Sasha difitnah hamil oleh adik seorang konglomerat, dan hidupnya hancur dalam semalam. Untuk menutup skandal keluarga, Gio Artha Wijaya dipaksa menikahinya.
Di mata publik, Sasha adalah istri sah pewaris Wijaya. Di dalam rumah itu, ia hanyalah perempuan yang dibeli untuk menjaga reputasi. Gio membencinya. Menganggapnya jebakan.
Sasha membencinya karena telah menjadikan hidupnya alat tawar-menawar. Namun semakin lama mereka terikat dalam pernikahan tanpa cinta itu, Sasha mulai menyadari satu hal yang lebih menakutkan dari kebencian Gio.
Ia mungkin tidak pernah difitnah secara kebetulan. Seseorang telah merencanakan semua ini dan Sasha hanyalah bidak pertama.
Akankah Sasha mengetahui siapa dalang dari kejadian yang menimpanya selama ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan Sasha
Gio tidak langsung menjawab. Lidahnya terasa kelu, seolah semua kata pembelaan yang telah ia siapkan di kepala mendadak menguap tanpa sisa. Ia hanya bisa menatap punggung Sasha yang tampak begitu rapuh namun keras di saat yang sama.
Ia tahu, ini bukan jenis kemarahan yang bisa diredakan dengan pelukan hangat, ciuman di kening, atau janji-janji manis. Ini adalah kemarahan yang lahir dari sebuah fondasi yang runtuh, fondasi bernama kepercayaan. Dan retakan itu, dengan sadar dan sengaja, dibuat oleh tangan Gio sendiri selama bertahun-tahun.
Sasha bangkit perlahan dari ranjang. Selimut sutra yang membungkus tubuhnya merosot begitu saja ke lantai, tapi ia tidak peduli. Dengan langkah gontai, ia berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke arah kota. Ia menyibak gorden sepenuhnya, membiarkan cahaya pagi yang mentah menyentuh wajahnya yang pucat tanpa riasan.
Pagi ini terasa sangat berbeda bagi Sasha. Bukan karena apa yang terjadi di antara mereka semalam sebagai sepasang suami istri, melainkan karena beban rahasia yang selama ini menghimpitnya akhirnya terlepas dari mulut Gio. Namun, kelegaan itu tidak datang. Yang ada justru rasa hampa yang luar biasa.
"Kamu tahu hal paling menyakitkan dari semua ini, Gio?" tanya Sasha tanpa menoleh. Matanya menatap kosong ke arah deretan gedung pencakar langit yang mulai bersinar tertimpa matahari.
Gio duduk di tepi ranjang, menumpu sikunya di atas lutut. "Apa, Sha?" bisiknya parau.
"Aku percaya padamu tanpa syarat. Aku mencintaimu seperti orang bodoh yang merasa telah menemukan pelabuhan terakhir setelah badai besar menghancurkan hidupku," suara Sasha mulai bergetar, meski ia berusaha keras menahannya. "Setiap kali aku terbangun dari mimpi buruk tentang kecelakaan itu, wajahmu adalah hal pertama yang ingin kulihat karena aku merasa aman. Tapi ternyata, di dalam rasa aman itu… ada kebohongan yang kamu pelihara, kamu beri makan, dan kamu jaga dengan sangat rapi selama bertahun-tahun."
Sasha berbalik, matanya yang sembap menatap Gio dengan tatapan yang menghujam. "Kamu membiarkan aku mencintai seorang pria yang menyembunyikan kunci dari trauma terbesarku. Bagaimana bisa kamu melakukan itu padaku?"
Gio menunduk dalam. Ia tidak membela diri. Tidak ada gunanya mengatakan bahwa ia melakukannya karena cinta, atau karena ia takut kehilangan Sasha. Baginya sekarang, alasan-alasan itu terdengar seperti omong kosong pengecut.
"Aku tidak pernah berniat menyakitimu, Sasha. Setiap detik bersamamu, aku hanya ingin memastikan kamu tidak pernah menangis lagi," ucap Gio dengan suara yang hampir tidak terdengar.
"Tapi kamu justru membuatku menangis lebih hebat dari siapapun!" potong Sasha cepat. Napasnya mulai memburu.
"Kamu membunuhku perlahan-lahan dengan setiap hari yang kamu lalui tanpa kejujuran. Setiap kali kita membahas masa lalu dan kamu hanya diam, itu adalah pengkhianatan, Gio."
Hening kembali merayap. Ruangan itu terasa makin sempit. Sasha menutup matanya rapat-rapat, mencoba menahan gejolak di dadanya yang terasa ingin meledak.
"Aku butuh waktu, Gio. Bukan untuk membencimu. Karena jujur saja, bagian dari diriku masih terlalu mencintaimu untuk bisa membenci. Tapi aku butuh waktu untuk mencerna semuanya. Aku perlu mencari tahu, siapa kamu sebenarnya di balik topeng suami sempurna yang selama ini kamu pakai."
Gio mengangguk pelan, meski hatinya terasa seperti diremas. "Aku akan menunggu. Seberapa lama pun itu."
Sasha menatapnya tajam. "Jangan menungguku seperti seorang pesakitan yang berharap dimaafkan. Jangan pasang wajah bersalah itu di depanku."
