Setiap kali Bimo berhasrat dan mencoba melakukan hubungan seks dengan wanita malam,maka belatung dan ulat grayak akan berusaha keluar dari lubang pori-pori kelaminya,dan akan merasa terbakar serta melepuh ...
Apa yang Bimo lakukan bisa sampai seperti itu?
Baca ceritanya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawaran Fajar
Sabtu pagi di Jakarta biasanya disambut dengan kemacetan orang-orang yang hendak berlibur, namun bagi Bimo, hari libur ini adalah kesempatan terakhirnya untuk merebut kembali kewarasannya. Sejak kejadian memalukan di rumah Diana, mental Bimo benar-benar ambruk. Ia merasa seperti seekor predator yang telah dikebiri oleh kekuatan gaib yang tidak ia pahami.
Dengan mata merah karena kurang tidur dan tubuh yang sesekali masih bergetar, Bimo memacu motornya menuju pinggiran kota, ke sebuah daerah padat penduduk tempat seorang teman lamanya, Fajar, tinggal. Fajar bukan orang kantoran seperti Bimo; ia adalah pria yang hidup di "dunia bawah", akrab dengan perjudian, barang haram, dan yang paling penting: ia paham tentang seluk-beluk ilmu hitam.
Pengakuan di Ruang Remang
Fajar menyambut Bimo di sebuah kontrakan yang dipenuhi asap rokok. Di sana, di antara botol-botol minuman keras yang berserakan, Bimo menumpahkan segala kengerian yang ia alami. Ia bercerita tentang malam di hotel melati, tentang ulat-ulat yang seolah meletus dari balik dagingnya, dan tentang rasa sakit yang hanya datang ketika nafsunya memuncak.
"Gila lu, Bim. Itu bukan penyakit medis biasa," ujar Fajar sambil menyesap kopinya dalam-dalam. Ia memperhatikan wajah Bimo yang kuyu. "Itu namanya santet Kunci Syahwat atau sejenisnya. Ada orang yang nggak mau lu senang-senang sama perempuan lain."
"Tapi siapa, Jar?! Gue nggak punya musuh! Siapa yang sanggup bayar dukun buat ngerjain gue kayak gini?" Bimo menggebrak meja, frustrasi.
Fajar menyipitkan mata. "Lu pikir-pikir lagi. Siapa perempuan yang pernah lu sakitin? Ilmu kayak gini biasanya dateng dari sakit hati yang dalem banget."
Bimo terdiam. Bayangan Ratih melintas sekejap, namun ia segera menepisnya. Nggak mungkin Ratih. Dia cuma perempuan kampung yang bodoh. Mana punya dia akses ke dukun sakti? pikirnya angkuh. "Nggak tahu gue, Jar. Yang jelas gue pengen sembuh. Gue nggak mau tiap kali mau 'main' malah ngerasain neraka."
Fajar mengangguk paham. "Tenang, Bim. Besok pagi, hari Minggu, gue anter lu ke rumah Abah Kamad di daerah Banten. Dia spesialis pembersih ilmu hitam. Nggak ada santet yang nggak bisa dia angkat. Tapi malam ini, mending lu rileks dulu di sini. Jangan dipikirin terus, makin dipikirin makin berontak itu jin di dalem badan lu."
Malam Pelampiasan yang Berisiko
Malam Minggu itu, alih-alih merenung atau bertaubat, Bimo justru mengikuti saran Fajar untuk meredam stres dengan alkohol. Mereka mulai membuka botol demi botol wiski murah. Bagi Bimo, alkohol adalah pelarian. Saat otaknya mulai tumpul karena mabuk, rasa gatal dan takut itu sedikit mereda.
"Minum yang banyak, Bim! Biar jinnya mabok juga!" tawa Fajar pecah.
