NovelToon NovelToon
The Journey Of Soul Detective

The Journey Of Soul Detective

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Mata Batin
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: humairoh anindita

Daniel Rei Erwin, seorang siswa baru yang dapat melihat arwah orang yang sudah meninggal. Berteman dengan 3 orang siswa penghuni bangku belakang dan 2 orang siswi pandai yang penuh dengan logika.

Ia kira semua akan berjalan normal setelah ia pindah, namun tampaknya hari yang normal tidak akan pernah ada dalam hidupnya.

Semuanya berawal dari kasus kesurupan misterius dan menjalar ke kasus-kasus lainnya, hingga pada akhirnya ia tidak tahu kapan ini akan berakhir.

Jalani saja semuanya dengan sepenuh hati, mungkin akan ada satu hati lain yang akan ia temukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon humairoh anindita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KASUS 3 bagian 10-

2 Minggu kemudian Bima dan Andi kembali melakukan pengintaian di sekitar rumah kosong itu. Jika perkiraan Daniel benar-benar malam ini akan ada pembunuhan lagi terjadi di tempat ini. Bima tidak ingin mempercayainya, tapi entah mengapa ia melakukan apa yang ia katakan. Ia hampir tidak pernah menerima perintah dari Ridwan yang notabenenya adalah atasannya. Entah kenapa menolak permintaan bocah itu seperti membuat kesalahan besar. Ia merasa akan melewatkan sesuatu yang serius jika mengabaikannya.

Mungkin Daniel akan ditetapkan sebagai tersangka jika ia berbicara dengan polisi lain. Daniel tahu terlalu banyak dan itu membuat banyak orang curiga. Bima juga pernah mencurigainya, meski pada akhirnya kecurigaannya tidak terbukti. Ia ingat pada akhir kasus pertama ia harus mengintrogasi Andre tentang anak ini, dan begitu tahu identitas aslinya dia akhirnya memutuskan untuk percaya.

Seperti apa yang terjadi di pengintaian terakhirnya, hampir tidak ada sesuatu yang mencurigakan terlihat pada awalnya. Namun begitu senja mulai tiba sepasang suami-isteri benar-benar datang ke tempat itu.

“Bukankah itu pemilik Klinik kecantikan di dekat Danau Angsa. Apa yang mereka lakukan di sana?”  tanya Andi terkejut.

Bima diam saja, namun otaknya mengingat apa yang Daniel katakan sebelumnya. Mereka bukan dokter kecantikan, namun pelaku kejahatan. Kepolisian telah banyak tertipu oleh mereka.

“Pak mereka membawa orang yang tidak sadarkan diri” teriak Andi lagi.

“Tunggu sebentar. Kita tidak boleh terburu-buru. Jika apa yang dikatakan Daniel benar, maka korban itu tidak akan terluka sebelum pukul 08.00. Segera hubungi Ridwan untuk meminta surat penangkapan dan minta lah beberapa bantuan dan pastikan tidak ada pergerakan yang mencolok!” perintah Bima dengan pandangan yang memancing, rahangnya mengeras seolah menolak untuk percaya.

“Baik pak” jawab Andi bergegas.

Setelah kalimat perintah itu ponsel Bima berbunyi. Daniel menelfonnya, ada apa?

“Halo, ada masalah apa kami sedang bertugas. Seperti apa yang kau katakan mereka ada di rumah kosong itu dengan seorang sandara” ucap Bima.

“Aku tahu bapak ada di mana dan sandra itu jelas Yulia dia tidak akan terluka, tapi jika Bapak dan kepolisian menanganinya dengan salah Yulia bisa mati kapan saja. Aku hanya ingin bilang coba selidiki orang bernama Krista Sekar dan Dion Pratama, sepertinya mereka terlibat dalam pembunuhan yang terjadi di taman. Aku mendapatkan informasinya dari buku harian Danila. Kemarin aku meminta Yulia mengambilnya” ucap Daniel dari ujung telepon.

