"Donor dari Masa Lalu" adalah kisah tentang pengorbanan seorang ibu, luka cinta yang belum sembuh, dan pilihan paling berat antara menyelamatkan nyawa atau menjaga rahasia. Akankah sebuah ginjal menjadi jalan untuk memaafkan, atau justru pemutus terakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DDML 16: JARINGAN BAWAH TANAH
Rumah sakit seharusnya menjadi tempat paling aman.
Tapi setelah kejadian dengan Nurul, kepercayaan itu retak. Ruang isolasi khusus tempat mereka mengungsi dijaga ketat: dua satpam di pintu, kamera langsung terhubung ke pos polisi, dan hanya tiga perawat terpercaya yang diizinkan masuk semuanya sudah diperiksa latar belakangnya oleh detektif.
Tapi ketakutan itu seperti kabut tebal yang menyusup ke setiap sudut. Arka tidak bisa tidur tanpa lampu menyala. Nadia terbangun tengah malam menangis, menyebut nama "monster". Arkana yang biasanya tenang, jadi rewel, seolah merasakan ketegangan di sekelilingnya.
Malam kedua di rumah sakit, Aisha terbangun karena firasat. Dia mendekati boks Arkana, memastikan monitor pernapasan masih bekerja. Angka normal. Tapi sesuatu terasa tidak beres. Bau. Ada bau asing di ruangan bau parfum yang tidak dikenali, bukan bau antiseptik rumah sakit.
Dia membangunkan Rafa. "Ada yang masuk ke sini."
Rafa langsung bangun, memeriksa pintu. Terkunci. Jendela? Tertutup rapat. Tapi bau itu nyata.
Laras yang terbangun karena suara mereka, memeriksa kamar mandi kecil di dalam ruangan. Kosong. Tapi di wastafel, ada jejak bedak bedak bayi, tapi bukan merek yang mereka pakai.
"Ada yang pegang Arkana?" bisik Laras, panik.
Mereka membangunkan perawat jaga. Tapi perawat itu bersumpah tidak ada yang masuk. Rekam CCTV dari kamera di dalam ruangan menunjukkan tidak ada aktivitas mencurigakan. Hanya mereka.
Tiga hari berlalu dalam benteng rumah sakit yang disebut 'ruang isolasi khusus'.
Dinding putih, monitor yang berdetak, udara steril yang menggigit semuanya terasa seperti sangkar mewah. Arka sudah mulai menggambar di jendela dengan spidol whiteboard yang diberikan perawat, menciptakan dunia imajinasi di balik kaca. Nadia bermain boneka dengan suara pelan, seolah takut mengundang perhatian. Arkana, satu-satunya yang masih terlalu kecil untuk mengerti, tidur pulas dalam boks yang dipasangi monitor pernapasan dan detak jantung.
Laras duduk di samping boks, tatapannya kosong menatap angka-angka di layar monitor. "Aku tidak tahan lagi," bisiknya pada Aisha yang sedang memegangi cangkir kopi dingin. "Perasaan seperti ikan dalam akuarium. Diawasi. Dikurung."
"Lebih baik dikurung daripada hilang," jawab Aisha, tapi suaranya tidak meyakinkan. Dia sendiri merasa sesak. Rumah sakit ini seharusnya tempat penyembuhan, bukan penjara.
Rafa yang baru kembali dari berkoordinasi dengan polisi, wajahnya tambah keruh. "Mereka menemukan sesuatu. Grup chat itu... lebih besar dari yang kita kira."
Dia membuka tablet, menunjukkan screenshot yang dikirim penyidik. Sebuah forum tertutup dengan nama "Keadilan untuk Yang Terlupakan". Anggota: 47 orang. Semuanya orang tua atau keluarga pasien gagal ginjal yang meninggal. Dan di antara mereka, ada sub-grup beranggotakan 6 orang "Tim Pembalas".
"Enam orang ini yang aktif mengancam kita," kata Rafa. "Nurul salah satunya. Ibu Rina tidak termasuk dia hanya di grup besar, tapi tidak di tim inti. Empat lainnya belum teridentifikasi."
"Empat?" ulang Laras, suara gemetar. "Masih ada empat orang lagi di luar sana yang ingin menyakiti kita?"
