Di dunia bawah yang kelam, nama Reggiano Herbert adalah eksekutor paling mematikan yang dikenal karena ketenangannya. Seorang pria yang akan memperbaiki kerah bajunya dan tidak mungkin menutup mata sebentar sebelum mengakhiri nyawa targetnya.
Baginya, hidup hanyalah rangkaian tugas yang dingin, hingga ia menemukan "Flower's Patiserie".
Toko itu sangat berwarna-warni di tengah kota yang keras, tempat di mana aroma Strawberry Tart yang manis berpadu dengan keharuman mawar segar. Sang pemilik, Seraphine Florence, adalah wanita dengan senyum sehangat musim semi yang tidak mengetahui bahwa pelanggan setianya yang selalu berpakaian rapi dan bertutur kata manis itu baru saja mencuci noda darah dari jas abu-abunya sebelum mampir.
Tetapi, apakah itu benar-benar sebuah toko biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# Bab 24: Penyamaran menjadi Baron
Lonceng pintu Flower’s Patisserie berdenting pelan saat Reggiano dan Caspian melangkah masuk melewati portal dimensi yang menutup dengan desis halus.
Udara hangat yang beraroma kayu manis dan mentega segera menyambut mereka, sebuah kontras yang hampir menyakitkan setelah aroma logam dan darah di Laboratorium 09. Fajar baru saja menyingsing, menyemburatkan warna merah muda di ufuk timur Distrik 7.
Reggiano segera melepaskan jasnya yang kini berlubang di beberapa bagian akibat gesekan energi. Ia tidak beristirahat. Matanya langsung tertuju pada Seraphine yang sudah menunggu di meja pojok, sedang menyesap teh chamomile dengan ketenangan yang seolah abadi.
"Kalian kembali lebih cepat dari yang aku perkirakan," ucap Seraphine, suaranya lembut namun mengandung bobot yang dalam. "Dan aku merasakan aura kehancuran yang tertinggal di jubah kalian. Laboratorium itu sudah tidak ada lagi?"
"Menjadi mesin es krim raksasa sebelum akhirnya menguap ke dimensi lain," sahut Caspian sambil menjatuhkan diri ke kursi kayu di depan Seraphine. Ia langsung menyambar sebuah biskuit sisa di piring.
"Jujur, Seraphine, bos kita ini benar-benar tidak punya selera humor saat membantai orang. Lima detik waktu berhenti hanya digunakan untuk menaruh duri. Padahal kalau aku, aku akan mengikat tali sepatu mereka satu sama lain."
Reggiano tidak menanggapi celotehan Caspian. Ia menarik kursi, duduk tepat di hadapan Seraphine dengan punggung tegak. "Nona Florence, kami menemukan sebuah nama. Nama yang membuat para petinggi itu gemetar lebih hebat daripada saat melihat sabit saya. Direktur Aristhos. Mereka bilang dia yang memerintahkan eksekusi Elena demi eksperimen keabadian dari 'Darah Bumi'."
Gerakan tangan Seraphine yang hendak meletakkan cangkir teh terhenti di udara. Untuk pertama kalinya, Reggiano melihat kilatan kecemasan, atau mungkin kenangan pahit, di mata zamrud wanita itu.
"Aristhos," bisik Seraphine. "Nama itu adalah racun yang sudah lama aku coba kubur di bawah akar taman ini."
"Siapa dia sebenarnya?" desak Reggiano. "Dan apa hubungannya dengan ibu saya?"
Seraphine menghela napas panjang, matanya menerawang ke arah taman belakang di mana Elena masih tertidur lelap dalam perlindungan sihir. "Dahulu, sebelum Organisasi menjadi mesin pembunuh mekanis seperti sekarang, ada sebuah kelompok yang disebut The Weavers of Eden. Mereka adalah para ilmuwan dan alkemis yang ingin memahami bahasa alam. Ibumu, Elena Senior, adalah yang paling berbakat di antara mereka. Dan Aristhos... dia adalah rekan kerja terdekatnya. Bahkan, dia adalah orang yang paling ibumu percayai."
