Karena pertumbuhan anak laki-laki terkadang memang sedikit lambat dari anak perempuan. Dan tinggi 182 sentimeter setelah 20 tahun berlalu, sudah lebih dari cukup untuk tidak membuat malu pemilik tinggi 160 sentimeter dengan kecentilannya…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyeon Gee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
“Gak terasa kita udah masuk bulan keenam, bulan terakhir pelatihan. Semua belajar dengan baik, semua pun lancar. Kalo gak ada halangan, akhir bulan ini kita sudah bisa balik ke Indonesia bareng temen-temen Korea di sini. Bakal mulai petualangan baru lagi untuk jadi tenaga medis dan karyawan yang lebih baik lagi. Dijadwalkan dua minggu lagi, temen-temen dari Indonesia bakal ketemu keluarga masing-masing dan pulang bareng ke Indonesia. Untuk ucapan terima kasih yang teramat sangat, kita bakal pergi liburan ke perkemahan musim dingin selama lima hari empat malam…”
Segera riuh ruang rapat rumah sakit pun menggema tatkala rasa senang para tenaga medis serta karyawan non medis lainnya usai mendengar penjelasan Jong Hwa.
“Dan…kami selaku pejabat dan seluruh staff banyak mengucap terima kasih untuk temen-temen dari Indonesia yang udah berusaha dengan sangat maksimal. Karena bantuan dr. Saputri beserta jajarannya, kami bisa mencapai target terbaik tingkat keuangan dan medis yang bener-bener stabil tahun ini.”
Sontak Saputri dan seluruh kelompoknya membelalakkan mata dengan senyum riang mendengar pernyataan Jong Hwa, diikuti tepuk tangan yang sangat amat bersemangat dari rekan lainnya.
“Selamat, ya, Mam. Kita bisa. Kyomi pasti seneng banget ini,” ujar Irfan sembari menggenggam erat kedua tangan istrinya.
Ada senang yang menyelimuti keduanya yang tengah menikmati jam istirahat di kafe dekat rumah sakit.
“Iya, makasih, ya. Kita sama-sama nyenengkan Kyomi. Kemaren kata Mama, udah nerima Stroberi Koreanya, Kyomi seneng. Lahap kali makannya, terus tetiba minta bikin pancake. Hahaha…”
“Hahaha…khasnya Kyomi memang, tiada hari tanpa ngerepoti nenek.”
“Eh, ada gosip, lho,” ujar Saputri.
“Apa?”
“Aku dapet dari Mbak Echa. Jadi, katanya kemaren, tuh, dr. Kyu Jong mukul AJ gegara Kak Laisha marah.”
“Lah, ngerinya. Kenapa?”
“Dan ternyata, Kyu Jong ini pernah deket sama Kak Laisha jalur Mbak Echa. Lewat sosmed gitu. Pokoknya pernah deket banget, lah. Sampai pernah jadian via sosmed itu. Terus tetiba si Kyu Jong ini ngilang gak ada kabar. Eh, abis sekian tahun tetiba aja ketemu di sini. Aku gak paham ceritanya gimana tapi, katanya dia mau jadi bagian proyek ini karena ada Kak Laisha.”
“Masih suka, dong, dia berarti sama Kak Lai?”
“Gak tau, kayanya, sih.”
“Lah, bela-belain mau ikut proyek ribet gini kalo gak cinta apalagi, Mam. Berarti, kan, dia sudah dapet informasi soal kita semua.”
“Ih, gak tau.”
“Terus-terus, AJ gimana?”
“Nah, jadi, belum dapet kejelasan gimana. Yang jelas Kyu Jong sama AJ di masukkan daftar kuning sama Min Gyu karena kejadian itu. Soalnya Kak Garra marah betul. Kaya gitu kalo tiap hari ketemu, di Indonesia nanti malah bikin ribut.”
“Tapi, hebat, eh, Kak Lai. Dapetnya berondong terus. Hahaha…”
“Cantiklah Kakak kami, tuh. Apalagi sudah body goal. Makin unch.”
“Kamu juga makin unch, Mam. Hahaha…”
“Ih, impian yang terkabul ini. Setelah sekian tahun usaha balikin body. Disiksa sama Kak Garra enam bulan langsung jadi. Fitra, Kharis sama Hardi yang sebesar itu aja bisa berhasil, walaupun Kharis dengan banyak mulutnya. Ali juga awalnya kurus jadi kaya Lee Min Ho. Hahaha…”
“Iya, banyak-banyak disyukurin. Tuhan baik banget pokoknya.”
Pada akhirnya, seseorang selalu menginginkan happy ending dalam hidupnya. Walau menjalaninya harus dengan air mata selaut…
“Dew, kamu nanti duduk sama aku, ya,” ujar Jong Hwa sembari memeriksa berkas obat milik Dewinta.
Dewinta yang tengah melihat sekeliling ruangan kerja Jong Hwa pun seketika menatap pria yang tengah serius dibalik meja kerjanya itu.
“Kenapa?” tanya Jong Hwa yang menyadari tatapan Dewinta dan balas menatapnya sambil tersenyum.