"Satu sudah kita tangkap saudara ipar Ibu Rina. Tinggal tiga. Tapi polisi tidak bisa mengidentifikasi karena mereka pakai VPN, akun palsu, dan komunikasi di platform encrypted."
Aisha membaca nama-nama samaran di screenshot:
@Pembalas01 (diduga pemimpin)
@NurseSunflower (Nurul, tertangkap)
@JusticeSeeker (saudara ipar Ibu Rina, tertangkap)
@SystemBreaker
@SilentWatcher
@AngelOfMercy
"Angel of Mercy," gumam Aisha. "Malaikat penyayang. Itu mungkin orang di dalam rumah sakit."
"Atau mantan pekerja rumah sakit," tambah Rafa. "Seperti Nurul."
dr. Arman masuk dengan wajah serius. "Kami sudah periksa semua staf yang bertugas di lantai ini. Semua bersih. Tapi... ada satu hal yang mengganggu."
"Apa?" tanya Laras.
"Seminggu sebelum kalian masuk ke sini, ada magang dari sekolah perawat yang melakukan observasi. Dia tidak tercatat di daftar staf tetap. Namanya Sari. Usia 22 tahun. Dan... dia tidak pernah kembali setelah hari pertama kalian di sini."
Magang. Usia muda. Nama Sari. Informasi minim.
"Kita perlu foto atau data dirinya," desak Rafa.
"Kami sedang cari. Tapi administrasi magang agak berantakan. Bisa saja nama palsu."
Malam itu, saat Arka tertidur dengan obat penenang ringan, Aisha duduk di sampingnya. Dia memegang tangan anaknya yang semakin besar, merasakan denyut nadi di pergelangan tangannya denyut yang sama dengan detak jantungnya sendiri, bukti bahwa ginjal Rafa bekerja dengan baik di tubuh Arka.
"Bunda," bisik Arka tiba-tiba, mata setengah terbuka. "Kenapa orang-orang benci sama kita?"
"Karena... mereka sakit hati, sayang. Dan ketika orang sakit hati, kadang mereka ingin orang lain merasakan sakit yang sama."
"Tapi kita ga sakitin mereka."
"Tidak sengaja. Tapi hidup kita... terlihat beruntung di mata mereka."
Arka diam lama. "Kalau Arka ketemu mereka, Arka mau bilang maaf. Meskipun Arka ga salah."
Air mata menggenang di mata Aisha. Anak ini, dengan segala penderitaannya, masih punya ruang untuk empati. "Kamu anak baik, Arka. Tapi kamu tidak perlu minta maaf untuk sesuatu yang bukan kesalahanmu."
"Tapi Bunda dulu juga minta maaf ke Ayah. Padahal Bunda cuma takut."
Benar. Rantai permintaan maaf. Aisha minta maaf pada Rafa. Rafa memaafkan. Laras akhirnya menerima. Sekarang Arka ingin minta maaf pada orang asing yang membencinya.
"Kita cari cara lain, sayang. Cara yang tidak membahayakanmu."
Keesokan harinya, ide dari percakapan dengan Arka itu berkembang. Aisha mengajak Rafa dan Laras berdiskusi serius.
"Mungkin selama ini kita salah pendekatan," katanya. "Kita mencoba bertahan, bersembunyi, melawan. Tapi kita belum pernah benar-benar... membuka diri."
"Apa maksudmu?" tanya Rafa.
"Konferensi pers. Tapi bukan untuk membela diri. Tapi untuk mengakui bahwa kita mengerti kemarahan mereka. Untuk menawarkan kerja sama."
Laras ragu. "Kita sudah coba itu dengan Ibu Rina. Dia baik, tapi yang lain tetap mengancam."
"Karena kita hanya bertemu satu orang. Bagaimana jika kita ajak semua? Kelompok besar itu 47 anggota forum. Kita undang mereka. Dengarkan mereka. Dan tunjukkan bahwa kita mau bantu."
Rafa mengernyitkan dahi. "Itu sangat berisiko. Mengundang orang yang mungkin membenci kita bahkan ingin menyakiti kita ke satu tempat?"
"Di tempat yang aman. Dengan pengawasan. Tapi kita beri mereka suara. Karena selama ini, mereka hanya berteriak di ruang gelap internet. Maka beri mereka ruang terang."
dr. Arman yang ikut mendengarkan, mengangguk pelan. "Ini bisa menjadi terapi untuk semua pihak. Tapi perlu persiapan ekstrem."