Caspian berhenti mengunyah, telinganya tegak mendengar informasi ini. "Oh, drama pengkhianatan klasik? Jangan bilang dia adalah cinta lama yang berubah menjadi gila kekuasaan?"
"Lebih buruk dari itu, Tuan Caspian," sahut Seraphine dingin. "Aristhos terobsesi dengan fakta bahwa ibumu mampu berkomunikasi dengan Yggdrasil secara langsung. Dia ingin mereplikasi kemampuan itu secara tidak normal. Saat ibumu menyadari bahwa Aristhos mulai bereksperimen dengan mengubah manusia menjadi 'wadah' bagi energi alam yang dipaksakan, dia melarikan diri membawa kalian berdua. Dia memalsukan kematiannya untuk melindungi mu dan Elena dari obsesi Aristhos."
Reggiano mengepalkan tangannya di atas meja hingga kayu itu berderit. "Jadi, alasan ibu saya hidup dalam persembunyian dan akhirnya mati adalah karena dia ingin menjauhkan kami dari pria itu? Dan sekarang, setelah tiga puluh tahun, dia kembali untuk mengambil apa yang gagal dia dapatkan dari ibu saya melalui adik saya?"
"Dia tidak hanya menginginkan energi itu, Reggiano," lanjut Seraphine. "Aristhos sedang sekarat. Tubuh manusianya sudah mencapai batasnya. Dia membutuhkan 'Darah Bumi' murni untuk mentransfer kesadarannya ke dalam entitas yang abadi. Baginya, Elena bukanlah manusia, melainkan botol obat yang harus dia tenggak."
Reggiano berdiri tiba-tiba, aura emasnya meledak kecil dan menjatuhkan beberapa cangkir di meja.
"Saya akan membunuhnya hari ini juga."
"Jangan konyol, Herbert!" Caspian ikut berdiri, menahan bahu Reggiano.
"Kau baru saja meratakan satu laboratorium kecil. Sektor Utama tempat Aristhos berada adalah benteng berjalan. Ada teknologi anti-Penjaga di setiap sudut. Kau masuk ke sana sekarang, kau hanya akan mengantar nyawa, dan Elena akan kehilangan satu-satunya kakaknya."
Reggiano menatap Caspian dengan tajam. "Lalu apa saranmu? Menunggu dia mengirim pasukan yang lebih besar lagi?"
Caspian menyeringai, kilat licik muncul di matanya.
"Bukan menunggu. Tapi menyusup. Kita butuh mata di dalam. Dan beruntungnya kalian, di depanku ada seorang pengelana dimensi yang punya seribu wajah dan satu setelan jas yang sangat mahal."
......................
Dua jam kemudian, ruang belakang toko roti berubah menjadi bengkel persiapan. Caspian berdiri di depan cermin besar, sementara Seraphine merapikan kerah jas biru gelap yang terbuat dari serat cahaya yang bisa berubah warna.
"Baiklah, perkenalkan," Caspian berputar dengan gaya sombong. "Nama saya adalah Baron Cillian dari Kepulauan Azure. Seorang investor kaya raya yang memiliki ketertarikan pada teknologi perpanjangan usia. Aku akan masuk ke Sektor Utama melalui pintu depan, menawarkan dana tak terbatas untuk proyek Aristhos."
Reggiano menatap Caspian dengan ragu. "Kau? Jadi Baron? Kau bahkan tidak bisa makan croissant tanpa meninggalkan remah di seluruh jasmu."
"Hei! Itu namanya 'karakter', dasar kampungan!" protes Caspian.
"Dengar, Aristhos itu sombong. Orang sombong suka pada orang yang lebih kaya dari mereka. Aku akan memikatnya dengan beberapa teknologi 'asing' dari dimensi lain yang aku punya di sakuku. Sementara aku membuatnya sibuk dengan presentasi omong kosongku, aku akan menanamkan sensor pemetaan di seluruh markasnya."
