NovelToon NovelToon
ISTRIKU SANTRIKU

ISTRIKU SANTRIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Nikahmuda
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: ZIZIPEDI

Anies Fadillah hanya ingin menenangkan hatinya yang lelah.

Namun satu langkah tergesa tanpa perhitungan di malam hari menyeretnya pada fitnah yang tak sempat ia luruskan.

Faktanya Anisa Fadillah gadis tujuh belas tahun itu berada di dalam kamar Ustadz Hafiz Arsyad, yang tak lain adalah putra bungsu dari Kiai Arsyad.

Sebuah peristiwa yang menguncang kehormatan, meski keduanya tak pernah berniat melanggar syari'at.

Ketika prasangka lebih dulu berbicara dan kebenaran tak sempat di bela, jalan yang paling tepat menjaga marwah adalah pernikahan.

Hari itu juga Mereka dinikahkan secara tertutup, dan pernikahan itu dirahasiakan dari publik, hanya orang ndalem yang mengetahui pernikahan rahasia antara Hafiz dan Anies.

Apakah pernikahan mereka akan bertahan?
Atau mungkin pernikahan mereka akan terbongkar?

Ikuti kisahnya yuk...!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZIZIPEDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 Jawa Tengah

Halaman pondok pagi itu terasa berbeda.

Koper berwarna abu tua berdiri di teras ndalem. Suara santri bersahutan, ada yang bercanda, ada yang menyeka air mata diam-diam.

Anisa berdiri di depan kamar, memandangi ruang yang selama ini menjadi saksi kerasnya perjuangan nya menjalani hidup di bawah atap pondok pesantren yang ketat akan peraturan.

Dinding yang pernah ia tatap sambil menggerutu, jendela yang sering ia buka hanya untuk sekedar menghirup udara segar.

Hari ini ia benar-benar pergi.

Tiga sahabatnya berdiri di hadapannya, Nabila dan dua temannya, mata mereka memerah.

"Heemm...Nisa" Nabila mengusap hidungnya yang yang ikut berair.

"Aku bakal kangen Kamu, Nisa."

Anisa berusaha tersenyum santai.

"Aku juga, pasti kangen banyolan kalian..."

Mereka lalu saling berpelukan, menahan kesedihan. Tawa kecil pecah diantara mereka.

Anisa menahan air matanya, ia selalu paling gengsi, nangis di depan orang.

"Jaga diri kalian ya. Jangan suka kabur malam-malam," ujarnya, mencoba bercanda.

Nabila mendengus. "Itu kan kamu.." ceplos Nabila. Anisa tertawa renyah, sambil melepas pelukan ketiga temannya, satu persatu pelukan itu terlepas, namun jemari mereka masih saling menggenggam. Seakan ingin menahan waktu agar tak cepat berlalu.

Dari kejauhan, Gus Hafiz berdiri memperhatikan, untuk pertama kalinya Gus Hafiz melihat air mata Anisa bukan karena amarah, melainkan karena perpisahan.

***

Mobil pondok sudah siap di depan gerbang.

Sopir membuka pintu belakang. Gus Hafiz masuk lebih dulu, duduk di sisi kiri. Anisa menyusul, menjaga jarak sejauh mungkin di sisi kanan.

Pintu tertutup.

Mesin menyala.

Gerbang pondok perlahan menjauh dari pandangan.

Sunyi.

Hanya suara mesin dan gesekan ban di aspal.

Anisa menatap keluar jendela. Sawah, pepohonan, rumah-rumah kecil lewat seperti potongan kenangan yang bergerak mundur.

Gus Hafiz duduk tegak. Tangannya tergeletak di atas pangkuan. Ia ingin bicara. Tapi setiap kata terasa tak perlu. Namun Gus Hafiz akhirnya membuka suaranya.

"Kamu marah dengan keadaan ini...?"

 Anisa menggeleng, tak menoleh sedikit pun.

"Apa yang harus aku marahkan, Gus? bukankah panjenengan yang lebih tahu, takdir hidupku...?"

Gus Hafiz menahan napas, ia tak ingin menanggapi ucapan Anisa, ia tahu remaja di sebelahnya itu, sedah broken heart.

"Pak Tejo, pelan-pelan saja, ndak usah buru-buru." ujar Gus Hafiz seperti ingin mengubah topik.

"Nggih, Gus." sahut Pak Tejo mengurangi laju kecepatannya, karena jalur Pantura begitu padat.

Perjalanan panjang membuat suasana semakin sunyi. Tak ada obrolan antara Anisa dan Gus Hafiz. Yang terdengar hanya suara Pak Tejo yang sekali kali, ngobrol dengan Gus Hafiz.

