NovelToon NovelToon
Bukan Istri Cadangan

Bukan Istri Cadangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor jahat / Poligami / Selingkuh
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Lima tahun Hana Ayunindya mengabdi sebagai istri sempurna bagi Arlan Mahendra. Namun, cinta saja ternyata tidak cukup untuk mengisi rahim yang masih sunyi. Di bawah tekanan keluarga dan ego yang terluka, Arlan menjatuhkan vonis paling kejam. Ia akan menikah lagi.

​Maura hadir bukan hanya untuk memberikan keturunan yang didambakan Arlan, tapi juga untuk perlahan menggeser posisi Hana di rumah yang ia bangun dengan air mata. Hana mencoba ikhlas, mencoba menelan pahitnya dipoligami, hingga ia menyadari bahwa keikhlasan tanpa batas hanya akan membuatnya hancur tak bersisa.

​Di tengah puing-puing hatinya, Hana memutuskan untuk bangkit dan menemukan kembali jati dirinya yang hilang. Saat itulah, Adrian Gavriel hadir dan menunjukkan bahwa Hana layak dicintai tanpa syarat.

​Ketika Hana mulai berpaling, mampukah Arlan merelakannya? Ataukah penyesalan datang saat pintu hati Hana sudah tertutup rapat?

Kita simak kisah selanjutnya yuk di Karya => Bukan Istri Cadangan.
By: Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Mobil mewah milik Adrian membelah jalanan Jakarta yang mulai merayap padat. Di dalam kabin yang kedap suara itu, Hana menatap keluar jendela, menyaksikan deretan gedung pencakar langit yang tampak seperti raksasa beton.

Pikirannya tidak lagi melayang pada makian Ibu Mira atau tangisan buaya Maura yang baru saja ia tinggalkan. Ada sebuah tekad yang mengeras di dadanya - Hana Ayunindya tidak akan kembali ke neraka itu malam ini.

Sepanjang hari di kantor Gavriel Corp, Hana bekerja seperti kesurupan. Ia mengorganisir jadwal Adrian, membedah draf kontrak, dan memimpin koordinasi singkat dengan tim legal.

Kecepatan kerja dan ketajaman analisanya membuat beberapa manajer senior terkesiap. Mereka tidak menyangka sekretaris baru sang CEO bukan sekadar pemanis ruangan, melainkan mesin penggerak yang efisien.

"Kau tidak lelah?" tanya Adrian saat hari sudah beranjak malam, sekitar pukul tujuh. Ia berdiri di ambang pintu ruangannya, memperhatikan Hana yang masih sibuk merapikan berkas di atas mejanya yang luas.

Hana mendongak, tersenyum tipis. "Lelah fisik jauh lebih baik daripada lelah batin, Adrian. Bekerja membuatku merasa... hidup."

Adrian mengangguk paham. "Aku akan meminta sopir mengantarmu pulang."

"Jangan ke rumah itu," potong Hana cepat. "Antarkan aku ke alamat ini."

Hana menyodorkan secarik kertas berisi alamat sebuah apartemen di kawasan Jakarta Selatan. Bukan rumah besar Mahendra yang penuh sesak dengan kepalsuan, melainkan sebuah hunian vertikal yang sudah lima tahun ia telantarkan sejak hari pernikahannya dengan Arlan.

Satu jam kemudian,

Lampu lorong apartemen itu berkedip lembut saat Hana melangkah keluar dari lift. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang saat ia berhenti di depan pintu nomor 12-B. Tangannya yang gemetar mulai menekan digit sandi pada kunci digital di pintu.

1-2-0-5.

Tanggal lahir mendiang ayahnya. Angka yang tidak pernah ia ganti.

Klik.

Pintu terbuka dengan bunyi gesekan halus. Hana melangkah masuk, dan seketika aroma udara yang terperangkap lama menyapa indra penciumannya. Ia meraba dinding, mencari saklar lampu. Saat cahaya lampu kristal kecil di ruang tengah menyala, Hana mengembuskan napas kasar.

Apartemen itu tampak seperti kapsul waktu. Segalanya masih berada di posisi yang sama saat ia tinggalkan lima tahun lalu. Sofa velvet abu-abu, rak buku yang penuh dengan literatur akuntansi, dan bingkai foto dirinya saat wisuda. Bedanya, kini debu tebal menyelimuti setiap permukaan, membuat perabotan itu tampak kusam dan kotor.

Hana meletakkan tas jinjingnya di atas meja makan yang berdebu. Ia tidak membawa koper, tidak membawa baju ganti, bahkan tidak membawa sikat gigi dari rumah Arlan. Ia datang dengan tangan hampa, namun merasa sangat penuh. Ia berjalan menuju kamar utama, membuka lemari besar di sudut ruangan.