“Apa lagi yang kau perlukan?” Tanya Bima.

“Tidak ada, bapak hanya perlu membawa Polisi bernama Ridwan itu ke TKP dan tentu saja Dokter forensik yang bertugas. Aku akan datang setelah magrib. Oh iya aku hampir lupa sesuatu, kedua orang tua Yulia ada di tempat itu. Apakah kepolisian tidak ingin menggeledah klinik kecantikan itu? Mungkin saja ada sesuatu yang bisa ditemukan”  ujar Daniel lagi.

“Kita tidak punya surat perintah” jawab Bima.

“Bapak ini bodoh atau apa? Surat perintah penangkapan bisa dibuat secepat kilat, lalu mengapa surat izin penggeldahan tidak bisa dibuat?” Tanya Daniel kesal.

Bima membenturkan kepalanya ke dashboard mobil saat itu. Apakah dia baru dikatain bodoh oleh seorang siswa SMA?

“Baik aku akan melakukan apa yang kau katakan. Sekarang aku punya 2 atasan” jawab Bima akhirnya. Dia menutup telepon dan menghela nafas keras.

“Pak Ridwan sedikit marah ketika aku menelpon namun ia akan melakukan apa yang diminta. Dia juga akan datang sendiri ke TKP” lapor Andi.

“Bagus. Sekarang cari tahu tentang seseorang bernama Dion Saputra dan Krista Sekar, akan lebih bagus jika kau mendapatkan foto mereka dan teman-temannya!” Perintah Bima lagi.  Ia mengabaikan Andi yang bingung dan menghubungi Stevani untuk datang ke tempat ini.

Setelah kurang lebih 30 menit mencari Andi akhirnya berteriak.

“Wow, benar pak. Mereka adalah teman dari gadis bernama Danila itu”

“Berhenti berteriak!” ucap Bima lebih keras.

Andi mengabaikannya dan memperlihatkan apa yang ada di layar laptop.

“Benar apa yang dikatakan Daniel. Satu-satunya orang yang tidak memiliki data diri itu gadis bernama Danila sementara kedua temannya punya. Perhatikan ini, jika memang benar mereka pelakunya menurutku motif utamanya karena cinta segitiga” ucap Andi bersemangat.

“Sepertinya tidak semudah itu. Kirim laporan kepada Ridwan dan minta dia mengirim beberapa polisi berkualitas untuk mengintrogasi mereka, dan pastikan tidak ada satu pun data yang tertinggal” perintah Bima lagi.

“Bapak ini main perintah-perintah saja, sedangkan yang bapak lakukan sejak tadi hanya duduk” ucap Daniel yang tiba-tiba muncul di jok belakang mobil. Sepertinya kedua polisi itu terlalu serius hingga tidak menyadari kedatangannya.

“Sejak kapan kau disini, bukankah kau bilang akan datang setelah magrib?” Teriak Bima kaget.

“Sejak Pak Andi berteriak Wow. Aku kebetulan lewat sini jadi sekalian saja. Tapi menurutku pak motifnya bukan hanya karena cinta segitiga, tapi ada sedikit kegilaan. Coba perhatikan beberapa postingan terakhir di akun keduanya, mereka memamerkan tato pentagram terbalik, dan jika diteliti Krista menggunakan sebuah kalung yang tampak tidak biasa. Mungkin bapak bisa mengirimnya ke dokter forensik untuk memastikan sesuatu, mungkin saja itu bagian tubuh korban yang hilang” ucap Daniel. Ia sudah berbaring di bangku belakang dan hampir memejamkan mata.

“Kau ini juga main perintah saja, bagaimana bisa Andre punya teman sepertimu. Aku harap dia tidak tertular sifatmu” jawab Bima.

“Loh aku kan hanya membantu kepolisian, masa harus aku juga yang melakukan tugas kalian. Aku tidak digaji loh pak, memangnya bapak mau makan gaji buta?” sahut Daniel tanpa rasa bersalah. Ia menguap dan mulai berbaring.