Mereka mulai merencanakan.
Dengan bantuan polisi dan tim keamanan rumah sakit, mereka mengatur sebuah pertemuan tertutup di aula rumah sakit. Undangan dikirim ke moderator forum "Keadilan untuk Yang Terlupakan" dengan jaminan anonimitas dan keamanan bagi yang datang.
Responsnya mengejutkan: 23 orang menyatakan akan datang. Termasuk Ibu Rina yang bersedia menjadi perantara.
Hari-H. Aula diubah menjadi ruang duduk melingkar. Tidak ada panggung. Tidak ada pembeda. Di tengah, hanya ada tiga kursi: untuk Rafa, Aisha, dan Laras. Di samping mereka, kursi kosong untuk Arka jika ia mau hadir.
Polisi berseragam dan plainclothes bertebaran. Setiap tamu diperiksa ketat. Setiap tas diteliti. Tidak ada yang diizinkan membawa alat komunikasi ke dalam.
Satu per satu mereka masuk. Wajah-wajah lelah. Mata-mata penuh luka. Ada yang masih muda orang tua yang kehilangan anak balita. Ada yang tua kakek nenek yang merawat cucu sampai akhir. 23 orang dengan 23 cerita kehilangan.
Ibu Rina memulai. "Terima kasih sudah datang. Kita di sini bukan untuk saling menyalahkan. Tapi untuk mendengar."
Laras berdiri, tangan gemetar memegang mikrofon. "Saya... saya tidak tahu harus mulai dari mana. Saya hanya ingin bilang: saya tidak bisa membayangkan rasa sakit kalian. Dan jika ada di antara kalian yang membenci kami karena anak kami hidup... saya mengerti."
Seorang bapak paruh baya berdiri. "Anak saya meninggal umur 10. Daftar tunggu 3 tahun. Sementara tetangga saya, yang punya uang, bisa transplantasi dalam 6 bulan. ITU TIDAK ADIL."
"Kami setuju," kata Rafa. "Itu tidak adil. Dan kami tidak pernah bilang sistem ini adil. Kami hanya... beruntung."
"Tapi keberuntungan kalian menyakiti kami!" teriak seorang ibu muda, wajahnya basah. "Setiap kali saya lihat berita tentang anak kalian sehat, saya ingat anak saya yang sudah dingin di kamar mayat!"
Aisha menunduk, air mata jatuh. "Kami tahu. Dan kami tidak pernah bermaksud menyakiti siapa pun. Tapi kami juga tidak bisa meminta maaf karena anak kami hidup."
Suasana tegang. Kemarahan yang tertahan selama bertahun-tahun mulai meluap.
Tapi kemudian, Arka masuk.
Dia tidak dijadwalkan hadir. Tapi dengan didampingi dr. Arman, dia berjalan pelan ke tengah ruangan. Wajahnya pucat, tapi matanya tegas.
"Permisi," suaranya kecil tapi jelas di mikrofon yang dipegang dr. Arman. "Nama saya Arka. Saya... saya dengar dari luar."
Semua mata tertuju padanya. Anak kecil yang menjadi simbol keberuntungan yang menyakitkan.
"Saya cuma mau bilang... saya sedih kalau teman-teman kalian meninggal. Saya juga hampir meninggal. Saya tahu rasanya takut. Sakit." Arka berhenti, menelan ludah. "Tapi saya tidak mau kalian benci keluarga saya. Mereka cuma sayang sama saya."
Seorang nenek menangis tersedu-sedu. "Nak... kami tidak benci kamu. Kami benci... sistemnya."
"Kalau gitu, kita perbaiki sistemnya bareng-bareng ya?" usul Arka polos. "Saya mau bantu. Saya kan punya yayasan sekarang. Katanya buat bantu anak lain."
Kejujuran anak itu meluluhkan pertahanan. Bukan retorika. Bukan pembelaan. Hanya keinginan tulus untuk membantu.
Ibu Rina berdiri lagi. "Dengar itu? Dia anak yang baik. Dan dia mau bantu. Mungkin... mungkin kita sudah salah sasaran."
Seorang anggota lain, yang selama ini diam, bicara: "Tapi 'Pembalas' dan timnya... mereka tidak akan berhenti. Bagi mereka, ini bukan tentang sistem. Ini tentang pembalasan."