Deretan pakaian lamanya masih tergantung rapi. Kemeja kerja, gaun malam, hingga jeans yang dulu sering ia pakai saat berakhir pekan. Semuanya masih harum sisa laundry tahunan yang lalu, meski sedikit berbau apek.

"Aku pulang," bisiknya pada diri sendiri. Air matanya hampir jatuh, bukan karena sedih, tapi karena ia akhirnya menemukan kembali kepingan dirinya yang sempat hilang tertimbun peran sebagai 'istri yang penurut'.

Namun, Hana tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam melankoli terlalu lama. Ia segera menyingsingkan lengan bajunya. Ia mulai bergerak lincah, mengambil kemoceng dan kain lap.

Ia membersihkan debu-debu itu seolah sedang menyapu bersih kenangan buruk dari hidupnya. Ia mengepel lantai, mencuci sprei lama, dan membuka semua jendela agar udara malam yang segar bisa menggantikan sesak yang tersisa.

Sambil membersihkan rumah, Hana mengambil ponselnya. Ia membuka aplikasi belanja daring, memesan bahan makanan pokok, sabun cuci, sikat gigi, hingga stok kopi. Tak lupa, ia memesan seporsi sushi besar dan miso soup untuk makan malamnya.

Satu jam kemudian, apartemen itu mulai terlihat manusiawi. Aroma debu hilang, digantikan aroma cairan pembersih lantai yang segar. Tepat saat Hana selesai membersihkan sisa air di lantai kamar mandi, bel pintu berbunyi.

Ding-dong.

Hana mengintip melalui intercom. Seorang kurir berdiri di sana membawa kantong belanjaan dan kotak makanan.

"Terima kasih, Pak," ucap Hana ramah saat menerima pesanan itu.

Hana membawa makanannya ke meja makan yang sudah bersih. Ia menyalakan televisi, membiarkan suara berita malam mengisi kesunyian ruangan itu. Ia mulai menyantap sushi-nya dengan tenang.

Ini adalah makan malam paling damai yang ia rasakan dalam dua bulan terakhir. Tidak ada sindiran Ibu Mira, tidak ada aroma parfum Maura yang menyengat, dan tidak ada tatapan menghakimi dari Arlan.

Namun, kedamaian itu terusik oleh getaran konstan dari ponselnya yang terletak di sebelah piring. Layar ponsel itu menyala berkali-kali.

Mas Arlan CALLING ...

23 Missed Calls

Pesan singkat mulai masuk bertubi-tubi.

"Hana! Kau di mana?! Kenapa belum pulang?! Ibu mencarimu, dia ingin kau menyiapkan air hangat untuk Maura !"

"Jawab teleponku! Jangan jadi kekanakan! Kau pikir kau bisa lari setelah memfitnah kandungan Maura pagi tadi ?"

"Hana, aku peringatkan kau. Pulang sekarang atau aku akan melaporkanmu sebagai orang hilang !"

Hana hanya menatap layar itu dengan ekspresi datar. Ia mengambil sumpitnya, mengunyah potongan salmon dengan perlahan, lalu dengan gerakan tenang ia menekan tombol mute dan membalikkan ponselnya ke arah meja. Ia memutus komunikasi itu sepenuhnya.

"Lapor saja sebagai orang hilang, Mas," gumam Hana sinis. "Karena Hana yang kau kenal memang sudah hilang. Dia sudah mati di tanganmu sendiri."

Selesai makan, Hana masuk ke kamar mandi untuk mandi air hangat. Di bawah guyuran shower, ia memejamkan mata, membiarkan uap panas menyapu sisa-sisa ketegangan dari otot-ototnya.

Ia tidak lagi membayangkan wajah Arlan yang mungkin sedang murka, atau Ibu Mira yang mungkin sedang mengomel karena tidak ada yang melayaninya. Semua bayangan itu ia buang bersama air yang mengalir ke saluran pembuangan.

​Setelah mandi, Hana mengenakan piama sutra lamanya yang masih tersimpan rapi di lemari. Kainnya terasa lembut dan sejuk di kulit, memberikan kenyamanan yang sudah lama tidak ia rasakan.

Ia merebahkan diri di ranjangnya sendiri, ranjang yang mungkin tak semegah di rumah Mahendra, namun rasanya jauh lebih lapang karena tidak ada lagi beban pengkhianatan yang menyesakkan dada.

​Sebelum benar-benar memejamkan mata, Hana mengambil laptop dari tas kerjanya. Ia menyandarkan punggung di kepala ranjang, menyalakan perangkat itu, dan cahaya layar segera menerangi wajahnya yang tenang.

​Hana tidak membuka media sosial. Ia tidak tergoda untuk melihat unggahan Maura atau mencari tahu apakah Arlan mencarinya lewat koneksi pertemanan mereka. Fokusnya hanya satu - masa depannya.