“Ng, gak. Cumaaa…”
Dewinta tampak ragu dan menghindari tatapannya. Lagi, Jong Hwa tersenyum dan beranjak menghampiri Dewinta. Dia bertumpu dengan kedua lututnya dan meraih kedua tangan Dewinta hingga membuatnya terkejut.
“Mungkin gak romantis, ya,” kata Jong Hwa membuka obrolannya, “tapi, dari kamu dateng nginjakkan kaki ke ruang rapat enam bulan lalu. Hatiku kaya ngomong, ‘aku mau yang ini’. Selama enam bulan terakhir kita ngejalanin semua sama-sama. Sharing tentang semua hal yang aku gak tau. Entah obat-obatan sampai cerita paling dalam. Mungkin kamu mikir, aku main-main, karena aku gak nunjukin perhatian apapun selama ini. Aku..jujur malu. Malu untuk ngungkapin semua karena takut gak diterima.”
Senyum manis yang ditunjukkan pria dengan badan penuh otot dan mata sipit khas korea tanpa kelopak dihadapannya pun membuat Dewinta tertegun.
“Ng, aku...kamu suka apa dari aku?” ujar Dewinta gugup.
“Semua. Dari kepala sampai kaki. Kamu dateng ke sini dengan rambut panjang tapi, setelah kesal dengan semua program diet, kamu potong rambutmu sebahu dan itu, bikin aku makin yakin, kalo tujuanku memang kamu.”
“Mmm, aku bingung. Hehehe…”
Senyum geli pun terukir di wajah Jong Hwa.
“Iya, gak apa-apa kalo memang mau meyakinkan dulu. Aku masih bisa nunggu. Yang penting jangan digantung,” ucap Jong Hwa tulus.
Terlihat Dewinta menggenggam erat kedua tangan Jong Hwa yang memegangnya sedari tadi. Ada rasa gugup dan senang yang ia rasakan. Namun, aneh pun menyelimuti.
“Aku…mau yang serius. Aku cape kalo harus kenalan, haha hihi, eh, ternyata cuma ghosting,” ucap Dewinta.
“Iya, aku tau. Udah kesekian kali kamu bilang, kamu nyari yang serius karena udah cape. Kita coba sama-sama. Kalopun ditengah jalan kamu merasa gak cocok sama aku, semua keputusan kuserahin sama kamu.”
Terlihat Dewinta tersenyum sipu dan mengangguk ragu sementara, Jong Hwa pun hanya bisa tersenyum sembari mengusap kedua tangan yang masih ia genggam.
BRAK!
Keduanya pun begitu terkejut saat pintu ruangan tiba-tiba terbuka lebar dan menampakkan wajah semringah Song Jae Ho, karyawan bagian informatika andalan mereka.
“Hyeong!(Kakak (dari laki-laki)!)”
“Mwo?!” sahut Jong Hwa yang langsung berdiri kesal.
Sesaat tampak Dewinta tersenyum geli ketika melihat reaksi Jong Hwa dan langsung menyapa pria berkacamata bulat itu dengan anggukan pelan.
“Jamkkan yaegi kaja(Ayo, ngobrol sebentar).”
Mendengar permintaan pria yang ikut menyapa Dewinta dengan anggukan dan senyum ramah itu, membuat Jong Hwa mendengus kesal tapi, tetap melangkah mendekatinya.
“Mwo?” tanya Jong Hwa lagi.
“Ani. Neo Anggun Sienna araji?(Gak. Kamu tau Anggun Sienna, kan?)”
“Ara. Wae?(Tau. Kenapa?)”
“Jeonhwabeonho ara?(Tau nomer hp-nya gak?)”
Tampak wajah Jong Hwa merah padam menahan kesal namun, saat tatapnya bertemu dengan Dewinta, amarahnya tampak mereda seketika.
“Kau tanya ke dia,” ujarnya kemudian.
Segera, Jae Ho menatap Dewinta dengan kebingungan.
“Ge, geu Noona?(Kakak (dari laki-laki) itu?)”
“Eo, geu chinguya(Iya, dia temennya).”
“Aish, Hyeong, keunyang neo(Kamu aja, Kak).”
Lagi, Jong Hwa menghela napas kesal.
“Dew, kamu punya nomor hp Anggun gak? Bocah ini mau sama Anggun.”
Gelagapan dengan ucapan Jong Hwa, sontak dia terbelalak dan menggeleng panik hingga membuat Dewinta hampir tertawa.
“Ada. Tapi, kaya apa kalo Anggun marah,” ujar Dewinta.
“Dia yang tanggung jawab,” sambar Jong Hwa lagi.
Makin panik, dia pun lagi-lagi menggeleng pasrah.
“Haha..aku kasi. Tapi, jangan bilang aku yang kasi, ya.”
Takut namun, ada rasa senang usai mendengar ucapannya, dia pun langsung mengeluarkan ponsel dan menyimpan nomor Anggun ke ponselnya.
“Sudah, kan? Tutup rapat pintunya,” perintah Jong Hwa.
Senyum senang ia tunjukkan saat keluar dan menutup rapat pintu ruangan Jong Hwa yang kemudian hanya tertawa geli bersama Dewinta melihat prilakunya.