Bima ingin marah, namun yang dikatakan anak itu memang benar. Ia dengan segera mengambil gambar itu dan mengirimkannya pada Stevani. Dia memberikan keterangan seperti apa yang dikatakan Daniel, dan pesan itu segera dibaca oleh Stevani. Hanya perlu waktu kurang dari 15 menit Stevani memberikan pesan balasan,

“Aku tidak dapat memastikan itu tulang manusia atau bukan, tapi aku yakin itu tulang. Dan bentuknya cocok dengan bagian tubuh korban yang hilang.  Segera dapatkan beda itu!”

“Tunggu saja devisi yang bertugas menyelesaikan interogasi, kenapa pula harus aku yang mendapatkan benda itu? Sepertinya sekarang aku punya 3 atasan”  gumam Bima setelah membaca pesan dari Stevani. 

Malam tiba dengan begitu cepat dan seluruh jalan telah diterangi lampu, menyisakan rumah kosong itu yang masih tetap gelap. Andi telah menyelinap ke halaman rumah itu sejak 15 menit yang lalu dan belum mengabarkan apa pun. Bima sedikit khawatir, namun ia berusaha menepis kekhawatiran itu. Andi adalah seorang polisi, ia pasti sudah diberi arahan untuk kasus yang seperti ini.

Hingga pada saat menjelang tengah malam sebuah cahaya kecil muncul dari dalam rumah kosong itu, namun hanya beberapa detik sebelum cahaya itu kembali hilang. Mungkin jika mereka tidak memperhatikan sejak tadi mereka juga akan melewatkannya. Ridwan yang sudah tiba sejak 30 menit yang lalu berkedip tidak percaya. Benar-benar ada sesuatu yang akan terjadi? Ia kira Bima hanya membual.

“Nah ayo kita pergi. Ingat satu hal jagan menatap langsung mata wanita itu” ucap Daniel yang baru saja menghabiskan semangkuk mie ayam.

“Pergi ke mana?” Tanya Ridwan bingung.

“Apakah semua orang di kepolisian punya daya pikir yang lamban. Tentu saja menangkap penjahat, apa lagi? Bapak sudah melihat ada cahaya di rumah itu, itu artinya ritualnya sudah dimulai” ucap Daniel sambil berjalan menyebrangi jembatan.

“Tolong jelaskan sesuatu aku tidak mengerti” teriak Ridwan kesal. Bima yang mendengar itu hanya menghela nafas kecil. Ia sudah merasakannya sejak beberapa bulan yang lalu.

“Nanti aku jelaskan, aku perlu memastikan sesuatu juga” jawab Daniel yang sudah berjalan jauh. Mau tidak mau ke-3 polisi itu bersiaga sebelum mengejar remaja yang sangat tengil itu.

“Sabar saja, nanti kasusnya juga selesai” ucap Bima sambil menyiapkan senapannya.

“Begini cara mu menyelesaikan kasus?”  Tanya Ridwan bingung.

“Dia tahu banyak hal, sudah jalani saja dulu. Penilaiannya ada di akhir ujian”  jawab Bima. Ia berlari mengejar Daniel yang sudah menghilang dari pandangannya. Mengabaikan Ridwan yang masih ingin marah.

Rumah itu gelap dan tampak sangat kosong namun ada cahaya yang keluar dari celah retakan tembok. Dapat dipastikan kalau ada orang di dalamnya. Bima dengan santai mendobrak pintu dengan tubuh besarnya, namun pemandangan yang ia lihat di dalam sana seketika membuatnya terdiam.

Apa-apaan ini?

Rumah itu sudah kehilangan semua sekat yang dulu ada, temboknya telah dicat dengan warna putih bersih dan dilukis dengan beberapa simbol aneh, lantai keramik itu pun sudah diganti dengan warna hitam putih seperti papan catur. Di ujung ruangan sebuah meja persembahan besar di letakan dengan begitu banyak lilin merah yang belum dinyalakan, dan ada Yulia yang terbaring tidak sadarkan diri. Ritualnya belum dimulai.

