NovelToon NovelToon
Kubuat Kau Kembali Keasalmu, Saat Kau Selingkuhi Aku

Kubuat Kau Kembali Keasalmu, Saat Kau Selingkuhi Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Pelakor jahat / Selingkuh / Cinta Terlarang
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: niadatin tiasmami

Novel ini mengikuti perjalanan Rania menghadapi luka dalam, berjuang antara rasa sakit kehilangan, dendam, dan pertanyaan tentang bagaimana bisa seseorang yang dicintai dan dipercaya melakukan hal seperti itu. Ia harus memilih antara terus merenungkan masa lalu atau menemukan kekuatan untuk bangkit dan membangun hidup baru yang lebih baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 Bayangan di Balik Senyum

Suara burung berkicau dari taman belakang mengusik tidurku keesokan paginya. Aku membuka mata perlahan, merasakan kehangatan tubuh Arga yang masih terlentang di sisiku. Jam di meja malam menunjukkan pukul 06.30—waktu biasa aku bangun untuk menyiapkan bekal kerja Arga. Aku berusaha menyelinap dengan hati-hati dari bawah selimut, tapi tangannya secara naluriah menggenggam pergelangan tanganku.

“Dimana kamu pergi, sayang?” ucapnya dengan suara masih penuh kantuk, mata belum terbuka lebar.

“Hanya mau ke dapur buat kopi dan sarapan,” jawabku pelan sambil mencium dahinya. “Tidurlah lagi sebentar ya. Kamu kerja lembur kemarin malam kan?”

Arga hanya mengangguk dan menutup matanya kembali. Aku keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur, namun langkahku terhenti ketika melihat cahaya sudah menyala di sana. Di depan kompor, Maya berdiri dengan mengenakan baju tidur ku yang sedikit terlalu besar padanya, sedang mengocok telur dengan gerakan yang terampil. Dia menoleh ketika mendengar langkahku, dengan senyum hangat yang membuat wajahnya tampak lebih ceria dari kemarin.

“Selamat pagi, Ra!” ucapnya dengan nada riang. “Aku sudah bangun sejak tadi dan berpikir untuk membantu kamu memasak sarapan. Aku tahu Arga suka telur orak-arik dengan bawang merah dan tomat.”

Aku mendekatinya dan melihat wajan yang sudah siap di atas kompor, serta roti panggang yang sudah siap di atas loyang. Rasa terima kasih menghiasi hatiku, namun sedikit ada kekhawatiran yang muncul di benakku. Sejak kemarin malam, Maya tampaknya terlalu bersemangat untuk membantu di rumah—seolah ingin membayar utang budi yang dia rasakan padaku dan Arga.

“Kamu tidak perlu repot-repot memasak, May,” ucapku sambil menyentuh bahunya. “Kamu masih tamu di sini kan? Seharusnya aku yang merawatmu.”

Maya menggelengkan kepalanya dengan lembut. “Tidak usah begitu, Ra. Aku tidak bisa hanya duduk diam dan membiarkan kamu mengurusku terus. Selain itu, memasak membuat pikiranku lebih tenang. Ini adalah cara aku untuk merasa berguna.”

Saat itu, suara kaki berjalan terdengar dari arah koridor. Arga muncul dengan rambut yang masih berantakan, namun wajahnya langsung bersinar ketika melihat apa yang Maya siapkan. “Wah, telur orak-arik favoritku! Siapa yang memasaknya? Bukankah ini resep khusus mama kamu, May?”

Maya menoleh dengan wajah yang sedikit memerah karena dipuji. “Ya, kamu masih ingat ya, Arga? Saat kamu dan Ra menginap di rumahku dulu, aku sering memasaknya untuk kalian kan?”

Arga mendekat dan melihat isi wajan dengan penuh kagum. “Tentu saja ingat. Itu adalah makanan paling enak yang pernah kumakan saat kita sedang kesusahan mencari rumah. Kamu selalu bisa membuat makanan yang menghangatkan hati.”

Aku berdiri di sisi mereka, menyaksikan bagaimana kedua orang itu saling bertukar pandangan dengan senyum yang dalam. Ada sesuatu yang berbeda dalam cara mereka berbicara—seolah ada bahasa tersendiri yang hanya mereka dua yang mengerti. Aku menghela napas perlahan dan mencoba menepis perasaan tidak nyaman itu. Tentu saja, mereka hanya teman lama yang akur saja. Tidak ada yang salah dengan itu.

Setelah sarapan, aku harus pergi ke kantor untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan mendesak. Sebelum berangkat, aku menarik Maya ke samping dan memberikan kunci rumah padanya. “Jika kamu perlu pergi kemana saja atau butuh sesuatu, jangan sungkan ya. Kamu bisa menggunakan mobil kita jika perlu. Aku sudah memberi tahu Arga kalau kamu mungkin akan keluar sebentar.”

