NovelToon NovelToon
Bumi Dan Hal - Hal Yang Belum Usai

Bumi Dan Hal - Hal Yang Belum Usai

Status: tamat
Genre:Duniahiburan / Cintapertama / Berbaikan / Tamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

persahabatan sederhana dari anak SMA ,yang mulai menumbuhkan benih cinta tapi ego masa muda mereka lebih tinggi dari pada rasa cintanya.ada hal yang ingin di sampaikan tapi tak mungkin Untuk di utarakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: Tentang Kemenangan yang Hambar dan Kursi Kosong yang Bicara

Selasa pagi ini, matahari muncul dengan malu-malu di balik sisa mendung kemarin, tapi suasana di kelas XI-IPA 2 masih sedingin kutub utara. Saya tetap duduk di barisan paling belakang, di samping Bangka yang sedang asyik menggambar tengkorak di buku tulisnya. Saya tidak lagi menoleh ke barisan depan. Bagi saya, barisan depan itu sudah menjadi wilayah kedaulatan Arkan, dan saya tidak punya paspor untuk masuk ke sana.

Arkan duduk di kursinya dengan punggung yang tegak, tapi ada yang aneh. Biasanya, dia akan sibuk memamerkan jam tangan barunya atau bicara keras-keras tentang rencana mading. Hari ini, dia lebih banyak diam. Dia sesekali melirik ke arah Kayla yang duduk di sampingnya, tapi Kayla hanya menatap lurus ke papan tulis dengan mata yang kosong.

"Lihat si Meteorit itu, Mi," bisik Bangka sambil menyenggol lengan saya. "Mukanya kayak orang yang habis menang lotre tapi tiketnya hilang ditelan kucing. Lesu banget."

"Menang itu beban, Bangka. Apalagi kalau kamu menang dengan cara menginjak orang lain. Kamu akan selalu takut orang itu bangun dan menarik kakimu," jawab saya sambil membuka buku paket Kimia.

Di depan sana, Arkan mencoba mengajak Kayla bicara. Dia menyodorkan sebuah cokelat batangan—merek mahal, tentu saja—ke meja Kayla. Tapi Kayla hanya menggeleng pelan tanpa menoleh. Dia tidak mengambil cokelat itu. Dia bahkan tidak melihat ke arah Arkan saat Arkan mencoba merapikan letak buku Kayla yang miring.

"Kay, nanti istirahat kita ke ruang OSIS ya? Ada rapat soal distribusi mading," suara Arkan terdengar pelan, tapi karena kelas sedang sepi, saya bisa mendengarnya sampai ke belakang.

"Aku capek, Kan. Kamu saja sendiri ya," jawab Kayla. Suaranya datar, tanpa emosi, seperti suara robot yang kehabisan baterai.

Arkan tampak tersentak. Dia meletakkan kembali cokelatnya ke dalam laci dengan gerakan yang kasar. Saya tahu perasaannya; dia merasa sudah memenangkan segalanya—mengusir saya, mendapatkan posisi di samping Kayla, dan menjadi bintang sekolah—tapi dia mendapati bahwa "hadiah" yang dia dapatkan hanyalah sebuah raga tanpa jiwa. Kayla ada di sana, di sampingnya, tapi pikirannya entah ada di mana.

Dara masuk ke kelas dan langsung duduk di depan saya. Dia menatap pemandangan di barisan depan itu selama beberapa detik, lalu menoleh ke arah saya dengan senyum sinisnya yang khas.

"Hukum Newton ketiga, Bumi," gumam Dara. "Aksi sama dengan reaksi. Arkan memberikan aksi berupa tekanan yang terlalu besar, dan sekarang dia mendapatkan reaksi berupa kehampaan. Dia pikir dia bisa memiliki bintang dengan cara mengurungnya dalam toples kaca."

"Toples kacanya mulai retak ya, Dara?" tanya saya.

"Bukan cuma retak, Bumi. Kacanya mulai menguap. Orang seperti Arkan tidak akan pernah mengerti bahwa Kayla itu butuh ruang untuk bernapas, bukan cuma untuk dipajang," jawab Dara sambil mulai menandai bukunya dengan stabilo kuning.

Saat istirahat tiba, Arkan langsung keluar kelas dengan wajah yang sangat gusar. Dia tidak mengajak Kayla. Dia berjalan cepat menuju kantin, menabrak beberapa siswa di koridor tanpa minta maaf. Kayla tetap duduk di bangkunya, sendirian, menopang dagu sambil melihat ke arah jendela.

Senja masuk ke kelas kami membawa dua bungkus roti isi selai kacang. Dia menghampiri meja saya, tapi matanya sempat melirik ke arah Kayla yang tampak sangat kesepian di depan sana.

"Bumi... Kayla kelihatannya sedih sekali," bisik Senja sambil memberikan roti itu pada saya.

"Dia sudah besar, Senja. Dia tahu apa yang dia pilih," kata saya sambil membuka bungkus roti. Rasanya gurih, tapi entah kenapa lidah saya masih terasa sedikit pahit.

"Tapi tetap saja... saya jadi merasa tidak enak. Seolah-olah saya yang merebut posisi dia di samping kamu," Senja menunduk, jarinya memainkan ujung sweternya.

Saya memegang tangan Senja sebentar, membuatnya mendongak. "Kamu tidak merebut apa-apa, Senja. Kamu cuma mengisi ruang yang sengaja dikosongkan oleh orang lain. Jangan pernah merasa bersalah karena telah menjadi orang yang tulus."

Senja tersenyum tipis, wajahnya sedikit memerah. Kami makan roti bersama di barisan belakang, sementara di barisan depan, Kayla masih diam membeku. Dari kejauhan, saya bisa melihat bahunya sedikit bergetar. Dia tidak menangis dengan suara, tapi saya tahu, di dalam hatinya sedang terjadi gempa tektonik yang sangat besar.

Nama saya Bumi. Dan hari ini, saya belajar bahwa kemenangan yang didapat dengan cara menghancurkan hubungan orang lain adalah kemenangan yang paling menyedihkan. Arkan mungkin sedang berdiri di puncak, tapi dia sendirian. Dan saya, meski berada di barisan belakang yang berdebu, saya punya Senja, punya Dara, dan punya Bangka yang selalu siap membuat saya tertawa dengan lelucon noraknya.

1
Vivi Zenidar
karya yg bagus... bahasanya puitis... semoga akan banyak yg baca
Vivi Zenidar
senja dan dara lebih baik
nickm
cerita ini layak dibuat film
nickm
cerita yang luar biasa, aku akan menunggu metamorfosis bumi kedepannya
nickm
semakin menarik ceritanya
nickm
bagus sekali ceritanya, bahasa yang runtut, alur mengalir pasti
nickm
bagus sekali, paragraf pertama yang membuatku masuk ke dimensi cerita
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!