“Ah ternyata anak kecil ini membawa pasukan” ucap seorang pria yang saat ini menggunakan jubah hitam. Dia menunjuk ke arah Andi yang saat ini bertatapan kosong dan tampak depresi.

“Dasar bodoh”

“Lepaskan dia!” perintah Bima.

“Apa keuntungannya melepaskan orang tak berguna seperti dia?” tanya seorang wanita yang berisi di dekat mimbar persembahan. Tidak ada rasa panik dalam kata-katanya, namun Bima sadar ada rasa takut dalam dirinya.

“Sudah lah biarkan saja Pak Andi akan baik-baik saja. Sebaiknya tangkap saja mereka” ucap Daniel santai.

“Apa yang sebenarnya terjadi aku tidak mengerti, mengapa ada seorang gadis disana?” Tanya Ridwan setengah berbisik.

“Itu putri mereka, ah tidak maksudku putri angkat mereka. Dan mereka akan menggunakannya sebagai tumbal atau apa lah sebutannya untuk membangkitkan ‘pemimpin’ mereka” jawab Daniel tenang.

“Ah, kau anak muda yang pandai. Bukankah kau anak yang datang ke rumahku untuk belajar? Ternyata anak tidak tahu diuntungkan itu mencari pembelaan” sahut wanita itu sambil menyeringai sinis.

“Daniel jelaskan sekarang!” Perintah Bima agak keras.

“Pak Ridwan apa kau ingat malam kejadian 15 tahun yang lalu kau melihat seorang wanita yang dicekik oleh residivis bernama Angga, wanita itu adalah dia bukan korban. Lalu ada orang yang memukulmu dari luar, itu adalah pria ini. Dia keluar dari ruangan melalu pintu belakang segera setelah bapak mengetuk. Lalu dalam dokumen kasus perkara ada begitu banyak kejanggalan salah satunya adalah bayi yang tidak ada di tempatnya, bayi itu adalah Yulia” jawab Daniel dengan seringai yang tampak licik.

“Nak sepertinya kau mengigau”  bantah pria itu sedikit bergetar. Daniel menyeringai kecil melihat kepanikan mereka. Jadi semua dugaannya benar.

“Mereka telah melakukan pembunuhan untuk mengambil bayi itu. Dan kebetulan residivis itu masuk ke rumah ini dan bertemu mereka. Angga ingin lari, namun kedua orang ini tidak mengizinkannya. Pada akhirnya Angga melawan dengan mencekiknya dan di saat itu lah Pak Ridwan mengetuk pintu, pria itu panik dan keluar meninggalkan istrinya untuk mengatasi Pak Ridwan, aku benar kan Pak Teguh Santoso?” Tanya Daniel dengan tatapan tajam

“Sepertinya kau berhalusinasi. Coba periksa dia pak siapa tahu dia pemakai narkoba” ucap sang wanita. Ia tidak tahu apakah menghipnotis disaat seperti ini akan berhasil. Ia juga mulai panik.

“Jangan mencoba untuk menggunakan hipnotis di tempat ini, tidak ada yang akan terpengaruh” jawab Daniel. Sedetik setelah kalimatnya selesai Andi yang tadinya tampak terhipnotis tiba-tiba bangun dan memborgol tangan Teguh, Bima yang sudah menunggu langkah itu segera mengambil borgolnya juga dan memasangkannya pada sang istri yang sudah hendak lari. Pistol mereka ada di kepala tersangka.

“Bagaimana itu mungkin?” ucap wanita itu tidak percaya.

“ Itu hanya trik yang mudah, yang pastinya tidak kau pahami” jawab Daniel.

“Lalu bagaimana dengan saksi yang mengatakan bahwa bayi itu ada di tempat kakeknya?” Tanya Ridwan menyusun kembali apa yang pernah ia selisiki.