Seraphine menyerahkan sebuah cincin perak kecil kepada Caspian. "Ini mengandung esensi mawar penenang. Jika kau merasa identitasmu terancam, putar cincin ini. Ia akan menciptakan ilusi kabut yang akan membingungkan musuh selama beberapa menit."
"Terima kasih, Cantik," Caspian mengedipkan mata pada Seraphine, yang hanya dibalas dengan tatapan datar.
Caspian kemudian menoleh pada Reggiano.
"Tugasmu, Tuan Eksekutor, adalah tetap di sini dan menjaga toko. Tapi bukan hanya berjualan roti. Kau harus mulai melatih sabitmu untuk menyerap data yang aku kirimkan nanti. Kita butuh senjata yang bisa membelah pelindung Chronos milik Aristhos."
"Berapa lama kau butuh waktu?" tanya Reggiano.
"Beri aku waktu dua belas jam. Aku akan masuk, makan malam dengan pria tua itu, mencuri cetak biru pertahanannya, dan mungkin... kalau aku sempat, aku akan mencuri koleksi anggur mahalnya," Caspian menjentikkan koin peraknya.
"Reggiano, kali ini jangan membantai siapa pun di jalanan. Tetaplah menjadi tukang roti yang ramah. Kita butuh Aristhos merasa bahwa dia masih memegang kendali."
Reggiano mengangguk perlahan. "Jika dalam dua belas jam kau tidak memberiku sinyal, aku akan menganggap penyamaran mu gagal. Dan aku akan meratakan seluruh Sektor Utama tanpa peduli pada taktik."
"Wah, wah, sangat romantis," Caspian tertawa kecil. Ia melambaikan tangannya, menciptakan portal kecil yang berpendar biru keperakan. "Sampai jumpa di jam makan malam, kawan. Seraphine, simpan satu tart buah untukku, aku pasti lapar setelah menghadapi orang tua membosankan itu."
Caspian melangkah masuk ke dalam portal dan menghilang.
Persiapan di Balik Tepung
Setelah Caspian pergi, suasana toko kembali sunyi. Reggiano kembali ke dapur, mulai menguleni adonan roti gandum. Namun, gerakannya tidak lagi sekadar rutinitas. Setiap tekanan tangannya pada adonan adalah latihan pengendalian energi. Ia membiarkan energi emas dari tanda mawarnya mengalir tipis-tipis ke dalam serat tepung, mencoba memahami bagaimana kekuatan Penjaga bisa diubah menjadi sesuatu yang lunak namun tidak terpatahkan.
Seraphine masuk ke dapur, berdiri di sampingnya. "Anda sangat khawatir padanya, bukan?"
"Dia ceroboh," jawab Reggiano singkat.
"Dia bukan ceroboh, Tuan Herbert. Dia hanya menggunakan keceriaan sebagai perisai agar dunia tidak menyadari betapa hancurnya dia di dalam. Caspian telah melihat banyak dunia musnah; dia tahu persis apa yang dia pertaruhkan untuk membantu anda."
Reggiano berhenti menguleni. "Mengapa Anda tidak memberitahu saya sejak awal tentang Aristhos? Jika saya tahu dia adalah orang di balik kematian ibu saya, saya tidak akan menghabiskan sepuluh tahun bekerja untuk Organisasi."
Seraphine meletakkan tangannya di atas tangan Reggiano yang penuh tepung. "Karena ibumu ingin anda hidup sebagai manusia, bukan sebagai senjata pembalasan dendam. Namun, takdir memiliki cara sendiri untuk memanggil kembali para Penjaganya. Aristhos adalah bayangan masa lalu yang tidak bisa dihindari, namun ia juga adalah kunci bagi Anda untuk benar-benar memahami warisan 'Darah Bumi'."
"Warisan yang membawa kematian," gumam Reggiano.
"Atau warisan yang membawa kehidupan baru," koreksi Seraphine. "Ingatlah, Tuan Herbert. Sabit Anda, The Reaper’s Thorn, bukan diciptakan untuk membantai manusia. Ia diciptakan untuk memangkas apa yang busuk agar yang baru bisa tumbuh. Gunakan perspektif itu saat Anda berhadapan dengan Aristhos nanti."