Maya menerima kunci dengan tangan gemetar sedikit. “Terima kasih, Ra. Kamu benar-benar orang terbaik yang pernah kumiliki dalam hidupku.”

Aku memberikan pelukan padanya sebelum mengambil tas kerja dan keluar rumah. Perjalanan ke kantor terasa lebih lama dari biasanya, dan pikiranku terus terfokus pada rumah—pada Maya dan Arga yang sendirian di sana. Aku mencoba untuk fokus pada pekerjaan, tapi setiap suara telepon yang berdering membuat hatiku berdebar kencang, khawatir akan apa yang terjadi di rumah.

Pada pukul 13.00, aku memutuskan untuk menelepon rumah untuk memastikan semuanya baik-baik saja. Namun, telepon tidak diangkat setelah beberapa kali dering. Aku kemudian menghubungi ponsel Arga, dan dia menjawab setelah tiga kali dering dengan suara yang tampaknya sedang sibuk.

“Halo sayang,” ucapnya dengan nada sedikit tergesa-gesa. “Ada apa?”

“Kalian baik-baik saja kan? Aku baru saja menelepon rumah tapi tidak ada yang menjawab,” tanyaku dengan suara cemas.

“Ya, kita baik-baik saja kok,” jawabnya dengan cepat. “Maya sedang mandi dan aku lagi membersihkan kamar tamu. Kamu tidak perlu khawatir ya. Fokus pada pekerjaanmu saja.”

Aku merasa lega mendengar itu, namun ada sesuatu dalam suara Arga yang membuatku merasa tidak tenang. Dia biasanya akan bercerita lebih banyak, bertanya bagaimana pekerjaanku, tapi kali ini dia tampak ingin segera mengakhiri pembicaraan. “Baiklah sayang. Aku mungkin akan pulang sedikit lebih awal hari ini ya. Mau belanja sayuran untuk makan malam.”

“Tidak usah repot, sayang,” ucapnya dengan cepat. “Maya sudah bilang mau memasak malam ini. Dia bilang mau membuat gulai ikan yang kamu suka. Kamu cukup pulang dan bersantai saja.”

Setelah mengakhiri panggilan, aku duduk terdiam di mejaku. Gulai ikan adalah hidangan favoritku, tapi aku tidak pernah tahu kalau Maya bisa memasaknya. Padahal selama ini, dia selalu bilang dia tidak bisa memasak masakan pedas karena tidak tahan dengan cabai. Aku menggelengkan kepalanya dan mencoba untuk tidak berpikir terlalu jauh. Mungkin saja Maya belajar memasaknya baru-baru ini.

Ketika pukul 16.30 tiba, aku memutuskan untuk pulang lebih awal. Aku membeli kue coklat favorit Maya dari toko kue dekat rumah sebagai kejutan kecil baginya. Namun, ketika aku sampai di depan rumah, aku melihat mobil Arga sudah ada di garasi, padahal biasanya dia pulang pukul 17.30. Aku membuka pintu dengan hati-hati dan masuk ke dalam rumah, namun tidak melihat ada orang di ruang tamu atau dapur. Suara lembut dari arah taman belakang terdengar jelas di telingaku—suara tawa dan percakapan yang akrab.

Aku berjalan perlahan menuju pintu belakang dan melihat pemandangan yang membuat hatiku terasa seperti tertusuk jarum tajam. Di taman belakang, Maya sedang duduk di kursi taman dengan mengenakan baju renang biru muda yang jelas bukan miliknya, sementara Arga berdiri di dekat kolam kecil yang ada di taman kita, sedang menyiram tanaman bunga dengan selang air. Kedua mereka sedang tertawa riang, dan Maya bahkan melempar sedikit air ke arah Arga, yang langsung membalasnya dengan tersenyum lebar.

“Aduh, kamu basahi bajuku lho, May!” teriak Arga dengan nada penuh canda. “Kalau kamu tidak hati-hati, aku akan menyiram kamu sampai basah kuyup!”

Maya hanya tertawa semakin keras dan berdiri dari kursinya. “Coba saja kalau kamu berani, Arga! Lihat saja siapa yang akan menang!”

Aku berdiri di sana selama beberapa detik, menyaksikan kedua orang yang paling aku cintai di dunia ini sedang bermain seperti anak-anak, dengan kedekatan yang membuat perutku terasa mual. Baju renang yang dikenakan Maya jelas bukan milikku—ukurannya terlalu kecil dan warnanya bukan warna yang aku suka. Lalu dari mana dia mendapatkannya? Apakah Arga membelikannya untuknya?

Tanpa sadar, kantong plastik yang menyimpan kue coklat di tanganku terjatuh ke lantai, membuat suara kecil yang membuat kedua orang itu berbalik ke arahku. Ekspresi wajah Arga dan Maya berubah drastis—dari senyum riang menjadi wajah penuh terkejut dan bersalah

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!