"Kita bisa coba ajak mereka juga," usul Aisha. "Jika mereka mau muncul, kita dengarkan."
Tapi semua tahu: "Pembalas" dan tim inti tidak akan datang ke pertemuan terbuka. Mereka pemburu bayangan.
Setelah pertemuan, 18 dari 23 orang yang hadir menyatakan dukungan pada yayasan. Bahkan ada yang menawarkan diri menjadi relawan. Musuh menjadi sekutu. Kemarahan diubah menjadi energi untuk perubahan.
Tapi tiga orang pergi tanpa komentar. Dan dua orang lainnya termasuk seorang wanita muda yang selalu menunduk meninggalkan kesan aneh pada Aisha.
"Wanita itu," bisik Aisha pada Rafa setelah acara. "Dia tidak pernah angkat bicara. Tapi matanya... dia mengamati setiap gerakan kita. Bukan dengan kemarahan. Tapi dengan... analisis."
"Kamu pikir dia salah satu dari tim Pembalas?"
"Mungkin. Atau setidaknya, pengamat mereka."
Polisi berhasil mengidentifikasi wanita itu melalui kamera pengawas: Sari, 22 tahun, alamat palsu. Magang yang hilang.
Malam itu, saat semua sudah tertidur, Aisha terbangun karena notifikasi di ponselnya sebuah pesan dari nomor tidak dikenal:
"Pertemuan hari ini menarik. Tapi itu tidak mengubah apa pun. Kami bukan orang tua yang sedih. Kami adalah pembaharu. Dan kami akan terus bergerak. Nantikan kejutan berikutnya. @Pembalas01"
Dia membangunkan Rafa. Mereka melacak nomor itu nomor sekali pakai, sudah tidak aktif.
"Jadi mereka masih ada," gumam Rafa. "Dan mereka masih mengawasi."
"Tapi sekarang kita punya sekutu," ingatkan Aisha. "18 orang yang tadinya membenci kita, sekarang bersama kita. Itu kekuatan."
"Selama mereka tidak disusupi oleh anggota tim Pembalas."
Keesokan harinya, perkembangan tak terduga: Ibu Rina menerima pesan ancaman. Isinya: "Kamu pengkhianat. Bergabung dengan mereka. Kamu akan lihat konsekuensinya."
Ibu Rina panik, tapi dia tidak mundur. "Saya sudah lelah membenci. Saya mau energi saya untuk hal positif."
Tapi ancaman itu nyata. Dan polisi mulai melindungi Ibu Rina juga.
Perang berkembang. Bukan lagi keluarga ini melawan dunia. Tapi antara yang ingin berubah dengan damai dan yang ingin menghancurkan untuk dianggap "adil".
Dua hari kemudian, kejadian mengejutkan:
Server data pasien rumah sakit diretas. Data yang dicuri: rekam medis lengkap 12 anak pasien transplantasi ginjal termasuk Arka. Dan data itu diunggah ke forum publik, dengan judul: "Lihatlah mereka yang beruntung. Sementara anak kami mati tanpa data."
Itu pelanggaran privasi berat. Tapi yang lebih mengerikan: dalam data Arka, ada catatan khusus tentang kerentanan obat imunosupresannya informasi yang bisa digunakan untuk meracuni atau memicu penolakan ginjal.
dr. Arman marah. "Ini bukan lagi protes. Ini percobaan pembunuhan!"
Polisi siber turun tangan. Mereka melacak peretas dan menemukan jejak ke sebuah warnet di kota tetangga. CCTV warnet menunjukkan wanita muda berkerudung wajahnya mirip dengan deskripsi Sari.
"SystemBreaker," simpul Rafa. "Salah satu dari tim Pembalas. Dan dia punya akses medis."
Mereka semakin dekat dengan identitas musuh.
Tapi musuh juga semakin berani. Dan kini, dengan data medis Arka di tangan publik, bahaya menjadi lebih nyata. Siapa pun bisa tahu kelemahan Arka. Siapa pun bisa menyusun rencana untuk menyakitinya.
Arka harus dilindungi ekstra ketat. Bahkan di dalam ruang isolasi, dr. Arman memerintahkan semua obat diperiksa tiga kali oleh orang berbeda. Makanan harus dari sumber terpercaya. Tidak ada pengunjung sama sekali.