Di bawah pengaruh alkohol yang semakin kuat, Bimo mulai merasa jumawa kembali. Ia merasa hebat karena besok ia akan menemui dukun sakti yang bisa menyembuhkannya. Namun, alkohol juga mulai membangkitkan sisi gelap Bimo yang lain. Dalam keadaan setengah sadar, ia mulai meracau tentang wanita.
"Lu tahu nggak, Jar... si Diana itu... cakep banget," igau Bimo dengan mata sayu. "Sialan banget, gara-gara ginian gue gagal dapet dia. Padahal dikit lagi..."
Dan itulah masalahnya. Alkohol menurunkan daya kontrol otak Bimo terhadap nafsunya. Saat ia mulai membayangkan kembali lekuk tubuh Diana di bawah pengaruh minuman keras, ulat-ulat sengkolo di dalam darahnya mulai mendeteksi detak jantung yang meningkat.
Zrett... Zrutt...
Bimo meringis pelan, ia memegang selangkangannya. "Aduh, mulai lagi..."
"Sabar, Bim! Tahan pikiran lu! Inget besok kita ke Abah Kamad!" Fajar memperingatkan sambil menuangkan lagi minuman ke gelas Bimo.
Bimo menenggak minuman itu dengan rakus, berharap rasa panas di tenggorokannya bisa mengalahkan rasa panas di bawah sana. Malam itu dilalui dengan tawa yang dipaksakan dan bau muntah yang menyengat. Bimo tertidur di kursi panjang dalam keadaan mabuk berat, tidak menyadari bahwa di dalam kulitnya, ulat-ulat sengkolo itu sedang menari-nari dengan liar karena dipicu oleh imajinasi kotornya yang tidak terkendali selama mabuk.
Mata yang Mengintai dari Kegelapan
Di luar kontrakan Fajar, di balik bayangan sebuah pohon mangga yang besar, Ratih berdiri mematung. Ia telah mengikuti Bimo sejak pagi. Ia melihat Bimo masuk ke rumah Fajar, ia mencium bau alkohol yang menguar hingga ke jalanan, dan ia mendengar gelak tawa penuh kesombongan dari dalam sana.
Ratih menggenggam sebuah bungkusan kecil berisi bunga kantil kering yang telah dimantrai ulang. Ia tahu Bimo sedang mencoba mencari bantuan.
"Cari bantuanlah sesukamu, Bimo," bisik Ratih. Suaranya dingin, nyaris seperti desir angin malam. "Semakin kamu mencoba melawan, semakin dalam ulat-ulat itu akan menggali liangnya. Kamu pikir manusia bisa mematikan apa yang sudah menyatu dengan aliran darahmu?"
Ratih tidak tahu siapa Abah Kamad yang disebutkan Fajar. Ia tahu Bimo akan mencoba melakukan pembersihan. Namun, Ratih tidak takut. Mbah Suro sudah berpesan bahwa santet ulat sengkolo ini hanya bisa dicabut oleh orang yang mengirimnya, atau dengan kematian sang korban.
Fajar yang Menyakitkan
Minggu pagi datang dengan kepala yang terasa pecah bagi Bimo. Efek alkohol membuatnya mual luar biasa, ditambah lagi rasa panas di area sensitifnya yang kini menetap seperti ada bara api yang ditempelkan di sana.
"Bangun, Bim! Mandi! Kita jalan sekarang!" teriak Fajar sambil menyiram muka Bimo dengan air.
Bimo bangkit dengan gontai. Saat ia mencoba berjalan menuju kamar mandi, ia merasakan sakit yang luar biasa. Ia melihat ke bawah, dan meski kulitnya masih tampak normal di mata Fajar, Bimo bisa merasakan ulat-ulat itu sedang merayap di sela-sela urat sarafnya. Setiap langkah terasa seperti menginjak paku.
"Jar... sakit banget, Jar..." rintih Bimo.
"Tahan! Sebentar lagi kita sampe di rumah Abah. Dia pasti bisa nolong," Fajar membantu Bimo naik ke atas motor.