Mobil terus melaju, Anisa mulai lelah. Matanya berat. Semalaman ia tak benar-benar tidur.

Tanpa sadar, kepalanya perlahan miring ke kiri. Menyentuh bahu Gus Hafiz.

Lelaki itu tersentak kecil, tapi tak bergerak. Hanya kepalanya yang menoleh, menatap kepala Anisa yang tertutup hijab, bersandar cantik di pundaknya.

Ia bisa saja menggeser atau bisa saja membangunkan Anisa.

Namun ia tidak melakukannya.

Ia membiarkan kepala itu bersandar di pundaknya.

Hembusan napas Anisa terasa hangat di lehernya. Hijab Anisa menyentuh kulit leher Gus Hafiz. Gus Hafiz menatap lurus ke depan. Berusaha tetap tenang.

Dalam diam, ada perasaan aneh yang merambat, bukan gejolak. Hanya… rasa ingin menjaga.

Mobil terus melaju, melewati jalan bergelombang.Anisa terbangun.

Matanya berkedip beberapa kali. Lalu ia menyadari sesuatu.

Kepalanya berada di bahu Gus Hafiz.

Remaja itu langsung tersentak. Cepat membenahi duduknya.

“Maaf…” gumamnya gugup, sembari merapikan kerudungnya.

Gus Hafiz… pura-pura tetap terpejam.

Seolah tidak tahu apa-apa.

Anisa menoleh sedikit, memastikan.

Anisa menggigit bibirnya. Dadanya berdebar aneh, namun ada rasa lega saat melihat Gus Hafiz terpejam. Ia kembali menatap jendela, tapi kali ini pikirannya tidak setenang tadi.

Beberapa menit kemudian, Gus Hafiz pura-pura membuka mata perlahan. Menatap pantulan kaca jendela, yang memperlihatkan wajah Anisa masih terlihat salah tingkah.

Ia menahan senyum tipis.

Bukan karena kemenangan.

Bukan karena berhasil membuat jarak itu mencair.

Tapi karena untuk sesaat… Anisa bersandar padanya tanpa perlawanan.

Mobil pondok akhirnya berhenti di halaman pesantren cabang di Jawa Tengah. Bangunannya lebih sederhana, suasananya lebih tenang. Udara terasa berbeda, lebih dingin, lebih asing.

Anisa turun lebih dulu.

Matanya menyapu halaman, para santri yang lalu lalang, suara salam yang terdengar lembut. Semua terasa baru. Dan jauh.

Di teras ndalem berdiri seorang perempuan sepuh dengan wajah teduh dan sorot mata tajam namun hangat.

Itulah Ibu Nyai Fatimah.

Beliau adalah bulek dari Gus Hafiz, adik dari ayahnya yang sudah lama mengasuh pesantren cabang itu.

“Assalamu’alaikum,” sapa Gus Hafiz hormat.

“Wa’alaikumussalam, Hafiz,” jawab beliau, tersenyum tipis. Lalu menoleh pada Anisa. “Ini Anisa.”

Anisa menunduk sopan.

“Nggih, Nyai.”

Tatapan Ibu Nyai Fatimah tidak menghakimi. Tidak menyelidik. Seolah beliau sudah tahu semuanya, tanpa perlu mendengar cerita.

“Kamu capek, Nduk?” tanya beliau lembut.

Anisa menggeleng pelan.

Ibu Nyai tersenyum samar. “Hafiz, antarkan Anisa ke kamar santriwati belakang. Kamar yang dekat taman. Sudah bulek siapkan.”

Gus Hafiz mengangguk.

Anisa sempat terkejut, tapi tak berkata apa-apa.

Kamar itu sederhana. Ranjang kayu, lemari kecil, jendela menghadap kebun belakang. Lebih sunyi dibanding pondok lamanya.

Gus Hafiz meletakkan koper terakhir di sudut ruangan.

“Sudah,” ujarnya pelan.

Anisa berdiri di dekat jendela. Tangannya mencengkeram ujung kerudung.

Beberapa detik… hanya ada suara burung sore.

“Aku pamit setelah ini,” kata Gus Hafiz akhirnya.

Jantung Anisa berdegup lebih cepat.

“Secepat itu?” ucapnya tanpa sadar.

Gus Hafiz tersenyum tipis. “Kalau aku lama-lama di sini, nanti kamu makin nggak betah.”

Kalimat itu terdengar ringan. Tapi entah kenapa… membuat dada Anisa menghangat dan perih bersamaan.

Gus Hafiz melangkah mendekat, menjaga jarak yang wajar.

“Anisa,” suaranya tenang, dewasa, tanpa tekanan.