Lonceng pintu depan berdenting. Pelanggan pertama pagi itu datang. Reggiano menarik napas dalam, membersihkan tangannya, dan mengenakan celemeknya kembali.
"Selamat pagi," ucap Reggiano saat melangkah ke depan meja kasir, suaranya tenang dan terkontrol sempurna.
"Kami punya Tart Strawberry dan Mawar putih segar hari ini. Anda ingin mencoba?"
Sepanjang hari itu, Reggiano menjalankan perannya sebagai pelayan Toko dengan dedikasi yang mengerikan. Ia melayani pelanggan, membantu Elena mengerjakan pekerjaan rumahnya di meja pojok, dan sesekali bertukar pandang dengan Seraphine. Namun di balik saku celemeknya, tangannya terus memegang kunci perak pemberian Malachai, menunggu getaran pertama dari Caspian.
Dunia luar mungkin melihat Flower’s Patisserie sebagai tempat perlindungan yang tenang, namun di dalam pembuluh darah Reggiano, api perang sedang berkobar dengan dingin, menunggu matahari terbenam untuk sekali lagi membuka jalan bagi sang Eksekutor Exclusive.
Caspian sedang berada di jantung musuh, dan rahasia masa lalu telah terkuak.
Malam di atas toko roti itu terasa berbeda.
Biasanya, Caspian akan tidur dengan posisi melayang yang konyol, tapi malam ini ia duduk bersila di tengah kamarnya yang berantakan dengan berbagai benda antik dari dimensi yang berbeda. Di depannya, sebuah jas sutra berwarna biru safir tergantung di udara, perlahan-lahan berubah warna menjadi hitam legam lalu kembali ke biru saat Caspian menjentikkan jarinya.
"Warna ini terlalu mencolok untuk penyusupan, tapi terlalu elegan untuk diabaikan," gumam Caspian pada dirinya sendiri. Ia meraih sebuah botol kecil berisi cairan perak cair dan mengoleskannya ke kerah jas tersebut.
"Sedikit esensi ketiadaan agar sensor pemindai Aristhos menganggap ku sebagai angin lalu. Sempurna."
Pintu kamar terbuka tanpa suara. Reggiano berdiri di sana, masih mengenakan celana kain hitam dan kaus dalam putih, otot-otot lengannya yang penuh bekas luka dan tanda mawar emas tampak menegang di bawah cahaya lampu yang remang.
"Kau bicara sendiri lagi," ucap Reggiano datar.
Caspian tidak menoleh. Ia sedang sibuk memasukkan beberapa butir kristal kecil ke dalam saku rahasia jasnya.
"Ini namanya diskusi panel dengan diri sendiri, Herbert. Lagipula, aku harus memastikan Baron Cillian dari Kepulauan Azure ini punya latar belakang yang meyakinkan. Aristhos itu seperti rakun tua; dia bisa mencium bau kebohongan dari jarak satu kilometer."
Reggiano melangkah masuk, memperhatikan tumpukan koin-koin perak yang tertata rapi di atas meja. "Kau benar-benar yakin bisa masuk ke sana tanpa memicu protokol pemurnian mereka? Sektor Utama bukan Laboratorium 09. Mereka punya sensor genetik yang bisa mendeteksi frekuensi alien."
Caspian akhirnya berbalik, menyeringai lebar. Ia mengambil salah satu koin, memutarnya di antara jari-jarinya hingga koin itu menghilang dan muncul kembali di balik telinga Reggiano.
"Reggiano, kawan, mereka mencari 'ancaman'. Mereka tidak mencari 'investor eksentrik yang punya terlalu banyak uang'. Selama aku bertingkah seperti orang kaya yang sombong dan membosankan, mereka akan membukakan pintu untukku. Orang-orang seperti Aristhos selalu merasa haus akan pengakuan dari orang-orang setingkat mereka."