Mereka memacu motor menuju daerah Banten. Perjalanan selama tiga jam itu adalah siksaan bagi Bimo.. Bimo menggigit bibirnya hingga berdarah untuk menahan jeritan. Ia terus berdoa sebuah doa yang munafik meminta kesembuhan agar ia bisa kembali ke kehidupan lamanya yang penuh maksiat.
Ia tidak sadar, bahwa setiap doa yang ia ucapkan justru menjadi bahan bakar bagi kutukan itu. Karena di dalam hatinya, ia tidak berniat bertaubat, ia hanya ingin sembuh agar bisa memuaskan nafsunya kembali.
Rumah Abah Kamad
Setelah melewati hutan jati dan jalanan berbatu, mereka sampai di sebuah rumah panggung kayu yang terlihat sangat tua namun berwibawa. Bau kemenyan dan minyak srimpi menyerbak kuat.
Abah Kamad, seorang pria tua dengan sorban hijau dan jenggot putih yang panjang, sedang duduk di teras. Matanya yang tajam langsung tertuju pada Bimo bahkan sebelum Bimo turun dari motor.
"Bawa dia masuk," perintah Abah Kamad dengan suara berat yang menggetarkan dada.
Di dalam ruangan penuh keris dan botol-botol berisi air doa, Bimo dibaringkan. Abah Kamad mulai memegang dahi Bimo, lalu tangannya bergerak menuju perut Bimo. Seketika, wajah Abah Kamad berubah tegang.
"Astaghfirullah..." Abah Kamad menarik tangannya seperti baru saja menyentuh api panas. "Anak muda, apa yang kamu lakukan sampai ada kiriman sejahat ini di tubuhmu?"
"Saya nggak tahu, Bah! Tolong sembuhkan saya! Saya sakit sekali!" tangis Bimo pecah.
Abah Kamad mengambil sebutir telur ayam kampung dan mulai mengusapkannya ke area selangkangan Bimo sambil merapal ayat-ayat suci. Telur itu perlahan-lahan berubah menjadi hitam pekat, lalu pecah dengan sendirinya. Dari dalam telur itu, keluar puluhan ulat grayak yang nyata dan hidup, menggeliat di atas lantai kayu.
Fajar berteriak kaget, hampir jatuh dari duduknya.
"Ini bukan santet biasa, ini santet nyawa dibayar nyawa," ucap Abah Kamad dengan napas terengah-engah. "Ulat-ulat ini sudah memakan separuh dari sukmamu. Mereka bukan di kulit, mereka di dalam jiwamu."
Abah Kamad mencoba menyiramkan air doa ke tubuh Bimo. Namun, begitu air itu menyentuh kulit Bimo, Bimo menjerit sejadi-jadinya. Kulitnya mengeluarkan asap, seolah-olah ia sedang disiram air keras.
"PANAS! BAH, PANAS! TOLONG!"
"Maaf, anak muda..." Abah Kamad berhenti, ia tampak sangat lelah. "Aku tidak bisa mencabutnya. Kekuatan pengirimnya terlalu besar karena didorong oleh rasa sakit hati yang sangat dalam. Hanya ada satu cara untuk sembuh..."
"Apa, Bah?! Apa pun saya lakukan!"
"Temui wanita yang kamu sakiti, minta maaf dengan tulus, dan biarkan dia yang memaafkanmu. Jika tidak, ulat-ulat ini akan terus bersamamu sampai liang lahat."
Bimo terpaku. Kata-kata Abah Kamad seperti petir yang menyambarnya di siang bolong. Temui wanita yang disakiti? Ratih?
Harga diri Bimo yang setinggi langit merasa terhina, namun rasa sakit di tubuhnya menuntut sebaliknya. Ia kini berada di persimpangan jalan: antara ego yang besar atau nyawa yang membusuk perlahan.