Anisa menoleh, "Nggih, Gus. "

“Di sini tidak ada aku yang akan menegurmu setiap hari. Tidak ada yang akan mengingatkanmu soal adab dengan cara yang kamu anggap menyebalkan.”

Anisa mencoba tersenyum. “Bagus dong.”

Sahutnya seolah tanpa beban.

“Bagus,” ulang Gus Hafiz sambil mengangguk. “Artinya kamu belajar berdiri tanpa bayanganku.”

Hening.

“Tapi satu hal…” lanjutnya pelan.

“Jangan jadikan perpindahan ini sebagai pelarian.”

Anisa terdiam.

“Kamu ke sini bukan untuk bebas dari suamimu. Kamu ke sini untuk menuntut ilmu.”

Kalimat itu seperti menyentuh sesuatu yang selama ini ia sembunyikan.

Gus Hafiz menatapnya lebih dalam.

“Aku tidak pernah ingin kamu merasa dibuang.”

Tenggorokan Anisa mendadak kering.

“Tapi kalau kamu merasa begitu… aku terima. Mungkin memang caraku menjagamu terasa seperti pagar.”

Anisa menunduk. Dadanya penuh.

Gus Hafiz melanjutkan, suaranya semakin lembut.

“Aku tidak datang untuk mengikat kakimu. Aku hanya memastikan kamu tidak jatuh terlalu jauh.”

Air mata Anisa hampir jatuh, tapi ia tahan.

“Di sini… kamu bebas, dari pengawasanku,” kata Gus Hafiz.

Kata itu membuat dada Anisa bergetar.

Bebas.

Kata yang selama ini ia inginkan.

Namun kenapa sekarang terasa pahit?

“Kalau suatu hari kamu benar-benar merasa tidak ingin kembali padaku…” Gus Hafiz berhenti sejenak, menarik napas dalam.

“…jangan menghilang, jangan kabur. Bicara.”

Anisa mendongak cepat.

“Aku tidak akan memaksamu mencintai,” lanjutnya. “Tapi aku akan tetap menjadi tempat kamu pulang. Entah sebagai suami… atau sebagai orang yang pernah berusaha menjagamu.”

Kamar itu mendadak sunyi.

Perasaan Anisa campur aduk.

Ada sedih, karena Anisa kembali merasa diasingkan.

Ada lega, karena tak lagi berada di bawah pengawasan Gus Hafiz.

Ada kehilangan yang tidak ia mengerti.

“Jaga dirimu,” ucap Gus Hafiz pelan.

Ia tidak menyentuh. Tidak memeluk. Hanya menatap sejenak, cukup lama untuk meninggalkan jejak.

Lalu ia berbalik.

"Gus..." suara Anisa menghentikan langkah Gus Hafiz.

"Iya..." Gus Hafiz menatap Anisa.

"Hati-hati..." hanya itu yang mampu keluar dari bibir Anisa.

Gus Hafiz tersenyum.

Langkahnya kembali terayun tenang. Tidak terburu-buru.

Pintu kamar tertutup perlahan.

Anisa berdiri membeku.

Beberapa detik kemudian, ia berlari ke jendela. Dari balik kaca, ia melihat Gus Hafiz berjalan menuju mobil. Tidak menoleh. Tidak ragu. Dan Mobil menyala.

Perlahan meninggalkan halaman pesantren.

Anisa menggenggam tirai jendela. Menatap mobil itu menghilang. Harusnya Anisa tertawa bahagia. Tapi kenapa air matanya justru jatuh?

Dan untuk pertama kalinya sejak pernikahan itu terjadi…

Anisa mulai takut pada satu kemungkinan.

Bagaimana jika suatu hari nanti, saat ia siap menerima…

Namun, Gus Hafiz sudah tidak lagi menunggunya?

1
Elen Gunarti
huh mlai dilema
Pa Dadan
karyanya bagus
Simkuring, Prabu
mana kelanjutannya
Alim
akhirnya
Elen Gunarti
jujur lah Anisa biar semua jelas
Alim
😭😭😭
Listio Wati
mewek baca y
Elen Gunarti
huh nyesek bingot ceritay, double up Thor
Listio Wati
kasihan bener si anisa
Titik Sofiah
lanjut Thor
Titik Sofiah
awal yg menarik ya Thor
Elen Gunarti
ceritanya bgus tp up-nya lama Thor
Zizi Pedi: makasi kk🥰
total 1 replies
Elen Gunarti
kuintip bolak balik blm up🤭
Elen Gunarti
double up Thor 👍👍👍👍
Elen Gunarti
lanjut
Elen Gunarti
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!