“Wanita ini adalah hipnoterapi, ia ahli dalam hipnotis. Lagipula jika bapak membaca dokumen yang benar-benar diterbitkan oleh forensik. Bapak pasti tidak akan menuduh residivis itu” jawab Daniel sedikit jengkel.

Ridwan menoleh pada Bima dan Andi yang siaga dalam posisinya. Beberapa pasukan kusus juga telah disiapkan di luar rumah ini.

“Apa kalian tahu semua ini?” Tanya Ridwan pada Bima dan Andi.

“Ya, kami sudah mengatakan ada banyak kejanggalan dalam kasus ini, tapi tidak ada siapa pun yang peduli. Jadi ya sudah seperti ini hasilnya” jawab Bima tanpa mengubah posisinya.

“Kalian berhalusinasi, bahkan jika memang benar kami pembunuhnya. Di mana bukti yang kalian punya? Bukankah kalian tidak punya bukti?” Tanya Teguh. Tatapan matanya mulai linglung, tampak akan gila dalam sekejap. Kemana perginya pemberani yang selalu mencari mangsa itu?

“Buktinya ada di lengan mereka. Gelang yang mereka pakai terbuat dari bagian tulang korban yang hilang. Hal ini mereka lakukan agar arwahnya tidak bisa melanjutkan perjalanan dengan tenang. Mereka tidak berhasil mendapatkan tulang sang ibu, karena waktunya tidak cukup. Bukankah saat itu polisi datang ke tempat ini secepatnya?” jawab Daniel.

Saat itu lah Stevani yang sejak tadi mendengarkan dari luar ruangan akhirnya masuk bersama 2 orang polisi. Ia dengan segera membuka gelang yang dipakai oleh mereka berdua.

“Aku akan menelitinya segera, dan aku juga ingin memberi tahu kalian kalau kalung yang digunakan oleh tersangka Krista memang tulang yang hilang dari korban yang ditemukan sebelumnya. Mereka berdua sangat kooperatif dan menceritakan semuanya pada polisi” ucap Stevani. Ia memandang Daniel sekilas dan tersenyum sebelum berbalik untuk kembali ke Rumah Sakit.

“Anak-anak itu tertangkap juga. Bodoh sekali”  ucap Teguh.

“Mungkin kalian lah yang lebih bodoh. Apa kalian tahu kalau orang yang mereka habisi adalah putri kalian yang bernama Danila? Kalian menyuruh mereka membunuh orang, tapi kalian tidak tahu siapa yang mereka bunuh. Ckckck, punya identitas itu penting”

Teriakan histeris terdengar setelah kalimat Daniel selesai. Bima dan Andi akhirnya menyeret kedua orang yang tengah berteriak tidak terima itu ke dalam mobil polisi. Daniel dengan segera keluar dan menyadarkan Pak Ridwan bahwa Yulia masih ada di atas meja persembahan.

“Satu pertanyaan lagi nak, kenapa mereka harus menunggu anak itu berusia 17 sementara mereka bisa menggunakan anak lain? “

“Perlu tanggal lahir, hari dan umur khusus untuk memanggil sesuatu yang mereka sembah. Danila dan Yulia punya waktu lahir yang sama tapi mereka tidak ingin menggunakan putri mereka. Tapi malah bawahan mereka yang menggunakannya sebagai tumbal tahun baru kemarin. Saat itu bulan purnama, dan itu waktu yang sempurna. Namun sayangnya mereka tidak terlalu ahli. Entah terjadi kesalahan ritual atau memang mereka berniat membunuh" jawab Daniel sambil berlalu pergi.

 

1
humairoh anindita
terima kasih sudah mampir, siap kakak.
ysl
kenapa kyanya namanya kebolak balik ya jadi bingung... ini Sora apa Hani?
humairoh anindita: terima kasih atas koreksinya ya, itu Hani.
total 1 replies
Rahmawaty24
Lanjut thor sumpah ceritanya bagus banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!