Langkah Sasha mendekat, berhenti tepat di depan Gio. "Tunggu aku seperti pria yang siap memperbaiki semua kerusakan ini. Tunggu aku sebagai seseorang yang siap memberikan seluruh kebenaran tanpa ada satu kata pun yang tertinggal."
Kalimat itu membuat dada Gio sesak. Untuk pertama kalinya dalam pernikahan mereka, Sasha tidak berbicara sebagai wanita yang butuh perlindungan. Ia tidak berbicara sebagai istri yang rapuh. Ia berbicara sebagai seorang wanita yang menuntut keadilan atas hidupnya sendiri.
Perjalanan pulang ke rumah mereka di pusat kota terasa seperti perjalanan menuju keheningan yang abadi. Di dalam mobil mewah itu, Sasha hanya menatap ke luar jendela, melihat deretan pepohonan dan kendaraan yang berlalu-lalang tanpa minat.
Gio beberapa kali melirik istrinya, tangannya ingin sekali terulur untuk menggenggam jemari Sasha yang terpaku di pangkuan, namun ia urungkan, meski rasanya sangat menyiksa.
Sesampainya di rumah, suasana terasa asing. Rumah yang biasanya menjadi surga bagi mereka, kini terasa seperti bangunan kosong yang dingin.
Gio merogoh ponselnya. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Begitu ia membukanya, darahnya seolah berhenti mengalir.
Itu adalah sebuah foto. Foto tangkapan layar CCTV hotel semalam. Di sana terlihat jelas sosok Gio dan Sasha yang sedang berdiri di lorong kamar, dalam keadaan yang sangat privat. Dan di bawah foto itu, sebuah teks muncul, membuat rahang Gio mengeras seketika.
"Rahasia lama sudah terbuka. Tapi itu baru permulaan, Gio. Siap untuk rahasia berikutnya yang jauh lebih berdarah? Atau kamu lebih suka melihat istri tercintamu hancur sekali lagi?"
Gio mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah yang meledak-ledak membakar dadanya. Dimas. Tidak salah lagi. Pria itu benar-benar iblis yang tidak akan berhenti sebelum melihat hidup Gio hancur berkeping-keping. Ini bukan lagi soal masa lalu yang terkubur. Ini adalah perang terbuka.
Di lantai atas, Sasha tidak langsung beristirahat. Ia duduk bersila di tepi ranjang, jemarinya menggenggam sebuah liontin perak kecil milik ibunya. Itu adalah satu-satunya benda yang tersisa dari kecelakaan tragis belasan tahun lalu.
Pikirannya berputar liar seperti pusaran air. Tentang kecelakaan yang merenggut orang tuanya. Tentang Gio yang tiba-tiba muncul dalam hidupnya. Tentang Dimas yang selalu menebar teror. Tentang semua kepingan yang selama ini ia anggap sebagai kebetulan, namun kini mulai terlihat sebagai sebuah pola yang disengaja.
Selama ini, ia selalu menempatkan dirinya sebagai korban yang harus dilindungi. Ia membiarkan Gio memegang kendali, membiarkan suaminya itu menjadi perisai bagi hidupnya. Tapi sekarang, perisai itu sendiri ternyata memiliki noda.
"Aku tidak boleh lemah lagi," bisik Sasha pada dirinya sendiri. "Jika dunia ini penuh dengan kebohongan, maka aku harus menjadi orang pertama yang menemukan kebenaran itu."
Ketukan di pintu membuat Sasha menoleh. Ia melihat Gio berdiri di ambang pintu. Wajah suaminya tidak lagi menunjukkan kesedihan atau keraguan. Ada sesuatu yang berbeda di sana. Tegas, dingin, dan siap bertempur.
"Kita perlu bicara, Sha. Kali ini bukan soal perasaan kita, tapi soal keselamatanmu," ucap Gio.
Sasha mengangguk pelan. "Masuk."
Gio berjalan mendekat dan langsung menyerahkan ponselnya. Sasha menerima ponsel itu, melihat foto CCTV tersebut, dan membaca pesan ancaman dari Dimas.
Sesuatu dalam diri Sasha seolah patah, namun bukan karena ketakutan. Matanya yang tadinya layu kini menyala dengan api kemarahan yang belum pernah Gio lihat sebelumnya.
"Dia benar-benar tidak akan berhenti, ya?" tanya Sasha dengan nada suara yang dingin, hampir tanpa emosi.
"Tidak," jawab Gio pendek. "Dia akan terus menggunakan segala cara untuk menghancurkan kita lewat masa lalu itu."
Sasha menatap foto itu lebih lama, lalu dengan tenang ia mengembalikan ponsel itu pada Gio. Ia berdiri, menegakkan bahunya, dan menatap suaminya lurus-lurus. Untuk pertama kalinya sejak rahasia itu terbongkar, Sasha tidak tampak rapuh.
"Kalau begitu, kita juga jangan berhenti, Gio. Aku tidak mau lagi lari. Aku tidak mau lagi bersembunyi di balik ketakutanku akan masa lalu. Aku mau menghadapi semuanya. Kecelakaan itu, Dimas, dan semua sampah yang selama ini dia simpan."
Gio menatap istrinya dengan takjub. "Kamu yakin? Ini akan sangat menyakitkan, Sha. Kamu mungkin akan melihat hal-hal yang lebih buruk dari sekadar kebohonganku."