Tapi dalam keterpurukan itu, dukungan dari 18 orang tua bekas musuh menjadi penyelamat. Mereka bergiliran menjaga, mengirim makanan aman, berdoa bersama. Komunitas tumbuh dari puing-puing kebencian.
Salah satu dari mereka, seorang bapak yang anaknya meninggal setahun lalu, berkata pada Aisha: "Kami sudah menghabiskan terlalu banyak energi untuk membenci. Sekarang kami ingin menghabiskan energi untuk mencegah anak lain mengalami nasib yang sama."
Malam itu, Arka menulis surat—bukan untuk musuh, tapi untuk teman-teman barunya:
"Untuk teman-teman yang ayah/ibunya sedih karena kakak/adiknya meninggal. Aku Arka. Aku mau jadi teman kalian. Kalau kalian sedih, cerita ke aku. Aku dengerin. Karena aku juga pernah sedih banget waktu sakit. Kita bisa sedih bareng. Tapi juga bisa senang bareng kalau ada yayasan bantu anak lain. Aku sayang kalian. Arka."
Surat itu dibagikan ke grup dukungan. Banyak yang menangis membacanya. Seorang anak yang seharusnya menjadi korban kebencian, justru menjadi sumber kebaikan.
Tapi di kegelapan, "Pembalas01" mengirim pesan terakhir ke tim inti:
"Mereka mengubah narasi. Tapi kita tidak akan berhenti. Fase berikutnya: serangan langsung. Siapkan semua. Target: bayi. Waktu: 72 jam lagi."*
AngelOfMercy membalas: "Saya siap. Sudah di dalam."
SystemBreaker: "Data sudah dianalisis. Titik kelemahan ditemukan."
SilentWatcher: "Pergerakan mereka terus saya pantau."
Empat orang. Masih bebas. Masih berniat jahat. Dan "di dalam" artinya ada di rumah sakit ini.
dr. Arman memerintahkan audit mendadak semua staf.
Setiap orang diperiksa latar belakangnya. Setiap akses ke ruang isolasi dicatat. Tapi tidak ada yang mencurigakan. Kecuali satu hal: seorang perawat jaga baru yang ditugaskan malam itu wanita berusia 25 tahun bernama Maya ternyata tidak ada dalam daftar jadwal yang disetujui.
Ketika ditanyai, Maya bingung. "Saya dapat telepon dari bagian SDM untuk menggantikan yang sakit."
Telepon itu ternyata dari nomor internal rumah sakit yang sudah tidak aktif. Seseorang menyamar sebagai SDM.
Maya diperiksa dia bersih. Tapi siapa yang mengirimnya? Dan untuk apa?
Kecurigaan jatuh pada AngelOfMercy. Orang dalam yang bisa memanipulasi sistem jadwal.
72 jam menuju ancaman.
Keluarga ini tidak tahu kapan, di mana, bagaimana serangan akan datang. Tapi mereka tahu satu hal: mereka tidak sendirian. Ada 18 orang tua yang sekarang menjaga mereka. Ada dr. Arman dan tim medis yang berdedikasi. Ada polisi yang siaga.
Dan yang terpenting: mereka memiliki satu sama lain.
Aisha memegang tangan Laras. "Apa pun yang terjadi, kita hadapi bersama."
"Bersama," jawab Laras, erat.
Rafa memandangi mereka, lalu menatap anak-anaknya yang sedang tidur. Arka, Nadia, Arkana. Alasan mereka bertahan. Alasan mereka tidak akan menyerah.
Malam itu, sebelum tidur, Arka berbisik pada Aisha: "Bunda, Arka nggak takut lagi."
"Kenapa?"
"Karena sekarang kita punya banyak teman. Dan setan takut sama orang banyak kan?"
Metafora polos dari anak 8 tahun. Tapi benar. Kebencian menyukai kesendirian. Kebaikan tumbuh dalam kebersamaan.
(Di ruang server rumah sakit, seseorang dengan akses admin sedang menghapus log aktivitas untuk jam-jam tertentu. Tangan itu stabil, profesional. Di layar samping, terbuka foto Arkana diambil dari akun media sosial Laras yang sudah di-private. Dan di sebelahnya, countdown timer: 71:59:32... 71:59:31...)