"Dan jika mereka menyadarinya?" desak Reggiano.
Caspian berdiri, mendekati Reggiano hingga mereka berdiri berhadapan.
"Jika mereka menyadarinya, maka kau akan melihat kembang api berwarna biru di langit Sektor Utama. Itu tandanya kau punya waktu lima menit untuk sampai di sana sebelum aku berubah menjadi debu bintang. Tapi tenanglah, aku belum berniat mati sebelum mencicipi kue tart buah buatan Seraphine besok sore."
Caspian mengambil sebuah jam saku tua dari mejanya dan memberikannya kepada Reggiano. "Pegang ini. Ini terhubung dengan detak jantungku melalui celah dimensi. Jika jarumnya berhenti bergerak... yah, kau tahu apa yang harus kau lakukan pada gedung Aristhos."
Reggiano menerima jam saku itu, merasakannya berdetak dengan ritme yang aneh dan cepat. "Jangan mati, Caspian. Aku belum membayar hutang roti yang kau makan selama seminggu ini."
Caspian tertawa lepas, menepuk bahu Reggiano dengan keras.
"Nah, itu baru motivasi yang bagus! Seorang eksekutor yang pelit adalah rekan terbaik yang bisa aku minta."
Caspian kembali berbalik ke arah jas birunya. "Sekarang pergilah tidur. Aku harus melatih aksen 'bangsawan sombong'-ku. 'Oh, Aristhos, anggurmu ini lumayan, tapi rasanya sedikit seperti air selokan di dimensi keduabelas...' Bagaimana? Sudah cukup menyebalkan?"
Reggiano hanya menggelengkan kepalanya dan keluar dari kamar, meninggalkan Caspian yang kembali tenggelam dalam persiapan gilanya. Di bawah sinar bulan yang masuk lewat jendela, Caspian Roosevelt tampak bukan lagi sebagai pelayan toko roti yang konyol, melainkan sebagai bidak paling berbahaya yang sedang meluncur menuju jantung papan catur musuh.
Pagi Harinya di Sektor Utama.
Gerbang besar Sektor Utama yang terbuat dari titanium berpendar putih saat sebuah kendaraan mewah tanpa roda yang bersinar keperakan berhenti di depannya. Pintu kendaraan itu terbuka ke atas, mengeluarkan kabut aromatik yang wangi.
Caspian melangkah keluar dengan jas biru safirnya, kacamata hitam bertengger di hidungnya, dan tongkat perak di tangannya yang sebenarnya adalah pemancar pengacau sinyal. Para penjaga elit bersenjata lengkap segera menghampirinya, namun Caspian hanya mengangkat satu tangannya dengan gerakan meremehkan.
"Beri tahu Aristhos bahwa Baron Cillian sudah tiba," ucap Caspian dengan aksen yang sangat kental dan penuh kesombongan. "Dan tolong, katakan pada pelayannya untuk tidak menyentuh kendaraan ini dengan tangan kotor mereka. Catnya terbuat dari sisik naga air, sangat sensitif terhadap kuman manusia biasa."
Salah satu penjaga tampak bingung, namun sensor di pintu masuk menunjukkan bahwa pria di depan mereka membawa tanda pengenal digital tingkat tinggi yang tidak bisa dipalsukan, hasil kerja keras Caspian semalaman.
"Silakan masuk, Tuan Baron," ucap penjaga itu sambil membungkuk.
Caspian berjalan melewati gerbang, koin peraknya berputar di saku jasnya, mulai memetakan setiap kabel energi dan jalur pertahanan yang ia lewati. Di balik kacamata hitamnya, matanya terus berpendar perak, merekam segalanya.
"Terlalu mudah," bisik Caspian pelan, nyaris tak terdengar. "Mari kita lihat seberapa besar nyali pria bernama Aristhos ini."
Caspian sudah berada di dalam.
Ia sekarang sedang berjalan di lorong panjang menuju kantor pribadi Aristhos, melewati berbagai ruang laboratorium yang mengerikan.