obat bius atau obat tidur apa pun, jika dilogika pasti ada teriakan yang terdengar. Rumah yang menjadi TKP juga bukan rumah yang besar dan jauh dari pemukiman” gumam Bima sambil meneliti satu persatu kejanggalan.
“Menurut keterangan Pak Ridwan, seseorang yang diduga pelaku hingga saat ini adalah seorang narapidana kelas kakap yang kabur dari lapas bernama Angga. Dari postur tubuh dan perilakunya, itu mungkin dapat dilogika jika ia pelakunya. Tapi ia tidak punya alasan untuk menghabisi keluarga itu dengan cara yang sekejam itu, ia hanya kebetulan mencuri beberapa barang berharga dan uang. Ditambah lagi menurut data medis, Angga ini kidal karena tangan kanannya terkena timah panas dari penakapan sebelumnya. Ia tidak bisa membunuh dengan serapi itu” imbuh Andi.
“Apa kau sedang bilang kalau Angga ada di tempat yang salah di waktu yang tidak tepat?” Tanya Bima, ia melirik Andi dengan tatapan tajam.
“Ya itu, itu hanya hipotesisku pak” jawab Andi gugup.
“Lalu kenapa ia lari dan mengapa jejak darahnya ada di TKP?” Tanya Bima. Sebenarnya ia sudah punya hipotesisnya sendiri, ia hanya ingin tahu apa pendapat Andi.
“Ia kabur dari lapas, jika ia tertangkap hukumannya akan lebih berat. Jika ditambah dengan kejadian ini, mungkin ia akan dipidana seumur hidup atau malah mati. Jadi ia memilih lari daripada mengelak. Kepolisian tidak akan mempercayai alibinya, apalagi dengan adanya bukti ia ada disana” jawab Andi. Ia menunduk, bersiap untuk menerima teriakan Bima. Namun yang ia dapat hanya lah suara tawa Bima.
“Hahaha, bagus. Aku juga punya hipotesis yang sama denganmu sejak awal kejadian ini. Sayangnya aku tidak pernah didengar dan terkesan membela pelaku kejahatan. Apalagi Ridwan melihat sendiri orang itu melakukan penyerangan” ucap Bima sambil membanting map itu ke meja kerjanya.
Andi yang tadinya merasa senang dipuji berubah panik. Stevani ingin dokumen itu kembali tanpa cacat sedikit pun, ia khawatir bantingan Bima akan merobek beberapa halaman yang telah rapuh. Itu dokumen yang dicetak 15 tahun yang lalu, tentu perlu perawatan ekstra untuk menyimpannya. Sepertinya Bima tidak peduli akan hal itu.
“Apa kau mendapatkan dokumen tentang kasus terakhir?” tanya Bima.
“Tidak pak, hasil otopsi baru akan keluar nanti siang tapi Dokter Stefani memberi tahu kami sesuatu”
Andi mengambil sebuah amplop kecil yang ia simpan di saku jas formalnya dan memberikannya pada Bima.
“Apa ini?” tanya Bima sambil membuka amplop itu.
“Itu adalah foto yang Dokter Stefani ambil di lokasi kejadian. Ruangan itu adalah kamar bayi yang hilang di kejadian 5 tahun yang lalu dan gambar yang satunya adalah tempat ditemukannya mayat terakhir. Dia bilang mayat terakhir terbunuh lebih brutal dari korban 15 tahun yang lalu. Sidik jarinya hilang dan sekujur tubuhnya penuh dengan luka, dan ada satu bagian tulang tengkorak yang hilang, tidak besar hanya seukuran ibu jari dan belum ditemukan hingga hari ini” jelas Andi lagi.
Bima membandingkannya 2 foto itu, dua gambar pentagram terbalik dengan 2 lokasi yang berbeda. Jika dilihat sekilas itu memang tampak sama tapi jika dilihat lebih teliti jelas itu gambar yang berbeda. Pentagram pertama itu punya lambang yang sangat presisi dan cenderung rumit, namun lambang kedua tampak digambar oleh seorang pemula. Garisnya ganda dan tidak serumit gambar pertama.
“Apakah menurut bapak pelakunya adalah orang yang sama?” Tanya Andi.
Bima memperhatikan kembali 2 foto itu dan menggeleng pelan.
“Bukan. Ini jelas berbeda, tapi mungkin ada kaitannya” jawab Bima pelan.