​Ia membuka folder kerja Gavriel Corp dan memeriksa kembali jadwal untuk esok hari. Jarinya menari di atas trackpad, memastikan semua agenda rapat direksi, sinkronisasi jadwal Adrian dengan klien dari London, hingga draf presentasi yang harus ia siapkan sudah berada dalam urutan yang sempurna.

​"Besok adalah hari yang besar," bisik Hana pada kesunyian kamar.

​Ia memastikan setiap detail pekerjaannya tidak memiliki celah. Baginya, profesionalitas adalah satu-satunya harga diri yang ia miliki saat ini. Ia tidak ingin lagi dikenal sebagai 'istri Arlan yang malang', melainkan sebagai Sekretaris Utama yang handal dan tak tergantikan bagi Adrian Gavriel.

Pekerjaan ini bukan sekadar alat untuk bertahan hidup, tapi jembatan untuk membangun kembali martabatnya yang sempat hancur.

​Hana menutup laptopnya dengan suara klik yang mantap. Ia mematikan lampu nakas, menarik selimut hingga ke dada, dan menghela napas panjang yang lega.

Malam ini, di apartemen lamanya yang tersembunyi dari dunia Arlan, Hana tidur dengan sangat lelap. Tanpa mimpi buruk, tanpa perlu menunggu suara langkah kaki suami yang tak kunjung datang ke kamarnya.

​Sementara itu, di sebuah rumah mewah di sudut kota yang lain, ponsel Arlan masih terus menampilkan nada sibuk. Ia menatap kamar tamu yang kosong dengan perasaan campur aduk antara amarah dan kecemasan yang mulai menggerogoti egonya.

Arlan mulai menyadari bahwa otoritasnya atas Hana telah runtuh, dan ketakutan mulai merayap di hatinya, takut jika ia benar-benar telah kehilangan satu-satunya harta paling berharga yang pernah ia miliki.

...----------------...

Next Episode....

1
mama
ujian preet han..jgn goblok 2x lah jd cwe🤣..mulut suami km licin kyk minyak goreng kok dipercaya🤭
Lee Mba Young
setelah koar koar cerai ada yg bantuin akhirnya di bujuk dikit lngsung luluh sebegitu bucin pa bgitu enak goyangan suami smp gk mau cerai.
nnti kl gk adil jng nangis minta cerai lagi nikmati saja toh di keloni juga kan dpt burung nya juga kan. sakit ya telen saja.
awas habis ini jng cerai jng jd wanita labil.
Lee Mba Young
🤣🤣 ngapain kemarin koar koar cerai trus sekarang batal. hrse terima saja poligami nya kebiasaan wanita indo yg lemah. setelah koar koar cerai smp sidang di rayu dikit langsung luluh. iku ae belum di keloni nnti di keloni lngsung gk jd cerai. 🤣.
sebegitu murah nya Hana Hana.
habis ini jng nyusahin yg Bantu kamu supaya bisa cerai.
cinta semu
buat Hana tegar Thor ...
Miss Ra: 💪🤗
siaaaappp
total 1 replies
Mundri Astuti
sakit kamu mah Arlan, ntar anak yg dikandung Maura taunya bukan anaknya ni y, nangis" dah situ saat itu terkuak
Mundri Astuti
mudah"an Adrian bisa jadi tameng buat Hana, hancurin perusahaannya Arlan aja Adrian biar tau rasa dia
Sasikarin Sasikarin
kok di buka pernikahan sandiwara dah terhapus
Miss Ra: iya kak maaf yah...

mnurutku ceritanya kurang bagus dan menarik...
takutnya nanti seperti beberapa karya gagal retensi yg sudah aku buat tpi mengecewakan..

nanti aku buatkan cerita yg lebih menarik lainnya yaa...

🙏
total 1 replies
Mundri Astuti
ayo Hana kamu harus kuat, tunjukkan ke Arlan bahwa kamu bisa berdiri diatas kakimu sendiri dan bahagia tanpa nama besar Arlan dan keluarganya
Himna Mohamad
kereeen
Sasikarin Sasikarin
lanjuuuuuuut 💪
Lee Mbaa Young
lanjuttt
Miss Ra: /Chuckle//Chuckle//Chuckle/
total 1 replies
Himna Mohamad
lanjutt thoor kereen ceritanya
Miss Ra: siaaappp 💪

/Heart//Kiss/
total 1 replies
Yantie Narnoe
semangat up nya...💪💪
Miss Ra: siaaaappp

💪
total 1 replies
Yantie Narnoe
lanjut..💪💪💪
Soraya
mampir thor
Miss Ra: siaaaapppp 💪
total 1 replies
Himna Mohamad
lanjut kk
Miss Ra: siaaapppp💪💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!